Selamat Datang di Hikayat Atah Roy. Senyum Adalah Keikhlasan yang Tak Terucap

Sabtu, 22 September 2012

The Power of Tradition


Sudah lama Atah Roy menyakini bahwa tradisi punya kekuatan. Kekuatan magis yang dapat menggetarkan jiwa. Kekuatan yang mengobarkan semangat untuk tetap mencintai negeri ini. Kekuatan untuk tetap berdiridi atas kaki sendiri, lalu membusungkan dada sambil mengepalkan tangan dan dari mulut melompat kalimat “inilah kami dengan segala kekuatannya!” Tradisi menyediakan semangat itu.
Tradisi bagi Atah Roy seperti roh yang tidak mungkin lepas dari jasatnya. Untuk mempertahankan tradisi inilah, Atah Roy rela ‘berkelahi’ dengan siapa saja, terutama orang-orang yang menganggap tradisi sebagai sampah. Atah Roy juga berpikir bahwa pada zaman kenen alias zaman kini, orang-orang banyak yang sok kemodern-modernan, sehingga tradisi mau dicampakkan begitu saja. Padahal, zaman kenen hadir dari masa lalu. Orang kenen, menurut Atah Roy, asik nak membanggakan diri dengan menyerap kebudayaan asing. Kebudayaan asing yang mereka telan, kata Atah Roy, sebenarnya berasal dari tradisi juga. Untuk itulah Atah Roy berpesan, tradisi tempatan harus tetap dipertahankan, walaupun ada penambahan kekinian, namun tradisi harus tetap jaya.
Atah Roy teringat dengan tulisan Rendra, Sang Burung Merak itu; Sebagaimana seseorang tak mungkin hidup tanpa alam, maka demikian seseorang tak mungkin hidup tanpa tradisi. Sepotong tanah harus ada, agar seseorang dapat berdiri atau duduk. Demikian halnya, suatu tradisi adalah suatu kesadaran kolektif, yaitu kesadaran suatu masyarkat tentang dirinya. Akan tetapi dalam kesadaran kebudayaan, tradisi tak diperlakukan sebagai benda mati, melainkan sesuatu yang hidup dan bertumbuh terus mengukuti perkembangan kebutuhan dari orang-orang yang hidup di dalamnya.
Atah Roy menyadari, bahwa kebudayaan itu tidak statis, kebudayaan itu dinamis, bergerak mengikuti zamannya. Nilai-nilai tradisi, menurut Atah Roy, mengajak manusia mengarifi kehidupan ini. Memang diperlukan sentuhan kreatif, sehingga tradisi bukan sesuatu yang memuakkan. Sentuhan kreatif inilah yang menghidupkan tradisi, tak lepas dari nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi.
Bukan mengada-ada ataupun nak membesar-besarkan diri, Melayu memiliki tradisi yang kuat, sehingga sangat layak dimunculkan pada hari ini. Tentu saja, tidak salah apabila tradisi Melayu itu dipoles dengan kekinian. Tidak salah juga, dan itu harus, orang yang menjaga tradisi ‘murni’ tidak tersentuh ‘tangan’ kekinian. Hal ini, menurut Atah Roy, untuk menjaga kelestarian nilai yang terkandung dalam tradisi. “Bagaimana orang nak memoles tradisi, kalau tradisi dikubur dalam-dalam?” tanya Atah Roy dalam hati.
Bagi Atah Roy, orang-orang yang memusuhi tradisi adalah orang-orang yang memusuhi diri sendiri. Manusia kenen, tambah Atah Roy, ada karena masa lalu dan masa lalu membuka jalan untuk orang masa kenen. “Janganlah nak belagak menjadi orang modern, dan mengagungkan pemikiran asing, lalu mencampakkan tradisi. Tradisi telah menyediakan pemikiran-pemikiran hebat, tinggal kita lagi mengokahnye menjadi kekuatan hari ini,” tutur Atah Roy masih dalam hati.
Leman Lengkung menghampiri Atah Roy, dan Leman Lengkung heran melihat Atah Roy tersenyum sambil mengerutkan keningnya. Dalam hati Leman Lengkung menduga, kalau Atah Roy seperti ini, pasti ada sesuatu yang berkelahi di benaknya. Leman Lengkung memberanikan diri bertanya.
“Ape yang Atah pikirkan?”
“Aku bangga jadi orang Riau, Man,” jawab Atah Roy.
“Saye dah lame bangga, Tah. Kenape pulak baru sekarang Atah bercakap macam tu?” Leman Lengkung bertanya lagi.
“Kite punye kekuatan, Man,” selambe Atah Roy menjawab.
“Maksud Atah?”
“Tradisi mempertahankan kite mencitai negeri ini, Man,” jawaban Atah Roy masih belum dipahami Leman Lengkung.
“Maksud Atah, ape ni?”
“Dikau nenguk pembukaan dan penutupan PON XVIII 2012 di negeri kite ini kan?” Atah Roy balik bertanya.
“Nenguklah Tah, ape pulak teng nenguk. Ape istimewanya?”
Mata Atah Roy terbuka lebar. Kemarahan naik ke kepalanya. Melihat mata Atah Roy terpendel, Leman Lengkung mulai ketakutan.
“Ngape, Tah?” suara Leman Lengkung bergetar karena ketakutan.
“Dikau ni betul-betullah tak memiliki otak yang cerdas sedikit pun!” suara Atah Roy mulai meninggi.
“Ape istimewanye, Tah?” Leman Lengkung bertambah kecut, namun masih sempat bertanya.
“Tak lah dikau merasekan bahwa kite dipersatukan oleh pertunjukan ‘Dalam Kasih Sayang Air’ tu? Bagaimana Riau daratan dan Riau pesisir disatupadukan menjadi kekuatan, dan memunculkan rasa kebanggaan menjadi orang Riau. Tradisi Riau pade malam itu menjadi perekat, bahwe kite adalah satu. Inilah kekuatan Riau itu, darat maupun laut. Dalam pegelaran itu, kite seakan ditampar bahwa negeri ini punye marwah. Tak lah dikau menenguk semue itu?” suara Atah Roy terdengar parau, tersebab marah yang memuncak.
“Kalau itu, saye sado, Tah,” Leman Lengkung bertambah takut.
“Kenape dikau bertanye ‘ape istimewanye’?” sergah Atah Roy.
“Saye gurau je, Tah. Saye tahu kalau Atah marah, otak Atah bertambah tajam alias cerdas. Itu sebabnye, saye pura-pura bertanye,” ujar Leman Lengkung menggigil.
“Hehehehe...” Atah Roy bangga dan langsung meninggalkan Leman Lengkung sendiri.
“Paling geli neguk Atah Roy, macam die aje Melayu,” ucap Leman Lengkung pelan.     
   

Sabtu, 15 September 2012

Menunggu Presiden


Kedatangan Presiden Republik Indonesia, Soesilo Bambang Yudoyono (SBY), ke Riau dalam rangka membuka perhelatan Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII pada tanggal 11 September 2012, meninggalkan kisah di hati Atah Roy. Kisah ini menyebabkan Atah Roy sewel alias hampir gila. Selama 24 jam Atah Roy berdiri di ujung jambat kampungnya. Atah Roy berdiri tegap, sambil memandang ke laut lepas. Atah Roy menunggu, tapi tidak Orang-orang kampung tidak tahu apa yang ditunggu Atah Roy.
Menenguk bapak saudaranya seperti itu, Leman Lengkung risau, namun Leman Lengkung tidak berani bertanya. Leman Lengkung tahu betul, kalau Atah Roy dah tercongguk seperti itu di jambatan, pastilah ada sesuatu yang diharapkan Atah Roy. Laut bagi Atah Roy, yang diketahui Leman Lengkung, adalah tempat menyandarkan segala keinginan. Dengan menatap laut, Atah Roy dapat menuangkan gagasan, melukis keinginan, lalu menatah cemas jadi senyum.
Pada laut, Atah Roy percaya penuh ada jiwa manusia, ada kehidupan manuisa. Luat sebagai cermin untuk melihat diri manusia. Untuk itulah, kalau Atah Roy sedang berhadapan dengan masalah berat, maka Atah Roy pun ‘mengadukan’ permasalahannya ke laut. Tapi kenapa di waktu Riau ingin mencatat sejarah melaksanakan perhelatan PON? Adakah perhelatan PON XVIII di Riau ini menyimpan misteri yang luar biasa di hati Atah Roy? Leman Lengkung tak berani pula bertanya kepada Atah Roy.
Melihat Atah Roy sudah dua hari berdiri di jambatan, sejak dari tanggal 10 sampai hari ini tanggal 11 September 2012. Orang-orang kampung mulai berdatangan dan bertanya apa yang terjadi kepada Atah Roy. Satu orang pun tak tahu apa yang sedang dilakukan Atah Roy. Spekulasi jawaban pun ‘berterbangan’ di jambatan itu. Ada yang mengatakan bahwa Atah Roy mau memecah rekor MURI sebagai orang yang berdiri paling lama di jambatan. Ada juga yang berkata Atah Roy membongkar masa lalunya sebagai atlit dayung yang gagal. Paling sadis ada yang mengatakan bahwa Atah Roy mau bunuh diri, karena tidak diundang pada perhelatan pembukaan PON XVIII.
Orang boleh mereka-reka dengan apa yang dibuat oleh orang lain, tapi yang paling tahu dengan tindakan yang diperbuat adalah orang yang melakukan perbuatan itu. Namun kepastian jawaban dari tindakan Atah Roy, belum juga ditemukan. Orang-orang bertanya kepada Leman Lengkung, namun Leman Lengkung menjawab dengan menggelengkan kepala.
“Man, kite harus bertanye langsung kepade Atah Roy, kalau tidak memunculkan dugaan yang tidak-tidak terhadap bapak saudare dikau ni,” ujar Kahar Sulah.
“Kalau Atah dah macam ini, aku tak berani bertanye. Biasenya, kalau die dah macam ini, semue kekuatan dalam dirinya berkumpul jadi satu. Jangan sembarang bertanye, mampus kite kene sepak,” jelas Leman Lengkung.
“Tapi kite tak bisa berdiam macam ni aje, Man. Orang-orang makin ramai datang ke jambatan ni, dan makin banyak pulak dugaan-dugaan yang muncul,” Tapa Tengkes mengeluarkan pendapat.
“Betul tu, Man. Lagi pule sikap Atah Roy yang aneh ni, bertepatan pulak dengan perhelatan PON. Pastilah orang menganggap Atah Roy mencari sensasi aje, memanfaatkan PON untuk populeritas,” tambah Jang Gagak.
“Kalau aku sendiri yang bertanye, aku tak berani, tapi kalau kite same-same bertanye, itu lain pulak ceritenye,” jelas Leman Lengkung.
“Tak masalah, kite same-same bertanye,” Yusup Cacing menyakinkan.
Dengan langkah agak ragu, beberapa orang mendekati Atah Roy. Mereka saling berpandangan dan menggoyangkan kepala menandakan untuk memulai bertanya. Namun belum juga ada yang berani bertanya. Mereka saling berpandangan lagi, dan dari mata mereka sepekat menunjuk Leman Lengkung yang harus bertanya dulu. Leman Lengkung menarik nafas panjang. Dia benar-benar terbebani dengan kesepakatan mata kawan-kawannya. Tidak ada pilihan lagi, Leman Lengkung harus bertanya.
“Maaf, Tah, sudah due hari Atah berdiri di sini, ade ape sebetulnye, Tah?” Leman Lengkung dengan suara agak ketakutan memberanikan diri bertanya.
Atah Roy diam saja. Dia masih menatap lautan luat lekat-lekat. Mata Atah Roy memang penuh harap, tapi entah harapan apa yang ada di mata itu.
“Tah, kalau bisa kami bantu, kami dengan sekuat tenage dan pikiran membantu Atah,” tambah Kahar Sulah.
“Betul, Tah, sebagai generasi mude kami tak ingin Atah menanggung beban sendiri. Kami bertanggung jawab dengan apepun permasalahan yang sedang Atah hadapi,” Yusup Cacing yakin.
Perlahan-lahan Atah Roy mengalihkan pandangannya dari laut ke kawan-kawan Leman Lengkung. Satu persatu kawan-kawan Leman Lengkung ditatap Atah Roy. Atah Roy tersenyum, kawan-kawan Leman Lengkung ikut tersenyum.
“Aku menunggu harapan agar kampung kite tidak ketinggalan,” suara Atah Roy berat.
Kawan-kawan leman Lengkung saling berpandangan. Mereka tidak mengerti apa yang dimaksudkan Atah Roy.
“Maksud Atah, ape?” Kahar Sulah berni bertanya.
“Aku menunggu presiden datang ke kampung kite,” jelas Atah Roy.
“Ngape pulak macam tu, Tah?” Tapa Tengkes menyela.
“Tak mungkin presiden datang ke kampung kite, Tah?” tanya Kahar Sulah pula.
“Itulah, kalau presiden datang ke kampung kite, pasti jalan kampung kite ni tak rusak lagi. Sekolah kite tak macam kandang kambing, parit kite kene beton, pelabuhan kite tak condung lagi, pokoknye kampung kite berubah total,” jelas Atah Roy.
“Tapi tak mungkin presiden datang ke kampung kite, Tah,” ujar Kahar Sulah mengulangi pernyataannya.
“Itu sebabnye, aku berdiri di jambatan ini, nak menyeru kepade kekuatan laut, agar presiden datang ke kampung kite,” Atah Roy yakin.
Kawan-kawan Leman Lengkung saling berpandangan kembali, dan tanpa aba-aba, mereka berdiri seperti Atah Roy untuk menyeru kekuatan laut nak memanggil presiden.
Orang-orang kampung di belakang mereka heran, dan menduga-duga, kawan-kawan Leman Lengkung kemasukan seperti Atah Roy juga. Mereka kembali menduga-duga.
         

Jumat, 14 September 2012

Hantu Duit


“Masalah ini tidak bisa dibiarkan begitu saja, harus ada penanganan khusus untuk menyelesaikannya!” ujar Ketua Hantu Duit geram.
“Tapi…,”
“Siapa nama manusia itu?” Ketua Hantu Duit memotong kalimat anak buahnya. Ia tidak mau dipusingkan dengan laporan kegagalan. Ketidak becusan anak buahnya membuat dirinya terhina.
Sebenarnya, Ketua Hantu Duit heran juga, ketika mendapat laporan dari anak buahnya tentang seseorang menolak bujuk rayu Hantu Duit untuk memanfaatkan duit sebagai senjata paling ampuh. Selama ia menjabat sebagai ketua perkumpulan Hantu Duit, itu kira-kara 100 abad yang lalu, belum pernah manusia menolak duit sebagai keperkasaan.
“Manusia seperti apa itu?” tanya Ketua Hantu Duit dalam hati. Keheranannya tidak pernah disampaikan kepada anak buahnya. Hal ini dilakukan untuk menjaga kestabilan perkumpulan yang ia ketuai.
“Orang memanggilnya Atah Roy, Pak Ketua,” ucap salah satu anak buah.
“Atah Roy? Di negara mana Atah Roy itu hidup?” Ketua Hantu Duit mencoba menelusuri manusia aneh itu.
“Indonesia, Pak Ketua,” tambah salah satu anak buahnya yang lain.
Mendengar kata Indonesia, Ketua Hantu Duit ketawa sejadi-jadinya, bahkan sampai berguling-guling. Ia merasakan dadanya mau pecah karena tertawa terbahak-bahak. Baru kali ini ia mendapat laporan orang Indonesia tidak suka dengan duit. Padahal sebelumnya di Indonesia itulah para Hantu Duit sangat perkasa. Para Hantu Duit yang bertugas di Indonesia selalu mendapat penghargaan tertinggi dari perkumpulan ini. Bahkan menurut pembesar-pembesar yang pernah bertugas di Indoensia, di sanalah pekerjaan Hantu Duit sangat mudah. 
Tentu saja laporan anak buahnya tidak masuk akal di benak Ketua Hantu Duit. Namun demikian, Ketua Hantu Duit mencoba menenangkan diri. Ia betul-betul merasa aneh. Dengan sekuat tenaga, Ketua Hantu Duit meredam tawanya, walaupun di bibirnya senyum masih meregah, tanda menahan tawa.
“Ini laporan yang sangat menarik…,” ujar Ketua Hantu Duit menahan tawa. “Aku benar-benar ingin tahu sosok Atah Roy itu. Siapa yang bisa menceritakan kepada aku?” pinta Ketua Hantu Duit masih menahan tawa.
Seluruh Hantu Duit yang berada di aula pertemuan itu, kira-kira berjumlah 150 hantu, menunjukkan tangan mereka. Mereka sangat antusias sekali ingin menceritakan kepada ketua mereka tentang sosok Atah Roy ini. Ada yang sampai berdiri ke atas meja pertemuan, ada pula yang maju ke depan mendekati Ketua Hantu Duit.
Melihat antusias yang luar biasa dari anak buahnya untuk menceritakan sosok Atah Roy, muka Ketua Hantu Duit berubah. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa sosok Atah Roy meninggalkan bekas di hati anak buahnya. Ia dengan kewibawaan sebagai ketua, menenangkan anak buahnya.
“Tenang, tenang dan harap tenang. Aku minta, kalian duduk kembali,” Ketua Hantu Duit serius. “Aku akan menunjuk langsung siapa yang akan menceritakan kepada aku mengenai Atah Roy ini,” kata Ketua Hantu Duit dengan mata menyapu semua anak buahnya yang ada di aula itu.
Mata Ketua Hantu terbuka lebar. Ia betul-betul tidak menyangka bahwa seluruh anak buah terbaik yang dimiliki perkumpulan, berada di pertemuan ini. Senyum yang tadi menghiasi mulutnya, kini berubah menjadi cemas. Ia berpikir, tidak mungkin anak buahnya yang terhebat dan selalu berpretasi bagus ini, tidak mampu membujuk seorang Atah Roy. “Siapa kali Atah Roy itu?” pikir Ketua Hantu Duit dalam hati.
Anak buahnya semakin ribut, karena terlalu lama ia memutuskan siapa yang dipersilakan untuk menceritakan tentang Atah Roy. Mereka semua ingin berbagi cerita kepada ketua, bagaimana pengalaman mereka berhadapan dengan manusia satu itu. Mereka sudah tidak tahan lagi memeram kisah-kisah selama bertugas menghasut Atah Roy.
“Putuskan sekarang Pak Ketua, kami sudah tak tahan menyimpannya di dalam dada kami ini,” teriak salah satu anak buah. Anak buah yang lain ikut berteriak.
“Cepat Ketua, kami sudah tidak tahan lagi.”
“Betul Pak Ketua,” teriak yang lain serentak.
Ketua Hantu Duit betul-betul dibuat bingung. Matanya masih memandang semua anak buah di aula itu. Ia betul-betul tidak percaya, tidak mungkin anak buahnya merekayasa cerita tentang Atah Roy untuk menurunkan pamor dirinya sebagai Ketua Hantu Duit. Dan dengan turun pamornya, maka dengan mudah lawan politiknya menjatuhkannya dari jabatan ketua. “Ini bukan rekayasa. Tidak mungkin mereka mau mengkudeta aku,” ucap Ketua Hantu Duit dalam hati.
Semakin anak buahnya berteriak, semakin lincah pula bula mata Ketua Hantu Duit bergerak menyapu seluruh anak buahnya di aula itu. Tiba-tiba mata Ketua Hantu Duit berhenti ke salah satu anak buahnya yang selama ini memiliki prestasi sungguh menganggumkan. Anak buahnya ini pernah meluluhkan hati seorang guru yang berpegang teguh pada kejujuran, harus menghambakan diri kepada duit. Sekarang guru itu kaya raya, tapi kejujurannya semakin miskin. Prestasi besar lainnya adalah menghasut seorang presiden untuk berpihak kepada yang berduit saja, sehingga di negara itu rakyatnya miskin, sementra pejabat-pejabat dan orang yang dekat dengan penguasa hidup serba mewah.
“Kamu, saya percayakan untuk menceritakan tentang Atah Roy itu,” Ketua Hantu Duit menunjuk anak buahnya yang beprestasi menganggumkan itu.
“Bapak Ketua tidak akan percaya dengan apa yang saya ceritakan. Semuanya di luar jangkauan kita selama ini,” ujar anak buah yang berprestasi itu.
“Maksud kamu?”
“Betul-betul tidak masuk akal, Pak.”
“Cerikan sedikit saja,” pinta Ketua Hantu Duit.
“Ketika anak saudaranya sakit, dan Atah Roy sangat butuh duit untuk pengobatan anak saudaranya. Dia ditawari mengatasi masalah duit dengan mengatakan bahwa tokoh si anu, tokoh politik yang ingin jadi gubernur Pak, adalah tokoh yang telah berjasa di kampungnya. Atah Roy menolak dengan tegas, Pak,” anak buah yang berprestasi itu mulai bercerita.
“Siapa betul Atah Roy itu, sehingga orang berharap dia bicara?” tanya Ketua Hantu Duit penasaran.
“Atah Roy itu di kampungnya terkenal sebagai tokoh yang jujur, Pak. Apapun yang dikatakan Atah Roy, orang kampung pasti mengikutinya. Dia juga terkenal taat beribadah, tidak pernah berbuat kesalahan yang merugikan orang kampung, Pak. Pokoknya Atah Roy itu seperti dewa,” tambah anak buah berprestasi itu lagi.
“Bagaimana kehidupan Atah Roy itu?” Ketua Hantu Duit menyelidiki.
“Biasa Pak, seperti kebanyakan manusia lainnya.”
“Maksudku kerjanya.”
“Subuh sudah bangun. Setelah sholat Subuh berjemaah di mesjid, dia langsung ke kebun karet…,”
“Maksudku kekayaannya?” potong Ketua Hantu Duit agak emosi.
“Tidak kaya, dan tidak juga miskin, Pak. Tapi dia berkeyakinan bahwa duit bukanlah segala-galanya,” anak buah berprestasi itu menambah.
“Aku jadi bingung. Maksudmu seperti apa?”
“Pernah perusahaan besar bergerak di bidang hutan, mau menyogok dia agar menandatangani persetujuan hutan di kampungnya dikelola perusahaan itu, namun Atah Roy menolaknya Pak, padahal kalau Atah Roy menandatangani persetujuan tersebut Pak, pasti orang kampung juga ikut menandatangani. Berbagai usaha dilakukan oleh perusahaan itu, termasuk memberikan dia duit yang berlimpah, tapi Atah Roy tetap menolak. Pada saat itu Pak, Atah Roy sangat butuh duit untuk membiayai operasi adik kandungnya,” panjang lebar anak buah yang berprestasi itu bercerita kepada Ketua Hantu Duit.
“Kenapa Atah Roy menolak?” Ketua Hantu Duit semakin penasaran.
“Itu saya tidak tahu, Pak. Bukankah kerja saya cuma menghasut manusia menerima duit. Kalau masalah itu Bapak tanyakan kepada saya, tidak tepat Pak, karena ada hantu lain yang bertugas masalah itu,” jelas hantu berprestasi dengan polos.
“Baik, aku yang akan turun langsung mengatasi Atah Roy itu,” ujar Ketua Hantu Duit yakin.
***

“Tah, kami berharap Atah menerima duit ini,” ucap lelaki tampan dengan pakaian necis di ruang tamu rumah Atah Roy, sambil menyodorkan duit hampir satu koper.
“Aku ini memang orang miskin, tapi aku tidak akan mengadaikan tanah aku ini disebabkan duit,” tegas Atah Roy menolak pemberian lelaki tersebut.
“Tapi Tah, dengan duit ini, Atah bisa melakukan kebaikan yang lebih banyak lagi untuk orang kampung,” tambah kawan lelaki berpakaian necis itu. Lelaki itu juga berpakaian necis, bahkan lengkap pakai dasi.
“Sudah aku cakap, tidak mungkin aku ini menggadaikan tanah kelahiran aku gara-gara duit. Aku memang perlu duit, tapi tidak begini caranya aku mendapatkan duit. Tanah kami ini harus ada sampai kiamat, kami tak ingin tanah kami hilang disebabkan kerakusan,” jawab Atah Roy tegas.
Ketua Hantu Duit keluar dari duit di koper itu. Dengan memasang tampang ramah, Hantu Duit mulai berbisik di telinga Atah Roy.
“Roy, duit ini bukan hanya untuk kepentingan engkau seorang. Engkau harus membuka diri sedikit saja untuk membantu keluarga engkau dan orang kampung. Dengan duit sebanyak itu, dapat engkau gunakan menyelamatkan orang kampung, sekaligus diri engkau dan keluarga,” bujuk Ketua Hantu Duit.
“Astaqfirullahalazim,” Atah Roy mengucap.
“Sesekali Roy, bukan sering engkau berbuat seperti ini. Aku yakin, orang-orang tidak akan memandang rendah kepada engkau, sebab duit ini akan engkau gunakan untuk membantu orang-orang kampung. Orang kampung memerlukan pertolongan engkau, Roy. Tenguklah Usup Lebam, anaknya sudah 4 bulan sakit dan terbaring di rumah, tanpa dibawa ke rumah sakit, karena tidak memiliki biaya. Begitu juga Siti Kasmah, suaminya sudah bertahun-tahun tak balik, sehingga ke 5 anaknya tidak terurus. Banyak lagi orang kampung engkau terbantu dengan duit yang engkau terima itu. Jangan tunggu lagi Roy, inilah kesempatan engkau menolong mereka,” Ketua Hantu Duit semakin genjar merayu Atah Roy.
Air mata Atah Roy mengalir di pipinya. Atah Roy benar-benar tak mampu membuang bayangan orang-orang terdekatnya yang sedang dilanda kesusahan di benaknya. Atah Roy pun terkenang kepada Syuib Lebah yang kakinya digiling mesin sagu 7 bulan lalu dan sampai sekarang tidak diobati. Pikiran Atah Roy juga berjalan ke masalah Kasmah dan anak-anaknya, karena suaminya Gani Engkang menghilang ketika pergi menjaring. Atah Roy betul-betul berada dalam keadaan yang sangat membingungkan.
Berkali-kali Atah Roy menatap duit di dalam koper itu. Berkali-kali pula ia membuang muka. Kalau diterima duit ini, maka tanah kelahirannya dikuasai orang lain dan orang kampung akan teraniaya sampai ke anak cucu mereka. Kalau tidak diterima, orang kampung memerlukan bantuan untuk mengatasi masalah yang sedang mereka hadapi. Atah Roy berada di dua masalah yang sangat membingungkannya, namun ia harus membuat keputusan, walaupun keputusan itu nantinya menyakitkan.
Atah Roy memandang kedua orang yang berada di depannya dengan berlinang air mata. Ia menarik nafas panjang.
“Dengan berat hati, aku harus…,” air mata terus membasahi pipi Atah Roy.
“Tunggu apa lagi Roy, ini kesempatan membantu orang-orang kampung engkau, duit ini bukan untuk engkau sediri,” bujuk Ketua Hantu Duit.
“Aku tak mau menggadai tanah ini, bawak balik duit kalian ini!” ujar Atah Roy tegas.
Ketua Hantu Duit pun terkejut, dan langsung menghilang dalam tumpukan duit di koper itu.
“Masih adakah manusia seperti ini? Ah, mati aku,” suara Ketua Hantu Duit terdengar lirih.       

 .

Sabtu, 01 September 2012

Selamat Datang


Sebagai tuan rumah, Atah Roy dan Leman Lengkung harus bersikap ramah, murah senyum dan yang paling penting, menyembunyikan permasalahan yang sedang mereka hadapi. Tamu, bagi Atah Roy dan Leman Lengkung adalah orang yang mesti dilayani dengan sebaik-sebaiknya. Untuk itulah, Atah Roy dan Leman Lengkung bersikap seperti tidak ada masalah di depan tamu-tamu mereka. Padahal sebelum para tamu datang ke rumah mereka, terjadi perselihan yang sangat hebat antara Atah Roy dengan Leman Lengkung. Ape pasal?
Setahun yang lalu, tepatnya di rumah Yusup Galah diadakan pertemuan, dan hasil pertemuan itu menetapkan Atah Roy menjadi tuan rumah pertandingan domino. Atah Roy menyanggupi. Semenjak itulah Atah Roy berusaha sekuat tenaga mengumpulkan uang untuk persiapan pertandingan domino tersebut. Efek dari semangat Atah Roy itu, semua keperluan rumah dikurangi. Akibatnya, jatah makan Leman Lengkung pun berkurang. Dari uang ‘sunat’ keperluan rumah tersebut, Atah Roy membeli meja baru, kursi baru yang akan digunakan untuk pertandingan domino.
Selain pengadaan meja dan kursi baru, Atah Roy menata halaman rumahnya agar lebih luas. Batang mempelam alias pohong mangga di tebang. Padahal batang mempelam itu sangat produksif berbuah. Begitu juga batang kuini, ikut menjadi sasaran perluasan halaman rumah.
Sebagai anak saudara, dan tinggal di rumah Atah Roy, Leman Lengkung memprotes apa yang dilakukan Atah Roy. Leman Lengkung mencoba mengumpul saudara-mara untuk ikut memprotes Atah Roy. Beberapa saudara setuju dengan ajakan Leman Lengkung, sebagian lagi diam-diam saja; tidak pro ke Leman Lengkung dan tidak juga pro ke Atah Roy. Mereka seakan tidak mau terlibat dengan perselisihan dua beranak itu.
Atah Roy dengan keyakinan bahwa pertandingan ini akan menguntungkannya di kemudian hari. Atah Roy terus mengumpul duit dan bekerja menambah fasilitas rumah agar lebih baik lagi. Dulu, sebelum ditunjuk menjadi tuan rumah, panerangan rumah Atah Roy apa adanya. Namun sekarang, setiap sudut halaman rumahnya telah dipasang lampu. Pokonya rumah Atah Roy yang paling terang apabila malam berkunjung. Orang-orang kampung banyak yang berkunjung ke rumah Atah Roy pada malam hari, walaupun perlombaan belum dimulai.
Leman Lengkung bertambah marah, karena semakin dekat hari ‘H’ perlombaan itu dimulai, semakin banyak saja kebutuhan rumah disisihkan untuk perlombaan tersebut. Biasanya satu hari Leman Lengkung diberi jatah sebungkus rokok, namun kali ini cuma setengah bungkus.
“Tah, kalau Atah mau dipandang orang sebagai orang yang hebat dan sukses menjalankan pertandingan domino, jangan saye Atah korbangkan!” protes Leman Lengkung dengan nada tinggi.
“Maksud dikau ape, Man?” Atah Roy pura-pura tidak tahu.
“Tah, pertandingan yang akan dilaksanakan di rumah ini, yang menjadi korban itu saye, Tah!” Leman Lengkung semakin geram. “Makan saye dikurangi, jatah rokok saye juge kene pangkas,” tambah Leman Lengkung.
“Man, untuk menjadi yang terbaik, kite harus bersedie berkorban apapun juga, harta ataupun nyawa. Ini kesempatan kite berbakti kepade kampung kite, dan selain itu, rumah kite akan ramai dikunjungi orang. Manfaatnye, kite bisa buka kedai makan kecik pade pertandingan berlangsung. Memang kite harus mengeluarkan modal untuk meraup keuntungan yang besar,” jelas Atah Roy panjang lebar.
“Kalau kite tak mampu, jangan sok hebat pulak nak berkorban, itu namenye bunuh diri!” ucap Leman Lengkung.
“Man, jangan dikau nak mengajar itik berenang. Aku makan asam garam kehidupan ini dah tak terhitung lagi. Aku tahu betul, mane yang salah, mane yang betul!” Atah Roy mulai meninggikan suaranya.
“Atah memang tak dapat dicakap, jangan rekak Atah aje yang ditonjolkan. Atah harus memikirkan juge kelangsungan hidup saye. Saye ini anak saudare Atah, dan Atah berkewajiban menyejahterakan saye!” balas Leman Lengkung.
“Tersebab aku nak menyejahterakan dikau inilah, aku rela rumah aku dijadikan tempat pertandingan, kalau tak ingin aku bersusah-payah, bertungkus-lumus siang-malam!” suara Atah Roy semakin tinggi.
Semenjak pertengkaran itulah, Atah Roy dan Leman Lengkung tidak bertegur sapa. Atah Roy terus sibuk mengurus keperluan pertandingan domino, sementara Leman Lengkung sibuk pula bekerja agar makan dan belanja rokonya terpenuhi.
Tibalah saat pertandingan domino itu diselengarakan. Leman Lengkung berniat mengungsi ke rumah temannya untuk sementara waktu. Namun ketika melihat Atah Roy bertungkus-lumus melayani para tamu, hati Leman Lengkung ditusuk rasa iba. Leman Lengkung tidak tega melihat bapak saudaranya tunggang-langgang memberi yang terbaik untuk para tamu. Leman Lengkung menyadari, bahwa dia juga termasuk tuan rumah. Seandainya dia ‘melarikan diri’ dari keadaan ini, maka dia dicap sebagai tuan rumah yang tidak bertanggung jawab.
Bertanggung jawab terhadap rumah inilah, Leman Lengkung dengan semangat menulis di atas kain putih dengan kalimat “SELAMAT DATANG”. Tulisan itu di letakan di depan rumah. Melihat Leman Lengkung memasang tulisan di atas kain putih itu, air mata Atah Roy mengalir ke pipi.
“Terime kasih, Man,” ucap Atah Roy dalam hati sambil tersenyum, sementara air matanya terus mengalir ke pipi.    

Sabtu, 25 Agustus 2012

Tersebab Kejujuran


Seandainya di dunia ini ada kedai menjual kejujuran, maka Atah Roy berazam akan mendatangi kedai itu, lalu memborong semua kejujuran yang dijual di kedai tersebut. Kejujuran itu akan dibagi percuma kepada semua orang di negeri ini, agar negeri ini kembali kepada kesucian. Apa mau dikata, seluruh kawan Atah Roy yang tersebar di tengah, maupun di sudut-sudut dunia, tidak menemukan kedai menjual kejujuran. Atah Roy ingin menyesal, tapi menyesal tiada gunanya (macam lagu pula).  
Kehancuran negeri ini, menurut Atah Roy, disebabkan kejujuran telah lenyap dari sanubari manusia yang mendiami negeri ini. Semua orang menggadaikan kejujuran kepada kepentingan pribadi yang bersifat sesaat. Tiada suatu lembaga pun yang dapat untuk menggantungkan harapan agar negeri ini benar-benar bersih. Semuanya ingin menipu; semuanya mau membengak. Tak tanggung-tanggung, pembengak sudah menjadi kebiasaan; kalau tak membengak, tak kren. Maka di negeri ini, orang yang tersenyum pun dicurigai sedang bengak.
Tersebab kejujuran inilah, Atah Roy siang-malam tidak tidur, berpikir untuk mendapatkan formula menciptakan kejujuran. Atah Roy membaca semua buku, lalu membaca alam, kemudian dipadankan dengan tingkah laku dirinya sendiri sehari-hari. Hampir dapat, namun hilang lagi, karena Atah Roy terlalu asik dengan dirinya, tidak peduli dengan Leman Lengkung, jiran, apalagi dengan orang sekampung. Keasikan pada diri sendiri rupanya melenyapkan otak jernih.
Atah Roy terpikir bahwa Yang Maha Kuasa menciptakan manusia di dunia ini untuk saling mengenal satu dengan yang lainnya. Setelah mengenal, manusia akan melakukan hal yang terbaik agar kehidupan mereka harmonis. Namun keharmonisan itu tidak bertahan lama, hal ini disebabkan rasa ingin berkuasa, menguasai orang lain menjadi virus menelan kejujuran. Atah Roy coba menyimpulkan, bahwa ingin menguasai orang lain merupakan penyebab lenyapnya kejujuran.
Atah Roy mencoba menguraikan kenapa orang ingin menguasai orang lain. Lama Atah Roy menyulam imajinasinya, lalu mengaitkan imajinasinya pada realitas yang terjadi di negeri ini. Atah Roy tercengang, lalu menyimpulkan bahwa menguasai orang lain itu sangat mengasikan, menyenangkan, menggembirakan, walapun hanya bersifat sesaat.
Pantas sajalah, pikir Atah Roy, kebohongan atau bengak yang selama ini dilakukan, hanya untuk menguasai Leman Lengkung, dan itu sangat menyenangkan. Atah Roy terbayang wajah lugu Leman Lengkung dengan menganggukkan kepalanya tanda setuju apa yang dikatakan Atah Roy.
“Man, aku ni dulu, sebelum dikau lahir, termasuk pemuda yang aktif membangun kampung ni. Semua aku kerjekan demi kampung ni, sehingge aku pernah dicalonkan jadi ketue pemuda, tapo aku tolak. Bagi aku, bekerje untuk kampung, tidak mengharapkan apepun juge. Jadi Man, dikau tak usahlah sombong kepade aku, walaupun dikau itu sekretaris organisasi pemuda kampung ni,” ucap Atah Roy beberapa tahun yang lalu. Leman Lengkung mengangguk.
Mengingat ucapan itu pada hari ini, apelagi melihat raut muka Leman Lengkung pada waktu itu, Atah Roy tersenyum. Ucapan Atah Roy itu bengak semata, yang benarnya, Atah Roy kalah dalam pemilihan untuk duduk menjadi Ketua Pemuda. Agar Atah Roy tidak diremehkan oleh Leman Lengkung, terpaksalah Atah Roy membengak.
Rupanya, pikir Atah Roy, kerja membengak ini mengasikkan. Bagimana tidak mengasikkan, orang yang terkena bengak, menganggap orang sedang membengak itu hebat, muncullah rasa kagum. Rasa kagum inilah menjadi pemicu untuk melakukan bengak berikutnya. “Maka, waspadalah!” pikir Atah Roy.
Leman Lengkung datang. Atah Roy bersikap wibawa. Semua pikiran mau membeli kejujuran hilang dibenak Atah Roy. Di depan Leman Lengkung, Atah Roy harus berpenampilan segak dan berwibawa, kalau berpenampilan kusut, maka Leman Lengkung pun tidak akan menghargai dirinya.
“Ade ape, Man? Nampak aku kusut masai je muke dikau? Adekah sesuatu yang dapat aku bantu?” tanya Atah Roy dengan nada suara dibuat-buat wibawa.
“Gawat Tah, semue orang dah mengaku jujur, sehingge payah nak membedekan mana orang yang betul-betul jujur dengan orang pembengak,” ujar Leman Lengkung sambil mengelap keringat di dahinya.
“Jujur itu, Man, tidak diucapkan, tapi dilakukan. Kalau ade orang yang banyak bercakap die jujur, make orang tu paling pembengak,” jelas Atah Roy.
“Banyak di spanduk, baleho maupun di poster-poster terpampang, dan mereka mengatakan mereke jujur, Tah,” ucap Leman Lengkung penasaran.
“Oooo..., tulisan orang-orang nak nuju kursi I tu?”
“Agaknye, Tah. Saye tak kenal betul orang-orang tu.”
“Senang aje nak memastikan mereke jujur atau tidaknye.”
“Macam mane carenye, Tah?”
“Tenguk latar belakangnye sebelum nak duduk di kursi I tu,” jelas Atah Roy.
“Tapi ape ade orang jujur sekarang ni, Tah?”
“Tentulah ade. Ngape dikau tanye macam itu?” balik Atah Roy bertanya.
“Saye ragu, Tah. Kebutuhan sekarang ni, tak tanggung-tanggung mahalnye. Atah yang duduk di kampung ni aje, kalau tak pandai bengak, dah lame tak dipandang orang,” jelas Leman Lengkung.
Atah Roy tercengang dengan kata-kata Leman Lengkung.
“Maksud dikau ni, ape Man? Jangan membangkitkan harimau yang sedang tidur ni,” Atah Roy tersinggung.
“Alah, Tah, bukan saye tak tahu.”
“Maksudmu?” karena geram Atah Roy menggunakan bahasa Indonesia.
“Besi tue di belakang rumah kite tu, Atah yang jualkan?”
“Konteks dengan pembicaraa kita?” kembali Atah Roy menggunakan bahasa Indonesia.
“Pade orang terdekat saje, kite sanggup bengak, apalagi pade orang lain. Atah tahu tak, besi tue tu,  lame saye kumpul untuk menambah beli sepeda. Atah sedap-sedap je menjual tanpe sepengetahuan saye. Atah pun bercakap, besi tue tu dicuri orang. Kalau ade di dunie ni orang menjual kejujuran, saye orang pertame yang membeli kejujuran itu untuk Atah,” jelas Leman Lengkung panjang lebar, dan Leman Lengkung langsung pergi.
“Eeee..., awak pulak nak kene beli kejujuran tu, padahal awak yang menghayal pertame. Memang, kejujuran itu pahit, tapi harus kite lakukan, agar kite tidak dipandang rendah dan dihina di kemudian hari,” ucap Atah Roy.
  
         

Sabtu, 11 Agustus 2012

Sedekah Menyalah

Setiap tahun pada bulan Ramadhan, bangsa kita selalu saja disuguhkan peristiwa menyedihkan. Keinginan berbuat baik, berbuah malapetaka bagi orang lain. Ironisnya yang menjadi korban selalu saja orang muslim. Atah Roy tidak habis pikir, kenapa setiap tahun terjadi peristiwa seperti ini; orang-orang berdesakkan, bahkan memakan korban, demi uang Rp 10.000, atau sembako ala kadarnya yang disedekah oleh orang mampu. Menurut Atah Roy, seharusnya masa lalu menjadi pelajaran pada tahun ini atau tahun di masa akan datang. Tak usah lagi bersedekah, kalau korban lebih banyak berjatuhan. Kalaupun mau bersedekah tidak usah pamer-pamer, datang saja ke rumah warga yang tak mampu, beri langsung sedekah itu.
Islam, bagi Atah Roy adalah agama yang paling menjaga keharmonisan umatnya, bahkan umat non Islam. Dalam ajaran Islam, kata Atah Roy, berpegang teguh pada suatu prinsip tidak sombong. Bahkan dalam Islam, tangan kanan yang memberi, hendaklah tangan kiri jangan tahu. Hal ini dilakukan agar orang-orang kaya yang bersedekah tidak terperangkap dalam kesombongan. Bukankah sedekah untuk membantu orang susah? Bukan sebaliknya, orang susah bertambah susah.
Entah mengapa, tahun ini, peristiwa miris itu masih terjadi. Kita, kata Atah Roy seakan tidak pernah insaf dan seakan memang sengaja mengazab orang miskin. Kita sepertinya senang melihat orang susah berdesakkan datang mengantri di depan rumah, lalu bertolak-tolak sampai ada yang jatuh korban. Bangsa ini, menurut Atah Roy, bangsa senang melihat orang susah.
Menurut pikiran Atah Roy, pemerintah harus membantu mengatasi masalah ini. Mengatasi kemiskinan, sehingga apabila ada orang kaya bersedekah, tidak ada lagi orang yang mau menerima sedekah. Bukankah orang miskin dan terlantar merupakan kewajiban pemerintah menyejahterakan mereka? Jangan pemerintah hanya mengakui bahwa kekayaan alam yang ada di negara ini milikinya, orang miskin juga milik pemerintah.
Atah Roy memang tidak bisa berbuat apa-apa, apabila ada orang sedekah dan mengumpul orang miskin untuk menerima sedekah itu. Sedekah itu memang perbuatan terpuji dan dianjurkan Islam. “Janganlah sedekah dijadikan alat untuk menaikan populeritas. Bersedekahlah dengan ikhlas, dan buat orang lain tidak menerima,” pikir Atah Roy.
Tiba-tiba Leman Lengkung datang dengan tergopoh-gopoh alias terengah-engah. Leman Lengkung seperti dikejar hantu. Melihat Leman Lengkung seperti itu, Atah Roy heran. Atah Roy menenangkan Leman Lengkung.
“Tarik nafas panjang-panjang, dikau harus dapat menguasai diri,” ujar Atah Roy.
Leman Lengkung pun menarik nafas panjang-panjang. Hala ini dilakukan berulang-ulang kali. Setelah agak normal, Leman Lengkung pun menyampaikan berita kepada Atah Roy.
“Anu, Tah...,”
“Anu ape, Man?”
“Kita harus cepat-cepat ke rumah Dollah Boyak,” tutur Leman Lengkung lagi.
“Ngape kite harus ke rumah Dillah Boyak?” Atah Roy penasaran.
“Dollah Boyak bersedekah sembako kepade warga kampung, Tah,” jelas Leman Lengkung.
“Alhamdulillah. Terbuka juge pintu hati Dollah berbuat kebaikan,” tambah Atah Roy.
“Kite harus cepat-cepat ke rumah Pak Cik Dollah tu, Tah.”
“Kenape pulak kite harus ke rumah Dollah tu?” Atah Roy penasaran kembali.
“Kalau kite terlambat, make kite tak dapat sembako dari Pak Cik Dollah. Menurut orang-orang, Pak Cik mengundang semue orang kampung ke rumahnye,” Leman Lengkung berharap Atah Roy bersiap-siap pergi bersama dirinya. “Kalau sampai di rumah Pak Cik Dollah nanti Tah, Atah langsung aje masuk ke rumahnye, kan Atah kawan dekat dengan die, dan jatah yang dibagikan oleh bawahannye, bio saye yang ngambik. Dapat due kite, Tah,” Leman Lengkung menambahkan.
“Man, aku ni masih punye harga diri, dan aku masih kuat berkerje menoreh getah. Kalaulah berharap 5 kilo beras, dan 2 kilo gule, aku masih sanggup mencarinye, Man. Tak usah dikau makse aku,” Atah Roy mulai tersinggung. “Walaupun hidup kite tidak seberape, tapi meletakkan tangan di bawah, memang pementang nenek moyang aku,” Atah Roy kembali menjelaskan kepada Leman Lengkung.
“Tah, ini lain Tah. Pak Cik Dollah mengundang banyak wartawan. Menurut orang-orang, orang tv juge ade, Tah. Kalau kite pergi dapat kite masuk tv, Tah,” Leman Lengkung masih berharap agar Atah Roy mau pergi.
“Inilah yang aku tak suke, kalau nak bersedekah, bersedekah ajelah, ape pasal Dollah mengundang wartawan juge?”
“Atah tak mengikuti perkembangan kampung. Pak Cik Dollah tu kan tim sukses salah seorang calon pemimpin kite. Dari calon itulah Pak Cik dapat duit. Kate orang-orang lagi Tah, calon yang di dukung Pak Cik Dollah tu datang juge,” tambah Leman Lengkung bersemangat.
“Kalau macam itu, jangan dikau pergi ke rumah Dollah Boyak tu. Aku tak sudi punye anak saudare dapat dijengkal dengan sembako sekampet,” Atah Roy mulai geram.
“Tapi Tah...,”
“Tak ade tapi-tapi, Man. Kalau sedekah, jangan mengharapkan balasan orang, bio Allah yang membalas perbuatan sedekah tu, itu yang dinamekan sedekah yang ikhlas. Kalau bersedekah berharap sesuatu dari yang kite beri sedekah, itulah namenye sedekah menyalah. Sedekah itu membantu orang yang susah, bukan menambah susah orang,” tambah Atah Roy sambil meninggalkan Leman Lengkung sendiri.
“Tapi Tah, hari raye dah dekat ni, tepung di rumah kite tak ade,” ujar Leman Lengkung.
Atah Roy menghentikan langkahnya, dan membalikan badannya, lalu menatap Leman Lengkung dalam-dalam.
“Bio tak ade kue di rumah ni, untuk meletakkan tangan aku di bawah, minta maaf dululah,” ujar Atah Roy tegas.
Leman Lengkung hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. “Sedekah yang salah, atau yang menerime sedekah yang salah?” tanye Leman Lengkung dalam hati. “Entahlah,” jawab Leman Lengkung juge dalam hati.  

Sabtu, 04 Agustus 2012

Cobaan


Membaca berita di surat kabar dan juga melihat berita di stasiun televisi, hati Atah Roy selalu berdebar. Bedebar bukan karena takut atau gentar, tetapi berdebar disebabkan Atah Roy belum mampu menampakkan eksistensinya sebagai muslim yang baik. Atah Roy memang menjalankan ibadah puasa dan sholat, tetapi ibadah itu belumlah cukup untuk mengantarkan dirinya menjadi muslim sejati. Masih banyak saudara-saudara muslim, baik di negeri ini, maupun di luar negeri, mendapat perlakukan tidak semestinya. Selalu saja ibadah yang dilakukan oleh umat muslim, terutama di luar negeri, mendapat tantangan yang luar biasa.
Atah Roy pun menitik air mata, ketika membaca berita sebanyak 20 ribu muslim Rohingya dibantai di Negara Myanmar. Hati Atah Roy benar-benar terluka. Muncul semangat membela sesama muslim dalam diri Atah Roy, namun Atah roy tidak memiliki kekuatan untuk membela saudara-saudara muslim di Myanmar itu.
Belum usai air mata Atah Roy berjatuhan membaca berita pembantaian Muslim Rohingnya, kembali kesedihan melanda Atah Roy. Di bagian neger Perancis, ada walikotanya melarang warga muslimnya untuk berpuasa. Hal ini dilakukan untuk menjaga keseimbangan dalam bekerja, terutama bagi guru. Alasan mereka lagi, bahwa dengan berpuasa, kondisi tubuh menjadi lemah dan akan menyebabkan anak didik mereka terabaikan.
Selain berita dari Perancis, Atah Roy kembali harus mengeluarkan air matanya kembali. Kali ini berita datang dari negera Cina yang melarang muslim di Provinsi Xinjiang di sana untuk berpuasa. Berbagai cara pemerintah Cina menghalangi muslim Uighur untuk tidak berpuasa. Hal ini, bagi Atah Roy, benar-benar sudah keterlaluan. Atah Roy tidak habis pikir kenapa Islam selalu dijadikan musuh oleh negara yang mayoritas bukan Islam? Padahal di Indonesia yang mayoritas rakyatnya Islam terbesar di dunia, tidak pernah menghalangi umat lain melakukan ibadah.
Islam bagi Atah Roy, adalah agama penyeimbang dunia dan akhirat. Maka sebab itulah, ajaran Islam selalu mengajarkan umatnya untuk melakukan kebiakan sesama manusia, agar di akhirat nanti tidak menuai bala. Manusia, apapun agamanya, dalam ajaran Islam haruslah disayangi. Nabi Muhammad SAW, telah mencotohkan bagaimana Islam tidak bermusuhan dengan agama lain. Islam itu adalah agama pencerahan.
Menurut ilmu pengetahuan yang Atah Roy miliki, agama Islam selalu membuka ruang menjunjung nilai kemanusiaan untuk seluruh manusia, agar terjadi keharmonisan di atas dunia ini. Selain itu, ajaran Islam juga penuh pertimbangan untuk melakukan tindakan. “Jangan kami terus ditikam, perlawanan kami mengatasnamakan Allah Maha Besar lebih dahsyat, dan kami rela binasa,” ucap Atah Roy dalam hati.
Leman Lengkung tiba-tiba muncul di hadapan Atah Roy. Leman Lengkung membawa koran di tangannya. Leman Lengkung menggelengkan kepala, ada sesuatu yang merisaukan di benaknya.
“Cobaan kita memang berat, Tah,” Leman Lengkung membuka cerita.
“Memang, Man. Kite harus bersatu padu dan bangkit untuk lepasdari cobaan ini,” ujar Atah Roy.
“Betul tu, Tah. Kita harus tampakan diri kite sebagai orang yang tidak lemah. Kite harus tetap berdiri dengan dada dibusungkan ke depan,” tambah Leman Lengkung.
“Ajaran agama kite mewajibkan kite menjadi pemenang, dan itu harus kite laksanakan,” Atah Roy bersemangat.
“Jangan takut Tah, saye akan tetap berdiri di belakang Atah, kalau dibolehkan, saye yang di hadapan,” Leman Lengkung ikut bersemangat.
“Alhamdulillah. Semangat generasi mude Islam, memang harus senantiasa berkobar, agar Islam tetap berdiri kokoh. Aku bangga dengan dikau, Man,” Atah Roy menepuk pundak Leman Lengkung.
“Tenang, Tah. Siape lagi yang mendukung semangat bapak saudare, kalau bukan anak saudarenye sendiri. Saye tetap mendukung Atah,” semangat Leman Lengkung berapi-api, sampai-sampai kepalanya berasap (campur bengaklah).
“Hebat dikau, Man. Tidak sie-sie aku mendidik dikau,” Atah Roy menarik nafas panjang dan bangga dengan Leman Lengkung.
“Untuk kepentingan bersame menyambut hari raye ini, saye akan berusaha sekuat tenaga bekerje, Tah,” ucap Leman Lengkung.
Atah Roy mulai bingung apa yang dikatakan Leman Lengkung. Dengan muka serius Atah Roy menatap muka anak saudaranya itu.
“Maksud dikau, ape ni, Man?”
“Semue barang, dah melonjak naik, Tah. Semue pakaian hargenye melambanung tinggi. Jangan percaye diskon, Tah. Orang toko tu menaikan harge setinggi-tingginye, kemudian baru mereke pasang lebel diskon,” Leman Lengkung menjelaskan kepada Atah Roy.
“Ape maksud dikau ni, Man?” Atah Roy mengulangi pertanyaannya.
“Nak dekat hari raye ni Tah, semue barang dah naik,” jelas Leman Lengkung.
“Astaqfirullahalazim, orang bercakap masalah muslim di dunia ini selalu mendapat ketidakadilan, die sibuk masalah pakaian! Tak terketuk hati dikau membace berita pembantaian muslim Rohingnya di Myanmar sedikit pun? Tak ibe dikau melihat muslim di Perancis dan Cina dilarang puase? Ape nak jadi dengan diku ni, Man!” Atah Roy geram.
“Ibelah Tah. Saye ni muslim juge. Saye juge ibe menenguk muslim di negara ini ditelantarkan. Rate-rate yang miskin di negara ini orang Islam, Tah,” ucap Leman Lengkung.
Atah Roy terdiam. Ia mengedipkan matanya, tak terasa air matanya berjatuhan ke pipinya.
“Memang besar cobaan jadi Islam ni ye, Man?” suara Atah Roy lirih.
“Cobaan, cobaan…,” Leman Lengkung menyambung.