Selamat Datang di Hikayat Atah Roy. Senyum Adalah Keikhlasan yang Tak Terucap

Senin, 12 September 2011


Sungai Melibur, Kecamatan Merbau, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau

Sabtu, 10 September 2011

Ideologi Tapai


Atah Roy tersenyum lebar melihat Leman Lengkung bangga menggunakan seragam organisasi kepemudaan yang baru terbentuk di kampungnya. Atah Roy pun teringat masa mudanya. Waktu itu usianya baru 23 tahun. Bersama kawan-kawannya, Ijal Jambol, Tami Galah, Usman Botak dan Nawi Cengkung membentuk organisasi pemuda untuk membela tanah mereka dari perusahaan minyak yang akan beroperasi. Berbagai macam syarat pun mereka rancang demi membela masyarakat. Salah satu rancangan mereka yang monumental adalah masyarakat setampat harus sejahtera, namun sampai saat ini, perusahaan sudah 30 tahun lebih beroperasi, masyarakat kampung tetap tidak sejahtera alias papa kedana. Sementara itu, Ijal Jambol sudah pula jadi anggota DPRD kabupaten, Tami Galah jadi kepala dinas, Usman Botak jadi dosen negeri di ibu kota provinsi, Nawi Cengkung merantau ke Malaysia dan Atah Roy sendiri masih menetap di kampung bekerja sebagai penoreh getah. Cita-cita mereka untuk menyejahterakan masyarakat terkubur bersama kesibukan masing-masing.
Atah Roy masih tersenyum melihat Leman Lengkung. Pandangan dan senyuman Atah Roy, sangat menganggu perasaan Leman Lengkung. Leman Lengkung dengan perasaan penasaran menghampiri Atah Roy.
“Kenape Atah senyum-senyum nenguk saye?” Leman Lengkung bertanya sambil duduk sebelah Atah Roy.
“Yakin dikau bisa mempertahankan semangat membela masyarakat kampung ini?” Atah Roy balik bertanya.
“Kenape Atah Roy ragu?” Leman Lengkung bertanya juga.
Atah Roy menghisap rokoknya dalam-dalam. Atah Roy terbayang kembali kawan-kawan lamanya. Tergiang suara Ijal Jambol yang berat parau. “Sebagai pemuda, kite wajib mengorbankan segale kemampuan kite untuk memperjuangkan kesejahteraan masyarakat kampung kite ni.” Kata-kata yang melompat dari mulut Ijal Jambol berapi, namun api itu sekarang padam, sejalan dengan kedudukkan menjadi anggota dewan. Ijal Jambol lebih banyak mengurus hal-hal yang tak penting dibandingkan mengurus kampung sendiri.
“Kenape Atah diam aje?” Leman Lengkung memburu Atah Roy dengan pertanyaannya.
Atah Roy tak menjawab. Atah Roy menghembuskan asap rokok. Dari asap rokok tersebut Atah Roy terbayang wajah Tami Galah. “Harge mati! Pokoknye pemuda kampung kite harus sekolah, tak ade yang tak bersekolah! Untuk ape ade perusahaan beso, kalau pemuda kite tak bisa mengecap pendidikan setinggi-tingginye!” teriak Tami Galah di depan bupati, tapi teriak Tami Gelah meredup setelah Tami Galah dapat beasiswa dan melanjutkan kuliah ke Tanah Jawa. Sampai duduk menjadi kepala dinas, suara Tami Galah tak pernah menggelegar macam dulu lagi.
“Atah jangan mempermainkan saye!” Leman Lengkung mulai emosi.
Atah Roy masih belum menjawab. Dia menaruk abu rokok dari tangannya ke asbak di atas meja. Dari abu rokok itu Atah Roy terbayang wajah Usman Botak. Pada waktu mudanya, Usman Botak memiliki pemikiran yang keras berdasarkan kenyataan orang-orang kampung, namun kini Usman Botak sibuk dengan teori-teori baratnya nak mengubah pandangan orang kampung. Atah Roy tak sadar, air matanya mengalir ke pipi.
Melihat Atah Roy menangis, Leman Lengkung salah tingkah. Leman Lengkung menyesali telah membentak bapak saudaranya. Leman Lengkung cepat-cepat mengambil tangan kanan Atah Roy lalu mencium tangan tersebut.
“Maafkan saye, Tah. Saye bukan marah Atah, cume emosi saye tak terkontrol. Maafkan saye ye, Tah,” Leman Lengkung berulang-ulang mencium tangan Atah Roy. Atah Roy terkejut, lalu menarik tangan kanannya dari ciuman Leman Lengkung.
“Ngape dikau ni, Man?” Atah Roy mengelap tangannya yang basah oleh air mata Leman Lengkung.
“Jadi, Atah mengeluarkan air mate bukan disebabkan saye membentak Atah?” Leman Lengkung salah tingkah.
“Sorry ye, tak bual aku bersedih gara-gara kene bentak dikau! Dah banyak aku kene bentak orang-orang besar dibanding dikau, Man!” ujar Atah Roy.
“Atah bersedih kene ape?” Leman Lengkung penasaran, karena jarang sekali Atah Roy menitikkan air mata. Setahu Leman Lengkung, Atah Roy bersedih dan menitikkan air mata ketika Atah menginggat Julaiha, cewek lame Atah Roy. Disebabkan Julaiha nikah dengan orang lainlah, Atah Roy jadi bujang lapok sampai sekarang.
“Aku teringat Nawi Cengkung. Die terpakse ke Malaysia mencari kerje, karene di kampung, walaupun perusahaan minyak ade, die tak diterime kerje di perusahaan. Sementare, kawan-kawan die, kecuali aku, dah jadi orang beso. Perjuangan kami dulu macam tapai; dah semue dapat tempat sedap, kawan yang belum beruntung tak dipedulikan. Aku tak kesah beno, karena dari bapak aku, datuk dikau, masih ade kebun getah. Bagi Nawi Cengkung yang hidupnye susah sejak dari nenek moyangnye, tentu perjuangan bersame-same itu menjadi luke yang dalam, melihat kawan-kawan die dah jadi orang sukses,” jelas Atah Roy panjang lebar.
“Jadi, Atah tak setuju aku masuk organisasi kepemudaan untuk membela masyarakat kampung kite ni?” Leman Lengkung tak puas hati.
“Bukan aku tak setuju, Man. Siape lagi nak memperjuangkan kampung kite ni, kalau tak mike yang mude-mude ini. Tapi aku mengingatkan, berjuanglah dengan hati yang bersih membela orang kampung, jangan dah diberi sesuatu, entah itu duit, kedudukan, perjuangan mike macam tapai campak ke lantai; lenyik. Contoh dah banyak, belum dapat kedudukan ataupun materi, perjuangan macam api. Tapi dah dapat, eeeee.... malas aku nak komen,” ujar Atah Roy meninggalkan Leman Lengkung sendiri. Leman Lengkung, menelan iar liurnya.

Sabtu, 03 September 2011

Balik Kampung

Lama Atah Roy menatap layar handphonenya. Di layar handphone itu tertera tulisan panjang dari kawan lamanya, Aziz Kokang. Inilah isi pesan Aziz Kokang, “Kampung menjadi kekuatan untuk membangun kota. Dari kampung, orang kota mengenal artinya persaudaraan dan dari kampung juga orang kota mewujudkan mimpi menjadi yang terbaik. Kampung merupakan taman menyemai benih-benih peradaban yang dituai oleh orang kota hari ini yang notabene banyak berasal dari kampung. Maka untuk mengembalikan kenangan kampung inilah, orang-orang kota ‘rela’ bersusah payah balik kampung di hari raya; mengenang masa lalu di kampung untuk tampil lebih baik di hari yang akan datang. Raye tahun ini, aku dan keluarga akan balik kampung, Roy.”

Melihat Atah Roy termenung sambil memegang hpnya, Leman Lengkung yang baru masuk ke rumah menjadi heran. Leman Lengkung mendekati Atah Roy dan duduk di sebelah kursi yang terbuat dari kayu. “Kuat sedih, Tah? Ape hal?” pertanyaan Leman Lengkung menyadarkan Atah Roy. Atah Roy cepat-cepat memasukan hp ke dalam kocik atas baju kurungnya.

“Tak ade. Aku cume membace pesan orang-orang mengucapkan selamat hari raye kepade aku,” Atah Roy mencoba menyembunyikan perasaannya.

“Tah, dari raut wajah Atah, saye dapat merasekan ade sesuatu yang Atah sembunyikan dari saye. Saye ini anak saudare Atah yang sejak dari kecik sampai dewase seperti ini tinggal bersame Atah. Jangan sembunyikan masalah yang mencemaskan Atah dari saye,” Leman Lengkung berupaya mengorek masalah yang sedang melanda Atah Roy.

“Man, aku tak sangke, kota bisa mengubah sifat orang, ye?” ujar Atah Roy agak sedih.

“Maksud Atah macam mane ni? Saye belum dapat menangkapnye,” Leman Lengkung belum mengerti.

“Agaknye kota menciptakan orang kehilangan kerendahan hati, ye Man?” Atah Roy menyandarkan tubuhnya di kursi yang dia buat empat tahun lalu.

“Tambah tak paham saye, Tah? Langsung aje menusuk ke permasalahannye, Tah,” Leman Lengkung semakin serius.

“Aziz Kokang...” belum selesai Atah Roy bicara, Leman Lengkung memotong.

“Ooo... Pak Ngah Aziz. Anak darenya tige orang, Tah. Bukan main cantiknye. Banyak pemuda-pemuda ngumpul di umah die nak memikat hati anak Pak Ngah Aziz tu. Macam-macam gaya budak tu buat. Kate budak-budak tu, anak Pak Ngah Aziz terpikat agaknye. Padahal di kota, lebih dari itu ade,” Leman Lengkung ketawa. “Saye juge main ke umah Pak Ngah Aziz waktu hari raye tu, Tah. Manelah tahu, salah seorang anak Pak Ngah Aziz terbuka hatinye untuk saye. Hahahaaaiii..., “ Leman Lengkung ketawa lagi.

Atah Roy diam saja. Wajahnya semakin kesal. Leman Lengkung berhenti ketawa.

“Ade ape sebetulnye, Tah?”

Mata Atah Roy menatap tajam langit-langit rumah, sambil bersandar di kursi. Kenangan 45 tahun yang lalu menancap di benaknya. Atah Roy tersenyum. Atah Roy teringat kawan akrab masa kecilnya; Aziz Kokang, Jang Keluang, dan Man Tapak. Dari ke tiga kawanya, Aziz Kokanglah yang memiliki cita-cita yang paling tinggi. “Aku harus jadi orang penting di negeri ini,” azam Aziz Kokang waktu mereka kecil dahulu. Azam Aziz Kokang kini terwujudkan. Aziz Kokang telah menjadi pejabat penting di kota, tapi sudah jarang sekali balik kampung. Tahun ini dia balik, berhari raya di kampung, namun apa yang dipikirkan Atah Roy selama ini, meleset. Aziz Kokang muncul sebagai tokoh yang angkuh, sombong dan senang dipuji. Tidak seperti Aziz Kokang waktu kecil; santun, ramah dan tidak mau dipuji sedikit pun. “Pujian selalu membuat orang lupa dengan dirinya sendiri,” kata Aziz Kokang sebelum berangkat ke kota. Atah Roy sedih melihat kawan akrabnya sudag berubah.

“Ngape Atah senang?” pertanyaan Leman Lengkung memadamkan kenangan Atah Roy.

“Aku bukan senang, tapi sedih!” suara Atah Roy sedikit keras.

“Ooo, sedih, sangke saye senang. Ngape Atah sedih?” Leman Lengkung tak puas.

“Aku tak sangke, Aziz yang dulu terkenal dengan sopan santun, ramah, kini berubah jadi sombong, angkuh dan suke pamer,” ujar Atah Roy.

“Biaselah Tah, orang kota. Di kota nak sombong dan pamer, masih banyak orang yang lebih kaye, tentu saje kampunglah sasarannye nak menyombongkan diri,” balas Leman Lengkung.

“Seharusnye Aziz tidak perlu berubah. Dengan sopan santun, ramah, rendah hati, die lebih disanjung di kampung ini. Orang kampung tak peduli orang itu mau sukses, mau kaye di kota, yang paling penting bagi orang kampung orang tu ramah,” tambah Atah Roy.

“Kalau tak sombong, tak orang kota pulak Tah. Balik kampung sekali-sekali, tentulah harus bede dengan yang orang lain,” kata Leman Lengkung.

“Salah tu, Man. Seharusnye orang yang balik kampung membawa kesederhanaan, bukan lagak yang dibawak,” Atah Roy serius.

“Itu kate Atah yang tak pernah ke kota. Bagi orang kota, macam Pak Ngah Aziz, lagak harus, kalau tidak, orang tak menghormati pulak,” Leman Lengkung tak mau kalah.

“Kalau dikau bercakap macam itu sekali lagi Man, berambus dikau dari kampung ni. Orang kampung tak butuh orang lagak!” Atah Roy geram.

“Ngape pulak Atah marah kepade saye? Kalau Atah berani, marahlah pade Pak Ngah Aziz,” Leman Lengkung berkilah.

“Rumah ini pun tak ditempuhnye Man, padahal die sekolah dulu, aku juge ikut membantu,” Atah Roy sedih.

“Ooouuuppp... tangan kanan memberi, tangan kiri tak boleh tahu, itu prinsip orang kampung,” kata Leman Lengkung menghibur Atah Roy. Atah Roy tersenyum, lalu memeluk Leman Lengkung.

“Kite jadi orang kampung aje, ye Man,” ujar Atah Roy sambil memeluk Leman Lengkung erat-erat.

Jumat, 12 Agustus 2011

Merdeka Burung Hantu

Keinginan untuk menjadikan hari ini lebih baik dari hari kemarin, merupakan obsesi setiap orang, tidak terkecuali Atah Roy. Keinginan inilah yang melanda pikiran Atah Roy dalam beberapa hari ini, “merdeka atau mati saja,” pikir Atah Roy.

“Mengapa harus merdeka?” Atah Roy bertanya kepada dirinya sendiri, namun Atah Roy tak dapat menjawab. Walaupun kemerdekaan negara ini sudah berusia 66 tahun, tapi kata ‘merdeka’ selalu terasa asing di telinga Atah Roy. Mengucapkan ‘merdeka’ bagi Atah Roy, bukanlah susah, tapi mendengar kata ‘merdeka’ beribu bahkan berjuta masalah menikam benak Atah Roy. Ada yang belum selesai dengan kata ‘merdeka’ di negara ini rupanya.

Kegelisahan Atah Roy menyebar seperti gelombang pemancar radio atau gelombang pemancar stasiun televisi, lalu ditangkap oleh alam, tak terkecuali seekor Burung Hantu yang sedang mengelus bulunya dengan paruh. “Wah, hari gini, masih ade manusia belum merdeka,” ucap Burung Hantu.

“Belepuk,” tiba-tiba sebuah batu kecil mengenai kepala Burung Hantu. Burung Hantu kehilangan kesimbangan dan terjatuh. Leman Lengkung dengan setik atau ketapel di tangan cepat-cepat mengejar Burung Hantu tersebut.

“Lame dah aku mengidam dikau ni,” kata Leman Lengkung, sambil memegang kuat-kuat Burung Hantu tersebut. Dan Leman Lengkung dengan bangga membawa Burung Hantu itu ke rumah.

Sampai di rumah, Burung Hantu sadar. Leman Lengkung mengikat burung tersebut di salah satu tiang rumah bagian depan atau lebih tepatnya di tiang teras depan rumah panggung Atah Roy. Leman Lengkung tersenyum bangga. Sebaliknya Burung Hantu memandang Leman Lengkung dengan geram. “Celake dikau Man, hari gini masih menyetik burung hantu! Tak adekah burung yang lebih cantik lagi di atas muke bumi ini!” kutuk Burung Hantu.

“Dahlah Burung Hantu, jangan dikau memandang aku macam tu. Dikau pikir, aku ni takut dengan pandangan dikau? Sorry ye,” Leman Lengkung mencebirkan bibirnya.

“Leman, dikau tak mampu memaknai kemerdekaan rupenye, ye?” burung hantu itu mengejek Leman Lengkung.

“Tak usah dikau berbunyi lagi Burung Hantu. Bebulu telinge aku mendengo suare dikau,” Leman Lengkung pergi meninggalkan Burung Hantu sendirian.

“Kasihan manusie di negeri ini, hanye mampu menampakkan keperkasaannye pada yang lemah!” pekik Burung Hantu. Leman Lengkung tak peduli, dia terus melangkah menjauh dari Burung Hantu menuju ke dalam rumah.

Namun suara Burung Hantu itu ‘menyembar’ telinga Atah Roy yang sedang duduk di dalam kamarnya. Atah Roy terperancat. Lalu mencari asal suara itu. Sia-sia. Atah Roy tidak putus asa, Atah Roy terus mencari suara itu sampai keluar dari kamarnya. Atah Roy tidak juga menemukan asal suara itu.

“Merdeka!” Burung Hantu terpekik lagi.

Atah Roy kembali terperanjat. Kali ini terperanjat Atah Roy bertujuan. Atah Roy langsung melangkah ke arah pintu depan rumahnya. Namun Atah Roy belum menemui suara itu dari siapa.

“Hari gini, masih ade orang bingung,” suara Burung Hantu mengejek Atah Roy.

Arah pandangan mata Atah Roy menuju ke Burung Hantu.

“Engkau yang bersuare?” Atah Roy seakan tak percaya.

“Engkau belum merdeka rupenye,” ucap Burung Hantu.

“Maksud engkau?” Atah Roy penasaran dan menghampiri Burung Hantu.

“Kemerdekaan bukan berarti bebas berpikir, tapi yang paling penting bebas mewujudkan pemikiran berdasarkan hati nurani,” Burung Hantu membusungkan dadanya.

“Engkau merdeka?” Atah Roy bertanya.

“Merdekalah,” Burung Hantu mengibaskan kedua kepaknya.

“Kalau engkau merdeka, mengape engkau terikat di tiang rumah aku?” Atah Roy semakin bernapsu bertanya.

“Walaupun aku terikat di tiang ni, namun aku masih tetap burung hantu. Aku tidak menjadi burung lain. Esensi kemerdekaan adalah menjadi diri sendiri,” ujar Burung Hantu itu dengan bangga.

“Aku tak ngerti maksud engkau ni?”

“Aku harus menjelaskan seperti ape lagi, ye. Tapi baiklah aku jelaskan. Menjadi diri sendiri, pasti mengenal yang hakiki; yang hakiki adalah Sang Pencipta kite. Jadi semue yang kite lakukan di hidup kite, harus mengacu pade kehendak Sang Pencipta. Kalau dah mengacu pade kehendak Sang Pencipta, maka segale perbuatan kite tidak pernah merugikan diri sendiri maupun diri orang lain,” jelas Burung Hantu panjang lebar.

“Jadi merdeka menurut engkau harus melakukan hal-hal yang bermanfaat, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain?” Atah Roy masih belum jelas.

“Lebih jelasnye, engkau lepaskan aku dari ikatan ini, maka engkau akan menemukan kemerdekaan,” ujar Burung Hantu menyakinkan Atah Roy.

Dengan sigap, Atah Roy mengungkai tali yang mengikat kaki Burung Hantu. Setelah teli lepas dari kakinya, Burung Hantu pun terbang sdan inggap di pohon jambu di depan rumah Atah Roy.

“Terime kasih. Engkau telah merdeka dari suare aku yang tak elok ini, aku juge merdeka dari ikatan tali budak Leman Lengkung celake tu. Esensi kemerdekaan adalah semue bisa senang, tanpe kecuali. Sekali merdeka, semua bisa bahagia!” Burung Hantu pun terbang meninggalkan Atah Roy sendiri. Atah Roy menganggakan mulutnya.

“Inikah yang dinamekan merdeka? Semue bahagia? Tapi kenapa sampai 66 tahun negara ini merdeka, masih banyak yang tak bahagia?” Atah Roy bertanye dalam hati.

Leman Lengkung datang, dan terkejut melihat burung hasil buruannya tidak ada lagi. “Kemane burung hantu aku, Tah?”

“Die sudah merdeka,” kate Atah Roy pasti.

Leman Lengkung geram, tapi tak bisa berbuat apa-apa.

Selasa, 09 Agustus 2011

Unjuk Rasa Tikus

Pukul 18.30 WIB, setelah sholat Mahgrib, Leman Lengkung pontang-panting lari dan langsung masuk ke rumah. Di ruangan tamu yang tidak begitu besar, kira-kira berukuran 4 x 6 meter, di ruangan itu Atah Roy sedang membaca Al Quran di sebuah kursi yang terbuat dari kayu. Kehadiran Lemang Lengkung tergesa-gesa, membuat Atah Roy terperanjat. Atah Roy cepat-cepat mengucap. Leman Lengkung melihat ke arah pintu dengan terengah-engah.

“Ade ape, Man?” Atah Roy bertanya.

“Anu Tah, anu...,”

“Anu ape kebende, Man?”

“Anu, anu tikus...,”

“Anu tikus apeeee?” Atah Roy sedikit kesal.

“Tikus mengamuk, Tah,” jelas Leman Lengkung masih melihat ke arah pintu.

Atah Roy masih belum dapat menangkap apa sebenarnya yang mau disampaikan Leman Lengkung. “Cobe dikau mengucap, insyaallah dikau akan tenang,” Atah Roy mencoba menenangkan Leman Lengkung.

Leman menarik nafas dalam-dalam, dan mengucap dengan tenang. Beberapa detik Leman melakukan apa yang disuruh Atah Roy dengan menutup matanya. Perlahan-lahan, Leman Lengkung dapat menguasai gemuruh hatinya. Leman Lengkung agak tenang. Atah Roy tersenyum.

“Ape yang terjadi? Cobe dikau ceritekan,” Atah Roy penasaran.

“Tikus melakukan unjuk rasa, Tah,” wajah Leman Lengkung kecut.

“Ape?” Atah Roy terkejut tak percaye, kemudian Atah Roy ketawe sejadi-jadinye.

“Tah, saye serius ni. Kalau Atah tak percaye, tenguklah di luo tu,” suara Leman Lengkung gemetar antara takut bercampur geram.

“Dikau dah gile, Man,” Atah Roy tidak percaya.

“Tenguklah dilou tu, Tah!” suara Leman Lengkung agak keras.

Atah Roy terpana mendengar suara Leman Lengkung agak keras. “Dikau jangan bergurau, Man,” Atah Roy nampak serius, dan melangkahkan kakinya menuju pintu. Di depan pintu, mulut Atah Roy terbuka lebar-lebar. Atah Roy seperti orang ditegur hantu tanah. Tubuhnya kaku. Matanya terbelalak. Di tanah, tepatnya di halaman rumah Atah Roy, beribu tikus berkumpul. Mereka bersuara dengan kerasnya. Atah Roy tak percaya apa yang ia lihat. Atah Roy mengusap matanya, namun tikus-tikus itu masih tetap ada. “Ini bukan mimpi, ini kenyataan upenye,” bisik Atah Roy.

Melihat Atah Roy berdiri kaku, Leman Lengkung memberanikan diri mendekati Atah Roy. “Saye tak bengak kan Tah?” pertanyaan Leman Lengkung menyadarkan Atah Roy.

“Astaqfirullahalzim. Ape yang hendak tikus ni, Man?” mata Atah Roy masih menenguk ke arah ribuan tikus di halaman rumahnya.

“Kami minta supaya manusie tidak menggunekan kami lagi atas perbuatan yang manusie lakukan!” teriak seekor tikus yang berada di depan barisan tikus lainnya. Mungkin tikus itu ketua rombongan unjuk rasa para tikus tersebut.

“Betul, betul, betul...,” teriak tikus lainnya.

Atah Roy dan Leman Lengkung semakin terperangah mendengar para tikus itu bisa bicara. Atah Roy mau pingsan, namun Leman Lengkung cepat-cepat memegang Atah Roy.

“Atah jangan pingsan, nyawe saye menghadapi tikus-tikus ni kan,” ujar Leman Lengkung penuh harap.

“Baik, baik... tak jadi aku pingsan,” Atah Roy menguat-nguatkan dirinya.

“Kami juge menuntut manusie membersihkan name baik kami! Kami tidak pernah menggunekan name manusie atas perbuatan yang kami lakukan! Gentlemanlah siket hai mike manusie!” suara tikus yang berada di depan semakin keras.

“Manusie penakut! Tak berani mengakui berbuatannye!” suara tikus agak kurus, yang berada di tengah ribuan tikus lainnya, nyaring terdengar. Teriakannya di sambut oleh suara ribuan tikus lainnya. “Manusia penakut! Manusia penakut! Manusia Pengecut!” suara semakin gaduh.

“Tenang, tenang, tenang...!” teriakan tikus yang berada di depan, mungkin ketua unjuk rasa para tikus, tak bisa menghentikan suara gaduh tikus lainnya yang sudah sangat emosi. Seekor tikus yang bulunya sopak-sopak, tidak sempurna lagi (mungkin terkena penyakit kulit), menyerahkan mickropone kepada ketua tikus.

Dengan pengeras suara di tangan, ketua tikus (agaknye) kembali bersuara. “Tenang, tenang saudara-saudaraku! Kita bukanlah manusia yang selalu emosional berhadapan dengan masalah, kita adalah tikus yang mulia, Jadi saye berharap kepade saudara-saudaraku untuk membuang sifat manusia itu jauh-jauh. Suai!” teriak tikus yang berada di depan tersebut dengan pengeras suaranya.

“Suai sangatlah tu!” teriak seribu tikus yang sedang berunjuk rasa tersebut.

Suasana hening kembali. Atah Roy dan Leman Lengkung tak dapat berkata-kata. Mereka berdua kehilangan keberanian untuk berbicara di depan ribuan tikus tersebut.

“Bagaimana Atah Roy, Leman Lengkung, sanggupkah mike berdue membersihkan name kami?” tikus yang berada di depan dengan menggunakan pengeras suara bertanya kepada Atah Roy dan Leman Lengkung.

“Ape yang telah manusie lakukan, sehingge mike semue memintak name mike dipulihkan kembali?” suara Atah Roy menggigil.

“Atah Roy, Atah Roy... Atah kan tahu, setiap manusie melakukan korupsi, pastilah gambo kami yang terpampang. Untuk itulah, kami minta kepade Atah dan juge dikau, Leman Lengkung, memberitahukan kepade manusie lainnye, jangan kami dilibatkan disetiap perbuatan yang dilakukan oleh manusie!” suara tikus yang memegang pengeras suara itu, tegar.

“Aku bukan raje atau presiden yang bisa memerintah manusie yang ade di negeri ini,” Atah Roy ketakutan.

“Kami tak peduli! Tugas manusie yang kami tahu, mengingatkan manusie lainnye. Kalau permintaan kami tidak dipenuhi, make kami akan berunjuk rasa dengan mengerah seluruh tikus yang ade di atas bumi ini! Ingat itu, Tah!” tikus yang memegang pengeras suara semakin tegas.

“Insyaallah,” jawab Atah Roy singkat.

“Ingat Tah, manusie itu dipegang pade janjinye, kalau manusie tidak menepati janjinya, lebih baik kami saje yang mengurus dunie ini!” tambah tikus yang berada di depan tersebut.

Setelah merasakan Atah Roy sanggup mengemban tuntutan mereka, tikus yang berada di depan dan memegang pengeras suara, mengajak tikus-tikus lainnya bersurai. Dengan tertib, ribuan tikus membubarkan diri. Atah Roy dan Leman Lengkung saling berpandangan.

“Ape kehe ni, Man?”

“Entahlah,” Leman Lengkung pun menjawab tak pasti.

Sabtu, 06 Agustus 2011

Pujian

Atah Roy menyadari bahwa sesuatu yang berkelebihan itu tidak akan baik. Selalu saja hasilnya di kemudian hari mengecewakan. Atah Roy ingat betul kata-kata Raja Ali Haji dalam Gurindam 12, Pasal 4, bahwa “Mengumpat dan memuji hendaklah pikir. Di situlah banyak orang yang tergelincir.” Kalimat itu berulang kali Atah Roy sampaikan kepada Leman Lengkung, tapi Leman Lengkung cuma mengangguk balam; masuk telinga kiri, keluar telinga kanan. Ape dah jadi dengan Leman Lengkung ni.

Panjang lebar, sampai berbuih mulut Atah Roy (bengak sikit), bercakap kepada Leman Lengkung. “Pujian yang berlebihan akan membuat kite lupe dengan diri kite, dan kalau kite dah lupe dengan diri kite, make dengan mudahnye kite jatuh macam tapai,” Atah Roy menasehati Leman Lengkung. Dasar anak muda yang sedang penuh dengan semangat berapi-api, Leman Lengkung tak peduli sangat. Bagi Leman Lengkung, pujianlah yang akan membuat dirinya akan lebih terkenal, maka dengan terkenal, dia mewujudkan keinginan.

“Hati-hati dengan pujian, Man. Orang kalau dicaci-maki masih bisa melihat kelemahan dirinya, tapi orang selalu lupe diri apebile dipuji,” ujar Atah Roy ketike melihat Leman Lengkung tersenyum di depan cermin.

“Atah, zaman kenen tak sama zaman atah dulu,” Leman Lengkung ketus.

“Ape yang bede Man? Same saje. Semenjak ade manusie yang mendiami bumi ini, sampai saat ini, sama saje,” ujar Ayah Roy.

“Atah,” Leman Lengkung membalikkan badannya dari cermin dan menghadap ke Atah Roy. “Atah terlalu kuno. Atah harus tahu, orang memuji kite, tentu ade sebabnye. Dan kawan-kawan saye, memuji saye bukan karene saye ganteng, tapi karene saye punye kemampun menjadi terbaik. Ape yang mereke harapkan dari saye; kaye tidak, ganteng tidak,” jelas Leman Lengkung.

“Betul dikau tak kaye dan tak ganteng, tapi dikau punye kemampuan meyakinkan Penghulu Zaiman, sehingge dikau dipercaye oleh si Zaiman tu. Dan kawan-kawan dikau memanfaatkan kedekatan dikau tu dengan memuji dikau setinggi langit,” jelas Atah Roy pula.

“Lantaklah Tah. Bagi saye pujian yang diberikan oleh kawan-kawan, saye jadikan motivasi bagi saye untuk tampil lebih baik lagi,” Leman Lengkung pergi meninggalkan Atah Roy.

Atah Roy tak dapat berbuat banyak. Atah Roy menyadari bahwa kelemahan manusia yang paling susah dibaiki adalah ketika dia merasa basar dengan pujian-pujian. Walaupun Leman Lengkung tidak mau menerima nasehat Atah Roy, Atah Roy bertanggung jawab untuk menyadarkan Leman Lengkung, sebelum Leman Lengkung kecewa dengan puji-pujian yang akan mengecewakannya.

Atah Roy akan menyusul Leman Lengkung, namun baru saja Atah Roy melangkahkan kakinya menuju pintu rumah, Karim, Zahir, Kahar dan Jang Debuk, kawan Leman Lengkung, sudah tercongguk di depan pintu.

“Leman ade, Tah?” Karim bertanya.

“Leman baru saje pergi. Mike tak jumpe leman di jalan tadi?” Atah Roy pula bertanya.

“Tak Tah. Mungkin Leman lewat jalan motong agaknye,” kata Zahir.

“Atah nak kemane?” Kahar bertanye.

“Aku nak menyusul Leman,” jawab Atah Roy.

“Usah pegi dulu Tah. Kami dah lame tak mendengo nasehat-nasehat Atah,” Jang Debuk menyampuk.

“Betul tu Tah. Kami kalau dah mendengo nasehat Atah, rasenye nak bejalan saje kami takut,” tambah Kahar.

“Nasehat Atah, macam hujan yang ditunggu pade musim kemarau,” Karim menambahkan.

“Syukurlah, mike masih mau mendengarkan nasehat aku,” Atah Roy merasa besar hati.

“Atah kalau memberi nasehat, kami tercerahkan rasenye,” ujar Karim.

“Atah ni sepatotnye duduk sebagai penasehat di kampung ni,” Kahar melirik ke arah Jang Debuk.

“Auk Tah. Nasehat Atah memberikan jalan untuk kite mengambik sikap,” Jang Debuk menambah lagi.

“Aku bukan ape. Aku ni orangnye rendah hati, tak mau menonjolkan diri. Bio sajelah orang-orang macam mike ni datang ke aku, mintak nasehat,” Atah Roy seakan di atas angin.

“Betul tu Tah. Atah ade rokok?” Karim bertanye.

“Untuk ape?” Atah Roy penasaran.

“Kalau Atah ade rokok, kan sedap kite bersembang, Tah,” jelas Karim.

“Betul juge tu,” Atah Roy termakan pujian, lalu Atah Roy pun mengambil duit dari saku celananya. Kawan-kawan Leman Lengkung, saling berpandangan. “Ini, beli rokok dulu,” kata Atah Roy sambil menyodorkan duit seratus ribu.

Jang Debuk mengambil duit tersebut, lalu Jang Debuk pergi diikuti oleh kawan-kawannya. Atah Roy heran dan hanya bisa diam macam patung Leberty. Mulut Atah Roy terganga. Atah Roy tak berdaya.

“Macam mane aku nak menasehati Leman Lengkung, diri aku saje tak sanggup meredam pujian,” kate Atah Roy dalam hati.