Selamat Datang di Hikayat Atah Roy. Senyum Adalah Keikhlasan yang Tak Terucap

Sabtu, 24 Maret 2012

Jalan Sepi


Atah Roy tahu bahwa menjadi seorang penulis karya sastra atau pekerja seni tidak menjanjikan menjadi seseorang yang dihormati di negeri ini. Bukannya penulis karya sastra atau seniman gila hormat, tetapi paling tidak kerja mereka dihargai. Selama ini, pekerja seni hanya mendapat tempat apabila pekerja seni mampu menjulurkan lidahnya,dan kemudian menjilat kesempatan yang ada. Padahal jauh-jauh sebelum masa kini, kerja para seniman menjadi santapan roh, sehingga apa yang dikerjakan seniman mendapat tempat yang layak.   
Pilihan menjadi seorang penulis atau seniman merupakan gerak hati, dan seandainya sudah memilih menjadi penulis atau seniman, maka harus mampu menahan diri untuk tidak tergoda dengan segala kemewahan. Di negeri ini, penulis karya sastra atau pun seniman belum mendapat tempat. Orang lebih memandang pada berapa kekayaan yang dimiliki, atau apa jabatan orang tersebut. Jadilah negeri ini, negeri para penjilat. Penjilat selalu mendapat tempat, padahal para penjilat memiliki kepentingan sesaat.
Untuk meyakinkan diri, Atah Roy membaca berulang kali tulisan mengenai penyair sekaligus teaterawan besar Indonesia, WS Rendra. Dalam tulisan itu Atah Roy membaca keyakinan yang luar biasa dari seorang WS Rendra dalam menghidupkan kelompok seninya, khususnya seni teater. Dalam menghidupkan kelompok teaternya yang diberinama Bengkel Teater Rendra (BTR), Rendra pun membuat ikrar bersama, ikrar inilah yang mengikat anggota kelompok teaternya tidak tergoda oleh nafsu keduniawi.
Ada lima butir ikrar BTR yang menjadi senjata mereka. Pertama, aku milik Tuhan dan hanya mengabdi kepada Tuhan. Kedua, aku tidak akan memiliki yang lebih. Segala yang berlebih akan kami kembalikan kepada Tuhan melalui alam dan kebudayaan. Ketiga, aku setia kepada hati nurani. Keempat, aku setia kepada jalannya alam. Kelima, aku hidup dengan menjunjung nilai-nilai kebudayaan.
Berpegang pada pendirian ini BTR terus bergerak sampai kelompok teater ini tidak pernah takut mengkritik pemerintah yang menyia-nyiakan rakyat. Beberapa kali pula WS Rendra harus berhadapan dengan pihak keamanan, bahkan dipenjara disebabkan sikap kritisnya mengkritis kerja pemerintah. Atah Roy menyimpulkan bahwa WS Rendra dengan seninya menjadi corong suara rakyat. WS Rendra selalu menjadi inspirasi Atah Roy untuk berbuat lebih kepada kesenian, namun Atah Roy belum mampu, karena Atah Roy tidak memiliki kekuatan seperti WS Rendra.
Tidak heranlah apabila di tanah Melayu ini, kesenian beraktivitas apabila ada kegiatan pemerintah. Hidup seni seperti menumpang di tanah milik orang lain. Tidak ada kelompok seni yang mandiri dan mampu mengadakan kegiatan atau pementasan di luar kegiatan yang sudah diagendakan pemerintah.
Pemikiran ingin memiliki kelompok seni yang mampu berdiri kokoh di tanah ini, selalu bermain di benak Atah Roy, namun sampai sekarang Atah Roy Cuma bermimpi di siang hari. Pemikiran ini juga disampaikan Atah Roy kepada kawan lamanya, Mastur, ketika mereka nerjumpa di kedai makan milik Mastur. Mendengar keluh kesah Atah Roy, Mastur hanya senyum-senyum saja. Atah Roy pun tersinggung dengan sikap Mastur.
“Kenape dikau tersenyum-senyum macam mengejek aku aje, Tur? Salahkah yang aku sampaikan?” Atah Roy geram.
“Salah tu tidak, Tah, tapi lucu saje mendengarnye,” Mastur santai sambil menghirup kopinya.
“Dimane letak lucunye?” Atah Roy semakin geram.
“Masih juge Atah bicara kesenian pada zaman ini?” Mastur balik bertanya.
“Kenape dikau bertanye macam itu?” Atah Roy tak puas.
“Atah tidak merasa kalah di negeri sendiri?” Mastur bertanya lagi.
“Maksud dikau?”
“Tah, semue orang yang datang ke tanah ini memiliki kekuasaan, sehingga mereka memiliki kekuatan. Atah bisa saksikan, banyak oarang yang baru datang di tanah ini menjadi pemimpin, sementara Atah terus mengeluh,” Mastur menjelaskan kepada Atah Roy. Atah Roy belum terima.
“Salahkah kalau aku hanya berpegang teguh pada kesenian?” Atah Roy kembali bertanya.
“Salah tu tidak, Tah, tapi dunia kesenian ini yang atah pilih adalah jalan sepi. Seharusnya Atah menempuh jalan ramai, sehingga Atah banyak dikenali orang,” kata Mastur yakin.
“Aku tak butuh dikenal orang banyak,” kata Atah Roy singkat.
“Kalau Atah tak mau dikenali orang, Atah tak usah mengeluh. Bukankah jalan sepi memang harus hidup dengan kesunyian? Dan kesunyian akan membawa pada ruang kekalahan,” kembali Mastur berucap.
“Aku tak paham betul maksud dikau, Tur?” Atah Roy semakin geram.
“Atah, kalau nak berkesenian jangan tanggung. Masuk kesenian secara menyeluruh, sehingga kesenian itu memiliki kekuatan, sehingga ada tawar menawar untuk kehidupn berkesenian,” Mastur mulai geram juga.
“Malas aku nak bercakap dengan dikau ni, Tur, semuenya tak jelas,” Atah Roy lagsung meninggalkan Mastur.
“Kalau Atah Roy tetap bertahan di jalan sepi, Atah jangan marah, kalau nantinya orang lain merajalela tanah ini!” teriak Mastur.
Atah Roy tetap berjalan, tanpa mempedulikan apa yang dikatakan Mastur. Namun di dalam hati Atah Roy berbisik.
“Betul juge ye apa yang dikatekan Mastur, kalau aku jadi gubernur atau bupati, tak susah-susah orang berkesnian,” bisik Atah Roy dalam hati.      

   

Minggu, 11 Maret 2012

Kata Lebai


Atah Roy tak habis pikir, kenapa perkembangan zaman menyebabkan orang-orang memandang masa lalu menjadi sesuatu penghalang. Padahal masa kenen alias masa kini hadir disebabkan masa lalu. Itu sudah pasti. Atah Roy risau, orang kenen kehilangan kesejetian sebagai anak negeri. Mereka, orang kenen menurut Atah Roy, kehilangan identitas disebabkan terlalu percaya kepada pandangan keterbukaan. Tersebab terlalu terbuka, segala yang berasal dari luar masuk. Celakanya, orang kenen di negeri ini belum menyiapkan pondasi kebudayaan yang kuat, mereka langsung membangun kebudayaan baru dengan mengunakan bahan-bahan kebudayaan asing. Tak dapat dipungkiri lagi, jadilah generasi kenen sebagai pendurhaka, tak peduli dengan cakap orang tua lagi. Orang tua juga salah, asik berteking untuk menegak benang basah, tersebab ada kepentingan lain.  
Atah Roy palak alias sakit hati melihat generasi kenen seperti orang buta melanggar nilai-nilai orang yang mendiami negeri ini. Lebih palak lagi, orang tua hanya diam, bahkan ikut-ikutan ambil bagian membelasah nilai itu. Mereka menjadi pengikut tulen, tanpa dapat membedakan mana yang menyinggung keturunannya, dan mana yang harus dikembangkan. Sepele memang, menurut Atah Roy, tapi dapat membunuh dan sekaligus mempermalukan sepanjang masa diri sendiri.
Contoh yang paling sederhana, tetapi memunculkan citra orang menjadi buruk. Kata LEBAI, Atah Roy mencontohkan, bergeser makna menjadi sesuatu yang negatif. Padahal, menurut Atah Roy, kata Lebai identik dengan agama Islam. Orang yang dipanggil Lebai adalah orang alim, mengetahui ajaran agama Islam secara mendalam. Kata Lebai juga bermakna penjaga mesjid atau orang yang mengurus suatu  pekerjaan yang bertalian dengan agama Islam. Hari ini, kata Lebai itu dipermainkan dan menjadi alat mengejek atau menceme’eh orang-orang yang berlebih-lebihan.
Secara tidak langsung, menurut Atah Roy, kata Lebai pada hari ini, memperolok-olok orang alim. Tentu saja, kalau sudah mengolok-olok orang alim, berarti mengolok-olok agama Islam. Atah Roy tidak mau menerima kenyataan ini. Orang kenen, paling tidak orang di kampungnya, harus diselamatkan dari penyelewengan makna kata. Kata Lebai harus kembali kepada maknanya yang sebenarnya.
Atah Roy memutar otak mencari cara mengembalikan makna kata Lebai itu. Terlintas di benak Atah Roy hendak melaksanakan seminar membahas kata Lebai ini, namu dibantah oleh Atah Roy sendiri. Seminar hanya menghabiskan duit. Lagi pula kalau diadakan seminar, hanya diikuti oleh beberapa orang saja. Untung-untung kalau yang mengikut seminar itu membagikan hasil seminar itu pada orang lain. Biasanya kebanyakan yang mengikut seminar hanya mencari sertifikat untuk kenaikan pangkat. Kalau banyak sertifikat, maka banyak pulalah duitnya. Atah Roy tak mau hal seperti itu terjadi, kebenaran ilmiah tidak bisa diperjual belikan. Hehehe… macam ye betul.
Sempat juga Atah Roy terpikir, mengembalikan makna kata Lebai ini dengan mengadakan pementasan drama, namun dibantah Atah Roy kembali. Pementasan drama biayanya besar, sementara orang-orang tidak mau membantu pementasan drama lagi. Orang drama tak pandai mengangkat lanpa alias cari muka pada pejabat negeri ini. Selain itu, orang sudah tak mau menonton drama disebabkan pementasan drama akhir-akhir ini tidak berkualitas. Orang lebih senang menonton tv, yang memperlihatkan cerita dengan memamerkan perempuan cantik, lelaki ganteng, padahal ceritanya sedikit pun tak mendidik.
Pening juga Atah Roy hendak mengembalikan makna kata Lebai ini. Lama Atah Roy berpikir, dan akhirnya niat tulus berbuah solusi yang baik pula. Atah Roy pun bergegas masuk ke kamarnya. Atah Roy membongkar lemari baju, dan mengambil jubah berwarna putih. Tak lupa, Atah Roy juga mengambil sorbannya. Beberapa saat kemudian, Atah Roy sudah seperti orang Arab; pakai jubah dan di kepalanya sorban putih terpasang dengan rapi. “Aku akan cube mengembalikan makna kata Lebai dengan care aku sendiri,” ucap Atah Roy mantap.
Dengan menggunakan jubah berwarna putih dan sorban di atas kepalanya, Atah Roy berjalan keliling kampung. Sikap Atah Roy tenang, memandang penuh dengan makna. Pas di depan kedai Aziz Teling, Atah Roy berjumpe Kadan Botak. Kadang Botak agak heran melihat penampilan Atah Roy.
“Nak kemane, Lebai?” sapa Kadan Botak.
Atah Roy cepat-cepat menghampiri Kadan Botak dan langsung bertanya.
“Ape maksud dikau memanggil aku lebai?”
“Lebai itu kan orang alim, Tah.”
“Bagus, dikau belum tercemar nampaknye,” Atah Roy senang.
“Maksud Atah?” Kadan Botak penasaran.
“Pokoknye, dikau masih bersih. Assalammualaikum,” Atah Roy langsung pergi meninggalkan Kadan Botak. Kadang Botak hanye bisa termenung menenguk Atah Roy pergi begitu saja.
Atah Roy terus berjalan dengan sikap tenangnya. Tidak jauh di depan kantor penghulu, Atah Roy berjumpa Kasim Jalak. Atah Roy tak menyapa Kasim Jalak, karena Atah Roy berharap Kasim terlebih dahulu menyapa. Rupanya harapan Atah Roy menjadi kenyataan.
“Assallammualaikum, Lebai. Dari mane?”
Atah Roy cepat-cepat melangkah mendekati Kasim Jalak. Kasim Jalak agak tergegau alias terkejut juga meneguk Atah Roy bergegas mendekatinya.
“Lebai dari mane?” tanye Kasim Jalak lembut.
“Ape maksud dikau memanggil aku lebai?”
“Kalau dah penampilan macam ini kan, Atah ni dah termasuk pemuka agama,” Kasim Jalak agak takut.
“Dikau masih bersih,” kata Atah roy langsung pergi meninggalkan Kasim Jalak. Kasim Jalak heran, tak tahu apa maksud Atah Roy. Sambil menggaru kepalanya yang tidak gatal, Kasim Jalak pun pergi.
Atah Roy agak senang. Rupanya orang di kampung masih mempertahankan makna kata Lebai itu. Atah Roy pun tersenyum, namun beberapa saat kemudian senyumnya berubah, ketika Leman Lengkung menghampirinya.
“Atah ni ngape lebai betul?” tanye Leman Lengkung.
“Maksud dikau memanggil aku lebai, ape?” Atah Roy agak geram.
“Tah, sebagai anak saudare, aku malu nenguk Atah berpakaian berlebih-lebihan macam ini, tak elok ditenguk orang” Leman Lengkung kesal.
“Budak tak tahu diuntung betul dikau ni, Man! Rupenye anak saudare aku sendiri yang dah tercemar oleh gerakan yang hendak menjatuhkan marwah Islam! Aku juge yang salah!” Atah Roy pergi sambil melepaskan sorbannye. Air mata Atah Roy menggalir ke pipi.
“Maksud, Atah?” Leman Lengkung bertanye, namun Atah Roy tidak peduli. Atah Roy terus pergi.
“Gajah di seberang lautan tampak, tungau di kelopak mata terabaikan,” ucap Atah Roy sedih.           

Sabtu, 03 Maret 2012

Dari Albert Enstein Sampai Kambing Jantan

Keteguhan berpegang kepada kebenaran untuk kepentingan orang ramai, memang berat. Atah Roy merasakan hal itu. Untuk menegakkan tiang kebenaran inilah, Atah Roy menyembunyikan kepentingan pribadi ke lubuk hati yang paling dalam. Atah Roy harus merelakan melapangkan hati untuk menampung segala hasratnya, agar kebenaran untuk kepentingan orang ramai berdiri tegak nantinya, walaupun pahit bagi Atah Roy. Bagimana tidak pahit, Atah Roy harus merelakan keinginan pribadinya disingkirkan.
Kerelaan Atah Roy mengedepankan kepentingan orang ramai dan tetap menjunjung kebenaran, mendapat ceme’ehan dari orang-orang terdekatnya. Tidak ketinggalan Leman Lengkung, anak saudara Atah Roy, menganggap bapak saudara terlalu lugu dan polos. Padahal, kata Leman Lengkung, di zaman kenen (sekarang), orang yang terlalu mengedepankan nilai idealis akan terpinggirkan. Untuk itulah orang-orang terdekat Atah Roy berharap kepada Leman Lengkung meneshati Atah Roy. Orang-orang terdekat Atah Roy takut nantinya, Atah Roy dimusuhi oleh banyak orang gara-gara berpegang teguh kepada kebenarannya.
Leman Lengkung menyanggupi apa yang disarankan orang-orang agar mengingatkan Atah Roy. Berat, tapi Leman Lengkung harus mengatakannya, karena ini menyangkut masalah keluarga dan diri Atah Roy sendiri. Kalau dibiarkan berlarut-larut, Atah Roy dan keluarganya, termasuk Leman Lengkung, akan benar-benar terkucil dari kampung. Bukankah sudah banyak contoh bagaimana kebenaran menjadi kesalahan disaat kebenran itu berlawanan dengan orang banyak, walaupun kebenaran itu untuk kepentingan orang banyak.
“Tidak! Aku tetap pade pendirian aku! Tak ade yang dapat menawar-nawar lagi, walaupun akhirnye aku tidak dipedulikan oleh orang kampung!” ujar Atah Roy ketika Leman Lengkung menyampaikan harapan orang-orang terdekat Atah Roy.
“Atah, untuk ape kite mempertahankan kebenaran kalau orang lain tidak menghendakinye? Bukankah kebenaran untuk orang banyak, bukan untuk diri sendiri?” Leman Lengkung terus membujuk Atah Roy.
“Leman, dikau tahu Albert Enstein?”
“Tahulah Tah, bukankah die yang menyempurnakan teori gravitasi bumi, kan?”
“Albert Enstein itu rela mengorbankan dirinya untuk sebuah kepentingan dan kebenaran untuk orang banyak di muka bumi ini. Padahal die ditawarkan duit yang tidak sedikit, untuk bekerja di sebuah perguruan tinggi, asalkan die mau bekerja untuk kepentingan orang Jerman saja. Pade masa itu kan Jerman sedang berperang dengan bangsa lainnye, dan Jerman yang dikomandoi oleh Hitler hendak membuat senjata pemusnah masal, dan ilmuan Jerman mengajak Enstein bergabung. Enstein menolak. Die yakin ilmu pengetahuan dan kebenaran itu tidak dapat dibeli dengan apepun juge. Kebenaran dan ilmu pengetahuan untuk kepentingan orang banyak, baik hari ini maupun untuk masa yang akan datang. Selain itu, Enstein kawan aku tu, sanggup hidup berita tak ade duit. Die ditinggalkan istrinye, diputus oleh pacarnye, sampai-sampai die hidup macam orang gile. Tapi die tetap tegar menghadapinye. Enstein tahu, kebenaran itu memang pahit, tapi apebile mampu mempertahankannye, akan berbuah kebahagiaan yang luar biasa. Membuat orang lain tersenyum lebih baik dibandingkan kite hidup sejahtera, dan Albert Estein sudah membuktikannye,” Atah Roy panjang lebar menjelaskan tentang kebenaran yang dipegang teguh oleh Albert Enstein kepada Leman Lengkung.
“Zamannye berbede, Tah. Pak Cik Enstein hidup di zaman orang-orang belum memandang kekayaan segala-galanya. Pada zaman kenen, orang yang tidak memiliki kekayaan akan tersingkirkan, walaupun die pandai,” Leman Lengkung beralasan.
“Siape cakap di zaman Enstein hidup, kekayaan bukanlah menjadi hal yang terpenting? Same saje zaman Enstein hidup dengan zaman kenen ni, tapi dulu Enstein dan beberape orang memiliki sikap dan berpendirian teguh, makanye kebenaran tetaplah kebenaran, tidak dapat digantikan!” Atah Roy mulai geram dengan Leman Lengkung.
Leman Lengkung mulai takut, namun dia memberanikan diri untuk tetap bertahan membujuk Atah Roy. Di pundaknya ada harapan orang-orang terdekat Atah Roy, dan Leman Lengkung tidak mau orang-orang itu kecewa disebabkan dirinye menyerah karena hanya dibentak oleh Atah Roy. Harapan orang-orang terdekatAtah Roy merupakan kebenaran bagi Leman Lengkung. Untuk itulah Leman Lengkung tetap bertahan.
“Tapi Tah, kan tidak salah kalau Atah mengalah siket, agar orang-orang senang,” suara Leman Lengkung sedikit menggigil, rupanya rasa takut Leman Lengkung menusuk sampai ke jantungnya.
“Tidak! Aku tetap bertahan. Biolah orang-orang terdekat aku menganggap aku keras kepale hari ini, tapi pada hari yang akan datang, mereke pasti menerime keyakinan aku sebagai kebenaran yang memang harus dipertahankan,” Atah Roy semakin yakin.
“Sebenarnye ape yang menyebabkan Atah harus tetap bertahan?” Leman Lengkung penasaran dengan sikap Atah Roy yang tidak mau melunak sedikit pun.
“Dikau tahukan, Man, kambing jantan kite tu adelah satu-satu kambing yang bisa berkokuk macam ayam, kalau aku jual kambing tu, make tak ade lagi kebangaan kampung ini. Kalaulah kambing itu punye keturunan dan dapat berkokuk macam die, baru aku jual. Kalau tidak, jangan diharap Man, walaupun aku dibayo 4 miliar, tetap tak aku jual,” Atah Roy tegas.
“Tapi Tah, kalau kambing itu dijual, name kampung kite juge terangkat,” Leman Lengkung membujuk Atah Roy.
“Untuk setahun, mungkin name kampung kite masih disebut, tapi lewat dari itu, tak akan ade orang mengingat asal kambing yang bisa berkokuk itu! Dikau harus ingat itu, Man! Jangan dikau pujuk aku lagi. Biolah aku macam Albert Enstein bertahan dengan kebenaran aku demi kepentingan kampung kite di mase akan datang!”
“Tapi…”
“Tak ade tapi-tapi lagi! Kalau dikau masih membujuk aku, aku lempang dikau!” Suara Atah Roy semakin meninggi. Lemang Lengkung terdiam, tak dapat bertahan. Leman Lengkung pun pergi meninggalkan Atah Roy seorang diri dengan perasaan kecewa.
“Albert Enstein, aku mau seperti dirimu!” teriak Atah Roy mantap.    

         


  

Sabtu, 25 Februari 2012

Melayu Vs Tong Sampah

Bagi Atah Roy, memahami Melayu adalah memahami ketertindasan yang tak pernah usai. Begitu juga Menjadi Melayu di negeri kaya ini, menurut Atah Roy, memang serba sulit. Melayu dihadapkan dengan permasalahan kesejatian yang pada akhirnya hendak meletakan Melayu pada posisi teratas. Dalam proses meletakan Melayu di posisi ‘terhormat’ inilah, Melayu terantuk dengan permasalahan yang luncas dari keberadaan Melayu sebenarnya. Melayu hanya hebat di permukaan, di dalamnya orang Melayu terkapar tidak berdaya.
Atah Roy pun teringat bagaimana susahnya Jang Gagak, Yusuf Keling, Bahar Cengkung, Tapa Sulah, kalau ditulis semue, punuh koran ini agaknya dengan nama orang Melayu yang sedang dalam masalah. Atah Roy bukan hendak melawan arus dengan pemikiran orang Melayu yang berada di kota. Sebagai orang kampung, rasa ke-Melayu-an Atah Roy dan orang kampung lainnya, tak perlu diragukan. Setiap detik, darah yang mengalir ke seluruh tubuh menkristal menjadi Melayu.
Masalah simbol itu memang penting sebagai identitas, tapi masalah Melayu pada hari ini lebih dari masalah simbol. Atah Roy berpikir, untuk apa punya simbol yang ‘cantik’, kalau orang yang dibungkus oleh simbol itu bersepai. Atah Roy selalu bertanya, bukankah simbol diciptakan sebagai perwujudan keperkasaan untuk meletakkan orang yang ‘dinaungi’ simbol itu berwibawa? Tapi bagaimana orang Melayu mau berwibawa, sementara orang Melayu di kampung selalu berhadapan dengan masalah, dan masalah itu pasti berujung kekalahan orang Melayu.
Atah Roy tak mau berpanjang lebar dengan masalah yang sedang dihadapi oleh orang Melayu di kampung. Sudah banyak media masa mengabarkan tetang duka tersebut. Mulai dari tanah diserobot, sampai susahnya mencari kerja di perusahaan besar yang beroperasi di tanah Melayu ini. Atah Roy teringat kata Presiden Panyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri, “Memang Melayu tak akan pernah hilang di muka bumi ini, tapi orang Melayu mau jadi di dunia ini?”
Kembali lagi pikiran Atah Roy ke masalah simbol yang akhir-akhir ini ramai dibicarakan di Kota Pekanbaru. Memang, pikir Atah Roy, meletakan simbol bukan pada tempatnya kurang molek dilihat. Untuk kasus selembayung yang dihiasi di atas tong sampah, menurut Atah Roy, tak perlulah dihebohkan. Atah Roy yakin, yang merancang gagasan itu budak Melayu juga. Tidak mungkin budak Melayu menyamakan keperkasaan Melayu dengan tong sampah. Kalau dilihat bentuk tong sampahnya yang cantik itu dan bersusun rapi di jalan besar Kota Pekanbaru, ada keinginan perancang ingin menyosialisasikan selembayung di tengah masyarakat. Bukankah selama ini, keperkasaan Melayu hanya bermain pada laman eksklusif saja? Melayu hanya diperbincangkan di seminar dan dijadikan objek penelitian, sementara di khalayak ramai, terutama di Kota Pekanbaru, Melayu terkesup alias tak bermaya. Berbahasa Melayu saja di Kota Pekanbaru, orang Melayu tidak punya keberanian.
Maka, Atah Roy berharap, pandanglah peristiwa selembayung di atas tong sampah secara positif. Kalau mau dipermasalahkan juga, layak tidak layaknya sebuah simbol keperkasaan Melayu menghiasi tong sampah, apa beda selembayung yang dipasangkan di bumbung rumah  lokalisasi pelacuran? Bukankah hal ini lebih mencorengkan muka Melayu di mata orang lain? Atah Roy bukan hendak memperdebatkan masalah ini dan memihak kepada sesiapapun, karena perselisihan tidak menyelesaikan masalah Melayu. Masih banyak masalah orang Melayu belum terselesiakan di negeri ini.
Menurut Atah Roy, seandainya kita hendak juga mempermasalahkan marwah, keperkasaan atau pun identitas Melayu, mari bersama-sama menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi orang Melayu. Tanah kena serobot, hutan dibantai, cari pekerjaan susah, hidup dalam kemiskinan. Setelah semua masalah yang sedang dihadapi orang Melayu ini teratasi, maka kita pun dengan perkasa meletak simbol itu berada di puncak. Sejalan dengan itu, kita pun membenahi perguruan tinggi yang berlapang dada membuka jurusan budaya dan seni, walaupun tertatih-tatih.
Sedang seriusnya Atah Roy berpikir tentang identitas Melayu ini, Leman Lengkung datang dengan nafas teregah-engah. Di tangan kanan Leman Lengkung, koran yang sudah komuk dipegang erat-erat. Muka Leman Lengkung merah, dan tersimpan kegeraman yang memuncak. Menenguk anak saudaranya seperti itu, Atah Roy pun jadi heran, hilang semua yang dipikirkannya tadi.
“Ade masalah ape, Man? Macam kene kejo penyabit je nampak aku?”
“Ini masalah marwah Melayu, Tah. Kite tak boleh diam,” ujar Leman Lengkung pasti.
“Marwah Melayu macam mane maksud dikau ni?” Atah Roy belum mengerti.
“Pokonye kite harus berjuang, Tah. Dari kampung kite harus membangun Melayu untuk orang kota,” Leman Lengkung belum mengatakan masalah yang sedang dihadapi.
“Berjuang macam mane ni? Berita ape di koran yang dikau bace, sehingge dikau macam singe nak menerkam orang?”
“Bukan gara-gara bace koran ini, Tah,” Leman Lengkung menjawab.
“Habis, yang dikau pegang tu?”
“Megang koran ni gaya aje, Tah. Ade masalah yang tak tercatat di koran, Tah,” Leman Lengkung bersemangat.
“Masalah ape?” Atah Roy penasaran, tak mungkin masalah marwah Melayu tak diberitakan di koran yang terbit di Riau ni.
“Usu Malik Bengang ade di kampung kite ni, Tah.”
“Jadi masalahnye?”
“Bini die kan orang kampung sini juge, Tah?”
“Auk. Ngape?”
“Anak-anak die, termasuk bini die, bahkan Usu Malik juge, bercakap tak pakai bahase Melayu lagi, Tah. Bergetar-getar die bercakap. Kite harus tegur  Usu Malik tu, Tah, kalau tidak siape nak menjage bahase Melayu di kota itu, Tah. Usu Malik tu kan orang terpandang di bidang budaye di kota,” Leman Lengkung panjang lebar menyampaikan kepada Atah Roy.
“Entahlah Man, pening kepale aku, lebih baik dikau memikirkan kambing kite di belakang tu,” Atah Roy seakan kehilangan semangat.
“Atah ni macam mane, kate pejuang Melayu sejati,” Leman Lengkung agak emosi.
“Ngape pulak dikau emosi kepade aku? Budak ni kang, kene juge penumbuk Arwah Wak ni kang! Itulah, kite sendiri saje malu berbahase Melayu, macam mane kite nak menegakkan marwah Melayu. Malas aku berpikir tentang Melayu lagi!” ujar Atah Roy geram sambil meninggalkan Leman Lengkung sendiri. Leman Lengkung cume dapat mengangakan mulutnya.
“Heeee… Salah lagi aku. Masuk tong sampah sajelah aku."

Sabtu, 18 Februari 2012

Celana Anak


“Semangat kampung selalu dikalahkan oleh semangat kota”. Kesimpulam ini dirangkai Atah Roy ketika ia dijemput menghadiri helat pernikahan anak kawannya, Yasin Cabuh, di Pekanbaru. Pada helat pernikahan itu, Yasin Cabuh, menjemput semue orang kampungnya yang sudah menetap di Kota Pekanbaru. Yasin Cabuh bukan hendak berlagak menjemput orang kampungnya yang sudah menetap di Pekanbaru; melepas rindu dan memperat persaudaraan, itulah tujuan Yasin Cabuh.
Empat hari sebelum helat pernikahan itu dilangsungkan, Atah Roy dan Leman Lengkung sudah datang di rumah Yasin Cabuh. Atah Roy berharap kedatangnya dan Leman Lengkung dapat membantu sedikit banyak Yasin Cabuh, paling tidak menegak tiga empat batang tiang bangsal, masih sanggup dilakukan Atah Roy. Namun harapan Atah Roy tidak sama dengan kenyataan yang terjadi. Di rumah Yasin Cabuh tidak kelihatan tanda-tanda akan diadakan helat pernikahan.
Biasanya di kampung, seminggu sebelum helat berlangsung, jiran dan saudara terdekat sudah sibuk membantu tuan rumah. Tapi di rumah Yasin Cabuh, sunyi saja. Tak ada orang, cuma Yasin Cabuh, istri dan ketiga anak  perempuannya berada di rumah. Atah Roy heran juge, namun keheranannya disimpan di lubuk hatinya yang paling dalam. Kalau bertanya kepada Yasin, Atah Roy takut, Yasin tersinggung. Maklum, kalau di kampung, rumah yang akan melangsungkan hajat pernikahan tidak didatangi orang, dapat disimpulkan orang tersebut tidak disukai orang kampung. Pasti ada masalah tuan rumah dengan orang kampung.
Yasin Cabuh gembira melihat Atah Roy dan Leman Lengkung datang. Yasin pun mengajak Atah Roy dan Leman, masuk ke rumah. Bukan main lagi rumah Yasin,macam istana. Macam nak matah leher Leman Lengkung menenguk sekeliling rumah Yasin Cabuh. Atah Roy malu juge nenguk Leman Lengkung seperti itu. Dengan sikunya, Atah Roy menyikut Laman Lengkung.
“Santai jelah,” ucap Atah Roy kepada Leman Lengkung.
Leman Legkung tidak peduli dengan teguran Atah Roy. Ia terus menenguk sekeliling rumah Yasin Cabuh dengan terpana yang luar biasa.
Yasin Cabuh memperkenalkan istri dan ketiga anak perempunnya kepada Atah Roy dan Leman Lengkung. Istri Yasin Cabuh dengan senyum yang merekah, meyalami Atah Roy dan Leman Lengkung, diikuti oleh ketiga anak perempuannya. Mata Leman Lengkung macam nak terjojol melihat istri dan anak Yasin Cabuh. Macam mana tidak terjojol mata Leman, istri dan ketiga anak Yasin Cabuh menggunakan celana pendek ketat, dan baju tak belengan.
Atah Roy bertambah geram meneguk tingkah laku Leman Lengkung, namun Atah Roy tak dapat berbuat apa-apa untuk mencegah perbuatan Leman Lengkung. Sebelum keluarga Yasin Cabuh mengetahui tingkah laku Leman Lengkung yang memalukan itu, Atah Roy pun membuka pembicaraan.
“Kate dikau, Sin, nak menjemput orang kampung kite yang sudah menetap di Pekanbaru ni. Ngape orang-orang tu belum tampak batang idungnye?” tanye Atah Roy yang sesekali tetenguk juga istri dan ketiga anak Yasin Cabuh. Mau menutup muka depan Yasin, tak mungkin. Terpaksalah Atah Roy hanya bisa tersenyum, ketika matanya berpandangan dengan mata istri dan ketiga anak Yasin yang duduk di depannya.
“Tah, di sini kota, tak same dengan di kampung. Orang-orang sini datang pas hari acara saje,” jelas Yasin Cabuh.
“Ooo… jadi siape yang menegak bangsal?” Atah Roy menelan air liur.
“Kunci di kota ini, Tah, semuenye duit. Ade duit, semunye selesai. Untuk makan, kite tinggal pesan dari luar. Tenda kite tinggal order, satu hari nak pesta baru dipasang. Pelaminan juge macam itu. Untuk kite susah-susah ngumpul orang, kalau semuenye bisa kite lakukan dengan duit,” Yasin Cabuh tersenyum.
“Bukan macam itu, Sin. Hakikat ngumpul orang itu kan, agar persaudaraan kite bertambah kuat. Paling tidak dikau kumpul orang-orang kampung kite yang ade di sini, sebelum acara besarnye. Dapat juge kite bebual-bual nak kite ape kan kampung kite tu,” jelasAtah Roy.
“Atah…, Atah, orang kota tak same dengan orang kampung, Tah. Orang kota sibuk bekerje, siang malam. Jadi nak bebual tu, waktunye tak ade,” jelas Yasin Cabuh lagi.
“Kalau dikau bercakap macam itu, tak dapat akal aku lagi. Suailah orang kota tak pernah mempedulikan orang kampung, pas nak jadi gubernur, bupati atau anggota dewan, barulah orang kota peduli orang kampung, ye?” Atah Roy agak kesal.
“Bukan macam itu, Tah. Kite bukan tak peduli kampung, tapi keadaan kota yang membuat kite sepeti itu,” Yasin Cabuh tersinggung juga, tapi tak dilihatnye kepada Atah Roy. Bagaimanapun juga, Atah Roy ada benarnya.
“Aku pikir di rumah dikau, dah ramai orang kampung kite yang datang. Semangat betul aku dari kampung ke sini. Dapat juge aku menambah wawasan, bebual dengan orang kota. Maklum, orang kampung wawasannye terbatas,” Atah Roy menyindir.
“Tak usah Atah bercakap macam itu. Pade hari pesta nanti, pasti orang-orang tu datang,” Yasin Cabuh membujuk Atah Roy.
“Tak puas bebual pade hari pesta. Selain bising oleh organ tunggal, waktunye pun terbatas,” ujar Atah Roy.
Yasin Cabuh tak dapat berkata apa-apa lagi untuk beralasan. Dia memandang istri dan ketiga anak perempuanya minta pertolongan menjelaskan ke Atah Roy. Namun istri dan ketiga anaknya tidak beraksi sedikit pun. Mereka pun tidak dapat menjelaskan apa-apa kepada Atah Roy, walaupun istri dan anak-anak Yasin Cabuh berpendidikan tinggi.
“Pak Cik Yasin, boleh agaknye saye bertanye?” Leman Lengkung memecah kesunyian.
“Ape salahnye, Man, tak ade yang salah di kota. Apelagi setakat bertanye,” Yasin Cabuh tersenyum. Begitu juge istri dan ketiga anaknye.
“Di kota tak ade jual baju untuk orang beso?” tanye Leman Lengkung.
“Adelah,” jawab Yasin Cabuh singkat.
“Kalau ade, ngape bini dan anak-anak Pak cik pakai baju dan celana anak-anak?” Leman Lengkung polos.
Mendengar pertanyaan Leman Lengkung, wajah Yasin Cabuh, istri dan ketiga anak perempunya memerah. Mereka seperti ditampar oleh Leman Lengkung. Mereka saling berpandangan satu dengan lainnya. Istri dan ketiga anak perempuan Yasin Cabuh meninggalkan Atah Roy dan Leman Lengkung dengan wajah tetap memerah menahan malu. Atah Roy tak sedap hati, dia memandang Leman Lengkung dengan mata memerah pula, tanda marah.
“Orang kampung tu jujur, Tah, jadi tak sanggup menyembunyikan ape yang die lihat,” jelas Leman Lengkung.
Yasin Cabuh menerik nafas panjang. Sementara Atah Roy terdiam dengan menyembunyikan seribu kegeraman.

Minggu, 12 Februari 2012

Malas Jadi Melayu


Dulu, Atah Roy bangga menyebut dirinya Melayu sejati. Kemana-mana, Atah Roy selalu mencaritakan peristiwa-peristiwa, cerita atau pun sejarah kebesaran Melayu kepada siapa saja. Atah Roy pun tak segan-segan berteriak keras-keras di tengah pasar “Aku Melayu”. Tingkah laku Atah Roy yang terlalu menyanjung Melayu berlebihan menyebabkan orang-orang menyebut Atah Roy ‘gila Melayu’. Atah Roy bukannya marah, malahan ia sangat senang orang-orang menyebutnya ‘gila Melayu’. Untuk mencintai sesuatu itu, pikir Atah Roy, memang harus masuk secara menyeluruh ke tubuh yang kita cintai itu. Tidak ada perbedaan lagi antara yang mencintai dan yang dicintai; ia menyatu tanpa dapat dibedakan lagi.
Bagi Atah Roy, Melayu memiliki kekuatan yang mampu menakluk dunia. Namun belum mampu diolah menjadi kekuatan. Ibarat tanah lapang, Melayu belum ditanami benih apapun. Dalam rangka ‘menanami benih’ kekuatan itulah, Atah Roy bercita tentang kehebatan Melayu kepada siapa saja yang dijumpai, baik kepada orang Melayu, maupun bukan orang Melayu. Atah Roy yakin, siapapun orangnya apabila menerapkan nilai-nilai Melayu di dalam hidupnya akan menjadi orang besar.
 Atah Roy pun sangat marah apabila ada orang mengatakan bahwa Melayu tidak akan pernah maju. Sifat-sifat yang melekat pada Melayu, seperti pemalas, perajuk, selambe (tidak peduli), pembual, pengamuk, membuat orang Melayu menjadi pengecut. Apabila ada orang yang mengatakan sifat Melayu itu, Atah Roy pun dengan bersemangat menjelaskan kepada orang tersebut.
Pertama tentang pemalas. Atah Roy menjelaskan, pemalas itu merupakan kata untuk menantang orang Melayu agar melakukan sesuatu tanpa kenal kata menyerah. Negeri orang Melayu kaya, seandainya orang Melayu terbujuk dengan kata pemalas, maka dengan leluasa orang lain menguasai kekayaan orang Melayu. Kata pemalas, menurut Atah Roy, harus dimaknai sebagai ‘cambuk’ yang membantai punggung keterlenaan agar orang Melayu sadar bahwa orang Melayu penobrak sejati.
Kedua, orang Melayu perajuk. Atah Roy menafsirkan kata perajuk sama dengan hijrah. Dengan membawa diri dari permasalahan rumit yang sedang terjadi, orang Melayu mencoba mempelajari permasalahan itu dari jauh, dengan merajuk. Kata Atah Roy, bukankah melihat dari jauh, kita dapat melihat secara keseluruhan suatu benda. Merajuk adalah suatu upaya melihat masalah dari jauh. Jauh di mata, tapi dekat di hati, merupakan konsep menanam kerinduan, dan merajuk merupakan usaha untuk menam kerinduan dari kejahuan.
Ketiga, selambe atau tidak memperdulikan. Atah Roy menjelaskan bahwa selambe merupakan upaya orang Melayu untuk tidak membebankan diri dengan masalah-masalah. Orang Melayu, menurut Atah Roy, sadar betul bahwa hidup ini merupakan masalah. Jadi dengan tidak memperdulikan masalah, orang Melayu dapat menyelesaikan kehidupan ini dengan tanpa ada beban sedikit pun. Atah Roy menjelaskan, bukankah memandang sesuatu masalah dengan beban akan memunculkan masalah lain? Kata selambe, menurut Atah Roy, adalah kebiasaan orang Melayu melapangkan hati.
Keempat, kata pembual. Menurut pandangan Atah Roy, kata pembual adalah upaya manusia menyosialisasikan keberadaan diri (eksistensialis). Dengan membual, orang Melayu dapat mengeluarkan segala gagasan yang ada di batinnya. Dengan mengeluarkan gagasan yang berada di batinnya, maka akan terbuka segala jalan dalam menentukan sikap untuk berbuat. Bebual merupakan tindakan lisan untuk memupuk untuk melakukan tindakan nayata. Selain itu membual juga menyatukan kekuatan yang datang dari analisis sesuatu peristiwa yang dibualkan.
Kelima, pengamuk, menurut Atah Roy, merupakan aplikasi dari kata pemalas, perajuk, selambe dan pembual menjadi sebuah tindakan yang tidak dapat dibendung lagi. Pengamuk adalah upaya memperlihatkan diri setelah sesuatu itu tidak dapat dikompromi lagi. Seandainya pengamuk ini telah muncul, maka orang Melayu menjelma menjadi ‘raksasa’ yang tidak pernah takut berhadapan dengan apa saja; tidak dapat ditawar-tawar lagi, semuanya akan dimusnahkan. Hanya satu, kata Atah Roy, yang dapat mengehentikan pengamuk ini, yaitu kematian. Maka setelah kata pengamuk ini muncul, tiada obat yang dapat menyembuhkannya. Inilah eksistensi paling tertinggi orang Melayu.
Namun semangat mengebu-ngebu Atah Roy terhadap Melayu, kini hilang tidak berbekas. Atah Roy tidak berdaya mempertahankan dirinya sebagai orang ‘gila Melayu’. Kekecewaannya tak mampu menopang keperkasaannya. Atah Roy seakan terjatuh dari tangga, tertepam taik kucing, dan dilindas oleh fuso, lenyik. Lenyik hati Atah Roy nak berteriak ‘Aku Melayu’ di depan orang ramai. Atah Roy pun dah malas jadi Melayu, bahkan dia terluka jadi Melayu. Ape pasal?
Kekecewaan yang melumat keperkasaan Atah Roy sebagai orang Melayu bermula ketika ia menghadiri pemilihan ketua pemuda kampung. Dalam pertemuan itu masing-masing kubu mengkliam bahwa dari kubu merekalah yang berhak menjadi ketua. Keyakinan semua kubu itu berbuah pertengkaran yang sengit. Sebagai orang tua, sekaligus sebagai ‘gila Melayu’, Atah Roy pun muncul di hadapan pemuda yang sedang bertengkar itu. Dengan yakin, Atah Roy meraih mik yang berada di depan dan mulai bicara.
“Tenang…, Tenang… Tenang!” teriak Atah Roy. Suasana hening seketika. “Sebagai orang tua, aku nak menyampaikan sesuatu,” tambah Atah Roy. “Pemuda Melayu, seharusnya memperlihat sikap Melayu yang sejati! Tidak…,” belum selesai Atah Roy menyampaikan sesuatu, Leman Lengkung, anak saudaranya berteriak.
“Orang tue, diam!” pertengkaran berlanjut.
Atah Roy terkulai, dengan langkah lemah, Atah Roy meninggalkan ruangan pertemuan itu. Atah Roy tidak menyangka, anak saudaranya berteriak seperti itu. Segala kekuatan Atah Roy lumpuh seketika.
“Dah malas aku jadi Melayu, jangankan orang lain, anak saudare aku saje dah tak mendengo petuah aku,” ujar Atah Roy duduk lesu di atas batang rambai, sambil memandang ke bawah. “Nak bunuh diri rasenye,” bisik Atah Roy dalam hati.