Selamat Datang di Hikayat Atah Roy. Senyum Adalah Keikhlasan yang Tak Terucap

Sabtu, 16 Juni 2012

Rusak Sebelum Dipakai


Atah Roy sebenarnya tak peduli dengan cerita tiga orang ibu-ibu yang duduk di kursi depan. Namun suara ibu-ibu itu semakin keras terdengar setiap kali Atah Roy menutup mata, mau tidur. Mobil travel yang ditumpangi Atah Roy dari Dumai ke Pekanbaru, berisi 6 orang penumpang. Satu perempuan masih muda, duduk di sebelah supir. Tiga orang ibu-ibu duduk di tengah, pas depan Atah Roy, dan seorang lelaki muda, sejak mobil bergerak sudah tidur di samping Atah Roy.
Suara ibu-ibu itu semakin keras singah di telinga Atah Roy. Merasa tidak mampu melawan suara itu dengan tidur, Atah Roy pun mencelek alias membuka matanya lebar-lebar. Atah Roy dengan seksama mendengar cerita ketiga ibu-ibu tersebut. Mendengar percakapan ibu-ibu tersebut, Atah Roy dapat menyimpulkan ketiga ibu itu kepala sekolah. Mereka bercerita berbagai macam persoalan yang mereka hadapi. Mulai dari kelulusan murid-murid mereka, sampai kenakalan siswa. Atah Roy tak ambil pusing betullah dengan kenakalan siswa, karena waktu sekolah dulu juga, degil alias nakal, namun nakal Atah Roy terarah. Degil untuk mewujudkan cita-cita kaedahnya.
Percakapan ketiga ibu itu yang membuat Atah Roy semakin matan alias serius mendengarkannya adalah ketika mereka menceritakan bantuan kursi dari pemerintah. Entah mengapa, bantuan pemerintah, baik perbaikan gedung, bangun gedung, maupun peralatan untuk sekolah, selalu rusak sebelum sempat digunakan.    
“Kadang kite ni serba salah ye, entah siswa kite degil merusak jatah dari pemerintah, atau jatah pemerintah tu memang tak bagus. Due hari pakai, dah rusak,” ujar seorang ibu yang duduk di sebelah kanan depan Atah Roy.
“Ye, saye pernah marah pade murid saye, gara-gara kursi rusak diduduknye. Murid saye menjawab, ‘buk, kursi ni tak ade kami ape-ape kan, memang dah rusak dari sanenye’. Terpikir juge saye, kadang kale, jatah pemerintah ni dah rusak sampai di sekolah,” kata ibu yang berada di depan sebelah kanan Atah Roy.
“Samelah saye, bu, pago sekolah baru siap seminggu, dah rubuh. Saye pikir anak saye yang merubuhkannye, eeee… rupenye memang pagi tu rubuh sendiri,” ujar ibu yang di tengah pula disambut ketawa kedua kawannya.
Atah Roy cuma bisa tersenyum getir. Perbincangan ketiga ibu itu sangat mengiris hati Atah Roy. Atah Roy tidak menyalahkan ketiga ibu itu, memang bantuan atau pun  proyek yang mengatasnamakan pemerintah, selalu masalah. Masalah yang selalu terjadi, barang tu belum sempat dipakai, sudah rusak terlebih dahulu. Tapi kalau swasta yang buat, baik merehab gedung, atau membangun gedung, pasti kokoh dan tahan lama.
Ketiga ibu itu terus bercerita mengenai bantua-bantuan pemerintah yang lainnya, dan pasti mengalami hal yang sama, rusak sebelum dipakai. Otak Atah Roy pun berkelana, mengapa hal seperti ini terjadi. Padahal ‘jatah’ bantuan itu untuk anak cucu di masa akan datang untuk negeri ini lebih baik lagi. Atah Roy pun teringat kasus proyek pembangunan sarana olahraga di desa Hambalang, Sentul, Kabupaten Bogor. Proyek yang menghabiskan dana besar itu, ambruk.
“Kadang murid kite degil juge, asik nak mengobel barang baru, sementare barang baru tu rapuh, sekali sentuh dah rusak,” ujar ibu yang di samping kanan.
“Tak mungkin pulak barang tu kite pamerkan saje tanpe digunekan. Kadang kite ni serbe salah, dibio rusak, dipakai tambah parah,” tambah ibu yang duduk di tengah.
“Ye, tak mungkin ditenguk je barang tu, bekapng pulak die,” ibu sebelah kiri menyeletuk, terdengar tawa mereka.
Atah Roy senyum sendiri. Apa yang dikatakan ketiga ibu itu, benar adanya. Jalan menuju Pekanbaru ini saja, sudah berapa kali diperbaiki, namun seminggu, paling kuat tiga bulan, pasti rusak lagi. Dan yang paling mengherankan, rusaknya lebih parah dari sebelumnya. Inilah negeriku, pikir Atah Roy, kepentingan bersama selalu dijadikan kepentingan pribadi. Untuk memenuhi kepentingan pribadi, orang banyak menjadi korbannya.
Beberapa saat kemudian, suara ketiga ibu itu menghilang. Atah Roy menyengahkan kepalanya, melihat ibu-ibu tersebut, ketiga ibu itu sudah tertidur. Atah Roy ingin membangunkan mereka, dan menyuruh mereka bercerita lagi tentang barang-barang yang rusak sebelum sempat dipakai. Atah Roy tidak punya keberanian untuk membangunkan mereka, karena orang yang terlelap bisa saja membentak apabila dibangunkan secara paksa.
Mata Atah Roy memang tak bisa ditutup lagi untuk tidur. Pikirannya melayang-layang pada bantuan pemerintah untuk menyejahterakan bangsa ini, selalu disalah gunakan. Atah Roy teringat bantuan pemerintah berupa bibit getah yang diterima Leman Lengkung satahun yang lalu. Leman Lengkung dengan semangat yang mengebu-ngebu menanam bibit getah itu. Dengan bibit getah itu, Leman Lengkung berkeinginan menjadi pengusaha getah yang sukses. Keinginan Leman Langkung hancur terhempas bersama tak tumbuhnya bibit getah itu. Bibit getah yang ditanam Leman, layu sebelum berkembang alias mati seminggu setelah ditanam. Leman menyangka, tangannya yang tak cocok. Setelah Leman Langkung melihat ‘kebun’ getah kawan-kawannya, yang sama-sama dapat bantuan bibit getah dari pemerintah, satu pun tak hidup. Leman dan kawan-kawan menyimpulkan bahwa bibit gitah itulah yang tak baik. Selidik punye selidik, memang bibit getah itu yang tak bagus.
Atah Roy menggelengkan kepalanya. Atah Roy tak tahu lagi apa yang mesti dipikirkan tentang negeri ini. Negeri, negeri kaya, tapi kenapa bantuannya selalu rusak sebelum sempat dipakai.
“Mungkin, aku harus pindah ke negeri kayangan, sehingga aku tak pernah melihat semua ini,” ujar Atah Roy sambil memejamkan matanya, berharap bermimpi sedap dalam mobil menuju Pekanbaru.
Baru saja Atah Roy terlelap, supir memaki dengan kerasnya, karena mobil yang dibawa masuk lubang besar dan dalam. Atah Roy tak jadi tidur, sementara kepalanya semakin berat memikirkan negeri ini.    

    



Sabtu, 02 Juni 2012

Dunie Semate


Leman Lengkung memang sudah melampau. Semua orang yang menegur alias mengingatkannya dijadikan musuh. Seharusnya Leman Lengkung bersyukur karena masih ada orang yang mau menegur atas perbuatannya. Orang yang menegur perbuatan orang lain itu, bukan berarti benci, tapi karena rasa sayanglah yang menyebabkan mereka mau mengingatkan. Rupanya anggapan Atah Roy tentang mengingatkan orang lain, tidak berlaku pada Leman Lengkung. Atah Roy kesal, tapi tidak dapat berbuat banyak.
Keangkuhan Leman Lengkung menjadi-jadi ketika orang yang didukung bersama timnya duduk menjadi penghulu di kampung. Mulailah Leman Lengkung dan kawan-kawannye tumbuh taji, menendang sana, menendang sini, macam mereka saja pemilik kampung ini. Selain angkuh dan sombong, Leman Lengkung berserta kawan-kawannya selalu mengadakan pesta organ tunggal. Setiap sebulan sekali, organ tunggal meraung di kampung. Rupenya gayung bersambut, mungkin disebabkan orang kampung haus dengan hiburan, kegiatan organ tunggal mendapat pujian. Tak tanggung-tanggung, dari anak muda, sampai yang tua renta, mengagungkan Leman Lengkung sebagai dewa yang telah menyalamatkan mereka dari sunyi-sepinya kampung apabila malam tiba.
Kesuksesan Leman Lengkung mengadakan acara organ tunggal tiap bulan ini, direspont oleh Kepala Kampung. Kepala Kampung pun menunjuk Leman Lengkung sebagai staf ahli sekaligus penasehat kultural, politik, ekonomi, pokok semua cabang kehidupan Leman Lengkung ahlinya. Kehidupan Leman Lengkung pun berubah secara drastis. Dulu Leman Lengkung hanya pakai sepeda, sekarang sudah pakai motor besar. Dulu pakai baju ‘pusake’ dari Atah Roy, sekarang beli di toko di ibu kota kabupaten. Pokoknya Leman Lengkung memang betul-betul berubah, hanya satu yang belum dapat diubah oleh Leman, yaitu; badannya yang tetap melengkung.
Sebagai bapak saudara, Atah Roy sudah menasehati Leman Lengkung, agar tetap menjadi orang yang sederhana. Sesuai dengan keadaan kampung. Jangan terlalu mencolok, tak elok dipandang orang. Apalagi orang-orang dalam keadaan sulit, kita pula hidup dalam kemewah-mewahan.
Ketika Atah Roy menyampaikan nasehatnya kepada Leman Lengkung, Leman Lengkung marah. Dia tidak terima apa yang dikatakan Atah Roy. Leman Lengkung juga mengatakan bahwa orang-orang iri melihat keberhasilannya, termasuk Atah Roy. Untuk itulah Leman Lengkung akan membayar apa yang telah dilakukan Atah Roy terhadap dirinya selama ini, mulai dari kecil, sampai Leman Lengkung bisa jadi orang terpandang di kampung ini.
“Aku bukan anak kecik lagi, Tah! Aku ni sudah staf ahli sekaligus penasehat! Tak perlu Atah menasehat aku, aku tahu semuenya!” bentah Leman Lengkung kepada Atah Roy.
“Bukan macam tu, Man, aku…” kalimat Atah Roy dipotong Leman Lengkung.
“Aku tahu Tah, selame ini, aku numpang di rumah Atah. Kalau Atah nak mintak bayo dengan ape yang Atah lalukan kepade aku, aku akan bayo! Jadi tolong Atah jumlahkan semue berape duit yang Atah keluarkan untuk aku selame ini! Atah tinggal cakap, aku bayo semuenye!”
Hati Atah Roy seperti diremas Leman Lengkung. Atah Roy sesak nafas. Dia menatap Leman Lengkung. Air mata Atah Roy keluar. Ia betul-betul sedih mendengar apa yang dikatakan anak saudaranye yang ia besarkan selama ini.
“Tak usah Atah nak berakting ibe di depan aku. Semue orang miskin same, Tah, berharap sesuatu dengan air mate. Kalau dah dapat, kite dilemparnye. Aku ni tim sukses, tahu aku ape yang dikehendaki orang miskin macam Atah ni!” Leman Lengkung menjadi-jadi.
Atah Roy memang tak dapat berbuat apa-apa. Ia seperti disambar petir tunggal; kaku, cuma air mata terus saja mengalir di pipinya.
“Man, siket pun aku tak pernah menghitung ape yang aku lakukan untuk kebaikkan dikau, Man. Aku ikhlas melakukan semuenye. Dunie ini hanye sementare. Kesenangan yang kite miliki di atas dunie ini, sekejap saje bisa lesap, hilang tak berbekas. Sebagai manusie, aku harus melakukan ape yang menjadi tanggung jawab aku. Aku tak pernah menyesal telah menjadi bapak saudare dikau selame ini. Tapi tolong, Man, jangan dikau ukur semue yang aku lakukan selame ini dengan duit. Duit itu hanye dunie semate, Man,” suara Atah Roy menggigil. Dia sangat terpukul dengan apa yang dikatakan Leman Lengkung.
“Tahu pun Atah duit itu dunie semate, karene semate itulah, Tah, aku berusahe mendapatkannye. Kalau berton-ton, tak ade nak mengejonye, Tah!”
“Man, dikau pikir dikau yang paling hebat di kampung ni?”
“Nyatenye, aku dipercaye menjadi staf ahli dan sekaligus penasehat Kepale Kampung,” jawab Leman Lengkung dengan gaya sombong.
“Dikau memang kacang lupe dengan kulitnye, Man,” suara Atah Roy mulai tegar.
“Berape Atah nak aku bayo? Kalau dah aku bayo, aku tak ade utang lagi pade Atah lagi dan aku akan terbebas dari perumpamaan kacang lupe dengan kulitnye,” Leman Lengkung bertambah sombong.
“Tak terbayo dikau, Man. Aku ikhlas” kata Atah Roy.
“Kalau macam tu, sudahlah, jangan Atah nak menasehat staf ahli dan penasehat Kepale Kampung ni pulak. Itu yang aku tak suai. Atah tinggal cakap, ape yang Atah hendak?”
Tiba-tiba salah seorang kawan Leman Lengkung masuk ke rumah Atah Roy. Kawan Leman Lengkung tersebut terengah-engah. Kelihatan sekali dia baru berlari kencang menuju ke rumah Atah Roy. Melihat temannya terengah-engah, Leman Lengkung pun menghampirinya.
“Kenape dikau macam dikejo hantu kopik?” tanye Leman Lengkung.
“Kepale Kampung ditangkap, karena mengkorupsi dana bantuan kampung. Name dikau disebut-sebut, Man,” ujar kawan Leman Lengkung.
Muka Leman Lengkung berubah pucat, seperti tak ada darah mengalir di mukanya. Leman Lengkung memandang Atah Roy seakan minta tolong. Atah Roy berpaling muka.
“Dunie semate ni, Man. Hadapi sajelah, belilah hukum tu dengan duit yang dikau punye,” kate Atah Roy sambil pergi meninggalkan Leman Lengkung.
“Ataaahhh…, jangan tinggalkan akuuuuu…!”
“Man, Man, Man… dikau mimpi?” kata Atah Roy sambil mengunjang tubuh Leman Lengkung yang tidur di sebelahnya.
Leman Lengkung tersentak, dan langsung duduk. “Atah, maafkan saye,” kata Leman Lengkung memeluk tubuh Atah Roy.
“Mimpi tentang ape, Man?” Atah Roy bertanye.
“Ah, malu, Tah,” ujar Leman Lengkung masih memeluk bapak saudarenye.   

       
  
    

Sabtu, 26 Mei 2012

Oh, Lady Gaga

Sebenarnya Atah Roy tidak ingin membongkar kisah masa lalunya, sehingga ia membujang sampai saat ini. Peristiwa itu sangat memilukan, bahkan perihnya sampai sekarang masih terasa. Disebabkan peristiwa itu juga, beribu bahkan berjuta kesunyian telah melanda kehidupan Atah Roy. Makan tak sedap, tidur tak nyenyak, pokoknya setelah peristiwa itu Atah Roy seperti rumah tak berpenghuni, rumah kosong. Atah Roy tak ingin mengenang peristiwa itu sedetik pun, namun pada hari ini, orang-orang telah membongkar ‘kubur’ peristiwa masa lalu itu. Luka lama yang belum sembuh benar, kini berdarah kembali. Lady Gaga, sebuah nama yang telah lama menghilang kini muncul kembali di benak Atah Roy.
Mungkin pembaca menganggap Atah Roy bermimpi di siang hari; menampung embun di tengah hari, tapi inilah kenyataan, bahwa sebelum Lady Gaga menjadi seorang super ‘bintang’, Lady Gaga pernah menjalin hubungan asmara dengan Atah Roy. Oh, tak mungkin! Apa yang tak mungkin di atas dunia ini? Selagi ayam jantan masih berkokok, ayam betina masih betelur, maka segalanya masih bisa terjadi.
Itulah sebabnya, ketika Lady Gaga menjadi perbincangan di negeri ini, Atah Roy seperti disembar petir tunggal, berdesuk melantas ke lubuk hati Atah Roy. Bukan Atah Roy mau menumpang populer permasalahan Lady Gaga di negeri ini; mencari kesempatan membesarkan nama. Tapi mendengar nama Lady Gaga disebut-sebut, peristiwa masa lalu bersama Lady Gaga terbentang bak sawah yang padinya akan dituai, bak lautan lepas menyediakan gelombang. Atah Roy tak mampu berdiam diri, semakin berdiam, semakin kenangan itu menusuk-tusuk waktu Atah Roy.
Lady Gaga, waktu itu, masih muda belia. Atah Roy juga. Perkenalan Atah Roy dengan Lady Gaga terasa aneh, tapi nyata. Mereka bertemu dalam mimpi. Seperti kebanyakan remaja yang sedang dimabuk asmara, mereka berdua saling bertukar nomor handphone. Dari sinilah jalinan asmara mereka semakin erat. Kekuatan cinta memang tak terbilang dahsyatnya. Jarak antara Amerika dan Riau, bukan halangan bagi mereka untuk berbalas ‘pantun cinta’. Seminggu sekali, Atah Roy berkunjung ke negeri Paman Sam tersebut. Begitu juga Lady Gaga, seminggu sekali berkunjung ke tanah Lancang Kuning ini. Semua berjalan tanpa ada rintangan. Tidak ada pencekalan, tidak ada perdebatan menyakitkan hati, tidak juge ada pergunjingan yang memerahkan telinga. Berjalan lancar saja, seperti kebanyakan remaja sedang pacaran.
Menurut Atah Roy, Lady Gaga itu memang suka sensasi. Hal ini dilakukan untuk mencari perhatian orang lain. Dengan merebut perhatian orang lain, dia dengan mudah ‘menyeret’ opini orang terhadap dirinya. Semakin banyak orang yang membicarakannya makin terkenallah dirinya. Dan itu dilakukannya semenjak dari kecil.
Sepengetahuan Atah Roy, waktu kecil Lady Gaga yang bernama asli Stefani Joanne Angelina, sudah memiliki keinginan berbeda dengan orang lain. Di sekolah dasar, ketika disuruh main piano, Lady Gaga memainkan piano ambil berdiri di atas kursi. Pada usia remaja, Lady Gaga tetap eksentrik agar berbeda dengan orang lain. Apalagi setelah berkecimpung dunia hiburan, ‘keanehannya’ semakin menjadi-jadi, sehingga dia tetap eksis. Dunia hiburan memang kadang kala menciptakan orang menjadi yang lain.
Disebabkan ‘keanehan’ Lady Gaga inilah Atah Roy dengan terpaksa memutuskan Lady Gaga. Bukan Atah Roy tidak modern, tapi agama yang dipercayai Atah Roy tidak sesuai dengan gaya Lady Gaga. Atah Roy sudah berulang kali pula menyuruh Lady Gaga mengubah penampilannya, namun Lady Gaga tetap pada pendiriannya. Perbedaaan bagi Lady Gaga merupakan eksistensi manusia, jadi tak mungkin diseragmkan semuanya.
Pro dan kontra kedatangan Lady Gaga di negeri ini, sesuatu yang wajar. Pada satu sisi, menurut Atah Roy, gaya Lady Gaga tidak sesuai dengan ajaran agama atau pun adat mayoritas masyarakat Indonesia, makanya kedatangan Lady Gaga ditolak. Namun demikian, Atah Roy berpendapat seharusnya sebelum kita menolak seseorang disebabkan gaya tidak sesuai dengan agama di sini, misalnya pakaian tidak senonoh,kita harus intropeksi diri. Banyak yang dinobatkan sebagai artis di negeri ini, menggunakan pakaian dan bertingkah laku yang dapat mengikis nilai moralitas dan nilai keagamaan generasi muda.
“Tak usahlah aku sebutkan satu persatu name-name artis atau kelompok yang pakaiannye dan juge tingkah lakunya tidak sesuai dengan agame di negeri ini, kite semue sudah tahu,” Atah Roy agak sedikit emosi ketike berjumpe dengan Leman Lengkung.
“Ngape Atah macam orang ngigau aje ni?” Leman Lengkung penasaran.
“Dikau tak bace koran, mane tahu. Seluruh pelosok negeri ini dah heboh dah,” ujar Atah Roy dengan nada tinggi.
“Masalah ape, Tah? Lady Gaga?” Leman Lengkung mulai menangkap kegelisahan Atah Roy.
“Auk. Waktu Lady Gaga belum terkenal, dan masih pacaran dengan aku, tak seheboh ini, padahal berulang-ulang budak Lady tu jumpe dengan aku, tak jadi masalah pulak. Dah terkenal macam ini, semue nak bercakap,” tambah Atah Roy semakin geram.
“Yelah Tah, dulu Lady Gaga tidak jadi pusat perhatian, sekarang ni die artis papan atas dunia, tentu jadi sorotan,” jelas Leman Lengkung.
“Tahu aku tu, tapi tak usahlah dibeso-besokan sangat, lebih banyak masalah di negeri ini yang perlu diselesaikan, bukan masalah Lady Gaga satu aje. Masalah Lady Gaga kecil tu. Sebelum heboh macam ini, Lady Gaga cume budak mude di kota aje yang tahu, tapi sekarang ni, orang tue, mude di kampung juge dah membahas Lady Gaga tu. Makin terkenal, dan makin mewahlah sponsor dan Lady Gaga tu. Saling memanfaatkan nampaknye,” jelas Atah Roy panjang lebar.
“Atah Roy ni, pro atau kontra Lady Gaga ni?” Leman Lengkung mengungkit.
“Tak pro, tak kontra. Kejahatan harus dilawan apepun bentuknye, kebenaran harus ditegakan bukan untuk populeritas,” jawab Atah Roy.
“Tapi ape betul, Atah pernah menjalin hubungan asmara dengan mak cik Lady Gaga tu?”
“Hahahaha… aku bengak aje, kenal pun tidak dengan Lady Gaga tu. Manelah tahu, aku bisa juge terkenal macam Lady Gaga, memanfaatkan suasana yang sedang membara ini,” ujar Atah Roy sambil tersenyum menang.
           

Minggu, 20 Mei 2012

Malam Jum’at


Dari surau yang tidak begitu besar, suara azan menandakan sholat Isya bergema. Atah Roy bergegas menuju surau yang berjarak 500 meter dari rumahnya. Atah Roy berharap sholat Isya berjemaah malam Jum’at ini akan dihadiri banyak warga kampung. Maklum, malam Jum’at merupakan malam penuh berkah. Menurut pengetahuan Atah Roy yang didapat dari membaca beberapa buku atau pun dari mendengar ceramah pakar-pakar agama tentang banyaknya hikmah yang ditaburkan pada malam Jum’at.    
Di perjalanan menuju surau, Atah Roy heran. Jalan sepi, tak ada tanda-tanda orang menuju ke surau. Dalam hati Atah Roy berbisik, mungkin orang-orang sudah berada di surau. Untuk itulah, Atah Roy mempercepat dan mempebesar langkahnya, agar cepat-cepat sampai ke surau. Sampai di surau, Atah Roy tak melihat orang-orang di dalam surau. Azan yang didengungkan Dolah Kelip, hampir selesai. Dengan kecurigaan yang mendalam, Atah Roy masuk ke dalam surau.
Azan selesai. Dolah Kelip, lelaki sebaya Atah Roy, meletakkan standmic dekat sejadah imam. Kemudian Dolah mengambil posisi di sap makmum. Atah Roy memperhatikan tingkah Dolah Kelip yang selambe, tak peduli dengan datang-tidaknye orang kampung untuk mengerjakan sholat Isya berjemaah malam Jum’at ini. Dolah Kelip langsung melaksanakan sholat sunat sebelum Isya. Atah Roy pun mengerjakan sholat sunat.
Selesai mereka melaksanakan sholat sunat, orang-orang kampung belum juga datang. Atah Roy melirik ke Dolah Kelip yang berdiri mau melaksanakan qhomat.
“Kite tunggu jemaah lain?” pertanyaan Atah Roy memecah kebekuan dalam surau.
“Tak akan ade orang datang, cayelah cakap aku,” ujar Dolah Kelip sambil meluruskan sap.
“Manelah tau, dalam lime menit ni, ade yang datang,” Atah Roy menawarkan gagasannya untuk menunggu jemaah lainnya.
“Yelah, kite tunggu lime menit,” Dolah Kelip duduk kembali. Mulut Dolah komat-kamit, membaca ayat-ayat pendek.
Lima menit telah berlalu. Tak ada tanda-tanda jemaah malam Jum’at di surau ini akan bertambah. Atah Roy memandang ke pintu masuk surau, cuma gelap tersergam di luar surau. Suara-suara binatang malam bertengkah menyulam hitam pekatnya malam. Harapan Atah Roy pun sirna. Atah Roy berdiri. Dolah Kelip melihat ke arah Atah Roy.
“Kite tunggu lagi?” tanya Dolah Kelip seakan mengejek Atah Roy.
“Tak perlulah,” jawab Atah Roy, kemudian Atah Roy langsung qhomat.
Sholat Isya pun telah selesai dilaksanakan di surau yang hanya berisi dua orang itu. Makmum, Atah Roy, menyodorkan tangannya ke imam, Dolah Kelip. Mereka bersalaman setelah doa selesai. Atah Roy memandang Dolah Kelip dengan dengan raut muka penuh pertanyaan. Sementara Dolah Kelip santai saja.
“Kenape setiap malam Jum’at, orang-orang engan sholat Isya berjemaah, Lah?” Atah Roy tak mampu menahan pertanyaannya di dalam hati.
Dolah Kelip berdiri, lalu menggulung kain putih yang dijadikan sap untuk makmum. Sambil menggulung kain itu, Dolah Kelip tersenyum ke arah Atah Roy. Atah Roy bertambah penasaran.
“Ngape pulak engkau tersenyum, Lah?”
“Ini malam Jum’at kan?” balik Dolah Kelip bertanya.
“Ye, malam Jum’at,” Atah Roy menjawab.
“Malam Jum’at, orang takut keluar rumah,” ujar Dolah Kelip tanpa beban.
“Ape pasal?” Atah Roy tambah penasaran.
“Orang takut hantu.”
“Astaqfirullahalazim. Ape yang engkau cakapkan ni, Lah?”
“Betul, kalau engkau tak percaye, pergilah ke rumah-rumah warga. Tanye satu persatu, ngape mereke engan ke surau malam Jum’at ni,” jelas Dolah Kelip.
“Ape pasalnye mereke takut?” buru Atah Roy.
“Sebabnye banyak nonton televisi,” jawab Dolah Kelip pasti.
“Ngape pula bisa jadi macam tu?”
“Dikau tenguk sendirilah, semue stasiun televisi di republik tercinta ini, menayangkan acara hantu pade malam Jum’at ni. Mulai dari cerite hantu, sampai wawancara tentang masalah hantu. Malam Jum’at disulap jadi malam mengaruknye para hantu. Aku tak taulah ape hendak pemilik stasiun televisi di negeri ini, menayangkan acara hantu pade malam Jum’at. Padahal malam Jum’at, malam penuh berkah. Entahlah, orang kite ikut-ikut pula percaye,” jelas Dolah Kelip agak emosi.
“Ye pulak ye. Suailah setiap malam Jum’at, Leman Lengkung tak kelou umah, asik depan tv lengkap dengan peralatan tidou, bantal dan selimut tebalnye. Ini gawat ni, Lah, kite harus cepat mengubah pandangan ini,” Atah Roy cemas.
“Nak mengubah macam mane? Tv tu lebih perkase dibandingkan kite. Tv dah jadi berhale di zaman modern ni, ape yang ditayangkan di tv, orang percaye” Dolah Kelip makin geram.
“Jadi, ape nak kite buat?” Atah Roy kehilangan kecerdasannya.
“Kite buat stasiun televisi baru, dan kite kemas acara menarik berlandaskan ajaran agama,” jawab Dolah Kelip pasti.
“Mane nak cekau duit, Lah? Mahal tu?”
“Cekau-cekau ah, cekau-cekau ih ajelah,” ujar Dolah Kelip lagi. “Dahlah Roy, mari kite balik. Kite doakan ajelah ade orang kaye di negeri ini buka stasiun televisi yang peduli dengan agama,” tambah Dolah Kelip.
“Tapi…,”
“Tak usah pakai tapi lagi, Roy, pening kepale kite kang,” Dolah melangkah ke arah pintu surau. Atah Roy mengikutinya.
“Mampus aku balik ni kang, jalan menuju rumah aku gelap betul,” bisik Atah Roy dalam hati. Atah Roy teringat film tengah malam Jum’at kemarin. “Mak e…”
    

Sabtu, 14 April 2012

Makan Sumpah


Setiap peristiwa adalah pelajaran bagi manusia. Seburuk apapun peristiwa, ianya tetaplah bentangan kesadaran yang dapat menuntun manusia melakukan hal yang lebih baik lagi. Peristiwa yang diciptakan oleh manusia, baik sadar maupun terjadi secara alamiah, akan menjadi pengalaman. Pengalaman mengajar manusia menjadi lebih dewasa. Atah Roy teringat lirik lagu yang dinyanyikan penyanyi Malaysia, Ramli Syarif, “Sejarah mengajar kita menjadi lebih dewasa.” Maka tidak salahlah apabila orang-orang terdahulu mengatakan “orang buta saja, tidak mau tersandung di tempat yang sama.” Begitulah berharganya peristiwa yang terwujud menjadi pengalaman.
Atah Roy tidak mengerti, mengapa ada juga orang yang terperangkap dalam peristiwa yang sama, tidak mampu keluar menjadi pemenang pada turnamen kehidupan. Hal inilah yang menyebabkan Atah Roy tidak habis pikir, ditambah lagi melihat keadaan atau peristiwa di negeri ini yang semakin jauh dari cita-cita bersama. Cita-cita ingin mewujudkan kesejahteraan orang banyak hanya pemanis di bibir saja. Orang-orang sibuk dengan dirinya sendiri dan pada akhirnya terpasung oleh diri sendiri. Sebenarnya, menurut Atah Roy, apabila orang mau berjalan pada garis kepentingan bersama, maka akan selamat dan keluar menjadi pemenang. Bukankah diciptakan manusia di bumi ini agar mereka saling bantu membantu sesamanya?
Entahlah, Atah Roy seperti kehilangan ketajaman daya pikirnya berhadapan dengan masalah ini. Ditambah lagi sms yang dikirimkan oleh Tamam Keluang, kawan lama Atah Roy, yang sukses menjadi tokoh panutan di kota. “Royab, aku betul-betul makan sumpah.” Tulis Tamam Keluang yang dikirim ke Atah Roy lewat sms.
Atah Roy bingung dan membalas sms itu dengan pertanyaan. “Mengapa dikau cakap macam itu, Mam?”
Lama Atah Roy menunggu balasan Tamam Keluang. Tiba-tiba saja, Atah Roy terkenang Tamam Keluang sebelum merantau ke kota. Dua puluh lima tahun lalu, Tamam Keluang tidak pernah menolak apapun kerja yang disodorkan kepadanya. Apalagi kalau pekerjaan menjadi penjaga rumah atau kebun pada malam hari. Karena Tamam sering bekerja pada malam hari, maka Tamam pun digelar keluang, maka itulah sejarah singkat orang memanggil Tamam dengan kata tambahan Keluang di belakang namanya.
Berbekal pengalaman hidup susah di kampung, Tamam Keluang berazam mengubah nasibnya dengan merantau ke kota. Ditambah lagi ada kesempatan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dengan biaya kuliah ditanggung oleh salah seorang tokoh masyarakat kampung ini yang terlebih dahulu sukses di kota. Tamam Keluang tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, dia pun langsung ke kota. Atah Roy ingat betul, bagaimana Tamam Keluang meminjam duit kepadanya  ketika mau berangkat ke kota. Itu sudah lama berlalu, Atah Roy sudah lupa, tapi sms Tamam Keluang membangkit kenangannya itu.
“Royab, aku seperti kacang lupe dengan kulitnye. Aku orang yang melupekan sejarah. Aku terlalu memikirkan kepentingan aku sendiri, sehingge aku tersesat dalam keinginan aku sendiri. Aku pun melupekan orang-orang yang telah berjase mengantarkan aku menjadi orang sukses di kota ini. Sampai-sampai aku pun tidak pernah menghubungi dikau lagi. Entahlah, entah ade gune atau tidak penyesalan aku ini, tapi paling tidak aku menyadari kesalahan aku, walaupun datangnya terlambat,” panjang lebar sms Tamam Keluang dibaca Atah Roy. Atah Roy belum dapat menangkap apa maksud sms Tamam Keluang ini.
“Ade masalah apa, Mam?” balas Atah Roy singkat.
Masuk kembali sms Tamam Keluang. “Royab, aku ni memang makan sumpah. Aku bukan saje mengingkari orang banyak, aku juge telah melanggar janji aku sendiri. Aku mengingkari diri sendiri dan sumpah jabatan yang aku ikrarkan di depan kitab suci, aku langgar. Aku betul-betul makan sumpah. Aku yakin, masalah berat yang sedang aku hadapai sekarang ini, merupakan buah dari sumpah yang aku ucapkan. Dulu aku paling takut untuk bersumpah, apelagi di depan kitab suci. Sumpah bagi aku dulu merupakan perjanjian suci dan aku tak mungkin mengabaikannye. Namun berjalan dengan waktu, aku menganggap sumpah itu hanye permainan. Sumpah hanye akal-akalan agar aku dianggap orang benar-benar bersih dan suci. Perjalanan waktu juge menyebabkan aku tidak peka lagi dengan kesusahan orang banyak. Aku hanye memikirkan diri sendiri, sehingge aku menganggap diri sendirilah yang perlu dikasihi. Untuk mengasihi diri sendiri, aku melakukan apapun untuk mewujudkan keinginan aku. Aku bunuh hati nurani. Aku langgar sumpah. Aku pun tidak pernah menepati janji yang aku buat sendiri. Menganggap kepentingan pribadi di atas segala-galanya inilah yang mencampakan aku ke lembah hina ini,” kembali sms panjang Tamam Keluang masuk ke hp Atah Roy.
Atah Roy belum tahu apa sebenarbnya yang sedang dihadapi Tamam Keluang. Samar-samar Atah Roy mulai paham, tapi belum mengetahui benar. “Masalah ape yang sedang dikau hadapi, Mam?”
Tamam Keluang tak membalas sms Atah Roy. Atah Roy bertambah bingung. Walaupun Tamam Keluang sudah lama tidak menghubungi dirinya, Atah Roy tidak kesah betul. Bagi Atah Roy orang yang sedang dalam keadaan susah perlu dibantu, walaupun orang tersebut pernah melukakannya. Atah Roy sadar, bahwa manusia tidak terlepas dari kesilapan dan kesalahan. Paling penting sekarang ini, Tamam Keluang menyadari kelupaannya, dan kewajiban Atah roy mencari jalan keluar untuk Tamam Keluang.
Sms balasan Tamam Keluang tidak juga masuk ke hp Atah Roy. Atah Roy pun membaca ulang sms dari Tamam Keluang. Setelah membaca ulang sms Tamam Keluang, Atah Roy membuat kesimpulan bahwa Tamam Keluang dapat masalah dengan kedudukannya.
Tiba-tiba Leman Lengkung masuk sambil membawa koran. Dengan semangat Leman Lengkung membuka halaman koran itu.
“Bace ini, Tah, Pak Cik Tamam jadi tersangka kasus korupsi,” Leman Lengkung menyodorkan koran itu ke Atah Roy. Atah Roy membaca dengan seksama. Air mata Atah Roy tiba-tiba keluar.
Leman Lengkung meperhatikan Atah Roy. “Ngape Atah menangis?”
“Rupenya Tamam betul-betul dalam keadaan susah,” kate Atah Roy sambil terisak.
“Bio tahu ngase die, Tah. Jadi orang beso di kota, tak ingat dengan kampung lagi. Inilah buktinye orang makan sumpah itu!” Leman Lenhgkung agak emosi.
Melihat Leman Lengkung emosi, Atah Roy naik geram. Atah Roy tak mau anak saudaranya hanya pandai marah kepada orang yang melakukan kesalahan. Bagi Atah Roy, bersikap tidak menyalahkan orang, dan dapat menenangkan orang dalam keadaan susah lebih bernilai.
“Man, kite manusie tidak akan pernah lepas dari kesilapan. Jangan kau marah membabi bute pulak, yang paling penting kite harus bersikap arif dan dapat mengurangi beban orang tersebut,” ujar Atah Roy lembut.
“Orang yang makan sumpah tak perlu dikasihani, Tah!” jawab Leman Lengkung dengan suara keras dan kemudian pergi meninggalkan Atah roy sendiri.
Atah Roy tidak dapat berbuat apa-apa, karena Atah Roy juga sependapat dengan Leman Lengkung. “Makan sumpah, aduh makan, makan sumpah,” ucap Atah Roy pelan.  

Sabtu, 07 April 2012

Sama Saja


Atah Roy tertegun ketika membaca raning teks di sebuah stasiun televisi, tentang dua peristiwa yang terjadi di Riau. Peristiwa pertama tentang penggrebekan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Pekanbaru oleh Wamenkumham. Tidak tanggung-tanggung, Lapas Pekanbaru jadi terkenal dengan pengedaran narkoba dalam lapas. Tiga tersangka langsung di bawa ke Jakarta. Peristiwa kedua, tertangkapnya 11 anggota Dewan Perwakilan Rakyat Riau oleh KPK dengan kasus suap pembangunan fasilitas untuk Pekan Olahraga Nasional (PON) 2012, dan akhirnya 2 anggota DPRD Riau yang ditahan, yang lain menjadi saksi. Tidak tertutup kemungkinan menjadi tersangka.
Dua peristiwa ini membuat uban Atah Roy bertambah. Atah Roy tak habis pikir, kenapa orang orang Riau tak dapat menciptakan peristiwa yang dapat membangka negeri ini. Atah Roy memang tak dapat bercakap ape lagi, Riau yang kaya tidak memiliki kekuatan memunculkan peristiwa yang dapat membusungkan dada. Semua peristiwa di Riau sepertinya mengarah pada hal yang negatif alias peristiwa mencorengkan muka orang Riau itu sendiri.
Atah Roy putus asa? Tidak. Segala peristiwa bagi Atah Roy adalah pelajaran yang paling berharga. Untuk itulah, Atah Roy berkeinginan mengumpul semua pemuda yang ada di Riau dan mengajak mereka bersatu padu untuk membangun negeri ini dengan hati. Atah Roy sadar, bahwa 2 peristiwa dan peristiwa-peristiwa yang merugikan Riau disebabkan orang yang mendiami negeri ini sudah kehilangan hati. Kalau hati sudah didustai, maka semua pekerjaan akan mendatangkan celaka.
Untuk mewujudkan niatnya, Atah Roy pun memanggil Leman Lengkung dan beberapa kawan Leman lainnya. Atah Roy mencoba memulai mengangkat marwah Riau melalui pikiran orang kampung. Orang kampung biasanya memiliki pikiran dan hati yang masih bersih. Maklum di kampung tidak banyak godaan seperti di kota. Orang kota banyak tergoda; melihat orang pakai mobil mewah, mau juga mobil mewah, padahal gaji tak cukup. Tentu saja untuk memenuhi keinginan itu, jalan pintas mendapatkan duit dilakukan. Maka tak jarang generasi muda Riau menjadi pengedar narkoba, dan tak tertutup kemungkinan generasi muda Riau yang memiliki daya dobrak kuat di masyarakat, menjadi sorang koruptor. Semuanya disebabkan keinginan mau lebih dibandingkan dengan orang lain.
Kali ini, Atah Roy bersungguh-sungguh mau melakukan perubahan. Perubahan hati murni yang datang dari kampung. Orang kota tidak dapat diharap lagi, semuanya sudah tercemar oleh keinginan memiliki kekayaan yang melimpah. Tak ada lagi rasa bersalah dan segan, semuanya nak disapu. Kini orang kampung yang mengambil alih.
Atah Roy sadar bahwa untuk mewujudkan keinginannya melakukan perubahan, tidak akan mampu dikerjakan senidiri. Untuk itulah Atah Roy mencari Leman Lengkung dan kawan-kawannya. Leman Lengkung ini pula, apabila diperlukan, tak muncul, kalau tak diperlukan tercongguk sebelah Atah Roy.
“Kemane pulak pegi budak Leman ni. Bebulu hati aku menunggu die,” ucap Atah Roy pelan. Di tangannya masih memegang surat kabar yang memberitakan 2 peristiwa besar yang terjadi di negeri ini.
Atah Roy gelisah. Atah Roy takut semangatnya yang sedang berkobar ini hilang disapu angin. Semangat yang mengebu-ngebu tidak boleh didiamkan, kalau didiamkan akan holang selamanya. Ada gagasan nak berbuat, langsung berbuat, jangan banyak cakap. Banyak cakap banyak pulak bengaknya.
“Ape kesah budak-budak ni?” Atah Roy bertanya sendiri. “Budak kampung macam ini pulak, tak boleh diharap sedikit pun,” sungut Atah Roy.
Menunggu merupakan pekerjaan yang paling menjemukan. Untuk mengatasi kejemuan ini, Atah Roy pun mengambil alternatif mencari Leman Lengkung dan kawan-kawan ke pasar Biasanya, Leman Lengkung dan kawan-kawan selalu duduk di kedai kopi Alang Atan sampai petang.
Atah Roy tergesa-gesa menuju kedai kopi Alang Atan. Atah Roy tak dapat lagi membendung keinginannya untuk mengubah negeri ini dengan semangat kampung. Orang kampung harus ambil bagian dalam perubahan negeri ini. Nasib negeri ini berada di pundak orang kampung yang masih memelihara hati nurani. Setiap langkah Atah Roy adalah harapan. Otak Atah Roy pun terbayangkan lagu Iwan Fals tentang kekuatan yang dimiliki oleh orang kampung.
Di tengah jalan, Atah Roy berjumpe Razak Condung. Kenapa condung, karena Razak berjalan macam pohon kelapa ditiup angin, miring. Dengan ramah Razak menyapa Atah Roy.
“Nak kemane, Tah? Saye nak ke rumah Atah ni,” ucap Razak.
“Aku nak cari Leman dan kawan-kawannye,” balas Atah Roy.
“Saye pun nak mencari Leman, Tah.”
“Ape pasal dikau nak mencari Leman? Dikau nak melakukan perubahan juge?” Atah Roy semangat.
“Perubahan ape, Tah?” Razak Condung heran.
“Di tangan orang kampunglah negeri ini bisa berubah. Kita harus bersatu padu membuktikan bahwa orang kampung tidak tergile harte bende,” Atah Roy semakin semangat.
“Maksud Atah?” Razak masih heran.
“Dikau tak bace koran, bahwe generasi kita yang di kota banyak yang menyalahkan kepercayaan orang banyak,” Atah Roy sedikit ketus.
“Same juge Tah, generasi kampung kite ini pun dah kacau,” ujar Razak.
“Maksud dikau?” Atah Roy pula yang bingung.
“ Leman Lengkung dan kawan-kawannye tertangkap basah sedang mencuri getah Haji Yusuf pagi tadi. Sekarang Leman Lengkung dan kawan-kawannye ditahan di kantor polisi.”
“Astaqfirullahalazim. Kalau pemuda kampung juge same dengan pemuda kota, pade siape lagi nak diharapkan perubahan itu muncul?” tanye Atah Roy sedih.
“Kota, kampung, same aje, Tah. Duit punye pasal,” kata Razak Condung.
Atah Roy tidak dapat berkata apa-apa lagi. Keinginannya terbang bersama tiupan angin. “Nasiblah negeri ini,” Atah Roy membelalakan matanya.  
    

Hasan Junus


Memang kematian selalu mengetuk pintu ruang kenangan, lalu menyemburkan segala kisah yang pernah kita rajut bersama. Kita tersentak, terhenyak, dan rasa sedih membangun puing-puing peristiwa yang pernah dilalui. Dari puing-puing peristiwa ini, kita merasakan sangat beratnya perpisahan yang disebabkan kematian. Kita pun merangkai setiap serpihan tawa, sedih yang pernah bersebati ketika kematian belum menjelma. Maka setiap kenangan menjadi sesuatu yang sangat berarti untuk mendekati diri dengan orang yang telah ‘pergi’.
Innalillahiwainahirojiun. Dia sudah pergi, tak akan kembali lagi. Sungguh terasa berat, namun manusia tidak akan pernah dapat menghindar dari kematian. Kita menyadari, sungguh  menyadari, perjalanan hidup akan berhenti di terminal kematian. Kita pun hanya mampu menjawab dengan air mata. Air mata yang hadir dari peristiwa yang pernah dilalui bersama. Begitulah, kematian selalu menyediakan suatu ruang untuk kita mengingat perjumpaan.
Pada tanggal 31 Maret 2012, pukul 23.45 WIB, dia telah meninggalkan kisahnya kepada kita semua. Tiada rampai lagi yang dapat kita teguk dari pemikiran berliannya. Tiada lagi kelincahan Murai Malam mengajak kita berkicau di sembarang musim. Tiada Pengantin Boneka membujuk kita untuk tetap setia pada keriangan berkarya, dan tiada juga nantinya Burung Tiung Seri Gading terbang dengan sayap mengeliling dunia. Kita hanya mampu mengenangnya. Kenanganlah nantinya memperjumpakan kita.
            Jalan yang terbentang yang kita lalui bersama Hasan Junus, kini tak akan berulang lagi, namun kenangan bersamanya, rasanya tidak mungkin terlupakan. Sosok Hasan Junus bukan saja menjadi guru, dia juga menjelma sebagai kawan. Hasan Junus tidak pernah menutup diri, apabila ada orang lain ‘meminta’ ilmunya. Hasan Junus seperti hujan di musim kemarau, tidak pernah berhenti menyirami kesegaran di ‘tanah’ sastra Riau. Dimanapun berjumpa Hasan Junus, dia akan terus becerita dan bercerita tenang keperkasaan karya sastra. Segala karya sastra yang terbentang di dunia ini, dengan petah disampaikan kepada lawan ceritanya. Dia tidak lokik (pelit) untuk membagi ilmu. Panjang lebar dia bentang, sampai pendengarnya yang lelah, namun dia tetap bercerita.
            Dari mulut Hasan Junus banyak sastrawan-sastrawan muda Riau termotivasi untuk berkarya. Hasan Junus bukan ‘pandai bercakap’ saja, kehidupannya diserahkan kepada dunia sastra. Dia hidup dari sastra, dia besardari sastra, dia ‘terbang’ menggunakan sastra. Hasan Junus identik dengan dunia sastra, karena dia hidup untuk sastra. Tidak ada yang dapat menggoyah ketegarannya untuk tetap berada di ‘istana” kata-kata itu. “Aku ini penulis karya sastra, maka hidupku adalah karya sastra itu sendiri,” Hasan Junus pernah berucap kepada penulis muda di Dewan Kesenian Riau beberapa waktu dulu.
            Mengenang Hasan Junus, tentu saja kekhawatiran kita, terutama dunia sastra Riau, semakin bertambah. Gamang memang, disaat ‘penjaga gawang’ sastra Riau tidak akan lagi melepaskan fatwa-fatwa mengenai kehidupan sastra, kita benar-benar kehilangan jambatan untuk menyeberang lautan sastra dunia. Kita tidak akan menemukan ‘perpustakaan berjalan’ itu lagi. Kita pun tiada tempat bertanya lagi mengenai karya sastra dunia.
            Hasan Junus merupakan cahaya sastra Riau. Cahaya yang tidak pernah redup sampai kematian datang menjemput. Hasan Junus tidak pernah sungkan memberikan ilmunya kepada siapapun juga. Dia tidak pernah ragu bergaul dengan siapa saja, apalagi bergaul dengan penulis-penulis muda yang menimba ilmu sastra darinya. Hasan Junus akan berapi-api bercerita mengenai karya sastra kepada siapapun juga. Dia merasa bahagia apabila ada generasi muda yang’mencuri’ ilmu dari percakapan yang berlangsung.
            Orang tua ‘degil’ itu tidak akan pernah kita jumpai lagi. Kita benar-benar kehilangan untuk bergembira mengarungi lautan sastra ini. Kita pun semakin sepi, pelita itu telah padam sebelum sempat melihat mazhab sastra Riau benar-benar berdiri kokoh. Pada masa hidupnya, Hasan Junus terus memompa semangat setiap genersi muda untuk tetap berkarya. Bagi Hasan Junus orang yang dipandang mulia adalah orang yang tetap bekarya dan berkarya. Hasan Junus tak ingin dunia sastra Riau terendam dalam sunyi, tanpa ada gnerasi muda berkarya. Dengan Karya sastra, Riau akan tetap jaya.
            Kini Hasan Junus telah meninggalkan kita untuk selamanya. Kita tidak mungkin terus berduka. Kita harus tetap berkarya.