Selamat Datang di Hikayat Atah Roy. Senyum Adalah Keikhlasan yang Tak Terucap

Sabtu, 14 Juli 2012

Idrus Tintin (1932-2003)


Tanggal 14 Juli, ada sesuatu peristiwa kehilangan bagi Atah Roy. 9 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 14 Juli 2003, Sang Burung Waktu tak mampu mengepak sayapnya lagi. Penyakit yang menderanya mengantarkan pada akhir kisah. Dia menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Tabrani Rab di usia 71 tahun. Si Burung Waktu, Sang Fenomenal, Si Pemberani itu, semasa hidupnya, kesenian merupakan mahkota yang dipakai dimana saja. Demi kesenian, dia sanggup mengadaikan kekayaannya yang tak seberapa. Denyut nadinya adalah puisi, tarikan nafasnya adalah teater, langkah kakinya adalah tarian, suaranya adalah musik, renungannya adalah lukisan, maka siapa saja’menganggu’ kesenian, dia berada di garis terdepan membela kesenian. Itulah gaya Almarhum Idrus Tintin, tokoh seniman Riau yang tidak pernah mengenal kata menyerah membela kesenian. Terkenang beliau, Atah Roy pun menulis sesuatu yang entah ditujukan kepada siapa. Inilah tulisan Atah Roy itu:     
“Waktu terus bergerak meninggalkan sekaligus menciptakan peristiwa. Patah satu, tumbuh seribu; merupakan kalimat pembangkit semangat agar manusia tidak terlindas oleh gerakan waktu. Namun pada hari ini, ‘tumbuh seribu’ tidak beridentitas; tumbuh seperti parasit, membunuh tempat tumbuhnya. Tiada yang peduli asal-muasal atau sejarah yang telah membesarkan mereka. Jadilah masa lalu ‘rumah’ sunyi tanpa ada yang sudi mengunjungi. Orang-orang hari ini sibuk berkemas untuk dirinya sendiri. Menyingkirkan siapa saja yang dianggap tidak sepaham atau melawan. Hidup hari ini berdasarkan kepentingan pribadi, bukan berdasarkan kepentingan orang banyak.
Aku teringat kepada Idrus Tintin dan peristiwa berkesenian yang dilaluinya. Untuk berkesenian, Almarhum Idrus Tintin pernah menggadaikan cincin istrinya. Hasil dari menggadaikan cincin itu, dipergunakan untuk pementasan teaternya. Jangankan mendapat keuntungan dari pementasan itu, balik modal saja tidak. Tapi itulah Idrus Tintin, ia berbuat untuk kesenian, tanpa memikirkan kepentingan pribadinya. Kesenian harus tetap hidup, walaupun harus berkorban.
Idrus Tintin juga terkenal sebagai seorang tokoh seniman yang mampu merangkul semua golongan seniman. Generasi tua atau sebaya dengan dirinya adalah kawan, usia di bawahnya sedikit adalah adik, dan seniman yang baru tumbuh dijadikan anaknya. Bersama-sama seniman tua, muda, Idrus Tintin menggerakan roda kesenian di Riau. Bertempat di Kompleks Dang Merdu, sekarang tercacak gedung Bank Riau yang megah, Idrus Tintin bergerak menjalankan aktivitas keseniannya. Setiap malam Ahad di Teater Arena Dang Merdu itu, pementasan seni tidak pernah putus. Padahal biaya produksi yang disediakan tidaklah besar. Rp 300.000 saja, namun geliat kesenian Riau terasa. Dari berbagai daerah yang ada di Provinsi Riau ini, dan dari luar Provinsi Riau, bersemangat mementaskan kreativitas mereka. Mengeluh adalah sesuatu yang wajar, tetapi kreativitas berkesenian terus menyala.
Idrus Tintin juga mampu menjadikan kesenian sebagai kekuatan yang tidak bisa diintervensi oleh siapa pun juga. Kesenian membangun jiwa manusia tidak perlu dibumbui dengan kepentingan-kepetingan pribadi. Idrus Tintin berdiri tegak sambil menghunus semangat heroik berkesenian apabila ada lembaga baik pemerintah maupun swasta menyalah. Beliau pernah mengumpulkan para seniman melakukan unjuk rasa terkait masalah asap yang melanda Riau ini. Sensitivitas membela masyarakat banyak bukan saja ditunjukan dalam karya, tetapi ditunjukan dengan melakukan protes langsung ke instansi terkait.
Begitu juge ketika pembiayaan kesenian disunat, Idrus Tintin kembali mengajak seniman turun berunjuk rasa. Bagi Idrus Tintin, kesenian bukanlah sekadar hiburan belaka. Kesenian adalah ladang untuk menyemai semangat hidup sekaligus sebagai tempat memperkokoh identitas untuk negeri ini. Maka siapa saja mengusik kesenian dengan masalah-masalah pribadi yang bersifat temporer, Idrus Tintin maju ke depan.
Idrus Tintin itu orangnya pemberani. Dia tidak akan pernah segan menyuarakan kepentingan kesenian dimana saja. Di seminar-seminar, Idrus Tintin tetap menongkah kesenian sebagai kekuatannya. Begitu juga dipertemuan-pertemuan tidak formal, suaranya tetap mengarah pada kepentingan kesenian di Riau.
Nasionalisme? Jangan ditanya. Idrus Tintin merupakan seorang nasinolis sejati. Pernah pada acara pembacaan puisi di Teater Arena Dang Merdu, Idrus Tintin memarahi seorang penyair muda Riau. Ketika membaca puisi, penyair muda Riau itu mengoyak bendera Merah Putih sebagai wujud ekspresi kegeraman terhadap negara yang kita cintai ini. Setelah membaca puisi, penyiar muda itu didatangi Idrus Tintin. Dengan suara lantang Idrus Tintin mengatakan bahwa untuk Merah putih ini, sudah tidak terhitung lagi nyawa melayang.
Aku juga berpikir bahwa rasa cinta terhadap kesenian, merupakan wujud nasionalisme Idrus Tintin. Dengan mencintai kesenian, Idrus Tintin dapat mencurahkan gagasan mencintai negeri ini tanpa mengurui, tanpa menyakiti, tanpa menyinggung perasaan orang lain. Bukankah kewajiban kita mencintai negeri ini tanpa melukai manusia yang mendiami negara ini?
Energi yang dimunculkan oleh karya seni seperti gelombang kesadaran yang tidak memporakperandakan bangunan yang sudah ada. Kesenian bertugas membangkitkan kesadaran saling menghargai, saling mencintai yang tersuruk di lubuk hati. Pada hakikatnya manusia yang lahir di dunia ini adalah sama, namun pada perjalanan hidupnya, kadang kala manusia mengubah arah. Jadilah manusia dengan segenap perangainya.
 Idrus Tintin juga dikenal sebagai seorang darmawan. Dia tidak pelit memberikan uang yang dia dapat kepada seniman muda. Pernah satu kali, seniman muda menyerahkan uang sagu hati sebagai narasumber pelatihan pemeranan di Taman Budaya Riau. Uangnya tidaklah seberapa, sekitar Rp 150.000. Dengan keikhlasan, Idrus Tintin menyodorkan uang Rp 50.000 kepada seniman muda itu. Seniman muda itu menolak pemberian Idrus Tintin. Idrus Tintin dengan suara lembut mengatakan, “Ambillah. Aku tahu kau pasti tak punya duit.” Dengan rasa sedih seniman muda itu mengambil uang yang disodorkan Idrus Tintin. Rupanya Idrus Tintin paham betul, bahwa menjadi seniman tidak akan kaya raya oleh harta. Kekayaan seniman adalah kekayaan kasih sayang.”
Inilah tulisan Atah Roy untuk mengenang Idrus Tintin. Idrus Tintin lahir pada tanggal 10 November 1932 , di Rengat. Tutup usia tanggal 14 Juli 2003, di Pekanbaru. Apa yang telah diperbuat Idrus Tintin untuk kesenian Riau, mudah-mudahan akan tetap terjaga oleh seniman muda Riau. Amin.              
          
        

Sabtu, 07 Juli 2012

Gelombang Riau


Menurut Atah Roy, mencintai tanah kelahiran bukanlah dosa, bahkan merupakan suatu keharusan. Bukan berarti Atah Roy tidak nasionalis, karena sifat nasionalisme yang mengebu-ngebulah Atah Roy harus mencintai tanah kelahirannya dengan segenap jiwa dan raga. Menurut pikiran Atah Roy, tak mungkin disebabkan hendak menjunjung nilai nasionalis, memaksa dirinya mencintai negara ini secara menyeluruh. Manusia memiliki keterbatasan, dan keterbatasan ini bukan menjadi kelemahan, sebaliknya keterbatasan merupakan kekuatan untuk mengenal diri lebih dekat lagi.
Tersebab Atah Roy menyadari keterbatasan manusia untuk mewujudkan nilai nasionalis, maka Atah Roy harus bersungguh-sungguh mencintai tanah kelahirannya. Dengan mencintai tanah kelahirannya, Atah Roy dapat menuangkan segala gagasan dan tenaga untuk memajukan tanah kelahiran. Ujung-ujungnya tanah kelahiran maju dan masyarakatnya sejahtrea, Bukankah kesejahteraan masyarakat dan negara ini maju merupakan mimpi nasionalisme itu.
Tidak mungkin berharap pada orang lain mencintai tanah kelahiran kita, kalau bukan kita sendiri. Orang lain juga punya tanah kelahiran yang harus dicintai dengan segenap jiwa dan tenaga. Maka Atah Roy pun berpesan kepada seluruh masyarakat Riau, terutama orang-orang Riau yang memiliki kekuatan politi, ekonomi dan yang mengatasnamakan Riau kepentingan mereka, berjalanlah atas nama cinta untuk tanah kelahiran. Tanah Riau ini telah berjasa membesarkan kita, dan sepantasnyalah kita juga memberikan yang terbaik untuk tanah Riau ini.
Tanah Riau merupakan tanah diberkati. Kekayaan alamnya melimpah, tak usah dicakap lagi kekayaannya seperti apa, semue orang sudah tahu. Sudah banyak perguruan tinggi melakukan penelitian tentang kekayaan alam di Riau, cuma belum ada lembaga baik dari perguruan tinggi maupun lembaga penelitian lainnya, meneliti berapa kadar rasa cinta orang Riau terhadap tanah kelahirannya.
Atah Roy berpandangan bahwa mencintai tanah kelahiran merupakan modal yang sangat penting untuk membangun Riau. Tentu saja, pembangunan bukan diartikan sempit, pembangunan fisik saja, tetapi pembangunan jiwa merupakan hal yang sangat penting. Atah Roy tidak menafikan bahwa pembangunan di Riau ini, terutama di Pekanbaru, sangatlah pesat. Pekanbaru disulap menjadi kota metropolis yang menyediakan apa saja, tapi cuma dijengah ke kampung, masyarakat hidup dalam kesulitan. Transpotasi tak mendukung, apelagi serana lainnya, semuanya hancur.
Atah Roy pun berandai-andai, seandainya orang-orang Riau yang memiliki posisi penting di republik ini bersatu dan bermufakat membangun Riau, maka tidak mustahil, bukan saja Kota Pekanbaru, tapi Provinsi Riau ini akan menjadi provinsi yang paling makmur. Seharusnya orang-orang yang mengatasnamakan masyarakat Riau, memiliki rasa cinta terhadap tanah ini lebih lagi dibandingkan orang yang tidak mengatasnamakan tanah Riau ini. Mereka, menurut Atah Roy, punya kekuatan, memiliki posisi tawar menawar yang kuat untuk membangun Riau ini. Seandainya mereka mau mewujudkan cinta mereka pada tanah Riau ini dengan tindakan, maka Riau akan muncul seperti gelombang, menghempas karang, beting dan pantai Indonesia, dan serta merta Riau akan dilirik.
Sebenarnya, kata Atah Roy, setiap orang memiliki rasa cinta terhadap tanah kelahirannya, namun rasa cinta itu terkikis disebabkan kepentingan sesaat, ego hendak muncul sendiri, hendak kaya sendiri. Padahal seandainya orang yang mengatasnamakan masyarakat Riau itu mau menuangkan kepentingan bersama, pasti mereka akan dapat lebih dari semua itu, asalkan cinta kepada tanah kelahiran ini dijunjung tinggi-tinggi. “Ini tidak, dah dekat pemilihan gubernur, pemeilihan DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten atau dah dekat pemilihan Kepala Desa, baru sibuk menganggap dirinye putra pilihan mewujudkan Riau makmur. Hehaaiiii…” bisik Atah Roy dalam hati.      
“Tanah Riau ini sudah ditakdirkan memberi demi kemajuan republik ini agaknya. Atau kite saje yang tak bisa kompak,” pikir Atah Roy. Menjunjung nasionalisme, menurut Atah Roy, tidaklah harus menggadai kemakmuran Riau. “Riau ini harus mendapat tempat di republik yang kita cintai ini. Tentu saje, orang-orang Riau memperjuangkannye. Kalau kite diam saje, menerime ape yang dikatekan orang pusat, make siap-siaplah Riau ni gulung tikar,” ujar Atah Roy sambil termenung.
Tak habis pikir Atah Roy adalah mengapa orang Riau tidak berani menekan. Padahal kalau diturut-turut, Riau ini punya segala-galanya. Mulai dari sejarah yang gemilang, sampai saat ini, Riau selalu dilirik orang lain. Lebih parah lagi, orang Riau selalu tidak percaya dengan orang Riau lainnya. Inilah punca permasalahan; orang Riau tidak mau berembuk, duduk semeja, bersepakat untuk Riau ke depan. Orang Riau, menurut Atah Roy, nak berkelahi sesamanya, padahal cita-cita sama, cuma pandangan saja yang berbeda. “Kalau dah berbede pandangan, maka sampai tujuh keturunan tak bertegur. Orang pandai pun disingkirkan, kalau dah berbede pandangan. Jadilah nak membangun Riau dengan orang-orang bermuke seribu dan pandai menjilat,” Atah Roy geram.
Sebagai rakyat kecil, Atah Roy cuma bisa memberi semangat kepada orang-orang terdekatnya. Kalau mau diterima, alhamdulillah, kalau tidak diterima, tak jadi masalah. Keikhlasan mencintai ini harus dimulai dari sendiri. Kalau cinta itu sudah muncul pada diri, maka orang terdekat pun terhimbas. Orang terdekat akan membawa pula kepada teman terdekatnya, kalau hal ini sudah terwujud, maka tidak mustahil Riau ini akan jadi gelombang besar yang selalu dipandang orang.  
                  

Sabtu, 30 Juni 2012

Menghargai Seniman


Sebagai mantan seniman, karena Atah Roy tidak berkarya lagi, sangat khawatir dengan kehidupan para seniman di daerah ini. Mereka seperti air dalam tempayan, apabila hujan datang, air dalam tempayan pun dibuang. Lebih miris lagi, Atah Roy menyaksikan langsung bagaimana Leman Lengkung dan kawan-kawan bertungkus-lumus menyelenggarakan kegiatan kesenian yang dianggarkar dalam belanja daerah, diupah tidak sesuai dengan kerja mereka. Atah Roy mau memberontak dengan keadaan ini, tapi Atah Roy tak berani, karena takut para seniman tidak mendukungnya.
Atah Roy teringat apa yang dikatakan Abo Kabo, bahwa seniman di daerah ini tidak punya sikap. Mereka cuma asik dengan diri mereka sendiri. Dan yang paling membuat Atah Roy sakit hati, Abo Kabo mengatakan seniman Riau tak berani memberontak, padahal kerja mereka selalu disepelekan oleh pemerintah daerah.
“Cobe dikau bayangkan, Roy, seniman Riau diajak pergi mentas ke provinsi lain, kwitansi ditandetangan sejuta lime ratus, yang diterime cume enam ratus, diam aje seniman tu. Seharusnye seniman yang terlebih dahulu menghargai dirinye sendiri, baru orang lain takut. Kalau tidak sesuai upah dengan kerje yang dilakukan, tak usah hendak. Seniman harus punye sikap, dan punye kekuatan untuk melawan kebathilan, bukan menerime begitu saje,” ujar Abo Kabo panjang lebar.
Atah Roy memang sakit hati dengan ucapan Abo Kabo tu, tapi Atah Roy tidak melawan, karena apa yang dikatakan Abo Kabo itu benar. Atah Roy juga pernah mengalami hal serupa. Disebabkan bersemangatnya berkesenian, Atah Roy tak pernah mematok berapa harga karyanya sekali dipentas. Bagi Atah Roy, kesenian berfungsi sebagai menghibur masyarakat banyak, sekaligus membangkitkan semangat masyarakat untuk maju ke depan dalam mengarungi kehidupan ini. Untuk semua itu tidak perlu dibayar, bukankah tugas manusia di muka ini menyenangkan manusia lainnya?
Namun pemikiran Atah Roy selama ini salah. Seniman juga butuh makan, butuh belanja, dan memiliki anak-bini yang perlu dibiayai. Bukan berarti seniman tidak mengabdi untuk menjunjung nilai kemanusiaan, tapi menghargai seniman itu harus digesa.
“Habis mentas, ramai-ramai orang bertepuk, merasa puas dengan penampilan sang seniman. Sampai di rumah, bini mengamuk karene beras tak ade, anak belum nyusu, sementare itu penyelenggara kegiatan baik pemerintah maupun swasta dapat untung beso. Zaman kenan tak terdaye lagi dengan ucapan terime kasih, Roy,” ucapan Abo Kabo mengiang kembali di telinga Atah Roy.
Atah Roy tidak mampu menahan amarahnya. Dengan hati panas, Atah Roy mencari Leman Lengkung di tempat biasa mereka ngumpul.
“Man, kini saatnye seniman mude bangket, dan jangan mau diperolok-olok lagi!” ucap Atah Roy dengan nada keras ketika berjumpa Leman Lengkung dan kawan-kawan di kedai kopi Terselet.
“Maksud Atah macam mane ni? Kami dah membuktikan diri dengan berkarya tidak pernah berhenti. Tiap tahun 2 sampai 3 karya kami lahir. Apekah itu tidak cukup?” Leman Lengkung penasaran dengan tingkah laku Atah Roy.
“Betul tu, Tah, kami juge sudah membantu pemerintah melaksanakan even pemerintah dengan menampilkan karya terbaik kami. Apelagi yang harus kami lakukan?” tambah Ujang Tempayan dengan semangatempat lima.
“Untuk karya, aku tidak meragukan mike, tapi ape yang mike dapat setelah mentas tu?” Atah Roy bertanya.
“Tentu kepuasan, Tah,” ucap Kamil Lepai.
“Kepuasan batin merupekan tujuan seniman, Tah, itulah yang kami belajo dari Atah dulu,” tambah Tambrin Keling.
“Kepuasan batin, harus dibaringi dengan bayaran yang layak,” ucap Atah Roy mantap.
“Memang betul kepuasan batin merupekan hal yang terpenting dalam hidup ini, aku sepakat. Tapi mike merasekan tak, kalau mike diperalat?”
“Maksud, Atah?” Leman Lengkung penasaran.
“Selame ini kite diam aje, dibayo atau tidak dibayo same aje, tersebab menjunjung kesenian sebagai identitas kite. Tapi hari ini kite diperalat orang, even kesenian yang selalu diadakan duitnye bertambun, namun yang kite dapat sedikit. Yang lebih parah lagi, seniman daerah ini dibayo tak cukup buat ongkos, sementare seniman luo, dibayo berlipat-lipat. Kite harus gugat orang-orang yang mengurus kesenian tapi tak menghargai seniman tempatan. Kite ini berhak mendapat upah yang layak!” Atah Roy semakin geram.
“Macam mane kite nak menggugat orang-orang tu, Tah?” tanye Kamil Lepai.
“Kite susun kekuatan, lalu baikot segala kegiatan kesenian yang tak menghargai seniman,” ucap Atah Roy.
“Kalau kelompok kite aje yang membaikot, sementare yang lain tidak, same aje mengecat batu es, Tah,” kata Leman Lengkung.
“Betul juge tu, Tah. Selame ini seniman kite asik nak bercekau satu dengan yang lain, Tah. Mane seniman yang pandai mengampu alias angkat telou, mewahlah die, berangkat ke sene, ke mari dengan menggunekan duit rakyat,” tambah Tambrin Keling.
“Untuk itulah kite harus duduk se meje. Kita buka semue masalah, dan kemudian baru kite satukan presepsi,” tambah Atah Roy.
“Ape bisa seniman kite duduk se meje, Tah? Bukankah banyak juge seniman yang duduk sebagai pengawai yang mengurus kite, dan asik mereke aje yang tampil kalau ade duit dari pemerintah,” Leman Lengkung geram.
“Kalau dah macam ini, pening aku. Seharusnye, seniman yang duduk sebagai pegawai yang mengurus seniman dan kesenian beri laluan kepade seniman sperti kite ni. Kalau mereka kemaruk juge, tak ade kate lain, kite demo katou pemerintah yang mengurus seniman dan kesenian tersebut!” Atah Roy semakin bersemangat.
“Mantap kalau macam ni, Tah,” ucap Kamil Lepai.
“Berepe lame bertahan semangat ni, Tah?” tanye Leman Lengkung.
Mendengar pertanyaan Leman Lengkung, Atah Roy seperti mati kutu, tak dapat berbuat apa-apa, selain menggelengkan kepalanya.

  

Sabtu, 16 Juni 2012

Rusak Sebelum Dipakai


Atah Roy sebenarnya tak peduli dengan cerita tiga orang ibu-ibu yang duduk di kursi depan. Namun suara ibu-ibu itu semakin keras terdengar setiap kali Atah Roy menutup mata, mau tidur. Mobil travel yang ditumpangi Atah Roy dari Dumai ke Pekanbaru, berisi 6 orang penumpang. Satu perempuan masih muda, duduk di sebelah supir. Tiga orang ibu-ibu duduk di tengah, pas depan Atah Roy, dan seorang lelaki muda, sejak mobil bergerak sudah tidur di samping Atah Roy.
Suara ibu-ibu itu semakin keras singah di telinga Atah Roy. Merasa tidak mampu melawan suara itu dengan tidur, Atah Roy pun mencelek alias membuka matanya lebar-lebar. Atah Roy dengan seksama mendengar cerita ketiga ibu-ibu tersebut. Mendengar percakapan ibu-ibu tersebut, Atah Roy dapat menyimpulkan ketiga ibu itu kepala sekolah. Mereka bercerita berbagai macam persoalan yang mereka hadapi. Mulai dari kelulusan murid-murid mereka, sampai kenakalan siswa. Atah Roy tak ambil pusing betullah dengan kenakalan siswa, karena waktu sekolah dulu juga, degil alias nakal, namun nakal Atah Roy terarah. Degil untuk mewujudkan cita-cita kaedahnya.
Percakapan ketiga ibu itu yang membuat Atah Roy semakin matan alias serius mendengarkannya adalah ketika mereka menceritakan bantuan kursi dari pemerintah. Entah mengapa, bantuan pemerintah, baik perbaikan gedung, bangun gedung, maupun peralatan untuk sekolah, selalu rusak sebelum sempat digunakan.    
“Kadang kite ni serba salah ye, entah siswa kite degil merusak jatah dari pemerintah, atau jatah pemerintah tu memang tak bagus. Due hari pakai, dah rusak,” ujar seorang ibu yang duduk di sebelah kanan depan Atah Roy.
“Ye, saye pernah marah pade murid saye, gara-gara kursi rusak diduduknye. Murid saye menjawab, ‘buk, kursi ni tak ade kami ape-ape kan, memang dah rusak dari sanenye’. Terpikir juge saye, kadang kale, jatah pemerintah ni dah rusak sampai di sekolah,” kata ibu yang berada di depan sebelah kanan Atah Roy.
“Samelah saye, bu, pago sekolah baru siap seminggu, dah rubuh. Saye pikir anak saye yang merubuhkannye, eeee… rupenye memang pagi tu rubuh sendiri,” ujar ibu yang di tengah pula disambut ketawa kedua kawannya.
Atah Roy cuma bisa tersenyum getir. Perbincangan ketiga ibu itu sangat mengiris hati Atah Roy. Atah Roy tidak menyalahkan ketiga ibu itu, memang bantuan atau pun  proyek yang mengatasnamakan pemerintah, selalu masalah. Masalah yang selalu terjadi, barang tu belum sempat dipakai, sudah rusak terlebih dahulu. Tapi kalau swasta yang buat, baik merehab gedung, atau membangun gedung, pasti kokoh dan tahan lama.
Ketiga ibu itu terus bercerita mengenai bantua-bantuan pemerintah yang lainnya, dan pasti mengalami hal yang sama, rusak sebelum dipakai. Otak Atah Roy pun berkelana, mengapa hal seperti ini terjadi. Padahal ‘jatah’ bantuan itu untuk anak cucu di masa akan datang untuk negeri ini lebih baik lagi. Atah Roy pun teringat kasus proyek pembangunan sarana olahraga di desa Hambalang, Sentul, Kabupaten Bogor. Proyek yang menghabiskan dana besar itu, ambruk.
“Kadang murid kite degil juge, asik nak mengobel barang baru, sementare barang baru tu rapuh, sekali sentuh dah rusak,” ujar ibu yang di samping kanan.
“Tak mungkin pulak barang tu kite pamerkan saje tanpe digunekan. Kadang kite ni serbe salah, dibio rusak, dipakai tambah parah,” tambah ibu yang duduk di tengah.
“Ye, tak mungkin ditenguk je barang tu, bekapng pulak die,” ibu sebelah kiri menyeletuk, terdengar tawa mereka.
Atah Roy senyum sendiri. Apa yang dikatakan ketiga ibu itu, benar adanya. Jalan menuju Pekanbaru ini saja, sudah berapa kali diperbaiki, namun seminggu, paling kuat tiga bulan, pasti rusak lagi. Dan yang paling mengherankan, rusaknya lebih parah dari sebelumnya. Inilah negeriku, pikir Atah Roy, kepentingan bersama selalu dijadikan kepentingan pribadi. Untuk memenuhi kepentingan pribadi, orang banyak menjadi korbannya.
Beberapa saat kemudian, suara ketiga ibu itu menghilang. Atah Roy menyengahkan kepalanya, melihat ibu-ibu tersebut, ketiga ibu itu sudah tertidur. Atah Roy ingin membangunkan mereka, dan menyuruh mereka bercerita lagi tentang barang-barang yang rusak sebelum sempat dipakai. Atah Roy tidak punya keberanian untuk membangunkan mereka, karena orang yang terlelap bisa saja membentak apabila dibangunkan secara paksa.
Mata Atah Roy memang tak bisa ditutup lagi untuk tidur. Pikirannya melayang-layang pada bantuan pemerintah untuk menyejahterakan bangsa ini, selalu disalah gunakan. Atah Roy teringat bantuan pemerintah berupa bibit getah yang diterima Leman Lengkung satahun yang lalu. Leman Lengkung dengan semangat yang mengebu-ngebu menanam bibit getah itu. Dengan bibit getah itu, Leman Lengkung berkeinginan menjadi pengusaha getah yang sukses. Keinginan Leman Langkung hancur terhempas bersama tak tumbuhnya bibit getah itu. Bibit getah yang ditanam Leman, layu sebelum berkembang alias mati seminggu setelah ditanam. Leman menyangka, tangannya yang tak cocok. Setelah Leman Langkung melihat ‘kebun’ getah kawan-kawannya, yang sama-sama dapat bantuan bibit getah dari pemerintah, satu pun tak hidup. Leman dan kawan-kawan menyimpulkan bahwa bibit gitah itulah yang tak baik. Selidik punye selidik, memang bibit getah itu yang tak bagus.
Atah Roy menggelengkan kepalanya. Atah Roy tak tahu lagi apa yang mesti dipikirkan tentang negeri ini. Negeri, negeri kaya, tapi kenapa bantuannya selalu rusak sebelum sempat dipakai.
“Mungkin, aku harus pindah ke negeri kayangan, sehingga aku tak pernah melihat semua ini,” ujar Atah Roy sambil memejamkan matanya, berharap bermimpi sedap dalam mobil menuju Pekanbaru.
Baru saja Atah Roy terlelap, supir memaki dengan kerasnya, karena mobil yang dibawa masuk lubang besar dan dalam. Atah Roy tak jadi tidur, sementara kepalanya semakin berat memikirkan negeri ini.    

    



Sabtu, 02 Juni 2012

Dunie Semate


Leman Lengkung memang sudah melampau. Semua orang yang menegur alias mengingatkannya dijadikan musuh. Seharusnya Leman Lengkung bersyukur karena masih ada orang yang mau menegur atas perbuatannya. Orang yang menegur perbuatan orang lain itu, bukan berarti benci, tapi karena rasa sayanglah yang menyebabkan mereka mau mengingatkan. Rupanya anggapan Atah Roy tentang mengingatkan orang lain, tidak berlaku pada Leman Lengkung. Atah Roy kesal, tapi tidak dapat berbuat banyak.
Keangkuhan Leman Lengkung menjadi-jadi ketika orang yang didukung bersama timnya duduk menjadi penghulu di kampung. Mulailah Leman Lengkung dan kawan-kawannye tumbuh taji, menendang sana, menendang sini, macam mereka saja pemilik kampung ini. Selain angkuh dan sombong, Leman Lengkung berserta kawan-kawannya selalu mengadakan pesta organ tunggal. Setiap sebulan sekali, organ tunggal meraung di kampung. Rupenya gayung bersambut, mungkin disebabkan orang kampung haus dengan hiburan, kegiatan organ tunggal mendapat pujian. Tak tanggung-tanggung, dari anak muda, sampai yang tua renta, mengagungkan Leman Lengkung sebagai dewa yang telah menyalamatkan mereka dari sunyi-sepinya kampung apabila malam tiba.
Kesuksesan Leman Lengkung mengadakan acara organ tunggal tiap bulan ini, direspont oleh Kepala Kampung. Kepala Kampung pun menunjuk Leman Lengkung sebagai staf ahli sekaligus penasehat kultural, politik, ekonomi, pokok semua cabang kehidupan Leman Lengkung ahlinya. Kehidupan Leman Lengkung pun berubah secara drastis. Dulu Leman Lengkung hanya pakai sepeda, sekarang sudah pakai motor besar. Dulu pakai baju ‘pusake’ dari Atah Roy, sekarang beli di toko di ibu kota kabupaten. Pokoknya Leman Lengkung memang betul-betul berubah, hanya satu yang belum dapat diubah oleh Leman, yaitu; badannya yang tetap melengkung.
Sebagai bapak saudara, Atah Roy sudah menasehati Leman Lengkung, agar tetap menjadi orang yang sederhana. Sesuai dengan keadaan kampung. Jangan terlalu mencolok, tak elok dipandang orang. Apalagi orang-orang dalam keadaan sulit, kita pula hidup dalam kemewah-mewahan.
Ketika Atah Roy menyampaikan nasehatnya kepada Leman Lengkung, Leman Lengkung marah. Dia tidak terima apa yang dikatakan Atah Roy. Leman Lengkung juga mengatakan bahwa orang-orang iri melihat keberhasilannya, termasuk Atah Roy. Untuk itulah Leman Lengkung akan membayar apa yang telah dilakukan Atah Roy terhadap dirinya selama ini, mulai dari kecil, sampai Leman Lengkung bisa jadi orang terpandang di kampung ini.
“Aku bukan anak kecik lagi, Tah! Aku ni sudah staf ahli sekaligus penasehat! Tak perlu Atah menasehat aku, aku tahu semuenya!” bentah Leman Lengkung kepada Atah Roy.
“Bukan macam tu, Man, aku…” kalimat Atah Roy dipotong Leman Lengkung.
“Aku tahu Tah, selame ini, aku numpang di rumah Atah. Kalau Atah nak mintak bayo dengan ape yang Atah lalukan kepade aku, aku akan bayo! Jadi tolong Atah jumlahkan semue berape duit yang Atah keluarkan untuk aku selame ini! Atah tinggal cakap, aku bayo semuenye!”
Hati Atah Roy seperti diremas Leman Lengkung. Atah Roy sesak nafas. Dia menatap Leman Lengkung. Air mata Atah Roy keluar. Ia betul-betul sedih mendengar apa yang dikatakan anak saudaranye yang ia besarkan selama ini.
“Tak usah Atah nak berakting ibe di depan aku. Semue orang miskin same, Tah, berharap sesuatu dengan air mate. Kalau dah dapat, kite dilemparnye. Aku ni tim sukses, tahu aku ape yang dikehendaki orang miskin macam Atah ni!” Leman Lengkung menjadi-jadi.
Atah Roy memang tak dapat berbuat apa-apa. Ia seperti disambar petir tunggal; kaku, cuma air mata terus saja mengalir di pipinya.
“Man, siket pun aku tak pernah menghitung ape yang aku lakukan untuk kebaikkan dikau, Man. Aku ikhlas melakukan semuenye. Dunie ini hanye sementare. Kesenangan yang kite miliki di atas dunie ini, sekejap saje bisa lesap, hilang tak berbekas. Sebagai manusie, aku harus melakukan ape yang menjadi tanggung jawab aku. Aku tak pernah menyesal telah menjadi bapak saudare dikau selame ini. Tapi tolong, Man, jangan dikau ukur semue yang aku lakukan selame ini dengan duit. Duit itu hanye dunie semate, Man,” suara Atah Roy menggigil. Dia sangat terpukul dengan apa yang dikatakan Leman Lengkung.
“Tahu pun Atah duit itu dunie semate, karene semate itulah, Tah, aku berusahe mendapatkannye. Kalau berton-ton, tak ade nak mengejonye, Tah!”
“Man, dikau pikir dikau yang paling hebat di kampung ni?”
“Nyatenye, aku dipercaye menjadi staf ahli dan sekaligus penasehat Kepale Kampung,” jawab Leman Lengkung dengan gaya sombong.
“Dikau memang kacang lupe dengan kulitnye, Man,” suara Atah Roy mulai tegar.
“Berape Atah nak aku bayo? Kalau dah aku bayo, aku tak ade utang lagi pade Atah lagi dan aku akan terbebas dari perumpamaan kacang lupe dengan kulitnye,” Leman Lengkung bertambah sombong.
“Tak terbayo dikau, Man. Aku ikhlas” kata Atah Roy.
“Kalau macam tu, sudahlah, jangan Atah nak menasehat staf ahli dan penasehat Kepale Kampung ni pulak. Itu yang aku tak suai. Atah tinggal cakap, ape yang Atah hendak?”
Tiba-tiba salah seorang kawan Leman Lengkung masuk ke rumah Atah Roy. Kawan Leman Lengkung tersebut terengah-engah. Kelihatan sekali dia baru berlari kencang menuju ke rumah Atah Roy. Melihat temannya terengah-engah, Leman Lengkung pun menghampirinya.
“Kenape dikau macam dikejo hantu kopik?” tanye Leman Lengkung.
“Kepale Kampung ditangkap, karena mengkorupsi dana bantuan kampung. Name dikau disebut-sebut, Man,” ujar kawan Leman Lengkung.
Muka Leman Lengkung berubah pucat, seperti tak ada darah mengalir di mukanya. Leman Lengkung memandang Atah Roy seakan minta tolong. Atah Roy berpaling muka.
“Dunie semate ni, Man. Hadapi sajelah, belilah hukum tu dengan duit yang dikau punye,” kate Atah Roy sambil pergi meninggalkan Leman Lengkung.
“Ataaahhh…, jangan tinggalkan akuuuuu…!”
“Man, Man, Man… dikau mimpi?” kata Atah Roy sambil mengunjang tubuh Leman Lengkung yang tidur di sebelahnya.
Leman Lengkung tersentak, dan langsung duduk. “Atah, maafkan saye,” kata Leman Lengkung memeluk tubuh Atah Roy.
“Mimpi tentang ape, Man?” Atah Roy bertanye.
“Ah, malu, Tah,” ujar Leman Lengkung masih memeluk bapak saudarenye.   

       
  
    

Sabtu, 26 Mei 2012

Oh, Lady Gaga

Sebenarnya Atah Roy tidak ingin membongkar kisah masa lalunya, sehingga ia membujang sampai saat ini. Peristiwa itu sangat memilukan, bahkan perihnya sampai sekarang masih terasa. Disebabkan peristiwa itu juga, beribu bahkan berjuta kesunyian telah melanda kehidupan Atah Roy. Makan tak sedap, tidur tak nyenyak, pokoknya setelah peristiwa itu Atah Roy seperti rumah tak berpenghuni, rumah kosong. Atah Roy tak ingin mengenang peristiwa itu sedetik pun, namun pada hari ini, orang-orang telah membongkar ‘kubur’ peristiwa masa lalu itu. Luka lama yang belum sembuh benar, kini berdarah kembali. Lady Gaga, sebuah nama yang telah lama menghilang kini muncul kembali di benak Atah Roy.
Mungkin pembaca menganggap Atah Roy bermimpi di siang hari; menampung embun di tengah hari, tapi inilah kenyataan, bahwa sebelum Lady Gaga menjadi seorang super ‘bintang’, Lady Gaga pernah menjalin hubungan asmara dengan Atah Roy. Oh, tak mungkin! Apa yang tak mungkin di atas dunia ini? Selagi ayam jantan masih berkokok, ayam betina masih betelur, maka segalanya masih bisa terjadi.
Itulah sebabnya, ketika Lady Gaga menjadi perbincangan di negeri ini, Atah Roy seperti disembar petir tunggal, berdesuk melantas ke lubuk hati Atah Roy. Bukan Atah Roy mau menumpang populer permasalahan Lady Gaga di negeri ini; mencari kesempatan membesarkan nama. Tapi mendengar nama Lady Gaga disebut-sebut, peristiwa masa lalu bersama Lady Gaga terbentang bak sawah yang padinya akan dituai, bak lautan lepas menyediakan gelombang. Atah Roy tak mampu berdiam diri, semakin berdiam, semakin kenangan itu menusuk-tusuk waktu Atah Roy.
Lady Gaga, waktu itu, masih muda belia. Atah Roy juga. Perkenalan Atah Roy dengan Lady Gaga terasa aneh, tapi nyata. Mereka bertemu dalam mimpi. Seperti kebanyakan remaja yang sedang dimabuk asmara, mereka berdua saling bertukar nomor handphone. Dari sinilah jalinan asmara mereka semakin erat. Kekuatan cinta memang tak terbilang dahsyatnya. Jarak antara Amerika dan Riau, bukan halangan bagi mereka untuk berbalas ‘pantun cinta’. Seminggu sekali, Atah Roy berkunjung ke negeri Paman Sam tersebut. Begitu juga Lady Gaga, seminggu sekali berkunjung ke tanah Lancang Kuning ini. Semua berjalan tanpa ada rintangan. Tidak ada pencekalan, tidak ada perdebatan menyakitkan hati, tidak juge ada pergunjingan yang memerahkan telinga. Berjalan lancar saja, seperti kebanyakan remaja sedang pacaran.
Menurut Atah Roy, Lady Gaga itu memang suka sensasi. Hal ini dilakukan untuk mencari perhatian orang lain. Dengan merebut perhatian orang lain, dia dengan mudah ‘menyeret’ opini orang terhadap dirinya. Semakin banyak orang yang membicarakannya makin terkenallah dirinya. Dan itu dilakukannya semenjak dari kecil.
Sepengetahuan Atah Roy, waktu kecil Lady Gaga yang bernama asli Stefani Joanne Angelina, sudah memiliki keinginan berbeda dengan orang lain. Di sekolah dasar, ketika disuruh main piano, Lady Gaga memainkan piano ambil berdiri di atas kursi. Pada usia remaja, Lady Gaga tetap eksentrik agar berbeda dengan orang lain. Apalagi setelah berkecimpung dunia hiburan, ‘keanehannya’ semakin menjadi-jadi, sehingga dia tetap eksis. Dunia hiburan memang kadang kala menciptakan orang menjadi yang lain.
Disebabkan ‘keanehan’ Lady Gaga inilah Atah Roy dengan terpaksa memutuskan Lady Gaga. Bukan Atah Roy tidak modern, tapi agama yang dipercayai Atah Roy tidak sesuai dengan gaya Lady Gaga. Atah Roy sudah berulang kali pula menyuruh Lady Gaga mengubah penampilannya, namun Lady Gaga tetap pada pendiriannya. Perbedaaan bagi Lady Gaga merupakan eksistensi manusia, jadi tak mungkin diseragmkan semuanya.
Pro dan kontra kedatangan Lady Gaga di negeri ini, sesuatu yang wajar. Pada satu sisi, menurut Atah Roy, gaya Lady Gaga tidak sesuai dengan ajaran agama atau pun adat mayoritas masyarakat Indonesia, makanya kedatangan Lady Gaga ditolak. Namun demikian, Atah Roy berpendapat seharusnya sebelum kita menolak seseorang disebabkan gaya tidak sesuai dengan agama di sini, misalnya pakaian tidak senonoh,kita harus intropeksi diri. Banyak yang dinobatkan sebagai artis di negeri ini, menggunakan pakaian dan bertingkah laku yang dapat mengikis nilai moralitas dan nilai keagamaan generasi muda.
“Tak usahlah aku sebutkan satu persatu name-name artis atau kelompok yang pakaiannye dan juge tingkah lakunya tidak sesuai dengan agame di negeri ini, kite semue sudah tahu,” Atah Roy agak sedikit emosi ketike berjumpe dengan Leman Lengkung.
“Ngape Atah macam orang ngigau aje ni?” Leman Lengkung penasaran.
“Dikau tak bace koran, mane tahu. Seluruh pelosok negeri ini dah heboh dah,” ujar Atah Roy dengan nada tinggi.
“Masalah ape, Tah? Lady Gaga?” Leman Lengkung mulai menangkap kegelisahan Atah Roy.
“Auk. Waktu Lady Gaga belum terkenal, dan masih pacaran dengan aku, tak seheboh ini, padahal berulang-ulang budak Lady tu jumpe dengan aku, tak jadi masalah pulak. Dah terkenal macam ini, semue nak bercakap,” tambah Atah Roy semakin geram.
“Yelah Tah, dulu Lady Gaga tidak jadi pusat perhatian, sekarang ni die artis papan atas dunia, tentu jadi sorotan,” jelas Leman Lengkung.
“Tahu aku tu, tapi tak usahlah dibeso-besokan sangat, lebih banyak masalah di negeri ini yang perlu diselesaikan, bukan masalah Lady Gaga satu aje. Masalah Lady Gaga kecil tu. Sebelum heboh macam ini, Lady Gaga cume budak mude di kota aje yang tahu, tapi sekarang ni, orang tue, mude di kampung juge dah membahas Lady Gaga tu. Makin terkenal, dan makin mewahlah sponsor dan Lady Gaga tu. Saling memanfaatkan nampaknye,” jelas Atah Roy panjang lebar.
“Atah Roy ni, pro atau kontra Lady Gaga ni?” Leman Lengkung mengungkit.
“Tak pro, tak kontra. Kejahatan harus dilawan apepun bentuknye, kebenaran harus ditegakan bukan untuk populeritas,” jawab Atah Roy.
“Tapi ape betul, Atah pernah menjalin hubungan asmara dengan mak cik Lady Gaga tu?”
“Hahahaha… aku bengak aje, kenal pun tidak dengan Lady Gaga tu. Manelah tahu, aku bisa juge terkenal macam Lady Gaga, memanfaatkan suasana yang sedang membara ini,” ujar Atah Roy sambil tersenyum menang.
           

Minggu, 20 Mei 2012

Malam Jum’at


Dari surau yang tidak begitu besar, suara azan menandakan sholat Isya bergema. Atah Roy bergegas menuju surau yang berjarak 500 meter dari rumahnya. Atah Roy berharap sholat Isya berjemaah malam Jum’at ini akan dihadiri banyak warga kampung. Maklum, malam Jum’at merupakan malam penuh berkah. Menurut pengetahuan Atah Roy yang didapat dari membaca beberapa buku atau pun dari mendengar ceramah pakar-pakar agama tentang banyaknya hikmah yang ditaburkan pada malam Jum’at.    
Di perjalanan menuju surau, Atah Roy heran. Jalan sepi, tak ada tanda-tanda orang menuju ke surau. Dalam hati Atah Roy berbisik, mungkin orang-orang sudah berada di surau. Untuk itulah, Atah Roy mempercepat dan mempebesar langkahnya, agar cepat-cepat sampai ke surau. Sampai di surau, Atah Roy tak melihat orang-orang di dalam surau. Azan yang didengungkan Dolah Kelip, hampir selesai. Dengan kecurigaan yang mendalam, Atah Roy masuk ke dalam surau.
Azan selesai. Dolah Kelip, lelaki sebaya Atah Roy, meletakkan standmic dekat sejadah imam. Kemudian Dolah mengambil posisi di sap makmum. Atah Roy memperhatikan tingkah Dolah Kelip yang selambe, tak peduli dengan datang-tidaknye orang kampung untuk mengerjakan sholat Isya berjemaah malam Jum’at ini. Dolah Kelip langsung melaksanakan sholat sunat sebelum Isya. Atah Roy pun mengerjakan sholat sunat.
Selesai mereka melaksanakan sholat sunat, orang-orang kampung belum juga datang. Atah Roy melirik ke Dolah Kelip yang berdiri mau melaksanakan qhomat.
“Kite tunggu jemaah lain?” pertanyaan Atah Roy memecah kebekuan dalam surau.
“Tak akan ade orang datang, cayelah cakap aku,” ujar Dolah Kelip sambil meluruskan sap.
“Manelah tau, dalam lime menit ni, ade yang datang,” Atah Roy menawarkan gagasannya untuk menunggu jemaah lainnya.
“Yelah, kite tunggu lime menit,” Dolah Kelip duduk kembali. Mulut Dolah komat-kamit, membaca ayat-ayat pendek.
Lima menit telah berlalu. Tak ada tanda-tanda jemaah malam Jum’at di surau ini akan bertambah. Atah Roy memandang ke pintu masuk surau, cuma gelap tersergam di luar surau. Suara-suara binatang malam bertengkah menyulam hitam pekatnya malam. Harapan Atah Roy pun sirna. Atah Roy berdiri. Dolah Kelip melihat ke arah Atah Roy.
“Kite tunggu lagi?” tanya Dolah Kelip seakan mengejek Atah Roy.
“Tak perlulah,” jawab Atah Roy, kemudian Atah Roy langsung qhomat.
Sholat Isya pun telah selesai dilaksanakan di surau yang hanya berisi dua orang itu. Makmum, Atah Roy, menyodorkan tangannya ke imam, Dolah Kelip. Mereka bersalaman setelah doa selesai. Atah Roy memandang Dolah Kelip dengan dengan raut muka penuh pertanyaan. Sementara Dolah Kelip santai saja.
“Kenape setiap malam Jum’at, orang-orang engan sholat Isya berjemaah, Lah?” Atah Roy tak mampu menahan pertanyaannya di dalam hati.
Dolah Kelip berdiri, lalu menggulung kain putih yang dijadikan sap untuk makmum. Sambil menggulung kain itu, Dolah Kelip tersenyum ke arah Atah Roy. Atah Roy bertambah penasaran.
“Ngape pulak engkau tersenyum, Lah?”
“Ini malam Jum’at kan?” balik Dolah Kelip bertanya.
“Ye, malam Jum’at,” Atah Roy menjawab.
“Malam Jum’at, orang takut keluar rumah,” ujar Dolah Kelip tanpa beban.
“Ape pasal?” Atah Roy tambah penasaran.
“Orang takut hantu.”
“Astaqfirullahalazim. Ape yang engkau cakapkan ni, Lah?”
“Betul, kalau engkau tak percaye, pergilah ke rumah-rumah warga. Tanye satu persatu, ngape mereke engan ke surau malam Jum’at ni,” jelas Dolah Kelip.
“Ape pasalnye mereke takut?” buru Atah Roy.
“Sebabnye banyak nonton televisi,” jawab Dolah Kelip pasti.
“Ngape pula bisa jadi macam tu?”
“Dikau tenguk sendirilah, semue stasiun televisi di republik tercinta ini, menayangkan acara hantu pade malam Jum’at ni. Mulai dari cerite hantu, sampai wawancara tentang masalah hantu. Malam Jum’at disulap jadi malam mengaruknye para hantu. Aku tak taulah ape hendak pemilik stasiun televisi di negeri ini, menayangkan acara hantu pade malam Jum’at. Padahal malam Jum’at, malam penuh berkah. Entahlah, orang kite ikut-ikut pula percaye,” jelas Dolah Kelip agak emosi.
“Ye pulak ye. Suailah setiap malam Jum’at, Leman Lengkung tak kelou umah, asik depan tv lengkap dengan peralatan tidou, bantal dan selimut tebalnye. Ini gawat ni, Lah, kite harus cepat mengubah pandangan ini,” Atah Roy cemas.
“Nak mengubah macam mane? Tv tu lebih perkase dibandingkan kite. Tv dah jadi berhale di zaman modern ni, ape yang ditayangkan di tv, orang percaye” Dolah Kelip makin geram.
“Jadi, ape nak kite buat?” Atah Roy kehilangan kecerdasannya.
“Kite buat stasiun televisi baru, dan kite kemas acara menarik berlandaskan ajaran agama,” jawab Dolah Kelip pasti.
“Mane nak cekau duit, Lah? Mahal tu?”
“Cekau-cekau ah, cekau-cekau ih ajelah,” ujar Dolah Kelip lagi. “Dahlah Roy, mari kite balik. Kite doakan ajelah ade orang kaye di negeri ini buka stasiun televisi yang peduli dengan agama,” tambah Dolah Kelip.
“Tapi…,”
“Tak usah pakai tapi lagi, Roy, pening kepale kite kang,” Dolah melangkah ke arah pintu surau. Atah Roy mengikutinya.
“Mampus aku balik ni kang, jalan menuju rumah aku gelap betul,” bisik Atah Roy dalam hati. Atah Roy teringat film tengah malam Jum’at kemarin. “Mak e…”