Selamat Datang di Hikayat Atah Roy. Senyum Adalah Keikhlasan yang Tak Terucap

Sabtu, 26 Mei 2012

Oh, Lady Gaga

Sebenarnya Atah Roy tidak ingin membongkar kisah masa lalunya, sehingga ia membujang sampai saat ini. Peristiwa itu sangat memilukan, bahkan perihnya sampai sekarang masih terasa. Disebabkan peristiwa itu juga, beribu bahkan berjuta kesunyian telah melanda kehidupan Atah Roy. Makan tak sedap, tidur tak nyenyak, pokoknya setelah peristiwa itu Atah Roy seperti rumah tak berpenghuni, rumah kosong. Atah Roy tak ingin mengenang peristiwa itu sedetik pun, namun pada hari ini, orang-orang telah membongkar ‘kubur’ peristiwa masa lalu itu. Luka lama yang belum sembuh benar, kini berdarah kembali. Lady Gaga, sebuah nama yang telah lama menghilang kini muncul kembali di benak Atah Roy.
Mungkin pembaca menganggap Atah Roy bermimpi di siang hari; menampung embun di tengah hari, tapi inilah kenyataan, bahwa sebelum Lady Gaga menjadi seorang super ‘bintang’, Lady Gaga pernah menjalin hubungan asmara dengan Atah Roy. Oh, tak mungkin! Apa yang tak mungkin di atas dunia ini? Selagi ayam jantan masih berkokok, ayam betina masih betelur, maka segalanya masih bisa terjadi.
Itulah sebabnya, ketika Lady Gaga menjadi perbincangan di negeri ini, Atah Roy seperti disembar petir tunggal, berdesuk melantas ke lubuk hati Atah Roy. Bukan Atah Roy mau menumpang populer permasalahan Lady Gaga di negeri ini; mencari kesempatan membesarkan nama. Tapi mendengar nama Lady Gaga disebut-sebut, peristiwa masa lalu bersama Lady Gaga terbentang bak sawah yang padinya akan dituai, bak lautan lepas menyediakan gelombang. Atah Roy tak mampu berdiam diri, semakin berdiam, semakin kenangan itu menusuk-tusuk waktu Atah Roy.
Lady Gaga, waktu itu, masih muda belia. Atah Roy juga. Perkenalan Atah Roy dengan Lady Gaga terasa aneh, tapi nyata. Mereka bertemu dalam mimpi. Seperti kebanyakan remaja yang sedang dimabuk asmara, mereka berdua saling bertukar nomor handphone. Dari sinilah jalinan asmara mereka semakin erat. Kekuatan cinta memang tak terbilang dahsyatnya. Jarak antara Amerika dan Riau, bukan halangan bagi mereka untuk berbalas ‘pantun cinta’. Seminggu sekali, Atah Roy berkunjung ke negeri Paman Sam tersebut. Begitu juga Lady Gaga, seminggu sekali berkunjung ke tanah Lancang Kuning ini. Semua berjalan tanpa ada rintangan. Tidak ada pencekalan, tidak ada perdebatan menyakitkan hati, tidak juge ada pergunjingan yang memerahkan telinga. Berjalan lancar saja, seperti kebanyakan remaja sedang pacaran.
Menurut Atah Roy, Lady Gaga itu memang suka sensasi. Hal ini dilakukan untuk mencari perhatian orang lain. Dengan merebut perhatian orang lain, dia dengan mudah ‘menyeret’ opini orang terhadap dirinya. Semakin banyak orang yang membicarakannya makin terkenallah dirinya. Dan itu dilakukannya semenjak dari kecil.
Sepengetahuan Atah Roy, waktu kecil Lady Gaga yang bernama asli Stefani Joanne Angelina, sudah memiliki keinginan berbeda dengan orang lain. Di sekolah dasar, ketika disuruh main piano, Lady Gaga memainkan piano ambil berdiri di atas kursi. Pada usia remaja, Lady Gaga tetap eksentrik agar berbeda dengan orang lain. Apalagi setelah berkecimpung dunia hiburan, ‘keanehannya’ semakin menjadi-jadi, sehingga dia tetap eksis. Dunia hiburan memang kadang kala menciptakan orang menjadi yang lain.
Disebabkan ‘keanehan’ Lady Gaga inilah Atah Roy dengan terpaksa memutuskan Lady Gaga. Bukan Atah Roy tidak modern, tapi agama yang dipercayai Atah Roy tidak sesuai dengan gaya Lady Gaga. Atah Roy sudah berulang kali pula menyuruh Lady Gaga mengubah penampilannya, namun Lady Gaga tetap pada pendiriannya. Perbedaaan bagi Lady Gaga merupakan eksistensi manusia, jadi tak mungkin diseragmkan semuanya.
Pro dan kontra kedatangan Lady Gaga di negeri ini, sesuatu yang wajar. Pada satu sisi, menurut Atah Roy, gaya Lady Gaga tidak sesuai dengan ajaran agama atau pun adat mayoritas masyarakat Indonesia, makanya kedatangan Lady Gaga ditolak. Namun demikian, Atah Roy berpendapat seharusnya sebelum kita menolak seseorang disebabkan gaya tidak sesuai dengan agama di sini, misalnya pakaian tidak senonoh,kita harus intropeksi diri. Banyak yang dinobatkan sebagai artis di negeri ini, menggunakan pakaian dan bertingkah laku yang dapat mengikis nilai moralitas dan nilai keagamaan generasi muda.
“Tak usahlah aku sebutkan satu persatu name-name artis atau kelompok yang pakaiannye dan juge tingkah lakunya tidak sesuai dengan agame di negeri ini, kite semue sudah tahu,” Atah Roy agak sedikit emosi ketike berjumpe dengan Leman Lengkung.
“Ngape Atah macam orang ngigau aje ni?” Leman Lengkung penasaran.
“Dikau tak bace koran, mane tahu. Seluruh pelosok negeri ini dah heboh dah,” ujar Atah Roy dengan nada tinggi.
“Masalah ape, Tah? Lady Gaga?” Leman Lengkung mulai menangkap kegelisahan Atah Roy.
“Auk. Waktu Lady Gaga belum terkenal, dan masih pacaran dengan aku, tak seheboh ini, padahal berulang-ulang budak Lady tu jumpe dengan aku, tak jadi masalah pulak. Dah terkenal macam ini, semue nak bercakap,” tambah Atah Roy semakin geram.
“Yelah Tah, dulu Lady Gaga tidak jadi pusat perhatian, sekarang ni die artis papan atas dunia, tentu jadi sorotan,” jelas Leman Lengkung.
“Tahu aku tu, tapi tak usahlah dibeso-besokan sangat, lebih banyak masalah di negeri ini yang perlu diselesaikan, bukan masalah Lady Gaga satu aje. Masalah Lady Gaga kecil tu. Sebelum heboh macam ini, Lady Gaga cume budak mude di kota aje yang tahu, tapi sekarang ni, orang tue, mude di kampung juge dah membahas Lady Gaga tu. Makin terkenal, dan makin mewahlah sponsor dan Lady Gaga tu. Saling memanfaatkan nampaknye,” jelas Atah Roy panjang lebar.
“Atah Roy ni, pro atau kontra Lady Gaga ni?” Leman Lengkung mengungkit.
“Tak pro, tak kontra. Kejahatan harus dilawan apepun bentuknye, kebenaran harus ditegakan bukan untuk populeritas,” jawab Atah Roy.
“Tapi ape betul, Atah pernah menjalin hubungan asmara dengan mak cik Lady Gaga tu?”
“Hahahaha… aku bengak aje, kenal pun tidak dengan Lady Gaga tu. Manelah tahu, aku bisa juge terkenal macam Lady Gaga, memanfaatkan suasana yang sedang membara ini,” ujar Atah Roy sambil tersenyum menang.
           

Minggu, 20 Mei 2012

Malam Jum’at


Dari surau yang tidak begitu besar, suara azan menandakan sholat Isya bergema. Atah Roy bergegas menuju surau yang berjarak 500 meter dari rumahnya. Atah Roy berharap sholat Isya berjemaah malam Jum’at ini akan dihadiri banyak warga kampung. Maklum, malam Jum’at merupakan malam penuh berkah. Menurut pengetahuan Atah Roy yang didapat dari membaca beberapa buku atau pun dari mendengar ceramah pakar-pakar agama tentang banyaknya hikmah yang ditaburkan pada malam Jum’at.    
Di perjalanan menuju surau, Atah Roy heran. Jalan sepi, tak ada tanda-tanda orang menuju ke surau. Dalam hati Atah Roy berbisik, mungkin orang-orang sudah berada di surau. Untuk itulah, Atah Roy mempercepat dan mempebesar langkahnya, agar cepat-cepat sampai ke surau. Sampai di surau, Atah Roy tak melihat orang-orang di dalam surau. Azan yang didengungkan Dolah Kelip, hampir selesai. Dengan kecurigaan yang mendalam, Atah Roy masuk ke dalam surau.
Azan selesai. Dolah Kelip, lelaki sebaya Atah Roy, meletakkan standmic dekat sejadah imam. Kemudian Dolah mengambil posisi di sap makmum. Atah Roy memperhatikan tingkah Dolah Kelip yang selambe, tak peduli dengan datang-tidaknye orang kampung untuk mengerjakan sholat Isya berjemaah malam Jum’at ini. Dolah Kelip langsung melaksanakan sholat sunat sebelum Isya. Atah Roy pun mengerjakan sholat sunat.
Selesai mereka melaksanakan sholat sunat, orang-orang kampung belum juga datang. Atah Roy melirik ke Dolah Kelip yang berdiri mau melaksanakan qhomat.
“Kite tunggu jemaah lain?” pertanyaan Atah Roy memecah kebekuan dalam surau.
“Tak akan ade orang datang, cayelah cakap aku,” ujar Dolah Kelip sambil meluruskan sap.
“Manelah tau, dalam lime menit ni, ade yang datang,” Atah Roy menawarkan gagasannya untuk menunggu jemaah lainnya.
“Yelah, kite tunggu lime menit,” Dolah Kelip duduk kembali. Mulut Dolah komat-kamit, membaca ayat-ayat pendek.
Lima menit telah berlalu. Tak ada tanda-tanda jemaah malam Jum’at di surau ini akan bertambah. Atah Roy memandang ke pintu masuk surau, cuma gelap tersergam di luar surau. Suara-suara binatang malam bertengkah menyulam hitam pekatnya malam. Harapan Atah Roy pun sirna. Atah Roy berdiri. Dolah Kelip melihat ke arah Atah Roy.
“Kite tunggu lagi?” tanya Dolah Kelip seakan mengejek Atah Roy.
“Tak perlulah,” jawab Atah Roy, kemudian Atah Roy langsung qhomat.
Sholat Isya pun telah selesai dilaksanakan di surau yang hanya berisi dua orang itu. Makmum, Atah Roy, menyodorkan tangannya ke imam, Dolah Kelip. Mereka bersalaman setelah doa selesai. Atah Roy memandang Dolah Kelip dengan dengan raut muka penuh pertanyaan. Sementara Dolah Kelip santai saja.
“Kenape setiap malam Jum’at, orang-orang engan sholat Isya berjemaah, Lah?” Atah Roy tak mampu menahan pertanyaannya di dalam hati.
Dolah Kelip berdiri, lalu menggulung kain putih yang dijadikan sap untuk makmum. Sambil menggulung kain itu, Dolah Kelip tersenyum ke arah Atah Roy. Atah Roy bertambah penasaran.
“Ngape pulak engkau tersenyum, Lah?”
“Ini malam Jum’at kan?” balik Dolah Kelip bertanya.
“Ye, malam Jum’at,” Atah Roy menjawab.
“Malam Jum’at, orang takut keluar rumah,” ujar Dolah Kelip tanpa beban.
“Ape pasal?” Atah Roy tambah penasaran.
“Orang takut hantu.”
“Astaqfirullahalazim. Ape yang engkau cakapkan ni, Lah?”
“Betul, kalau engkau tak percaye, pergilah ke rumah-rumah warga. Tanye satu persatu, ngape mereke engan ke surau malam Jum’at ni,” jelas Dolah Kelip.
“Ape pasalnye mereke takut?” buru Atah Roy.
“Sebabnye banyak nonton televisi,” jawab Dolah Kelip pasti.
“Ngape pula bisa jadi macam tu?”
“Dikau tenguk sendirilah, semue stasiun televisi di republik tercinta ini, menayangkan acara hantu pade malam Jum’at ni. Mulai dari cerite hantu, sampai wawancara tentang masalah hantu. Malam Jum’at disulap jadi malam mengaruknye para hantu. Aku tak taulah ape hendak pemilik stasiun televisi di negeri ini, menayangkan acara hantu pade malam Jum’at. Padahal malam Jum’at, malam penuh berkah. Entahlah, orang kite ikut-ikut pula percaye,” jelas Dolah Kelip agak emosi.
“Ye pulak ye. Suailah setiap malam Jum’at, Leman Lengkung tak kelou umah, asik depan tv lengkap dengan peralatan tidou, bantal dan selimut tebalnye. Ini gawat ni, Lah, kite harus cepat mengubah pandangan ini,” Atah Roy cemas.
“Nak mengubah macam mane? Tv tu lebih perkase dibandingkan kite. Tv dah jadi berhale di zaman modern ni, ape yang ditayangkan di tv, orang percaye” Dolah Kelip makin geram.
“Jadi, ape nak kite buat?” Atah Roy kehilangan kecerdasannya.
“Kite buat stasiun televisi baru, dan kite kemas acara menarik berlandaskan ajaran agama,” jawab Dolah Kelip pasti.
“Mane nak cekau duit, Lah? Mahal tu?”
“Cekau-cekau ah, cekau-cekau ih ajelah,” ujar Dolah Kelip lagi. “Dahlah Roy, mari kite balik. Kite doakan ajelah ade orang kaye di negeri ini buka stasiun televisi yang peduli dengan agama,” tambah Dolah Kelip.
“Tapi…,”
“Tak usah pakai tapi lagi, Roy, pening kepale kite kang,” Dolah melangkah ke arah pintu surau. Atah Roy mengikutinya.
“Mampus aku balik ni kang, jalan menuju rumah aku gelap betul,” bisik Atah Roy dalam hati. Atah Roy teringat film tengah malam Jum’at kemarin. “Mak e…”
    

Sabtu, 14 April 2012

Makan Sumpah


Setiap peristiwa adalah pelajaran bagi manusia. Seburuk apapun peristiwa, ianya tetaplah bentangan kesadaran yang dapat menuntun manusia melakukan hal yang lebih baik lagi. Peristiwa yang diciptakan oleh manusia, baik sadar maupun terjadi secara alamiah, akan menjadi pengalaman. Pengalaman mengajar manusia menjadi lebih dewasa. Atah Roy teringat lirik lagu yang dinyanyikan penyanyi Malaysia, Ramli Syarif, “Sejarah mengajar kita menjadi lebih dewasa.” Maka tidak salahlah apabila orang-orang terdahulu mengatakan “orang buta saja, tidak mau tersandung di tempat yang sama.” Begitulah berharganya peristiwa yang terwujud menjadi pengalaman.
Atah Roy tidak mengerti, mengapa ada juga orang yang terperangkap dalam peristiwa yang sama, tidak mampu keluar menjadi pemenang pada turnamen kehidupan. Hal inilah yang menyebabkan Atah Roy tidak habis pikir, ditambah lagi melihat keadaan atau peristiwa di negeri ini yang semakin jauh dari cita-cita bersama. Cita-cita ingin mewujudkan kesejahteraan orang banyak hanya pemanis di bibir saja. Orang-orang sibuk dengan dirinya sendiri dan pada akhirnya terpasung oleh diri sendiri. Sebenarnya, menurut Atah Roy, apabila orang mau berjalan pada garis kepentingan bersama, maka akan selamat dan keluar menjadi pemenang. Bukankah diciptakan manusia di bumi ini agar mereka saling bantu membantu sesamanya?
Entahlah, Atah Roy seperti kehilangan ketajaman daya pikirnya berhadapan dengan masalah ini. Ditambah lagi sms yang dikirimkan oleh Tamam Keluang, kawan lama Atah Roy, yang sukses menjadi tokoh panutan di kota. “Royab, aku betul-betul makan sumpah.” Tulis Tamam Keluang yang dikirim ke Atah Roy lewat sms.
Atah Roy bingung dan membalas sms itu dengan pertanyaan. “Mengapa dikau cakap macam itu, Mam?”
Lama Atah Roy menunggu balasan Tamam Keluang. Tiba-tiba saja, Atah Roy terkenang Tamam Keluang sebelum merantau ke kota. Dua puluh lima tahun lalu, Tamam Keluang tidak pernah menolak apapun kerja yang disodorkan kepadanya. Apalagi kalau pekerjaan menjadi penjaga rumah atau kebun pada malam hari. Karena Tamam sering bekerja pada malam hari, maka Tamam pun digelar keluang, maka itulah sejarah singkat orang memanggil Tamam dengan kata tambahan Keluang di belakang namanya.
Berbekal pengalaman hidup susah di kampung, Tamam Keluang berazam mengubah nasibnya dengan merantau ke kota. Ditambah lagi ada kesempatan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dengan biaya kuliah ditanggung oleh salah seorang tokoh masyarakat kampung ini yang terlebih dahulu sukses di kota. Tamam Keluang tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, dia pun langsung ke kota. Atah Roy ingat betul, bagaimana Tamam Keluang meminjam duit kepadanya  ketika mau berangkat ke kota. Itu sudah lama berlalu, Atah Roy sudah lupa, tapi sms Tamam Keluang membangkit kenangannya itu.
“Royab, aku seperti kacang lupe dengan kulitnye. Aku orang yang melupekan sejarah. Aku terlalu memikirkan kepentingan aku sendiri, sehingge aku tersesat dalam keinginan aku sendiri. Aku pun melupekan orang-orang yang telah berjase mengantarkan aku menjadi orang sukses di kota ini. Sampai-sampai aku pun tidak pernah menghubungi dikau lagi. Entahlah, entah ade gune atau tidak penyesalan aku ini, tapi paling tidak aku menyadari kesalahan aku, walaupun datangnya terlambat,” panjang lebar sms Tamam Keluang dibaca Atah Roy. Atah Roy belum dapat menangkap apa maksud sms Tamam Keluang ini.
“Ade masalah apa, Mam?” balas Atah Roy singkat.
Masuk kembali sms Tamam Keluang. “Royab, aku ni memang makan sumpah. Aku bukan saje mengingkari orang banyak, aku juge telah melanggar janji aku sendiri. Aku mengingkari diri sendiri dan sumpah jabatan yang aku ikrarkan di depan kitab suci, aku langgar. Aku betul-betul makan sumpah. Aku yakin, masalah berat yang sedang aku hadapai sekarang ini, merupakan buah dari sumpah yang aku ucapkan. Dulu aku paling takut untuk bersumpah, apelagi di depan kitab suci. Sumpah bagi aku dulu merupakan perjanjian suci dan aku tak mungkin mengabaikannye. Namun berjalan dengan waktu, aku menganggap sumpah itu hanye permainan. Sumpah hanye akal-akalan agar aku dianggap orang benar-benar bersih dan suci. Perjalanan waktu juge menyebabkan aku tidak peka lagi dengan kesusahan orang banyak. Aku hanye memikirkan diri sendiri, sehingge aku menganggap diri sendirilah yang perlu dikasihi. Untuk mengasihi diri sendiri, aku melakukan apapun untuk mewujudkan keinginan aku. Aku bunuh hati nurani. Aku langgar sumpah. Aku pun tidak pernah menepati janji yang aku buat sendiri. Menganggap kepentingan pribadi di atas segala-galanya inilah yang mencampakan aku ke lembah hina ini,” kembali sms panjang Tamam Keluang masuk ke hp Atah Roy.
Atah Roy belum tahu apa sebenarbnya yang sedang dihadapi Tamam Keluang. Samar-samar Atah Roy mulai paham, tapi belum mengetahui benar. “Masalah ape yang sedang dikau hadapi, Mam?”
Tamam Keluang tak membalas sms Atah Roy. Atah Roy bertambah bingung. Walaupun Tamam Keluang sudah lama tidak menghubungi dirinya, Atah Roy tidak kesah betul. Bagi Atah Roy orang yang sedang dalam keadaan susah perlu dibantu, walaupun orang tersebut pernah melukakannya. Atah Roy sadar, bahwa manusia tidak terlepas dari kesilapan dan kesalahan. Paling penting sekarang ini, Tamam Keluang menyadari kelupaannya, dan kewajiban Atah roy mencari jalan keluar untuk Tamam Keluang.
Sms balasan Tamam Keluang tidak juga masuk ke hp Atah Roy. Atah Roy pun membaca ulang sms dari Tamam Keluang. Setelah membaca ulang sms Tamam Keluang, Atah Roy membuat kesimpulan bahwa Tamam Keluang dapat masalah dengan kedudukannya.
Tiba-tiba Leman Lengkung masuk sambil membawa koran. Dengan semangat Leman Lengkung membuka halaman koran itu.
“Bace ini, Tah, Pak Cik Tamam jadi tersangka kasus korupsi,” Leman Lengkung menyodorkan koran itu ke Atah Roy. Atah Roy membaca dengan seksama. Air mata Atah Roy tiba-tiba keluar.
Leman Lengkung meperhatikan Atah Roy. “Ngape Atah menangis?”
“Rupenya Tamam betul-betul dalam keadaan susah,” kate Atah Roy sambil terisak.
“Bio tahu ngase die, Tah. Jadi orang beso di kota, tak ingat dengan kampung lagi. Inilah buktinye orang makan sumpah itu!” Leman Lenhgkung agak emosi.
Melihat Leman Lengkung emosi, Atah Roy naik geram. Atah Roy tak mau anak saudaranya hanya pandai marah kepada orang yang melakukan kesalahan. Bagi Atah Roy, bersikap tidak menyalahkan orang, dan dapat menenangkan orang dalam keadaan susah lebih bernilai.
“Man, kite manusie tidak akan pernah lepas dari kesilapan. Jangan kau marah membabi bute pulak, yang paling penting kite harus bersikap arif dan dapat mengurangi beban orang tersebut,” ujar Atah Roy lembut.
“Orang yang makan sumpah tak perlu dikasihani, Tah!” jawab Leman Lengkung dengan suara keras dan kemudian pergi meninggalkan Atah roy sendiri.
Atah Roy tidak dapat berbuat apa-apa, karena Atah Roy juga sependapat dengan Leman Lengkung. “Makan sumpah, aduh makan, makan sumpah,” ucap Atah Roy pelan.  

Sabtu, 07 April 2012

Sama Saja


Atah Roy tertegun ketika membaca raning teks di sebuah stasiun televisi, tentang dua peristiwa yang terjadi di Riau. Peristiwa pertama tentang penggrebekan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Pekanbaru oleh Wamenkumham. Tidak tanggung-tanggung, Lapas Pekanbaru jadi terkenal dengan pengedaran narkoba dalam lapas. Tiga tersangka langsung di bawa ke Jakarta. Peristiwa kedua, tertangkapnya 11 anggota Dewan Perwakilan Rakyat Riau oleh KPK dengan kasus suap pembangunan fasilitas untuk Pekan Olahraga Nasional (PON) 2012, dan akhirnya 2 anggota DPRD Riau yang ditahan, yang lain menjadi saksi. Tidak tertutup kemungkinan menjadi tersangka.
Dua peristiwa ini membuat uban Atah Roy bertambah. Atah Roy tak habis pikir, kenapa orang orang Riau tak dapat menciptakan peristiwa yang dapat membangka negeri ini. Atah Roy memang tak dapat bercakap ape lagi, Riau yang kaya tidak memiliki kekuatan memunculkan peristiwa yang dapat membusungkan dada. Semua peristiwa di Riau sepertinya mengarah pada hal yang negatif alias peristiwa mencorengkan muka orang Riau itu sendiri.
Atah Roy putus asa? Tidak. Segala peristiwa bagi Atah Roy adalah pelajaran yang paling berharga. Untuk itulah, Atah Roy berkeinginan mengumpul semua pemuda yang ada di Riau dan mengajak mereka bersatu padu untuk membangun negeri ini dengan hati. Atah Roy sadar, bahwa 2 peristiwa dan peristiwa-peristiwa yang merugikan Riau disebabkan orang yang mendiami negeri ini sudah kehilangan hati. Kalau hati sudah didustai, maka semua pekerjaan akan mendatangkan celaka.
Untuk mewujudkan niatnya, Atah Roy pun memanggil Leman Lengkung dan beberapa kawan Leman lainnya. Atah Roy mencoba memulai mengangkat marwah Riau melalui pikiran orang kampung. Orang kampung biasanya memiliki pikiran dan hati yang masih bersih. Maklum di kampung tidak banyak godaan seperti di kota. Orang kota banyak tergoda; melihat orang pakai mobil mewah, mau juga mobil mewah, padahal gaji tak cukup. Tentu saja untuk memenuhi keinginan itu, jalan pintas mendapatkan duit dilakukan. Maka tak jarang generasi muda Riau menjadi pengedar narkoba, dan tak tertutup kemungkinan generasi muda Riau yang memiliki daya dobrak kuat di masyarakat, menjadi sorang koruptor. Semuanya disebabkan keinginan mau lebih dibandingkan dengan orang lain.
Kali ini, Atah Roy bersungguh-sungguh mau melakukan perubahan. Perubahan hati murni yang datang dari kampung. Orang kota tidak dapat diharap lagi, semuanya sudah tercemar oleh keinginan memiliki kekayaan yang melimpah. Tak ada lagi rasa bersalah dan segan, semuanya nak disapu. Kini orang kampung yang mengambil alih.
Atah Roy sadar bahwa untuk mewujudkan keinginannya melakukan perubahan, tidak akan mampu dikerjakan senidiri. Untuk itulah Atah Roy mencari Leman Lengkung dan kawan-kawannya. Leman Lengkung ini pula, apabila diperlukan, tak muncul, kalau tak diperlukan tercongguk sebelah Atah Roy.
“Kemane pulak pegi budak Leman ni. Bebulu hati aku menunggu die,” ucap Atah Roy pelan. Di tangannya masih memegang surat kabar yang memberitakan 2 peristiwa besar yang terjadi di negeri ini.
Atah Roy gelisah. Atah Roy takut semangatnya yang sedang berkobar ini hilang disapu angin. Semangat yang mengebu-ngebu tidak boleh didiamkan, kalau didiamkan akan holang selamanya. Ada gagasan nak berbuat, langsung berbuat, jangan banyak cakap. Banyak cakap banyak pulak bengaknya.
“Ape kesah budak-budak ni?” Atah Roy bertanya sendiri. “Budak kampung macam ini pulak, tak boleh diharap sedikit pun,” sungut Atah Roy.
Menunggu merupakan pekerjaan yang paling menjemukan. Untuk mengatasi kejemuan ini, Atah Roy pun mengambil alternatif mencari Leman Lengkung dan kawan-kawan ke pasar Biasanya, Leman Lengkung dan kawan-kawan selalu duduk di kedai kopi Alang Atan sampai petang.
Atah Roy tergesa-gesa menuju kedai kopi Alang Atan. Atah Roy tak dapat lagi membendung keinginannya untuk mengubah negeri ini dengan semangat kampung. Orang kampung harus ambil bagian dalam perubahan negeri ini. Nasib negeri ini berada di pundak orang kampung yang masih memelihara hati nurani. Setiap langkah Atah Roy adalah harapan. Otak Atah Roy pun terbayangkan lagu Iwan Fals tentang kekuatan yang dimiliki oleh orang kampung.
Di tengah jalan, Atah Roy berjumpe Razak Condung. Kenapa condung, karena Razak berjalan macam pohon kelapa ditiup angin, miring. Dengan ramah Razak menyapa Atah Roy.
“Nak kemane, Tah? Saye nak ke rumah Atah ni,” ucap Razak.
“Aku nak cari Leman dan kawan-kawannye,” balas Atah Roy.
“Saye pun nak mencari Leman, Tah.”
“Ape pasal dikau nak mencari Leman? Dikau nak melakukan perubahan juge?” Atah Roy semangat.
“Perubahan ape, Tah?” Razak Condung heran.
“Di tangan orang kampunglah negeri ini bisa berubah. Kita harus bersatu padu membuktikan bahwa orang kampung tidak tergile harte bende,” Atah Roy semakin semangat.
“Maksud Atah?” Razak masih heran.
“Dikau tak bace koran, bahwe generasi kita yang di kota banyak yang menyalahkan kepercayaan orang banyak,” Atah Roy sedikit ketus.
“Same juge Tah, generasi kampung kite ini pun dah kacau,” ujar Razak.
“Maksud dikau?” Atah Roy pula yang bingung.
“ Leman Lengkung dan kawan-kawannye tertangkap basah sedang mencuri getah Haji Yusuf pagi tadi. Sekarang Leman Lengkung dan kawan-kawannye ditahan di kantor polisi.”
“Astaqfirullahalazim. Kalau pemuda kampung juge same dengan pemuda kota, pade siape lagi nak diharapkan perubahan itu muncul?” tanye Atah Roy sedih.
“Kota, kampung, same aje, Tah. Duit punye pasal,” kata Razak Condung.
Atah Roy tidak dapat berkata apa-apa lagi. Keinginannya terbang bersama tiupan angin. “Nasiblah negeri ini,” Atah Roy membelalakan matanya.  
    

Hasan Junus


Memang kematian selalu mengetuk pintu ruang kenangan, lalu menyemburkan segala kisah yang pernah kita rajut bersama. Kita tersentak, terhenyak, dan rasa sedih membangun puing-puing peristiwa yang pernah dilalui. Dari puing-puing peristiwa ini, kita merasakan sangat beratnya perpisahan yang disebabkan kematian. Kita pun merangkai setiap serpihan tawa, sedih yang pernah bersebati ketika kematian belum menjelma. Maka setiap kenangan menjadi sesuatu yang sangat berarti untuk mendekati diri dengan orang yang telah ‘pergi’.
Innalillahiwainahirojiun. Dia sudah pergi, tak akan kembali lagi. Sungguh terasa berat, namun manusia tidak akan pernah dapat menghindar dari kematian. Kita menyadari, sungguh  menyadari, perjalanan hidup akan berhenti di terminal kematian. Kita pun hanya mampu menjawab dengan air mata. Air mata yang hadir dari peristiwa yang pernah dilalui bersama. Begitulah, kematian selalu menyediakan suatu ruang untuk kita mengingat perjumpaan.
Pada tanggal 31 Maret 2012, pukul 23.45 WIB, dia telah meninggalkan kisahnya kepada kita semua. Tiada rampai lagi yang dapat kita teguk dari pemikiran berliannya. Tiada lagi kelincahan Murai Malam mengajak kita berkicau di sembarang musim. Tiada Pengantin Boneka membujuk kita untuk tetap setia pada keriangan berkarya, dan tiada juga nantinya Burung Tiung Seri Gading terbang dengan sayap mengeliling dunia. Kita hanya mampu mengenangnya. Kenanganlah nantinya memperjumpakan kita.
            Jalan yang terbentang yang kita lalui bersama Hasan Junus, kini tak akan berulang lagi, namun kenangan bersamanya, rasanya tidak mungkin terlupakan. Sosok Hasan Junus bukan saja menjadi guru, dia juga menjelma sebagai kawan. Hasan Junus tidak pernah menutup diri, apabila ada orang lain ‘meminta’ ilmunya. Hasan Junus seperti hujan di musim kemarau, tidak pernah berhenti menyirami kesegaran di ‘tanah’ sastra Riau. Dimanapun berjumpa Hasan Junus, dia akan terus becerita dan bercerita tenang keperkasaan karya sastra. Segala karya sastra yang terbentang di dunia ini, dengan petah disampaikan kepada lawan ceritanya. Dia tidak lokik (pelit) untuk membagi ilmu. Panjang lebar dia bentang, sampai pendengarnya yang lelah, namun dia tetap bercerita.
            Dari mulut Hasan Junus banyak sastrawan-sastrawan muda Riau termotivasi untuk berkarya. Hasan Junus bukan ‘pandai bercakap’ saja, kehidupannya diserahkan kepada dunia sastra. Dia hidup dari sastra, dia besardari sastra, dia ‘terbang’ menggunakan sastra. Hasan Junus identik dengan dunia sastra, karena dia hidup untuk sastra. Tidak ada yang dapat menggoyah ketegarannya untuk tetap berada di ‘istana” kata-kata itu. “Aku ini penulis karya sastra, maka hidupku adalah karya sastra itu sendiri,” Hasan Junus pernah berucap kepada penulis muda di Dewan Kesenian Riau beberapa waktu dulu.
            Mengenang Hasan Junus, tentu saja kekhawatiran kita, terutama dunia sastra Riau, semakin bertambah. Gamang memang, disaat ‘penjaga gawang’ sastra Riau tidak akan lagi melepaskan fatwa-fatwa mengenai kehidupan sastra, kita benar-benar kehilangan jambatan untuk menyeberang lautan sastra dunia. Kita tidak akan menemukan ‘perpustakaan berjalan’ itu lagi. Kita pun tiada tempat bertanya lagi mengenai karya sastra dunia.
            Hasan Junus merupakan cahaya sastra Riau. Cahaya yang tidak pernah redup sampai kematian datang menjemput. Hasan Junus tidak pernah sungkan memberikan ilmunya kepada siapapun juga. Dia tidak pernah ragu bergaul dengan siapa saja, apalagi bergaul dengan penulis-penulis muda yang menimba ilmu sastra darinya. Hasan Junus akan berapi-api bercerita mengenai karya sastra kepada siapapun juga. Dia merasa bahagia apabila ada generasi muda yang’mencuri’ ilmu dari percakapan yang berlangsung.
            Orang tua ‘degil’ itu tidak akan pernah kita jumpai lagi. Kita benar-benar kehilangan untuk bergembira mengarungi lautan sastra ini. Kita pun semakin sepi, pelita itu telah padam sebelum sempat melihat mazhab sastra Riau benar-benar berdiri kokoh. Pada masa hidupnya, Hasan Junus terus memompa semangat setiap genersi muda untuk tetap berkarya. Bagi Hasan Junus orang yang dipandang mulia adalah orang yang tetap bekarya dan berkarya. Hasan Junus tak ingin dunia sastra Riau terendam dalam sunyi, tanpa ada gnerasi muda berkarya. Dengan Karya sastra, Riau akan tetap jaya.
            Kini Hasan Junus telah meninggalkan kita untuk selamanya. Kita tidak mungkin terus berduka. Kita harus tetap berkarya.          

Sabtu, 24 Maret 2012

Jalan Sepi


Atah Roy tahu bahwa menjadi seorang penulis karya sastra atau pekerja seni tidak menjanjikan menjadi seseorang yang dihormati di negeri ini. Bukannya penulis karya sastra atau seniman gila hormat, tetapi paling tidak kerja mereka dihargai. Selama ini, pekerja seni hanya mendapat tempat apabila pekerja seni mampu menjulurkan lidahnya,dan kemudian menjilat kesempatan yang ada. Padahal jauh-jauh sebelum masa kini, kerja para seniman menjadi santapan roh, sehingga apa yang dikerjakan seniman mendapat tempat yang layak.   
Pilihan menjadi seorang penulis atau seniman merupakan gerak hati, dan seandainya sudah memilih menjadi penulis atau seniman, maka harus mampu menahan diri untuk tidak tergoda dengan segala kemewahan. Di negeri ini, penulis karya sastra atau pun seniman belum mendapat tempat. Orang lebih memandang pada berapa kekayaan yang dimiliki, atau apa jabatan orang tersebut. Jadilah negeri ini, negeri para penjilat. Penjilat selalu mendapat tempat, padahal para penjilat memiliki kepentingan sesaat.
Untuk meyakinkan diri, Atah Roy membaca berulang kali tulisan mengenai penyair sekaligus teaterawan besar Indonesia, WS Rendra. Dalam tulisan itu Atah Roy membaca keyakinan yang luar biasa dari seorang WS Rendra dalam menghidupkan kelompok seninya, khususnya seni teater. Dalam menghidupkan kelompok teaternya yang diberinama Bengkel Teater Rendra (BTR), Rendra pun membuat ikrar bersama, ikrar inilah yang mengikat anggota kelompok teaternya tidak tergoda oleh nafsu keduniawi.
Ada lima butir ikrar BTR yang menjadi senjata mereka. Pertama, aku milik Tuhan dan hanya mengabdi kepada Tuhan. Kedua, aku tidak akan memiliki yang lebih. Segala yang berlebih akan kami kembalikan kepada Tuhan melalui alam dan kebudayaan. Ketiga, aku setia kepada hati nurani. Keempat, aku setia kepada jalannya alam. Kelima, aku hidup dengan menjunjung nilai-nilai kebudayaan.
Berpegang pada pendirian ini BTR terus bergerak sampai kelompok teater ini tidak pernah takut mengkritik pemerintah yang menyia-nyiakan rakyat. Beberapa kali pula WS Rendra harus berhadapan dengan pihak keamanan, bahkan dipenjara disebabkan sikap kritisnya mengkritis kerja pemerintah. Atah Roy menyimpulkan bahwa WS Rendra dengan seninya menjadi corong suara rakyat. WS Rendra selalu menjadi inspirasi Atah Roy untuk berbuat lebih kepada kesenian, namun Atah Roy belum mampu, karena Atah Roy tidak memiliki kekuatan seperti WS Rendra.
Tidak heranlah apabila di tanah Melayu ini, kesenian beraktivitas apabila ada kegiatan pemerintah. Hidup seni seperti menumpang di tanah milik orang lain. Tidak ada kelompok seni yang mandiri dan mampu mengadakan kegiatan atau pementasan di luar kegiatan yang sudah diagendakan pemerintah.
Pemikiran ingin memiliki kelompok seni yang mampu berdiri kokoh di tanah ini, selalu bermain di benak Atah Roy, namun sampai sekarang Atah Roy Cuma bermimpi di siang hari. Pemikiran ini juga disampaikan Atah Roy kepada kawan lamanya, Mastur, ketika mereka nerjumpa di kedai makan milik Mastur. Mendengar keluh kesah Atah Roy, Mastur hanya senyum-senyum saja. Atah Roy pun tersinggung dengan sikap Mastur.
“Kenape dikau tersenyum-senyum macam mengejek aku aje, Tur? Salahkah yang aku sampaikan?” Atah Roy geram.
“Salah tu tidak, Tah, tapi lucu saje mendengarnye,” Mastur santai sambil menghirup kopinya.
“Dimane letak lucunye?” Atah Roy semakin geram.
“Masih juge Atah bicara kesenian pada zaman ini?” Mastur balik bertanya.
“Kenape dikau bertanye macam itu?” Atah Roy tak puas.
“Atah tidak merasa kalah di negeri sendiri?” Mastur bertanya lagi.
“Maksud dikau?”
“Tah, semue orang yang datang ke tanah ini memiliki kekuasaan, sehingga mereka memiliki kekuatan. Atah bisa saksikan, banyak oarang yang baru datang di tanah ini menjadi pemimpin, sementara Atah terus mengeluh,” Mastur menjelaskan kepada Atah Roy. Atah Roy belum terima.
“Salahkah kalau aku hanya berpegang teguh pada kesenian?” Atah Roy kembali bertanya.
“Salah tu tidak, Tah, tapi dunia kesenian ini yang atah pilih adalah jalan sepi. Seharusnya Atah menempuh jalan ramai, sehingga Atah banyak dikenali orang,” kata Mastur yakin.
“Aku tak butuh dikenal orang banyak,” kata Atah Roy singkat.
“Kalau Atah tak mau dikenali orang, Atah tak usah mengeluh. Bukankah jalan sepi memang harus hidup dengan kesunyian? Dan kesunyian akan membawa pada ruang kekalahan,” kembali Mastur berucap.
“Aku tak paham betul maksud dikau, Tur?” Atah Roy semakin geram.
“Atah, kalau nak berkesenian jangan tanggung. Masuk kesenian secara menyeluruh, sehingga kesenian itu memiliki kekuatan, sehingga ada tawar menawar untuk kehidupn berkesenian,” Mastur mulai geram juga.
“Malas aku nak bercakap dengan dikau ni, Tur, semuenya tak jelas,” Atah Roy lagsung meninggalkan Mastur.
“Kalau Atah Roy tetap bertahan di jalan sepi, Atah jangan marah, kalau nantinya orang lain merajalela tanah ini!” teriak Mastur.
Atah Roy tetap berjalan, tanpa mempedulikan apa yang dikatakan Mastur. Namun di dalam hati Atah Roy berbisik.
“Betul juge ye apa yang dikatekan Mastur, kalau aku jadi gubernur atau bupati, tak susah-susah orang berkesnian,” bisik Atah Roy dalam hati.      

   

Minggu, 11 Maret 2012

Kata Lebai


Atah Roy tak habis pikir, kenapa perkembangan zaman menyebabkan orang-orang memandang masa lalu menjadi sesuatu penghalang. Padahal masa kenen alias masa kini hadir disebabkan masa lalu. Itu sudah pasti. Atah Roy risau, orang kenen kehilangan kesejetian sebagai anak negeri. Mereka, orang kenen menurut Atah Roy, kehilangan identitas disebabkan terlalu percaya kepada pandangan keterbukaan. Tersebab terlalu terbuka, segala yang berasal dari luar masuk. Celakanya, orang kenen di negeri ini belum menyiapkan pondasi kebudayaan yang kuat, mereka langsung membangun kebudayaan baru dengan mengunakan bahan-bahan kebudayaan asing. Tak dapat dipungkiri lagi, jadilah generasi kenen sebagai pendurhaka, tak peduli dengan cakap orang tua lagi. Orang tua juga salah, asik berteking untuk menegak benang basah, tersebab ada kepentingan lain.  
Atah Roy palak alias sakit hati melihat generasi kenen seperti orang buta melanggar nilai-nilai orang yang mendiami negeri ini. Lebih palak lagi, orang tua hanya diam, bahkan ikut-ikutan ambil bagian membelasah nilai itu. Mereka menjadi pengikut tulen, tanpa dapat membedakan mana yang menyinggung keturunannya, dan mana yang harus dikembangkan. Sepele memang, menurut Atah Roy, tapi dapat membunuh dan sekaligus mempermalukan sepanjang masa diri sendiri.
Contoh yang paling sederhana, tetapi memunculkan citra orang menjadi buruk. Kata LEBAI, Atah Roy mencontohkan, bergeser makna menjadi sesuatu yang negatif. Padahal, menurut Atah Roy, kata Lebai identik dengan agama Islam. Orang yang dipanggil Lebai adalah orang alim, mengetahui ajaran agama Islam secara mendalam. Kata Lebai juga bermakna penjaga mesjid atau orang yang mengurus suatu  pekerjaan yang bertalian dengan agama Islam. Hari ini, kata Lebai itu dipermainkan dan menjadi alat mengejek atau menceme’eh orang-orang yang berlebih-lebihan.
Secara tidak langsung, menurut Atah Roy, kata Lebai pada hari ini, memperolok-olok orang alim. Tentu saja, kalau sudah mengolok-olok orang alim, berarti mengolok-olok agama Islam. Atah Roy tidak mau menerima kenyataan ini. Orang kenen, paling tidak orang di kampungnya, harus diselamatkan dari penyelewengan makna kata. Kata Lebai harus kembali kepada maknanya yang sebenarnya.
Atah Roy memutar otak mencari cara mengembalikan makna kata Lebai itu. Terlintas di benak Atah Roy hendak melaksanakan seminar membahas kata Lebai ini, namu dibantah oleh Atah Roy sendiri. Seminar hanya menghabiskan duit. Lagi pula kalau diadakan seminar, hanya diikuti oleh beberapa orang saja. Untung-untung kalau yang mengikut seminar itu membagikan hasil seminar itu pada orang lain. Biasanya kebanyakan yang mengikut seminar hanya mencari sertifikat untuk kenaikan pangkat. Kalau banyak sertifikat, maka banyak pulalah duitnya. Atah Roy tak mau hal seperti itu terjadi, kebenaran ilmiah tidak bisa diperjual belikan. Hehehe… macam ye betul.
Sempat juga Atah Roy terpikir, mengembalikan makna kata Lebai ini dengan mengadakan pementasan drama, namun dibantah Atah Roy kembali. Pementasan drama biayanya besar, sementara orang-orang tidak mau membantu pementasan drama lagi. Orang drama tak pandai mengangkat lanpa alias cari muka pada pejabat negeri ini. Selain itu, orang sudah tak mau menonton drama disebabkan pementasan drama akhir-akhir ini tidak berkualitas. Orang lebih senang menonton tv, yang memperlihatkan cerita dengan memamerkan perempuan cantik, lelaki ganteng, padahal ceritanya sedikit pun tak mendidik.
Pening juga Atah Roy hendak mengembalikan makna kata Lebai ini. Lama Atah Roy berpikir, dan akhirnya niat tulus berbuah solusi yang baik pula. Atah Roy pun bergegas masuk ke kamarnya. Atah Roy membongkar lemari baju, dan mengambil jubah berwarna putih. Tak lupa, Atah Roy juga mengambil sorbannya. Beberapa saat kemudian, Atah Roy sudah seperti orang Arab; pakai jubah dan di kepalanya sorban putih terpasang dengan rapi. “Aku akan cube mengembalikan makna kata Lebai dengan care aku sendiri,” ucap Atah Roy mantap.
Dengan menggunakan jubah berwarna putih dan sorban di atas kepalanya, Atah Roy berjalan keliling kampung. Sikap Atah Roy tenang, memandang penuh dengan makna. Pas di depan kedai Aziz Teling, Atah Roy berjumpe Kadan Botak. Kadang Botak agak heran melihat penampilan Atah Roy.
“Nak kemane, Lebai?” sapa Kadan Botak.
Atah Roy cepat-cepat menghampiri Kadan Botak dan langsung bertanya.
“Ape maksud dikau memanggil aku lebai?”
“Lebai itu kan orang alim, Tah.”
“Bagus, dikau belum tercemar nampaknye,” Atah Roy senang.
“Maksud Atah?” Kadan Botak penasaran.
“Pokoknye, dikau masih bersih. Assalammualaikum,” Atah Roy langsung pergi meninggalkan Kadan Botak. Kadang Botak hanye bisa termenung menenguk Atah Roy pergi begitu saja.
Atah Roy terus berjalan dengan sikap tenangnya. Tidak jauh di depan kantor penghulu, Atah Roy berjumpa Kasim Jalak. Atah Roy tak menyapa Kasim Jalak, karena Atah Roy berharap Kasim terlebih dahulu menyapa. Rupanya harapan Atah Roy menjadi kenyataan.
“Assallammualaikum, Lebai. Dari mane?”
Atah Roy cepat-cepat melangkah mendekati Kasim Jalak. Kasim Jalak agak tergegau alias terkejut juga meneguk Atah Roy bergegas mendekatinya.
“Lebai dari mane?” tanye Kasim Jalak lembut.
“Ape maksud dikau memanggil aku lebai?”
“Kalau dah penampilan macam ini kan, Atah ni dah termasuk pemuka agama,” Kasim Jalak agak takut.
“Dikau masih bersih,” kata Atah roy langsung pergi meninggalkan Kasim Jalak. Kasim Jalak heran, tak tahu apa maksud Atah Roy. Sambil menggaru kepalanya yang tidak gatal, Kasim Jalak pun pergi.
Atah Roy agak senang. Rupanya orang di kampung masih mempertahankan makna kata Lebai itu. Atah Roy pun tersenyum, namun beberapa saat kemudian senyumnya berubah, ketika Leman Lengkung menghampirinya.
“Atah ni ngape lebai betul?” tanye Leman Lengkung.
“Maksud dikau memanggil aku lebai, ape?” Atah Roy agak geram.
“Tah, sebagai anak saudare, aku malu nenguk Atah berpakaian berlebih-lebihan macam ini, tak elok ditenguk orang” Leman Lengkung kesal.
“Budak tak tahu diuntung betul dikau ni, Man! Rupenye anak saudare aku sendiri yang dah tercemar oleh gerakan yang hendak menjatuhkan marwah Islam! Aku juge yang salah!” Atah Roy pergi sambil melepaskan sorbannye. Air mata Atah Roy menggalir ke pipi.
“Maksud, Atah?” Leman Lengkung bertanye, namun Atah Roy tidak peduli. Atah Roy terus pergi.
“Gajah di seberang lautan tampak, tungau di kelopak mata terabaikan,” ucap Atah Roy sedih.