Selamat Datang di Hikayat Atah Roy. Senyum Adalah Keikhlasan yang Tak Terucap

Selasa, 31 Mei 2011

Kembali Ke Roh Melayu

“Apekah kite perlu mempertahankan Melayu pade hari ini? Ketike orang Melayu sudah tidak menjunjung persaudaraan dan tidak berani melawan kekalahan yang mendera di setiap tarikan nafas orang Melayu?” Atau, kite bunuh saje Melayu yang ade dalam tubuh kite ini, sehingge kite tidak susah memikirkan nasib Melayu lagi?” Kalimat panjang dari layar telepon genggam itu menerkam benak Atah Roy. Atah Roy terbayang wajah si penggirim shot masege service (sms), Jang Gagak. Jang Gagak adalah kawan Atah Roy waktu mude dan Jang Gagak sengat ditakuti oleh kawan atau pun lawan, karena bagi Jang Gagak siape saja yang tidak bisa diajak kompromi harus dihabisi. Disebabkan sikapnye itulah, Jang Gagak selalu berurusan dengan pihak penegak hukum.

Belum sempat Atah Roy membalas sms Jang Gagak, handphone (hp) Atah Roy berdering kembali. Atah Roy melihat layar hpnya, sms masuk. Kembali Jang Gagak mengirim pesan. “Roy, aku tahu bahwe aku bukanlah orang baik. Segale perbuatan jahat pernah aku lakukan, tapi aku tidak bisa terime Melayu hanye dijadikan ‘ladang’ orang bercocok tanam demi kepentingan pribadi. Orang Melayu itu mejage kehormatan demi kebersamaan. Dan seharusnye orang Melayu hari ini berani mengatekan ‘perang’ demi kemakmuran orang Melayu banyak,” sms Jang Gagak kembali menghujam jantung Atah Roy.

Lama Atah Roy menatap pesan Jang Gagak, sehabatnya itu. Atah Roy seakan kehilangan keberanian untuk membalas pesan tersebut. Atah Roy paham betul, seandainya ia membalas sms itu dan balasannya tidak bisa diterima akal Jang Gagak, maka semakin menjadilah kemarahan Jang Gagak, bisa-bisa sekejap mata Jang Gagak datang mengunjungi Atah Roy dengan membawa sebilah parang yang biasa digunakan Jang Gagak menebak orang yang berlawanan dengan dirinya. Atah Roy hanya mampu berdiam diri.

Leman Lengkung masuk ke rumah. Leman heran melihat Atah Roy duduk di kursi tamu sambil memandang hp lekat-lekat. Untuk menyapa Atah Roy dalam keadaan seperti itu, merupakan resiko besar; Atah Roy pasti marah. Namun membiarkan, hati Leman Lengkung memberontak untuk mengetahui apa yang sebenarnya melanda bapak saudaranya. Gelisah hati Leman Lengkung dapat mengalahkan rasa takutnya. Leman menghampiri dan duduk di sebelah Atah Roy.

“Ape yang sedang Atah pikirkan dengan memandang hp itu lekat-lekat?” Leman ragu, namun pertanyaan lancar keluar dari mulutnya.

Atah Roy terkejut dan meperhatikan Leman Lengkung. Leman Lengkung merasakan darahnya berhenti seketika disaat Atah Roy memandang, namun darahnya kembali normal ketika melihat Atah Roy melemparkan senyuman ke arahnya.

“Dikau Man. Tak perasaan pulak aku, upenye dikau dah duduk di samping aku,” Atah Roy kembali tersenyum.

Melihat Atah Roy tersenyum, Leman mendapat peluang besar untuk bertanya kembali. “Atah sedang memikirkan ape?” Leman mengulangi pertanyaannya.

“Leman, seharusnye kite berani mengatekan bahwa kite orang Melayu dan jangan pernah ragu lagi mengatekan orang Melayu yang paling hebat,” kate Atah Roy penuh semangat.

“Kenape macam itu pulak, Tah? Selame ini kite kan dah mengaku sebagai orang Melayu?” Leman tak mengerti.

“Kite belum sepenuhnye menjadi Melayu, Man. Memang kite mengaku orang Melayu, tapi baru setengah hati. Seandainya kite betul-betul mengikrarkan diri menjadi Melayu, make kite tidak akan pernah dikalah di negeri ini,” Atah Roy semakin semangat.

“Saye belum paham betul maksud Atah?” Leman penasaran.

“Hitler dapat menguasai setengah dunie ini dengan mengatakan bahwa suku Arya-lah yang paling hebat di muke bumi ini. Begitu juge dengan orang Yahudi, mereka yakin bahwa orang Yahudilah orang pilihan, sehinge semangat mereka terus mengebu untuk tampil sebagai orang pilihan itu. Seharusnye orang Melayu seperti itu juga, mengatekan dengan yakin bahwa orang Melayulah yang paling hebat, sehingge kita tak pernah gentar berhadapan dengan siape pun juge,” kate-kate Atah Roy seperti membakar tubuhnya.

“Betul juge kate Atah tu. Macam Cine, mereka kembali kepade diri mereke, dan sekarang Cine menguasai ekonomi dunie,” tambah Leman Lengkung.

“Jadi, tidak salahlah, kalau Jang Gagak menganjurkan kite kembali menjadi Melayu sejati lewat sms kepade aku sekejap ini ye, Man?” suara Atah Roy datar.

“Ape? Jang Gagak, Tah?” tanye Leman terkejut.

“Ye, ngape dikau terkejut?” Atah Roy balik bertanye.

“Pak Cik Jang kan sudah setahun yang lalu meninggal dunie, Tah,” kate-kate Leman Lengkung seperti petir menghantam jantung Atah Roy. Mata Atah Roy terbuka lebar dan mulutnya menganga.

“Jadi sms ini…” Atah Roy tak dapat melanjutkan kata-katanya.

Sabtu, 21 Mei 2011

Kepedulian Atah Roy

Atah Roy tak peduli sangatlah; apa yang telah diperbuat demi kebaikan seseorang akan dibalas kebaikan juge atau sebaliknye dibalas dengan kejahatan. Bagi Atah Roy, berbuat baik merupakan hakikat manusia. “Manusie dilahirkan di dunie ini dari unsur kebaikan,” pikir Atah Roy. Untuk itulah Atah Roy tak pernah mempermasalahkan orang yang dibantu akan berbuat baik pula kepada dirinya.

Lama juga Atah Roy duduk termenung di depan pintu rumahnya. Pintu rumah dengan tangga yang lumayan tinggi untuk masuk ke rumah Atah Roy, memang sedap untuk melepaskan imajinasi. Apalagi dengan matahari pas lurus di atas kepala alias tengah hari tepat. Atah Roy tak tahu, entah mengapa imajinasinya singgah ke sosok kawan lamanya, Man Tapak. Man Tapak merupakan kawan karib Atah Roy ketika muda dahulu. Dimana ada Atah Roy, maka ada Man Tapak. Begitu juga sebaliknya, ada Man Tapak, ada Atah Roy. Tapi kini semuanya sudah berubah. Man Tapak sudah jadi orang terpandang di kampung ini, sementara Atah Roy masih seperti dulu; tak kaye, tak juge miskin, yang sedang-sedang saja, seperti lagu dangdut Vety Fera.

Renungan Atah Roy terganggu dengan kedatangan Leman Lengkung, anak saudaranya. Leman Lengkung sedap betul bernyanyi, “Kamu pilih yang mana? Atas-atas. Kamu pilih yang mana? Bawah-bawah. Kalau saya punya usul, yang tengah-tengah saja, bagaimana? Ok,” walaupun kedengaran sumbang suaranya, tapi Leman Lengkung sangat percaya diri terus bernyanyi.

“Hoi dogol, suare macam kambing nak beranak, tak sadarkan diri, nak menyanyi!” bengis Arah Roy.

Leman Lengkung mendekat dan duduk di sebelah Atah Roy. “Tah, suare tak perlu merdu-merdu sangat, yang penting punye keberanian mengeluarkan suare dan bergoyang, beres masalahnye,” Lemang Lengkung pasti.

“Kalau dikau bernyanyi untuk dikau sendiri, lantaklah. Ini engkau bernyanyi aku dengo, itu sebab aku masalahkan. Telinge aku dah nak bebulu dengo suare dikau!” suara Atah Roy sedikit meninggi.

“Atah, Atah… Atah ni terlalu sensitif dan tak mengikuti perkembangan zaman. Zaman kenen Tah, yang dicari produser rekaman, suare sumbang itulah, kalau tak sumbang alias merdu, tak ade variasi alias monoton aliran musik Indonesia, Tah,” jelas Leman Lengkung, sementara muka Atah Roy memerah.

“Loyar tekak aku dengo dikau bercakap Man, macam ahli betul!” tambah Atah Roy semakin geram.

“Tenang dulu, Tah. Hati panas jangan dipeturut, nanti hilang akal patut. Saye bernyanyi cume nak menghibur Atah yang termenung tak terarah. Dari tadi saye nenguk Atah termenung. Ape yang Atah fikirkan?” Leman Lengkung mencoba mencairkan suasana.

“Tak ade yang aku pikirkan,” kate Atah Roy menyembunyikan pikirannya yang terkenang Man Tapak, kawan dekatnya.

“Saye dah lame tinggal bersame Atah, jadi saye tahu betul sifat Atah. Pasti Atah sedang memikirkan Pak Cik Man Tapak kan?” sidik Leman Lengkung.

“Tak, aku tak memikirkan Man Tapak. Aku tahu diri,” kate Atah Roy agak pelan.

“Tah, saye tahu, keberhasilan Pak Cik Man Tapak disebabkan pengorbanan Atah. Atah menjual sebagian tanah pusake untuk mendukung Pak Cik Man duduk sebagai pimpinan di kampung ini. Setelah Pak Cik Man Tapak berhasil, Atah tak dipedulikan, datang ke rumah ini pun, Pak Cik Man Tapak tak pernah lagi. Itu yang Atah pikirkan?” Leman Lengkung yakin.

“Hoi mengkarung hitam! Jangan dikau mengaitkan persahabatan aku dengan hal yang tidak-tidak. Aku berkorban untuk Man Tapak, karena aku tahu Man Tapak memang layak jadi pimpinan di kampung ini, dan aku tak pernah berharap Man Tapak membalas pengorbanan aku. Aku peduli terhadap kesejahteraan orang kampung ini dan dengan keyakinan itu aku menjual sebagian tanah aku. Man Tapak memang orang yang layak menyejahterakan orang kampung. Bukan karena Man Tapak itu kawan dekat aku. Cam kan itu, Man!” suare Atah Roy meninggi, dan langsung meninggalkan Leman Lengkung. Leman Lengkung menggaru kepalanya yang tak gatal.

“Aku juge yang salah,” kate Leman Lengkung pasrah.

Rabu, 04 Mei 2011

Dari Osama bin Laden Ke Sungai Siak

Berita kematian tokoh yang ditakuti Negara Amerika (entah ye, entah tidak), Osama bin Laden, tak pernah putus ‘mengalir’ di setiap halaman koran dan juga melompat dari mulut pembaca berita baik televisi maupun radio. Pokoknye kematian tokoh itu seperti ‘tsunami’ menerjang manusia seantero dunia. Osama bin Laden tokoh sentral yang menggelegar.

Peristiwa kematian tokoh sentral terorisme ini (entah ye, entah tidak) menyebar sangat dahsyat, maklum Osama selalu ‘dikebat’ dalam setiap peristiwa yang diyakini teroris. Sebenarnya Osama kemak alias risau juge dengan pemberitaan mengenai dirinya. Seperti Dedap Durhake atau Maling Kundang yang dituduh tidak patuh kepade orang tuanya, padahal Dedap dan Maling Kundang paling menyanyangi ibunya, orang-orang yang tidak senang melihat mereka sukses saja menuduh mereka mendurhaka kepada ibu mereka.

Dari peritiwa Osama inilah Atah Roy sadar, bahwa media masa merupakan alat terpenting untuk membangun sebuah citra di tengah masyarakat modern ini. Atah Roy pun teringat Sungai Siak yang mengalir lebam, memikul sejarah maupun memikul beban limbah yang setiap saat ditumpahkan ke tubuh Sungai Jantan itu.

Atah Roy terkesima ‘rekayasa’ kematian Osama dan Atah Roy juga terpana ketika sebuah helat seni yang ditaja oleh sebuah stasiun radio swasta, SmartFM, di pingiran sungai yang ‘melintang’ di perut Sumatera itu. Helat seni yang diberi nama Symphony Sungai Siak itu mendedahkan identitas keseharian orang-orang sungai. Bermacam pergelaran ditampilkan pada helat itu; karnaval pompong hias, sampai perlombaan baca puisi tentang kecintaan terhadap sungai tingkat pelajar SMP.

Atah Roy termenung, seharusnya perhelatan seni di Sungai Jantan itu memang harus dilaksanakan setiap saat, sehingga sungai yang menjadi denyut nadi daerah yang ada di pinggir sungai terdalam di Indonesia itu mendapat tempat di seantero dunia sebagai identitas tanah ini. Atah cuma rakyat kecil dan tak punya pengikut yang banyak. Atah sadar diri di negeri ini kalau tidak punya pengikut yang banyak, maka apa pun usalannya hanya jadi nasi basi.

Ketika Atah Roy termenung mengenang Osama dan Sungai Siak, tiba-tiba Lemang Lungkung datang sambil membawa beberapa koran. Leman Lengkung heran melihat Atah Roy termenung, dan dengan keberanian memegang informasi dari koran yang ada di tangannya, Leman menyapa Atah Roy.

“Tak zamannye lagi kite bermenung, Tah. Sekarang ini orang-orang sudah mengetahui informasi melalui media masa. Kalau Atah bermenung macam ini, ape yang Atah dapatkan?” Leman Lengkung lagak alias sombong sedikit.

Atah Roy memandang Leman Lengkung. Leman Lengkung menganggukan kepalanya dan duduk di sampin Atah Roy.

“Ape yang Atah nak tanyekan kepade saye tentang peristiwa terbaru? Tentang Osama bin Laden? Tentang pembangunan gedung DPRD Kota Pekanbaru? Atau ape sajelah, Atah boleh bertanye sekarang,” Leman kembali lagak.

Atah Roy tetap memandang Leman Lengkung dengan mata sayu alias Atah Roy sedih menenguk Leman tahu sedikit, tapi sudah macam orang ahli betul. Atah Roy menggelengkan kepalanya, dan membuang muka dari wajah Leman Lengkung.

“Atah jangan ragu dengan saye, Tah. Anak Saudare Atah ni, dah banyak tahu perkembangan dunia ini. Cepat Tah, Atah mau menanyekan ape kepade saye, sebelum saye berangkat ke Hongkong ni,” tambah Leman Lengkung.

Atah Roy panas. Dia pun menatap Leman Lengkung lekat-lekat.

“Enkau tau, mengape Sultan Siak memindahkan pusat kerajaan ke Pekanbaru? Engkau tau, berape ikan mati di Sungai Siak setiap bulannye? Engkau tau, berape jumlah orang tak mampu di pinggiran Sungai Siak itu? Engkau tau, berape perusahaan yang membuang limbah ke Sungai Siak? Engkau tau, name Sungai Siak itu sebelumnye? Engkau tau berape susah orang di pinggir Sungai Siak menjalani hidup? Engkau tau, ade beberape kampung di pinggir Sungai Siak itu belum masuk listrik? Engkau tau?” pertanyaan Atah Roy menggalir seperti Sungai Siak yang tak pernah diam.

Leman tercengang, dan hanye mampu terdiam.

Selasa, 03 Mei 2011

Air Mata Atah Roy

Rusydiah Klub mening­galkan pusaka kreativitas be­rupa buku-buku sastra, agama, sejarah, dan ilmu bahasa yang amat berharga. Jika Riau pada masa lalu sanggup menyediakan fa­silitas bagi kegiatan seni dan sastra, seharusnya Riau pada masa kini mampu menyediakan fasilitas yang lebih baik lagi.(dari makalah Idrus Tintin dan B.M. Syamsuddin berjudul Kesenian Riau dan Perkembangannya).

Setelah membaca tulisan tersebut, Atah Roy termenung. Atah Roy tak dapat bercakap sepatah kata pun untuk mengomentar kalimat tersebut. Tanpa dia sadari, air mata berlinang di matanya. Atah Roy kesal pada dirinya, karena tidak mampu menjadi masa lalu yang terlalu indah untuk dikenang.

Beberapa saat kemudian, Leman Lengkung datang sambil membawa 3 bungkus rokok untuk Atah Roy. Menenguk Atah Roy termenung di kursi goyang dengan mata berlinang, Leman jadi heran. Mau menyapa Atah Roy, Leman takut, tapi hati Leman sudah tak tahan untuk menanyakan masalah yang sedang menimpa bapak saudaranya.

“Kene marah, lantaklah, yang penting aku tahu mengape Atah Roy berdiam diri dan ditemani air mata. Pasti ini bukan air mata buaye,” kate Leman Lengkung dalam hati. Leman Lengkung pun duduk di samping Atah Roy. Leman ragu, ia namun bertanya juga.

“Ade masalah ape, Tah?” Leman Lengkung memecah kesunyian.

Atah Roy masih diam dan membiarkan air mata mengalir ke pipinya.

“Tah, saye ni anak saudare Atah, seharusnye Atah ceritekan semua ape permasalahan Atah kepade saye. Kalau dapat saye bantu, saye akan bantu dan kalau saye tak dapat membantu, saye akan berusahe tetap membantu,” Leman Lengkung berusaha membujuk Atah Roy.

Perlahan-lahan kepala Atah Roy bergerak menghadap ke Leman Lengkung. Leman Lengkung berdebar, Leman takut Atah Roy akan membentaknya. Namun apa yang dipikirkan Leman tidak terbukti, Atah Roy cuma menatap kemudian kembali termenung dan air mata mengalir ke pipi.

“Alhamdulillah,” Leman bersyukur dalam hati.

“Man,” suara Atah Roy berat. “Aku sedih kalau teringat orang-orang dulu. Mereke ikhlas berkesenian. Dan perjuangan mereke untuk kesenian luar biase. Mereke rela berkorban ape saje, termasuk harus tidak memiliki ape-ape. Aku teringat Almarhum B.M. Syamsuddin penulis handal itu, sampai akhir ayatnye, die masih mengontrak rumah. Begitu juge Almarhum Idrus Tintin, die sanggup menjual cincin istrinya untuk mementaskan karya seni. Pengorbanan mereke memang payah nak diikut zaman ini,” kate Atah Roy dengan suara beratnya menahan kesedihan.

“Dari kawan-kawan, saye dapat cerite macam ini juge, Tah. Tapi mungkin zaman dulu dengan zaman kenen ni jauh berbede, Tah,” kate Leman Lengkung mau menghibur Atah Roy.

Atah Roy menatap Leman Lengkung dalam-dalam. Wajah Atah Roy berubah memerah.

“Ape, kau pikir orang dulu tak butuh makan? Orang dulu tak butuh anak die sekolah? Kalau dikau tak mengalaminye jangan dikau nak mengajo aku! Aku ni dah lame kenal dengan seniman-seniman dulu tu. Kemane mereke pergi, yang mereke pikul karya mereke. Mereke berkelahi dalam karya; siape berkarya banyak, siape yang tidak!” suara Atah Roy meninggi, kemudian dia berdiri sambil bercekak pingang.

Leman Lengkung terdiam sambil menundukkan mukanya.

“Perlu dikau ingat, Man, karya seni itu bukan asal buat aje! Buat karya seni itu pakai otak, memeras segale kekuatan yang ade pade diri. Tak mudah nak menciptakan karya seni tu de!” suara Atah Roy semakin meninggi.

Leman Lengkung semakin menyurukkan wajahnye dengan memandang lantai lekat-lekat.

“Maaf Tah, saye cu....”

“Tak usah dikau bercakap lagi!” potong Atah Roy. “Dikau tahu tak, ape yang mereke buat dimase lalu, dan apekah mereka dikenang pade hari ini? Buku mereke yang pernah dicetak dulu, hari ini tak pernah dicetak ulang! Macam mane budak-budak sekolah di Riau tahu dengan mereke? Buat muatan lokal, tapi entah ape-ape yang diajo! Bolehkah patut? Tak patut kan?”Kalau betul-betul nak meletakkan Riau sebagai pusat kebudayaan, tiru Kerajaan Riau Lingga dulu, sangat memberi tempat kepade pekerje seni, ini tidak! Bercakap je pandai, budak kecik pun bisa bercakap!" Atah Roy semakin marah.

Leman Lengkung terdiam, dan tak bergerak sedikit pun.

“Dahlah, malas aku bercakap dengan dikau ni!” kate Atah Roy sambil pergi meninggalkan Leman seorang diri.

“Awak pulak yang kene marah. Naseb jadi orang kecik ni,” kate Leman Lengkung, air mata mengalir dari mata Leman Lengkung.

Jumat, 29 April 2011

Tanah Air Dan Karya Sastra

Atah Roy sedang serius membaca novel berjudul Dikalahkan Sang Sapurba karya almarhum Ediruslan Pe Amanriza. Sesekali Atah Roy menganggukkan atau menggelengkan kepalanya, menandakan ada sesuatu yang mengena di hatinya. Sangkin seriusnya Atah Roy membaca novel tersebut, Atah Roy tak sadar Leman Lengkung, anak saudaranye, sudah duduk tercangguk di sebelahnya. Leman Lengkung serba salah; mau menyapa, Atah Roy sedang serius betul. Terpaksalah Leman Lengkung berdiam diri, dan memandang atahnya dengan seribu kebisuan.

Atah Roy menarik nafas panjang, dan disaat itulah Atah Roy terpandang Leman Lengkung yang sedang melihat dirinya. Atah Roy sedikit terkejut, lalu menyapa Leman Lengkung.

“Ngape dikau macam hantu kelembai, tibe-tibe tercongguk sebelah aku ni?” Atah Roy bertanya.

“Tah, saye bingung nenguk Atah ni, kalau dah membace karya sastra, Atah macam tak dapat diajak berunding lagi,” kate Leman Lengkung sedikit ketakutan.

“Man, dikau harus tahu bahwe membace karya sastra tu perlu serius, kalau tidak kite tak dapat menangkap pesan yang ade dalam cerite ini,” kate Atah Roy sambil mengangkat buku yang sedang dibaca.

“Ape faedah membace karya sastra tu, Tah. Karya sastra cume rekaan pengarang aje, dan cume berfungsi sebagai hiburan bagi pembacenye, tak ade sumbangan untuk tanah air kite ni,” Leman Lengkung mulai berani bicara.

“Leman Lengkung yang terhormat, dikau dengar cakap aku ini baik-baik, ye. Memang karya sastra itu merupekan rekayasa pengarangnye, tapi rekayasa pengarang karya sastra itu datang dari keadaan negeri ini. Pengarang karya sastra semacam memotrer seuatu peristiwa yang terjadi di negeri, yang kadang peristiwa itu dilupekan orang. Dalam mengisahkan kembali peristiwa itulah, pengarang memasukan imajinasinya agar karya itu terasa indah. Kenapa harus indah? Karena manusia itu suke yang indah, dengan demikian, karya sastra tidak mengurui dalam meninali baik dan buruk. Karya sastra seperti senter ketike kite berade dalam gelap; die berfungsi sebagai penyuluh untuk melangkah,” Atah Roy bercakap panjang lebar.

“Ape faedah untuk tanah air kite ni, Tah?” tanye Leman Lengkung masih tak paham.

“Inilah yang aku takutkan, Man,” Atah Roy menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Takut ngape pulak, Tah?” Leman tambah tak paham.

“Sastrawan itu berkarya berakar dari tanah air yang die pijak.”

“Maksudnye, Tah?” tanye Leman lagi.

“Maksudnye Man, semue yang ade dalam karya sastra yang ditulis oleh sastrawan merupekan kecintaan mereke terhadap tanah ini. Contohnye, kesewenang-wenangan yang dihadapi oleh rakyat kecil, seperti kehilangan tanah mereke disebabkan pengusuran oleh pemilik kekuasaan, padahal kite tahu bahwa rakyat kecil merupekan tanggung jawan pemerintah. Sastrawan mengingatkan bahwa masih banyak rakyat kecil di tanah ini mengalami nasib buruk hanya untuk kepentingan sang pemilik modal besar,” Atah Roy agak emosi.

“Jadi sastrawan itu pemberontak ye, Tah?”

“Memberontak untuk sesuatu kebenaran, bukanlah salah!” Atah Roy berdiri. “Kalau aku lame-lame dekat dikau ni, semakin emosi aku, tangan aku juge yang melayang,” Artah Roy pergi meninggalkan Leman Lengkung sendiri.

“Emosi terus Atah ni. Awak bertanye, awak pulak nak ditempeleng. Nasib jadi orang tak tahu ni,” kata Leman Lengkung sambil termenung.

Teater dan Teknologi; Merekonstruksi Tubuh Teater Riau Yang Renta

Berbicara sejarah teater, maka sama saja kita bicara tentang sejarah manusia. Manusia pertama yang diciptakan oleh Sang Maha Sutradara, sekaligus Sang Maha Penulis, telah ‘memerankan’ perannya sebagai manusia yang berhadapan dengan konflik-konflik diri. Adam tidak kuat ‘bermonolog’ sehingga Sang Maha Sutradara, sekaligus Sang Maha Penulis menambah tokoh lain, yaitu Hawa. Kehadiran Hawa, menandakan konflik mulai dibangun, dan klimaksnya, tokoh antagonis bernama Iblis, dapat membujuk Adam dan Hawa terjerumus dalam permasalahan yang lebih rumit, sehingga dilemparkan ke dunia ini. Di dunia ini, cerita yang diperanan Adam dan Hawa, terus berlanjut sampai akhir ayatnya. Babak berikutnya, cerita diperankan oleh anak, cucu, cicit dan entah apalagi sebutannya, dari keturunan Adam dan Hawa.

Melalui inbox facebook, Atah Roy teman saya di Teluk Belitung, Kecamatam Merbau, Kabupaten Meranti, mengirim pesan kepada saya, tentang kekhawatirannya terhadap perkembangan teater di Riau. Atah Roy menulis; Aku tak habis pikir, pertunjukan teater di Riau terasa minim. Bukan itu saja, keberadaan teater Riau seperti berjarak dengan masyarakat. Teater Riau mengeksklusifkan diri. Pementasan Teater di Riau hanya ditonton oleh segelintir orang, itu pun dari kalangan masyarakat teater, bahkan orang yang katanya hidup di dunia teater, tak pernah mau menyaksikan pementasan teater. Ironis ya?

Pada alinea berikutnya, Atah Roy menuliskan solusi yang harus dilakukan oleh pekerja teater di Riau. Kata Atah Roy dalam tulisannya; Di tengah perkembangan zaman yang serba berbau teknologi ini, apakah pekerja teater berdiam diri dan menjaga jarak dari teknologi? Seharusnya perkembangan teknologi menjadi patner pekerja teater menuangkan gagasan mereka. Saya pernah melihat dua gadis belia memanfaatkan teknologi internet dengan memanfaatkan jejaring sosial youtube. Pada awalnya dua gadis belia itu iseng menyanyikan lagu Keong Racun, namun kemudian lagu tersebut dibicarakan seluruh negeri ini. Tak plak lagi, kedua gadis tersebut tiba-tiba menjadi buah bibir manusia yang mendiami negeri kita tercinta ini.

Latah? Tanya Atah Roy dalam tulisannya, kemudian Atah Roy menjawab pertanyaannya yang dilontarkannya sendiri. Aku kira tidak latah apabila pekerja teater Riau memanfaarkan teknologi seperti internet tersebut. Yang latah, tulis Atah Roy, apabila pekerja teater Riau hanya mengulang-ulang cerita masa lalu pada hari ini. Aku ambil contoh, jelas Atah Roy, cerita Hikayat Hang Tuah atau cerita lainnya yang berangkat dari masa lalu, tanpa ada sentuhan hari ini, itu baru dinamakan latah. Manusia pada hari ini berhadapan dengan masalah teknologi yang serba canggih, masak pekerja teater harus mengelap cerita masa lalu menjadi hidangan pada hari ini. Cerita masa lalu biar menjadi ladang untuk kita tanamkan sentuhan kreativitas hari ini, Bung. Hikayat Hang Tuah biar saja hidup dengan hikayatnya, kita harus bongkar esensi ceritanya dan kita tukangi dengan pahat bermata masa kini. Hang Tuah dan Hang Jebat hari ini sudah menggunakan internet membongkar kebobrokan suatu negara, tidak guna lagi keris yang diselipkan di pinggang. Keris yang diselipkan di pinggang akan berkarat dan bisa menikam diri sendiri.

Tidak puas dengan pernyataan di atas dalam tulisannya, Atah Roy melanjutkan tulisannya. Aku tidak puas dengan kehidupan teater di Riau. Apakah yang dicari oleh pekerja teater Riau? Sebagai perbandingan, tulis Atah Roy, aku menonton film Mr. Smit and Mrs. Smit yang dimainkan oleh atris seksi Anggelina Jolie dan aktor serba bisa Break Pett. Ceritanya berkisah tentang kesetiaan dan kedurhakaan seorang perempuan terhadap kekasihnya dan kesetiaan dan kedurhakaan lelaki terhadap kekasihnya. Adalah Mr. dan Mrs. Smit sepasang suami istri yang bekerja sebagai pembunuh bayaran. Di tengah kepopuleran keduanya, mereka dijebak dalam suatu misi yang harus saling menghabisi nyawa satu dengan yang lainnya. Pada satu sisi, mereka harus bertanggung jawab dengan pekerjaan, di satu sisi mereka teringat nilai cinta yang mendalam. Dan pada akhirnya, rasa cinta mengalahkan ego mereka tentang diri mereka yang menganggap lebih perkasa satu dengan yang lainnya. Cerita Mr. Smit and Mrs. Smit digarap menggunakan teknologi canggih. Selain itu, ceritanya juga relefan dengan keadaan hari ini.

Apa yang dicari pekerja teater di Riau, Bro? Atah Roy kembali bertanya dalam tulisannya yang ia kirim ke inbox facebook saya. Pekerja teater tidak akan musnah selagi manusia masih mendiami bumi ini, jelas Atah Roy. Pekerja teater Riau, tulis Atah Roy, harus memanfaatkan teknologi seperti yang dilakukan kedua gadis pembawa lagu Keong Racun, dan pekerja teater Riau harus juga menuangkan gagasannya ke dalam film. Buat film seperti Mr. And Mrs. Smit, Bung! Kami di kampung tak dapat menenguk pementasan teater yang hanya dipentaskan di Anjung Idrus Tintin yang megah itu. Selain itu, orang lebih suka menonton sinetron Cinta Fitri ketimbang menonton pementasan Nyanyian Angsa. Cobalah bung dan kawan-kawan melakukan penelitian, mana yang banyak menonton teater dibandingkan menonton film atau sinetron di rumah? Novel Laskar Pelangi, tidak akan dibaca orang kalau film Laskar Pelangi tidak ada.

Pada hari ini, tulis Atah Roy lagi, orang dapat menyaksikan pergelaran teater yang nyata di negeri ini. Segala peristiwa kehidupan negeri ini, semuanya seperti pementasan teater. Penonton pada hari ini, ingin melihat diri mereka bermain di atas bulan atau matahari dengan cerita super baru. Sekali lagi, manfaatkan teknologi, cari cerita baru, garap spetakuler dengan teknologi agar cerita yang dipentaskan dengan menggunakan media teater terasa menyegarkan, bukan malah sebaliknya, sehabis menonton teater wajah berkerut, tidak tahu apa yang dapat diambil dari pementasan itu. Dunia tidak statis, dunia dinamis, teater adalah bagian dari dunia yang terus bergerak mengikuti zaman. Masihkan kita menjulang Hang Tuah dan Hang Jebat dengan tanjak dan keris Tamingsarinya? Sementara perampokan bank, orang-orang telah menggunakan basoka, seperti Rambo. Selamat berpikir, Bung. Atah Roy menutup tulisannya yang dikirimkan lewat inbox di facebook saya.

Selesai saya membaca tulisan Atah Roy, alih-alih seorang anak muda menghampiri saya dan menyerahkan sebuah tiket pementasan teater berjudul; Adam dan Hawa Batal Ke Bumi.

Atah Roy Ke Negeri Kayangan

Atah Roy tahu, sebagai seorang tokoh masyarakat di negeri ini, dia harus memiliki sifat rendah diri dan menghargai setiap undangan dari siapa pun juga. Tak peduli itu dari pengusaha, dari orang menengah, maupun dari orang bawah. Tak itu saja, Atah Roy juga menghargai undangan dari negeri mana pun, termasuk Negeri Kayangan.

Dua hari yang lalu, Atah Roy mendapat undangan dari Negeri Kayangan. Isi suratnya seperti ini. “Atah Roy yang terhormat. Tanpa mengurangi rasa hormat kami, melalui surat ini, kami Pimpinan Negeri Kayangan mengundang Atah untuk berkunjung ke negeri kami. Kami berharap kepada Atah Roy, tidak menggunakan duit APBN atau pun APBD. Menurut hemat kami, duit APBN atau pun duit APBD, lebih baik digunakan untuk rakyat Atah Roy yang banyak papa kedana itu. Kami mohon maaf, bukan kami mau mengajari Atah Roy, tapi kami cuma mengingatkan Atah Roy. Mudah-mudahan Atah dapat mencari dana lain, sehingga Atah Roy tidak disumpah oleh rakyat Atah Roy. Itu lebih berkah lagi. Bukan begitu, Arah? Sekian surat kami ini, dan kami menunggu kedatangan Atah Roy tanpa menggunakan dana APBN atau pun APBD. Terime kasih.”

Setelah Atah Roy membaca surat itu, Atah Roy memanggil Leman Lengkung, anak saudaranya. “Man, aku dapat undangan dari Negeri Kayangan, tapi aku tak boleh menggunekan duit APBN atau pun APBD. Dikau punye ide?” tanye Atah Roy kepada Leman Lengkung.

“Tah, menurut saye undangan ini penting bagi Atah. Atah dapat menenguk kemajuan Negeri Kayangan dan kemudian Atah dapat menerapkan di negeri ini,” kate Leman Lengkung.

“Aku tahu kalau hal itu, tapi yang aku tanye kan kepade dikau, macam mane nak cari duit pergi ke Negeri Kayangan tu, bahlol,” Atah Roy mulai meradang.

“Atah kan banyak kebun getah, apelagi, juallah separuh kebun tu.” kate Leman Lengkung.

“Cakap memang mudah. Kalau aku dah jual separuh kebun aku, lepas tu aku nak makan ape?” tanye Arah Roy lagi.

“Makan nasilah, tak mungkin Atah makan angin,” Leman Lengkung menjawab dengan selambe.

“Kepale hotak engkau tu bejambol,” Atah Roy bertambah marah.

“Kalau Atah macam ni terus, eloknye atah tak usah pegi,” kate Leman Lengkung meninggalkan Atah Roy sendiri.

“Tenguk budak kenen, orang tue dilawannye,” Atah Roy menggeleng-ngelengkan kepalanya.

Tiba-tiba selembar surat berada di tangan Atah Roy. Arah Roy terkejut. Atah Roy menenguk surat itu, lalu menenguk ke kiri, ke kanan, ke atas dan ke bawah. Tak ada orang satu pun. Tiba-tiba surat itu berbicara.

“Atah Roy, saye ni surat berasal dari Negeri Kayangan. Jangan Atah terkejut, karena makhluk kayangan mengetahui kegelisahan Atah Roy. Kalau Atah Roy berkeinginan pergi ke Negeri Kayangan, Atah cukup membuka aku dan Atah pasti sampai ke Negeri Kayangan,” kata surat itu.

“Dikau jangan bengak ye, sekali aku bako, baru dikau tau!” Atah Roy mengancam.

“Atah, kami berasal dari negeri yang tidak terbiasa berbohong. Di negeri kami, makhluk yang berbohong akan disumpah jadi manusia,” suara surat itu serius.

“Baik, aku akan buka,” tangan Atah Roy membuka surat itu, tiba-tiba…

***

“Selamat datang di Negeri Kayangan, Atah Roy,” suara lelaki tampan yang duduk di singgasana kerajaan berukirkan intan dan permata membuyarkan pikiran Atah Roy.

“Siape engkau?” tanye Atah Roy.

“Aku raja Negeri Kayangan,” kata lelaki tampan itu.

“Aku tak yakin. Muke engkau ni same betul dengan anak saudare aku, Leman Lengkung. Dikau jangan nak main-main dengan aku, Man!” Atah Roy marah dan Atah Roy berdiri mau menampar lelaki tersebut. Baru satu langkah Atah Roy mengerakkan kakinya, lelaki tampan itu bertepuk sebanyak dua kali. Tiba-tiba saja segerombolan pasukan ular bermata empat, gajah berkaki delapan dan ulat bulu sebasar gajah menghadang Arah Roy.

“Atah di Negeri Kayangan, kemarahan tiada berguna. Disini semua makhluk bisa diajak berteman asalkan kita tidak sombong,” kata lelaki tampan mirip Leman Lengkung itu.

Atah Roy terdiam. Ketakutan mulai merayap seluruh tubuh Atah Roy.

“Atah Roy, aku tahu apa yang ade di benak Atah Roy sekarang ini. Atah Roy pasti menganggap aku Leman Lengkung, anak saudare Atah Roy, kan?” tanye lelaki tampan itu.

“Aku pasti sedang bermimpi,” kate Atah Roy sambil menampar pipinya. Atah Roy merasakan kesakitan.

“Atah tidak bermimpi. Atah memang berada di Negeri Kayangan. Atah harus tahu siape saja yang kami undang ke negeri kami, pastilah orang itu sampai ke negeri kami. Dan orang yang kami undang akan bertemu dengan orang yang paling dekat dengan dirinya dan selalu mendapat siksa. Seperti Leman Lengkung, dan aku berubah wajah jadi Leman Lengkung yang selalu Atah marahkan itu,” kata lelaki mirip Leman Lengkung.

“Mengape awak tak undang orang-orang yang selalu mengatasnamekan rakyat kecil dan lalu menganiaye rakyak kecil ke negeri ini?” tanye Atah Roy penasaran.

“Semue manusie yang membuat aniaye kepade manusie lain di bumi Atah Roy akan kami undang,” kata lelaki mirip Leman Lengkung.

“Ooo… gitu.”

“Ye, gitu.”

Tiba-tiba gelap. Atah Roy tak tahu nak buat ape lagi. Leman Lengkung menyape Atah Roy.

“Tah, dah subuh. Atah tak sembahyang,” kate Leman Lengkung.

Atah Roy terbangun lalu memeluk Leman Lengkung. “Maafkan atah selame ini ye, Man.”

Leman Lengkung bingung. “Ape kehe, Atah ni,” kate Leman Lengkung dalam hati.