Selamat Datang di Hikayat Atah Roy. Senyum Adalah Keikhlasan yang Tak Terucap

Sabtu, 27 Juli 2013

Jalu


“Orang-orang tidak sadar apa yang sedang dilakukan. Harus ada yang menyadarkan mereka, namun sayang, tiada seorang pun yang mau menyadarkan. Tersebab tidak ada menyadarkan, semakin tidak beraturanlah negeri ini. Orang-orang yang memiliki kekuasaan di negeri ini, Roy, seperti orang jalu. Mereka sepertinya tidak sadar dengan apa yang mereka lakukan, sementara rakyat hanya melihat kejaluan mereka.
Engkau pasti tahu arti jalu, Roy? Aku yakin kau tidak melupakan kata itu. Kau juga pernah mengatakan aku mengalami jalu itu. Ketika kita tidur di rumah Ali Sangap, aku berjalan ketika sedang tidur. Tanpa sadar, kau yang menceritakan kepada aku, aku langsung ke daput mencari makanan. Waktu itu di dapur rumah Ali Sangap, jangankan nasi, kerak nasi pun tidak ada. Aku, katamu, mengambil periuk, panci, lalu aku jadikan panci dan periuk itu seperti drum, aku terus memukul sampai panci dan periuk itu tembuk. Aku masih ingat apa yang kau cerita ketika aku jalu di rumah Ali itu. Seandainya engkau tidak menyadarkan aku, mungkin semua peralatan yang ada di dapur rumah Ali Sangap, binasa disebabkan aku.
Seperti orang jalu inilah yang melanda pembesar-pembesar negeri kita, Roy. Mereka melakukan sesuatu, namun mereka tidak sadar. Engkau bisa melihat semuanya di televisi atau pun koran, para pemimpin asik dengan manuver atau pun berbuat untuk pribadi dan juga golongan. Sementara rakyat tidak pernah diperhatikan. Sibuklah mereka membangun citra di tengah masyarakat agar mereka atau pun golongan mereka terpilih menjadi pemenang pada pilkada atau pun pemilu nantinya.
Aku tak habis pikir, Roy, dalam kejaluan mereka, mereka bertambah kuat. Hal ini disebabkan kita hanya diam, tidak menyadarkan mereka. Para profesor semua bidang, sibuk dengan urusan mereka, dan terkadang ikut jalu, mendukung apa yang dilakukan pemimpin yang jalu. Agamawan juga seperti itu, jalu menggunakan sepenggal ayat untuk membenarkan jalan yang tidak sadar itu. Seniman dan budayaan juga ikut jalu, sibuk memekirkan nilai estetika dan kemudia mencocokkan dengan kebijakkan yang tidak pro orang ramai.
Tiada yang tidak jalu di negeri kita ini, Roy. Aku, kau dan kita semua terbabit dalam masalah kejaluan yang melupakan esensi hidup ini. Seandainya kita sadar dengan apa yang kita lakukan, mungkin saja kesejahteraan dan kebahagiaan bukan hal mustahil untuk diwujudkan. Karena kita semua dalam keadaan jalu, kebohongan, keserakahan, kerakusan hidup subur tanpa dapat dihentikan.
Lama-kelamaan kejaluan kita semakin menjadi. Kita yang berdiri dengan kejaluan ini, terus berbuat tanpa sadar. Menomen-menomen hasil kerja kejaluan kita semakin tegar berdiri. Kita pun menganggap diri kita yang paling benar, paling betul, sehingga apa yang dilakukan orang lain adalah salah dan harus dibumi hanguskan. Kita pun mencari celah untuk menumbangkan setiap lawan, bahkan akalu ada kawan yang berpikiran berlawanan dengan pikiran kita, kita pun harus membinasakannya. Tiada kawan sejati dalam kejaluan kita, Roy. Kita sudah diasikan dengan kepongahan diri kita sendiri.
Di negeri ini, orang pintar itu banyak Roy, namun mereka juga ikut-ikutan jalu. Mereka tanpa sadar juga, masuk dalam kejaluan yang telah diciptakan dengan kehilangan kesadaran. Kebenaran yang dibangun dari kejaluan kita, kini sudah semakin susah dikendalikan Roy.
Mungkin saja Roy, surat yang aku tuliskan kepada dirimu ini, aku dalam keadaan jalu. Aku tidak tahu lagi kepada siapa hendak aku tuangkan rasa jalu ini. Seandainya engkau tidak jalu, akau berharap, engkaulah yang dapat membangunkan orang yang sedang jalu di negeri kita ini. Bagaimanapun caranya, kita harus disadarkan, kalau tidak negeri kita ini akan semakin terpuruk dalam ketidaksadaran.”
Atah Roy menggisal matanya yang tidak pedih, setelah membaca surat Ilham Sulah, teman Atah Roy waktu sekolah dasar dahulu. Ilham Sulah kini berada di Jakarta, menjadi orang terpandang di Ibu Kota Indonesia itu. Perjuangan Ilham Sulah menjadi orang terpandang di Jakarta, memang penuh rintangan. Ia terpaksa meninggalkan tanah kelahirannya dan masuk kelompok yang sedang berkuasa. Sebelum Ilham Sulah ke Jakarta, ia pernah mengatakan kepada Atah Roy, bahwa untuk dihargai dan di segani di kampung kita ini, maka kita harus menakluk dan berkuasa di Jakarta. Orang daerah lebih percaya orang Jakarta dibandingkan dengan orang tempatan itu sendiri.
Kini cita-cita Ilham Sulah sudah terwujud, namun kenapa Ilham Sulah baru menyurati Atah Roy dan membicarakan masalah ini? Hal inilah yang memeningkan Atah Roy. Padahal sebelumnya, Atah Roy tidak pernah menerima sepucuk surat pun dari Ilham Sulah. Sudah hampir 20 tahun Ilham Sulah mendapat tempat sedap di Ibu Kota itu, tapi kenapa baru sekarang.
“Mungkin Ilham sedang jalu menuliskan surat die ni tak?” oikir Atah Roy.
Tiba-tiba Leman Lengkung berjalan dalam tidurnya. Kemudian Leman Lengkung duduk di sebelah Atah Roy. Lama Atah Roy menatap Leman Lengkung. Mata Leman Lengkung tertutup rapat.
“Hei, Roy. Hari raye dah dekat. Apekah dikau tak membeli baju aku?” Leman Lengkung berkata dalam tidurnya.
“Aku dipanggil Roy aje? Aku ni bapak saudare die,” ucap Atah Roy geram.
“Roy, kalau dikau hendak beli baju aku besok, tolong belikan baju terbaru ye, kalau tidak, aku penggal kepale dikau,” kata Leman Lengkung sambil berdiri dan masuk ke kamar kembali.
“Alamak, kalau orang dah jalu ini, memang tak kenal lagi dengan orang lain. Dielah yang paling hebat dan paling berkuase. Padahal die mintak beli baju dengan awak, tapi bukan main kaso langgo bahasenye,” ujar Atah Roy sambil melihat Leman Lengkung masuk ke kamar.
“Betuk juge cakap Ilham Sulah dalam surat ini. Tersebab kite ini semue dalam keadaan jalu, make kite pun tidak pernah menyadari ape yang kite buat. Kalau sudah macam ini, alamat terlungkuplah negeri kite ini,” ucap Atah Roy lagi, sambil berjalan menuju ke kamar Leman Lengkung. “Untung dikau tidur, Man, kalau tidak, aku lempang dikau dah!” ujar Atah Roy geram.       

Sabtu, 20 Juli 2013

Curiga


Negeri ini sepertinya kehilangan kepercayaan. Setiap kali seseorang tokoh atau kelompok berbuat baik, selalu dicurigai ada maksud tertentu. Kata orang-orang dahulu mengatakan “ada udang di balik batu.” “Wabah” kecurigaan ini semakin bertambah menjadi-jadinya ketika “musim” Pemilu, Pilkada sampai merebak pada pemilihan Ketu RT, untung tidak sampai pemilihan suami atau istri.
Kecurigaan terus hidup di benak orang-orang negeri ini, walaupun musim “pemilihan” sudah usai. Tiada lagi saling percaya, semuanya aktivitas yang dilakukan selalu dicap punya kepentingan pribadi atau kelompok. Berbuat baik terasa sumbang; orang-orang was-was untuk melakukan kebiakan. Gejala ini menciptakan masyarakat saling terpecah belah dan individualisme hidup subur. Ketika individualisme “merajalela” maka bersiap-siaplah perselisihan, perkelahian menjadi sesuatu cara “menyelesaikan” masalah.
Sebagai orang tua, Atah Roy sangat kecewa melihat negeri ini tidak menghargai orang lain lagi. Semuanya hendak dibawa pada kepentingan pribadi atau golongan. Masyarakat terabaikan. Atah Roy tidak mampu berbuat apa-apa lagi. Orang tua kadang kala juga terperangkap hal-hal pribadi, sehingga nasehatnya menjadi basi. Anak muda beranggapan lebih pintar, sehingga dengan sesuka hati melakukan apapun juga.
Atah Roy tidak mengerti, mengapa di negeri ini diserang virus “curiga” yang berkelebihan. Kadang kala Atah Roy berpikir bahwa ada baiknya zaman Orde Baru yang dipimpin Soeharto. Orang-orang dibungkam, sehingga hanya orang-orang tertentu saja yang menyebar kecurigaan. Zaman Reformasi ini, semua orang saling curiga dan saling punya kesempatan menohok, bahkan membunuh orang lain. Muncullah raja-raja bermulut manis, namun memiliki hati yang pahit. Paling parah lagi, orang-orang bermuka seribu pun bermunculan, memanfaatkan kesempatan.
Atah Roy terkenang, baru-baru ini, Gubernur Jakarta, Joko Widodo (Jokowi), dihadiahkan gitar bass milik personil Metellica. Pemberian hadiah yang dilakukan oleh bassis kelompok Metellica ini sebagai rasa terima kasih, karena Jokowi merupakan peminat berat kelompok ini. Walaupun sudah menjadi gubernur, Jokowi tetap hadir melihat konsert kelompok ini. Malangnya, pemberian gitar bass ini dicurigai memiliki kepentingan politis, sehingga gitar bass tersebut diserahkan kepada Komisi Pemberantas Korupsi. Alasannya, EO yang menghendel konser Metallica itu akan memanfaatkan Jokowi sebagai Gubernur Jakarta.
Sementara itu, di negeri Langcang Kuning ini, kecurigaan bertambah subur, maklum pemilihan kepala daerah tidak lama lagi digelar. 4 September 2013 merupakan waktu untuk menentukan siapa yang menjadi Gubernur Riau ke depan. Menyebar pesona pun harus dilakukan, dan tentu saja untuk meyakinkan masyaralat banyak, penyebaran pesona dilakukan oleh tim-tim yang sudah dibentuk oleh calon gubernur. Bermunculanlah tokoh-tokoh yang masuk tim sukses.
Para tim pun bekerja dan masalah pun muncul. Atah Roy mencoba menetralkan diri tidak memihak sisapapun calon yang bertarung. Bagi Atah Roy, siapapun Gubernur Riau berikutnya, harus mampu menciptakan Riau ini lebih sejahtera. Sudah lama propinsi yang memiliki kekayaan alam yang berlimpah ini, dizalimi. Untuk itulah Atah Roy berharap kepada semua calon berkomitmen membangu Riau. Jangan ada lagi kepentingan kelompoak atau perorangan. Setelah menjadi gubernur, calon tersebut miliki masyarakat Riau, bukan miliki partai atau kelompok yang memenangkan dirinya.
Sementara itu, Leman Lengkung, anak saudara Atah Roy, masuk tim salah satu calon gubernur. Dengan giat Leman Lengkung menyosialisasikan jaguannya tersebut. Setiap pohon di kampung, dipasang gambar-gambar calon gubernur yang ia dukung. Sampai di rumah Atah Roy, Leman Lengkung tinggal di rumah Atah Roy, gambar-gambar calon geburnur Leman Lengkung dipasang. Pokonya semua dinding rumah Atah Roy ditempel gambar.
Melihat Leman Lengkung sudah melampau, Atah Roy pun menegur Leman Lengkung.
“Ape pasal di setiap diding rumah aku, dikau pasang gambo die ni, Man?” tanya Atah Roy.
“Ini Tah, calon gubernur masa depan Riau. Dia memiliki visi dan misi mantap untuk membangun Riau ke depan,” jawab Leman Lengkung seperti seorang diplomat ulung.
“Tapi kenape pulak dikau pasang di semue dinding rumah ni?” Atah Roy menarik nafas panjang.
“Atah tak suke saye memasang gambo-gambo ini semue ye? Atau Atah mendukung calon lain?” Leman Lengkung curiga.
“Bagi aku, siape pun jadi gubernur semue pilihan kite. Tapi dikau menempel semue gambo ini ke seluruh dinding rumah aku, memang aku tak suke,” jawab Atah Roy.
“Alah, Atah tu memang menghambat orang lain. Saye bukan tidak tahu, semalam Atah berkunjung ke rumah Tami Senget,” ujar Leman Lengkung agak keras.
“Ape salahnye aku berkunjung ke rumah Tami Senget,” balas Atah Roy.
“Alah, Tah. Tami Senget tu tim sukses calon lain. Atah mendukung calon yang dijagokan Tami Senget tu, bukan saye tak tahu,” Leman Lengkung semakin geram.
“Man, aku ke rumah Tami tu, mintak hutang. Sudah due bulan die belum bayo utangnya, sementare hari raye dah dekat. Dengan ape kite nak buat kue?” Atah Roy juga meninggikan nada suaranya.
“Usahlah Tah, saye tahu semuenye. Atah dan Tami Senget ade buat perjanjian kalau calon Tami tu jadi,” Leman Lengkung ketus.
“Perjanjian ape?” Atah Roy agak geram.
“Atah akan diangkat menjadi Ketue Koperasi di kampung ini, dan kalau Atah ketue, Tami Senget jadi bendaharanye, senang mike membagikan duit,” Leman Lengkung semakin emosi.
“Man, bercakap tu bio betul siket,” muka Atah Roy memerah.
“Memang ye, Tah, tidak usah disenbunyikan lagi,” ujar Leman Lengkung.
“Aku bercakap betul ye, Man, jangan dikau membangunkan harimau yang sedang tidur ini,” gigi Atah Roy rapat menahan amarah.
“Tak gune kite bercakap lagi, Tah. Pasti Atah membela Tami tu, sebab Tami sudah menjanjikan kepade Atah,” Leman Lengkung semakin menjadi-jadi.
Tiba-tiba tangan kanan Atah Roy mendarat ke pipi Leman Lengkung. Atah Roy tersengal-sengal, amarahnya tertumpah ke pipi Leman Lengkung. Tidak terima perbuatan Atah Roy, bapak saudaranya, Leman Lengkung berdiri, dan mengepal tinjunya. Namun Leman Lengkung menghentikan tinjunya tepat di hidung Atah Roy.
“Pakakal dikau bapak saudare aku, kalau orang lain, dah bonyuk muke dikau ni!” ujar Leman Lengkung penuh emosi.
Leman Lengkung meninggalkan Atah sendiri. Atah Roy termenung melihat Leman Lengkung berani mau meninjunya.
“Inikah kehendak reformasi itu? Orang-orang penuh kecurigaan, sehingga menghilangkan akal sehat,” ujar Atah Rpy lirih.  
      
    
  
     

Sabtu, 06 Juli 2013

Bulan Ramadhan



Bulan Ramdhan datang kembali. Harapan untuk mengubah dan memperbaiki diri masih terbentang bagi kita yang masih hidup. Bagi Atah Roy kedatangan bulan Ramdhan merupakan kesempatan untuk mengubah diri lebih baik lagi dari bulan-bulan yang sudah lewat. Untuk mengingatkan arti penting bulan Ramdhan ini, Atah Roy pun menulis surat yang ditujukan kepada dirinya sendiri. 


Atah Roy menjadi bahwa perubahan itu harus dimulai dari diri sendiri. “Mengenal diri, maka akan mengenal Tuhan yang bahari”, bisik Atah Roy dengan mengenang kembali kata-kata yang disusun oleh sastrawan besar Riau abad 19, Raja Ali Haji. Dengan menggunakan seagala pikirannya, Atah Roy pun menuyusun kata demi kata, dan inilah kata-kata yang disusun Atah Roy itu.      
“Waktu terus bergerak meninggalkan peristiwa-peristiwa, maka sesungguhnya manusia itu merugi, kecuali manusia yang beriman. Pada peristiwa-peristiwa yang ditinggalkan oleh waktu, ada ‘wajah’ kita sebagai manusia. Wajah dengan penuh duka, wajah dengan penuh keceriaan ataupun wajah yang sedang-sedang saja merupakan hasil usaha dan kerja kita dalam mengisi waktu yang terus berlalu. Tentu saja keredhoaan Allah menjadi hal yang paling penting dari segala usaha dan kerja kita selama ini.
Bulan Ramadhan datang kembali. Kita pun kembali diberi kesempatan untuk melakukan hal yang lebih bermafaat dan berfaedah sesuai dengan keinginan Sang Maha Pencipta. Pada bentangan waktu yang sudah berlalu, terkadang manusia lupa, terkadang manusia lalai, terkadang manusia sombong, bulan Ramadhan menjadi tempat merangkai kebaikan untuk menutupi kesalahan kita.
Memang perjalanan waktu tidak terasa, yang kecil tumbuh dewasa, yang muda bergerak menjadi tua, yang hidup sampai pada kematian. Begitulah perjalanan waktu; tidak terasa namun pada titik-titik tertentu, manusia tersentak disadarkan. Kesadaran manusia muncul ketika manusia menghadapi masalah yang rumit. Manusia pun membongkar daya ingatnya dan merangkai segala peristiwa yang mereka buat dengan peristiwa sulit yang sedang mereka hadapi. Mempertanyakan kesalahan apa yang sudah mereka lakukan.
Kita tidak mungkin menyalahkan waktu, sebab waktu itu adalah diri kita. Apapun peristiwa yang ‘tumbuh’ di bentangan waktu merupakan hasil pikiran dan perasaan manusia. Baik dan benar, dosa dan pahala adalah hasil dari usaha dan kerja manusia. Lupa akan hakikat sebagai manusia, menghasilkan perbuatan yang dapat merugikan diri sendiri. Memang hidup ini mengasikkan. Dengan keasikan kehidupan menyebabkan manusia lupa akan kebenaran yang sesungguhnya. Asik mengumpulkan harta benda, asik ingin berkuasa, asik mau dihormati, menyebabkan manusia selalu terjerumus dalam perbuatan lupa akan dirinya.  
Manusia yang hadir di muka bumi adalalah pemenang. Kemenangan menyanggupi menjalankan segala perintah Sang Maha Pencipta, maka kita pun dilahirkan. Sebagai pemenang manusia dituntut untuk mempertahankan kemenangannya dengan melakukan dan menyebarkan kebenaran hakiki itu. Namun dalam perjalanan waktu, manusia pun bisa berubah. Lalai dan keasikan akan keduniawian inilah penyebab manusia berubah.     
Bulan Ramadhan datang kembali. Kesempatan manusia menyulam hakikat sebagai manusia masih terbuka. Kahadiran bulan Ramadhan menandakan Sang Maha Pencipta menyanyangi manusia. Kita sebagai manusia, diberi kesempatan untuk melakukan intropeksi diri, agar mampu mengubah nasib dan jalan hidup kita berdasarkan keredhoaan Allah. Tiada yang abadi di dunia ini selain amal dan ibadah, dan Allah senantiasa membukakesempatan itu bagi kita semua.
Setiap kali bulan Ramadhan datang, kita diberi kebebasan untuk memperbaiki diri berdasarkan perintaah Allah. Sebulan penuh ini, kita ditempa menjadi manusia yang benar-benar mengenal hakikat diciptakan di muka bumi ini. Menjalin kekeluargaan sesama manusia, tidak berburuk sangka, menghilangkan rasa denki. Bagaimanapun juga manusia yang dilahirkan pada hakikatnya sama, sama-sama menghambakan diri kepada Allah, dan peluang kita tetap menjadi pemenang di sisi Allah masih tetap sama. Hanya manusia yang benar-benar mengenal diri, menjadi pemenang yang sesungguhnya.
Pada bulan Ramadhan tahun ini (1434 Hijrah), di negeri kita, Riau yang kita cintai ini, setelah Ramadhan usai, akan dilangsungkan pemilihan gubernur. Maka banyak kesempatan bagi orang-orang memanfaatkan Ramadhan untuk kepentingan sesaat. Mudah-mudahan Ramadhan tahun ini membuka pikiran dan hati kita untuk tidak berburuk sangka dengan manuver politik yang dilakukan oleh saudara-saudara kita. Pilihlah mereka sesuai dengan pekerjaan mereka selama ini.
Bulan Ramadhan mengajar kita untuk mengarifi kehidupan ini dengan keikhlasan. Mudah-mudahan keberkahan tetap melimpah di negeri kita. Dan kita benar-benar menjadi pemenang di mata Allah SWT.”
Setelah menulis kalimat ini, air mata Atah Roy bercucuran berjatuhan. Atah Roy merasakan bahwa ia belum berbuat banyak untuk kehidupan ini. Bentangan peristiwa masa lalu hadir di benaknya. Kesombongan, kerakusan, yang pernah ia buat bukanlah jalan yang benar untuk mendapatkan keredhoaan Allah. Atah Roy berazam bahwa Ramadhan tahun ini ia akan bersungguh-sungguh berbuat sesuatu berharap keredhoaan Allah. Ketika segala kerja kita diredhoi oleh Allah, maka dijamin akan dapat menyenangi manusia lainnya.   


Sabtu, 22 Juni 2013

Asap Oh Asap


Kembali negeri ini diselimuti asap. Orang-orang hanya bisa mengeluh dan mengutuk. Keluhan diserang penyakit, tentu ditujukan kepada kita sendiri, tapi kutukan, entah kepada siapa hendak dialamatkan. Kepada pemerintah? Pemerintah tak juga jadi ‘batu’. Pada pihak swasta, pihak swasta semakin kaya saja. 
Untuk mengatasi masalah asap ini, Atah Roy bermeditasi alias bertapa di kamarnya. Sudah dua hari, dua malam Atah Roy bertapa. Makan dan minum tak disentuhnya. Melihat keadaan seperti ini, Leman Lengkung ketakutan juga. Leman Lengkung takut sakit lain pula yang mendera Atah Roy. Hendak menyadarkan Atah Roy, Leman Lengkung ketakutan juga. Manalah tahu, Atah Roy mengamuk sebab pertapaannya terganggu.
Hari ini, sudah masuk hari yang ketiga. Seperti biasa, Leman Lengkung mengantarkan makanan dan minuman untuk Atah Roy. Walaupun makanan dan minuman semalam belum disentuh Atah Roy, namun Leman Lengkung tetap menyediakan. Mana tahu, Atah Rou lapar seketika, bisa langsung menyantap makanan yang sudah tersedia. Tanda-tanda Atah Roy akan menyantap makanan dan minuman, tidak juga muncul. Leman Lengkung bertambah khawatir. Namun beberapa saat kemudian, tangan Atah Roy bergerak. Semakin lama, semakin cepat gerakan tangan Atah Roy. Atah Roy seperti penari Olang-olang; berdiri menghentakkan kakinya sambil menggerakkan tangan semakin cepat.
Leman Lengkung terkejut. Ia ingin memegang tubuh Atah Roy, namun tangan Atah Roy menyepak alias menguak Leman Lengkung. Mata Atah Roy masih tertutu rapat, mulutnya berkomat-kamit, seperti membacakan mantra. Tapi Leman Lengkung belum dapat mengartikan gerak mulut Atah Roy.
“Akulah alam yang kalian sia-siakan. Akulah udara cemas yang kalian isap. Kalian tak menepati janji. Kalian terlalu serakah akan hidup. Kalian berkhianat kepadaku,” ujar Atah Roy dengan mata masih tertutup.
Leman Lengkung panik. Ia tidak dapat berbuat apa-apa, selain memandang bapak saudaranya dengan mulut sedikit menganga.
“Aku telah cukup sabar membiarkan kalian berbuat sesuka hati kalian. Membakar hutan, menebang hutan, mengeruk isi perut bumi, namun kalian tidak pernah bersyukur. Kalian akan binasa disebabkan perbuatan serakah kalian sendiri,” tubuh Atah Roy semakin kencang bergerak. Atah Roy seperti burung terbang mengelilingi angkasa.
“Ape masalahnye ni, Tah?” Leman Lengkung tak mampu berdiam diri.
“Akulah alam yang kalian sia-siakan!” suara Atah Roy semakin keras.
“Ape hubungannye dengan saye?” Leman Lengkung kembali bertanya.
“Halangi keserakahan itu, sebelum aku membinasakan kalian. Tidak ada bedanya, kalau kalian yang tidak berbuat menyengsarakan aku hanya diam menyaksikan akibat keserakahan orang-orang yang berbuat itu. Kalian harus melakukan perlawanan terhadap orang-orang serakah itu. Apa gunanya kalian diberikan pikiran dan kekuatan, kalau hanya diam menyaksikan aku dimusnahkan? Kalian lihatlah asap menyerang kalian setiap saat. Tak mungkin asap hadir tanpa ada api, dan tentu saja api itu datang dari hutan yang dibakar! Bertahun-tahun kalian melakukan keserakahan yang sama, tanpa ada jalan penyelesaiannya. Kalian tidak berlajar dari nenek moyang kalian yang memanfaatkan kami dahulu. Alam bagi nenek moyang kalian adalah diri mereka sendiri. Sakit alam adalah sakit mereka, musnah alam adalah kemusnahan mereka. Pada hari ini, kalian semakin tamak dan loba memanfaatkan kami!” Atah Roy semakin tidak dapat dikendalikan. Tubuhnya semakin kencang bergerak.
Leman Lengkung kembali berusaha menyadarkan Atah Roy, namun kembali tangan Atah Roy menyepak Leman Lengkung. Kali ini Leman Lengkung terduduk disepak Atah Roy. Leman Lengkung meringih kesakitan.
“Jangan halangi aku menuntut balas kepada kalian. Asap yang kalian ciptakan sendiri dengan membakar hutan akan menjadi bala bagi kalian, namun kalian diam saja. Kalian seperti tidak tahu saja. Padahal asap itu kalian hirup dan akan menjadi sumber penyakit. Kalian terlalu tidak percaya diri, selalu dikalahkan oleh pemilik modal. Kekuasaan kalian hanya diukur dengan uang. Kalian terlalu diperbudak uang. Kalian akan melihat anak-cucu kalian tidak diserang penyakit yang mematikan karena kalian kualat dengan alam!” setelah mengeluarkan kaliamat tersebut, Atah Roy jatuh terkulai tidak sadarkan diri. Leman Lengkung cepat-cepat mendekati Atah Roy.
“Tah, Atah Roy, bangket Tah,” kata Leman Lengkung sambil menggoyangkan badan Atah Roy.
Atah Roy tak bergerak. Leman Lengkung semakin khawatir. Leman Lengkung meletakkan kepala Atah Roy di atas bantal, kemudia Leman Lengkung mengambil air putih. Lalu Leman Lengkung menghusap muka Atah Roy dengan air putih tersebut. Perlahan-lahan Atah Roy siuman. Melaihat Atah Roay sadar, Leman Lengkung memberi minum kepada Atah Roy.
“Ape yang terjadi, Man?” tanya Atah Roy.
“Atah seperti kemasukan tadi. Atah bercakap panjang lebo tentang masalah asap yang melanda negeri ini,” ujar Leman Lengkung.
“Apa yang aku ucapkan tadi, Man?” tanya Atah Roy lagi.
“Banyak Tah, tak ingat saye de,” jawab Leman Lengkung.
“Intinye?”
“Kite tak berbuat ape-ape pun terhadap keserakahan di depan mate kite,” jelas Leman Lengkung.
“Betul tu, Man. Kite jadi penakut berhadapan dengan ketamakan dan kerakusan,” Atah Roy agak kesal.
“Ape yang harus kite lakukan, Tah?”
“Entahlah Man, aku pun kehilangan akal.”
“Nampaknye Tah, kite harus ngumpulkan kekuatan. Kite unjuk rase beramai-ramai,” Leman Lengkung semangat.
“Demonstrasi tak dipandang orang lagi, Man. Dah berape banyak orang yang demo, tapi tetap saje tak didengo,” ujar Atah Roy patah semangat.
“Jadi, ape yang hendak kite buat, Tah?”
“Kite jadi asap ajelah, senang kite masuk ke tubuh manusie lainnye, dan kite bebas nak kemane,” jawan Atah Roy kehilangan semangat.
“Kite bio saje negeri kite tetap diselimuti asap, Tah?”
“Kite tunggu aje kebaikan dari Sang Pencipta untuk menyelamatkan kite, Man. Orang yang punye kuasa pun tak berbuat ape-ape,” tambah Atah Roy lemas.

Sabtu, 15 Juni 2013

Jering


Apa guna negara, kalau rakyatnya hidup menderita?” ujar Jang Gagak dengan emosi yang meluap-luap.
“Negara tak salah de, Jang, yang salah kite-kite ni. Kite pakai diam saje derita yang sedang dipikul negera ini. Seharusnye kite berusaha keras mengobati derita tersebut. Ini tidak, kita juge menambah derita negara ini,” ucap Atah Roy pula.
“Atah Roy yang terhormat lagi bijaksana. Ape yang hendak kite buat sebagai rakyat jelata ni? Nak makan saje kite susah, macam mane kite nak memikirkan negara ini? Bukankah kite telah mempercayai orang-orang pilihan untuk mengurus negara ini? Bukan kite tak cinta pade negara, tapi keadaan kite semakin tak berdaya. Sebutkanlah salah satu kebutuhan kite yang tak terganggu? Semuenye tak bersahabat dengan kite,” jelas Jang Gagak panjang lebar.
“Jang, dikau tahu Hikayat Hang Tuah kan?” tanya Atah Roy.
“Tahu beno, Tah.”
“Hang Tuah tak pernah berhenti memberikan yang terbaik untuk negara, walaupun hatinye sengsara,” tambah Atah Roy.
“Saye sepakat dengan Hang Tuah, Tah, tapi masalahnye berbede. Memperjuangkan nasib kite sekarang ini, same saje kite berjuang seperti Hang Tuah. Ape yang tidak kite berikan pade negara kite ini? Setiap saat kite bayo pajak, taat peraturan, tidak anarkis memperjuangkan nasib kite. Tapi ape yang negara berikan kepade kite? Jering mahal, bawang mahal, semue mahal. Padahal tanah kite ini, lempo kayu, kayu tumbuh. Lempo batu, batu tumbuh, tak ade alasan kesengsaraan seinggah pade kite,” Jang Gagak bertambah mantap.
“Betul tu Jang, tak salah dikau de, tapi mungkin saje ade alasan lain yang menyebabkan kite harus menderita terlebih dahulu,” Atah Roy mencoba menenangkan Jang Gagak.
“Alasan ape lagi Atah Roy? Saye ambik contoh jering. Jering yang menjadi makanan pujaan orang Indonesia dan batangnye tumbuh di mane saje di tanah ini, hargenye melambung tinggi, sehingge kite tak sanggup nak membeli. Memang masalah jering ini memang lucu kedengaraannye, tapi kalau ditelusuri betul-betul, kite jadi malu. Bisa harge jering sebijik menyampai seribu rupiah? Bayangkan Atah, dulu belambak jering di negeri kite ini, sekarang jangan cube-cube sentuh kalau tak punye duit banyak, Tah,” Jang Gagak tambah yakin.
“Kalau menurut aku, ade juge hikmahnye harge jering melambung tinggi, Jang. Dengan harge jering mahal, make drajat jering ikut naik,” jelas Atah Roy.
“Maksud Atah?” Jang Gagak tak paham.
“Cube dikau bayangkan, dulu waktu harge jering murah, orang-orang menganggap jering makanan orang miskin. Sekarang harge jering dah mahal, tentu jering menjadi makanan orang kaye, dan pamor jering pun terangkat,” jawab Atah Roy sambil tersenyum.
“Tah, kalau bercakap jangan pakai tempurung lutut, pakai otak Atah tu!” Jang Gagak bengis dengan jawaban Atah Roy.
“Aduh, Jang, bukan main sopan dikau bercakap! Aku kan cume nak bergurau, bio dalam menghadapi masalah ini tetap dengan senyum. Kalau dikau dah kaso-langgo macam ni, aku lebih kaso lagi, Jang!” ujar Atah Roy mulai emosi.   
“Inilah salah Atah. Atah tak pernah bisa meletakkan masalah mane yang harus kite bergurau, mane yang kite tidak boleh bergurau. Masalah jering ni, Tah, bukan masalah sepele, ini masalah serius, sebab kite tam mampu menyejahterakan rakyat yang hidup di tanah surga ini. Kalau Hang Tuah hidup di zaman kenen ni, saye jamin die pun marah beso. Bisa jering menjadi langka di negeri ini. Kalau sudah negara tak mampu menyelesaikan masalah jering ni, make memang tak ade gunelah kite bernegara lagi,” Jang Gagak ikut emosi.
“Jang, kate dikau aku tak sengsara disebabkan harge jering melambung tinggi? Kalau diturut hati aku ini, make aku dah jadi Hang Jebat dah, mengamuk kesane-kemari. Aku tak bisa maka kalau tak ade jering, Jang,” Atah Roy mulai terbawa emosi juga.
“Itulah yang aku cakapkan tu, Tah. Bagi kite rakyat kecik ni, negara yang sukses adalah negera yang mampu menyediakan bahan pokok dengan harge murah. Nak beli beras, beras murah dan berkualitas, nak beli jering, jering tak mahal. Bagi kite rakyat ni, bekepul asap dapur rumah kite, itu dah mantap. Ini jangankan nak bekepul, nak pegi ke dapur je kite malas, sebab tak ade bahan nak dimasakan!” jelas Jang Gagak.
“Sekarang ape nak kite buat ni? Haruskah kite mengamuk tersebab jering mahal? Atau kite diam saje, menunggu mu’zizat datang mengubah negara kite ini?” Atah Roy ikut-ikut terbawa kegeraman Jang Gagak.
“Kite tak boleh mendenggo dan melihat aje nampaknye, Tah. Kite harus berbuat sesuatu. Atah rencana agaknye?” Jang Gagak pula bertanya.
“Kalau aku tak ade jalan lain de. Untuk menyelesaikan masalah jering ini, terpakselah kite mintak pemerintah mengimpor jering ke negeri kite ni,” jelas Atah Roy.
“Kalau jering diimpor dari negera lain, aku tak jamin de Tah, sedangkan sapi yang bisa bersuare, dapat diakal, apelagi jering ni, tentu lebih banyak lagi kene akal kite ni,” Jang Gagak belum dapat jalan keluarnya.
“Jadi, ape nak kite buat?” Atah Roy kehilangan kepintarannye, tersebab sudah 4 bulan tak makan jering.
“Macam mane kalau kite buat surat mohon bantuan PBB untuk mengirimkan jering ke negeri kite ni?” Jang Gagak belum yakin betul dengan usulannya.
“Malulah kite, Jang. Tanah kite ini tanah surge, semuenye tersedie di negeri kite ini, tak mungkinlah mintak bantuan negara asing,” jelas Atah Roy.
“Ye tak ye, ye, Tah. Jadi ape nak kite buat, Tah?”
“Aku sarankan, kite tunggu ajelah dulu ye. Kite tunggu pemimpin baru negara kite ini. Mane tahu pemimpin negara kite yang akan datang, dapat mengatasai masalah yang sedang kita alami ini,” ucap Atah Roy.
“Kalau tak bisa juge?” Jang Gagal khawatir.
“Kite tunggu pulak pemimpin berikutnye,. Kalau juge tidak berubah, kite tunggu pulak pemimpin selanjutnye, sampailah kite mati. Hehehehe...,” jelas Atah Roy putus asa.
“Auklah, Tah,” tambah Jang Gagak ikut pasrah.     

Sabtu, 08 Juni 2013

Mantra


Ada apa dengan mantra? Kenapa mantra? Pertanyaan ini bermain di benak Atah Roy ketika berkunjung ke Jambi untuk menenguk perhelatan Temu Karya Taman Budaya se-Indonesia, 4-8 Juni 2013. Mantra pada pertemuan itu terus diperbincangkan. Kekuatan Mantra Dalam Prespektif Kebudayaan Indonesia, inilah tema besar mengikat perhelatan tersebut. Masing-masing provinsi menampilkan mantra yang dikolaborasikan dengan tarian, teater, seni rupa. Kenapa di zaman kenen alias zaman modern ini, mantra kembali mendapat perhatian? Apakah benar susunan kata-kata yang membentuk irama itu (mantra) memiliki kekuatan magis, sehingga mampu menyatukan bangsa Indonesia yang sedang mengidap penyakit perpecahan ini?
Lama Atah Roy memandang baliho dan spanduk yang bertuliskan kekuatan mantra terpasang di Taman Budaya Jambi. Atah Roy mencoba menjelajah pikirannya dan merangkul segala macam kenangan dan pengetahuan tentang mantra. Mantra merupakan ucapan-ucapan yang selalu melompat dari mulut dukun atau bomo atau kemantan untuk menaklukkan kekuatan gaib. Biasanya mantra dibaca disaat dukun, bomo, kemantan melakukan ritual pengobatan, semah kampung, mengambil kekayaan alam. Mantralah sebagai media permohonan untuk keinginan menaklukkan sesuatu yang diyakini memiliki kekuatan super natural.
Untuk menetralkan pikirannya, Atah Roy pun duduk di kedai kopi dekat Taman Budaya Jambi tersebut. Atah Roy memesan kopi segelas. Setelah kopi datang, Atah Roy pun menghirup kopi yang masih panas itu. Otak Atah Roy masih saja meneroka kata mantra yang dipakai menjadi tema dalam kegiatan tersebut. “Mungkin kite harus kembali kepade kekuatan alam,” pikir Atah Roy.
Dengan kekuatan pikirannya, Atah Roy mencoba merangkai kesimpulan. Orang dulu, menurut Atah Roy, sangat arif memanfaatkan alam untuk kehidupan mereka. Mereka selalu meminta izin terlebih dahulu kepada alam. Dan mantra merupakan jalan untuk menyampaikan keinginan mereka. Maka dirangkailah kata-kata pilihan memperkuat sekaligus meneguhkan hati menjadi semangat. Mantra diyakini mampu menundukan makhluk-makhluk lain sehingga tidak menganggu keinginan manusia.
Ketika Atah Roy sedang berpikir menyimpulkan mantra menjadi tema kegiatan Taman Budaya ini, tiba-tiba muncul Salim Sulah kawan lama Atah Roy.
“Roy?” sapa Salim Sulah masih ragu.
“Ye. Dikau Salim?” tanya Atah Roy pula.
“Ye, Roy,” jawab Salim Sulah gembira. Mereka pun saling berpelukan. Dua sahabat yang sudah 20 tahun tidak bertemu itu, saling melepas rindu.
“Sudah lame kite tak bertemu, Roy,” ujar Salim Sulah.
“Ye, Lim. Aku pikir kite tak akan berjumpe lagi,” wajah Atah Roy terlihat gembira.
“Inilah rahasia Sang Maha Pencipta yang tak pernah dapat kita duga. Kehidupan ini penuh dengan rahasia-rahasia,” tambah Salim Sulah.
“Betul, Lim. Sudah lame kite berpisah, namun batin kite sebenarnya menyatu. Mungkin disebabkan kekuatan hati kite ini, makenye kite berjumpe di sini,” ucap Atah Roy.
“Tak salah Roy. Sudah 20 tahun aku pindah ke Jambi ni dan tak balik-balik, disini pulak kite berjumpe. Dikau ikut acara Temu Karya Taman Budaya se Indonesia ini, Roy?” tanye Salim Sulah.
“Aku diajak kawan untuk menyaksikan pegelaran seni di Jambi ini. Aku terkejut juge, bahwe keragaman kebudayaan dapat disatukan dengan satu kehendak, yaitu kebersamaan, dan mantra menjadi kekuatan penyatuan tersebut,” ucap Atah Roy.
“Ye, Roy. Waktu aku lewat di Taman Budaya Jambi ni, aku melihat bahwa bangsa kite ini dapat disatukan dengan mantra. Mantra merupakan simbol penyatuan manusia dengan alam. Alam yang terbentang ini merupakan kebutuhan manusia yang tidak mungkin dapat dihindari. Aku berpikir bahwa tujuan manusia itu sama, yaitu hidup dalam kesejahteraan, dan memanfaatkan alam sebaik-baiknye merupekan jalan menuju kesejahteraan itu. Di negera kite yang kaye raye ini, nampaknye harus disatukan kembali dengan kekuatan alam. Menghargai alam, menghormati alam, memanfaatkan alam sesuai dengan kebutuhan manusie. Mantra menjadi pembuka mengarifi alam ini,” ujar Salim Sulah panjang lebar.
“Aku sepakat dengan dikau, Lim. Aku ingat waktu kite kecik-kecik dulu, Aki Jumat selalu mengajari kite dengan mantra-mantra penyatu dengan alam. Mantra-mantra itu berisi menyanjung alam beserta makhluk yang mendiami alam dimana kite hendak mengambil kekayaannya. Mantra itu cara kite agar tidak diganggu. Kite pun mengambil kekayaan alam itu sesuai dengan kebutuhan kite,” tambah Atah Roy.
“Tidak salahlah kalau mantra dijadikan tema dalam kegiatan ini. Negara kite ini memiliki mantra-mantra yang dapat menyatukan kite. Memang care kite berbeda, namun mantra membawa kite dalam satu tujuan, same-same menghargai makhluk yang ade di muke bumi ini. Mantra yang diciptakan oleh nenek-moyang kite, harus diaplikasikan pade hari ini. kite harus membuktikan bahwa kite adalah satu demi kemajuan negera ini,” ujar Salim Sulah pula.
“Itulah Lim, negara kite ini jatuh disebabkan keserakahan, ketamakan. Tidak seperti orang dulu. Aku masih ingat, orang dulu mengambil madu di batang Sialang. Mereka membace mantra terlebih dahulu. Mantra itu mengajak makhluk yang ade di sekitar batang Sialang itu untuk bersahabat. Dalam mantra itu juge disampaikan maksud mereka untuk mengambil madu lebah sesuai dengan kebutuhan. Mantra dibaca dengkan keyakinan tinggi, dan menjadi daya semangat bagi mereka,” Atah Roy yakin.
“Aku juge berpikir same. Mungkin juge, kite berjumpe di sini karene panggilan mantra,” ujar Salim Sulah dengan senyuman senang.
“Ye tak ye juge, ye Lim. Mantra memanggil kite bersatu kembali, walau dah terpisah 20 tahun,” Atah Roy pun tertawa.       


Minggu, 19 Mei 2013

Terpaksa Berubah


Di zaman kenen alias zaman kini, himpitan ekonomi atau lebih tepatnya dilanda kemiskinan, memaksa orang untuk berubah. Tentu saja perubahan yang menjadi perbincangan adalah perubahan dari baik menjadi tidak baik. Kemiskinan menjadikan orang-orang nekat melakukan apa pun juga. Orang-orang rela melakukan apa saja untuk mengatasi kemiskinannya. Lebih parahnya, untuk terlepas dari kemiskinan orang-orang memaksa menjual dirinya. Memang benar, kemiskinan mendekatkan diri kepada kekhufuran.
Atah Roy tertekun melihat perempuan muda mengenakan pakaian sangat seksi melintas di hadapannya. Atah Roy kenal betul dengan perempuan muda itu. Walaupun dandanannya berubah, namun Atah Roy masih sangat mengenal perempuan itu. Apa tidaknya, perempuan muda yang baru melintas di depannya adalah anak jiran sebelah rumahnya. Anak Tapa Kangkang.
Setahun yang lalu, anak Tapa Kangkang merantau ke Pekanbaru untuk mencari pekerjaan. Di kampung memang tidak bisa berharap untuk bekerja. Pekerjaan menoreh getah orang lain, berapalah bayarannya, apalagi keluarga sedang susah. Tapa Kankang sebagai kepala keluarga tidak bisa berbuat apa-apa, tersebab terserang darah tinggi dan lumpuh badan sebelahnya. Sementara istrinya sudah 5 tahun yang lalu meninggal.
Anak Tapa Kangkang ada 5 orang, yang paling tua berusia 17 tahun, dan perempuan muda yang baru lewat tadi adalah anak Tapa Kankang yang paling tua. Anak Tapa Kankang itu memang terpaksa meninggalkan kampung, namun sampai sekarang tidak tahu apa pekerjaannya.
Sebenarnya Atah Roy ragu hendak mengejar perempuan muda anak Tapa Kankang itu, namun rasa ingin tahu Atah Roy mendesak dirinya untuk mendekati anak Tapa Kangkang. Kebetulan anak Tapa Kangkang sedang duduk bersama teman-temannya di sebuah cafe di mal dimana Atah Roy juga berada di mal tersebut.
Atah Roy berjalan ke arah anak Tapa Kangkang dan pura-pura tidak melihat. Strategi ini dilakukan Atah Roy agar anak Tapa Kangkang yang menegur terlebih dahulu. Ataj Roy lewat, tapi anak Tapa Kangkang asik bercerita degan temannya tanpa menegur Atah Roy. Atah Roy tidak putus asa, dia kembali lewat di depan anak Tapa Kangkang. Seperti sebelumnya, anak Tapa Kangkang tetap tidak menegur Atah Roy.
“Mungkin dia belum melihat aku,” pikir Atah Roy.
Atah Roy kembali mengulangi perbuatannya, melewati anak Tapa Kangkang. Anak Tapa Kangkang juga tidak menegurnya. Atah Roy pun menarik nafas panjang dan bertekat duduk langsung dekat anak Tapa Kangkang. Atah Roy mengumpulkan kekuatan dan langsung melangkah ke tempat duduk pas di depan anak Tapa Kangkang.
“Dikau anak Tapa?” tanye Atah Roy setelah duduk di kursi depan anak Tapa Kangkang.
“Atah Roy?” tanya anak Tapa Kangkang dengan senyum bahagia.
“Ye. Dikau anak Tapa kan?” tanya Atah Roy lagi.
“Betul Tah,” jawab anak Tapa Kangkang sambil menyalami dan mencium tangan Atah Roy.
“Boleh aku duduk kat sini kan?” Atah Roy basa basi.
“Ape salahnye, Tah. Lagi pun Atah pun dah duduk,” jawab anak Tapa Kangkang. “Ini Tah, teman-teman saye,” anak Tapa Kangkang mengenalkan tiga temannya.
Atah Roy pun menyalami ketiga teman anak Tapa Kangkang yang masih muda-muda dan mengenakan pakaian seksi. Atah Roy menelan air ludahnya dengan mata sedikit membesar. Agar perbuatannya tidak terlihat ganjil, Atah Roy cepat-cepat menutupinya dengan senyuman.
“Atah ke Pekanbaru ni dengan siape? Bang Leman Lengkung tak ikut?” tanya anak Tapa Kangkang dengan ramah.
“Aku datang dengan Leman Lengkung, tapi die tinggal di umah. Atah jalan sorang diri je di mal ini,” jawab Atah Roy.
“Ooo..., Atah sehat kan?” tanya anak Tapa Lagi.
“Alhamdulillah, sehat. Dikau macam mane?” balik Atah bertanya.
“Baik Tah,” singkat jawab anak Tapa Kangkang.
“Maaf dulu ye, nak,”  ujar Atah Roy agak ragu.
“Ngape lak gitu Tah?” tanya anak Tapa Kangkang.
“Kalau boleh tahu, mike keje apa di Pekanbaru ni?” tanye Atah Roy sedikit gugup, takut anak Tapa Kangkang tersinggung.
“Ape boleh buat Tah, cari kerje di kota ni memang mudah, tapi kerje yang yang sedap agak payahlah. Apelagi macam saye ni yang sekolah hanye tamat SMP. Ape dapat kerje, saye kerjekan,” jawab anak Tapa Kangkang polos.
“Tapi mike kerja bagus kan?” Atah Roy masih ragu.
“Maksud Atah?” anak Tapa Kangkang pula bertanya.
“Maksud aku, mike kerje yang halal kan?” Atah Roy terlepas cakap.
“Ape peduli Atah saye kerje halal atau pun tak halal. Saye harus menanggung 4 adik saye, dan ebah yang sedang sakit. Selame ini ape orang-orang kampung peduli dengan saye dan keluarge saye? Orang kampung hanye pandai mencemeeh, dan tak pernah membantu keluarge saye. Saye harus banting tulang menghidupkan diri saye dan juge ke 4 adik dan ebah yang terbujur sakit. Ade orang kampung membantu kami? Tak ade Tah, malahan saye di tuduh mencuri duit Lung Mariam ketike saye kerje mencuci di rumahnye. Dan orang kampung memandang saye keluarge saye dengan hina. Padahal saye tidak mengambik duit Lung Mariam, tapi karen kami orang miskin, orang kampung menuduh saye yang mencurinye. Bukan itu saje Tah. Orang kampung yang berade pernah memperhatikan kami? Tidak Tah. Jadi ape pun yang saye kerjekan, tak usahlah Atah nak tahu,” ujar anak Tapa Kangkang panjang lebar.
Atah Roy tak dapat bercakap, cume diam saja.