Selamat Datang di Hikayat Atah Roy. Senyum Adalah Keikhlasan yang Tak Terucap

Sabtu, 23 Februari 2013

Hampa



                  
Akhir-akhir ini Atah Roy dilanda kerisauan yang luar biasa; makan tak enak, tidur tak nyenyak, mandi pun ia malas. Buku klasik Melayu, Hikayat Hang Tuah, sudah beberapa hari berada di tangannya. Buku itu sebenarnya sudah beberapa kali pula selesai dibaca oleh Atah Roy, namun Atah Roy seakan tidak bisa melepaskan buku itu dari tangannya. Peristiwa dalam buku itu terus menusuk-tusuk otaknya.
“Raja Alim, raja disebah. Raja zalim, raja disanggah,” kalimat yang melompat dari tokoh Hang Jebat, terus saja mengusik pikiran Atah Roy. Kalimat itu bagi Atah Roy saat ini seperti harapan menuju hamparan cahaya. Namun Atah Roy ragu, kalimat itu akan menjelma menjadi bumerang yang akan menghantam diri orang yang mengucapkan. Bukankah Hang Jebat harus mati di tangan Hang Tuah setelah mengucap dan sekaligus melaksanakan kalimat itu. Hang Jebat dicap sebagai pedurhaka. Apakah pendurhaka namanya ketika kerajaan tidak memberi tempat lagi untuk rakyatnya menghirup udara kemakmuran dan keadilan?
Kekhawatiran Atah Roy bertambah-tambah ketika menyaksikan berita yang terjadi di negeri ini. Semua tokoh yang diharapkan mampu membawa kemakmuran dan kesejahteraan rakyat, tersandung permasalahan yang tidak untuk rakyatnya. Bahakan tokoh-tokoh yang diharapkan itu seperti benalu menusuk ke tubuh rakyat. Mereka seakan memang tidak memperhatikan rakyat. Kepentingan pribadi menghanguskan kepentingan orang banyak.
Atah Roy menggelengkan kepalanya berkali-kali. Tokoh Hang Jebat dalam hikayat itu, menjelma di benaknya. Perubahan yang dibawa Hang Jebat untuk menyadarkan sultan menjadi petaka bagi dirinya. Hang Tuah, orang yang menyebabkan Hang Jebat melakukan perlawanan terhadap sultan, memaksa Hang Jebat untuk mengalah atas kezaliman yang dilakukan sultan.
Atah Roy semakin takut; takut dengan tidak akan muncul orang-orang seperti Hang Jebat di negeri ini. Di negeri ini, pada hari ini, bermunculan orang-orang bermuka seribu; Orang-orang yang menunggu keadaan tidak menentu, dan muncul sebagai pahlawan. Orang-orang yang tidak memiliki rasa malu menjulurkan lidahnnya sepanjang mungkin, demi untuk menjilat orang yang sedang berkuasa. Melompat dari kelompok satu, ke kelompok yang lain untuk meraup keuntungan diri sendiri.
“Sudahlah Tah, tak usah dipikirkan sangat tentang negeri ini. Seperti kapal, negeri ini akan tenggelam. Ini bukan disebabkan nahoda kurang paham Tah, tapi nahoda banyak kehendak. Tujuan perahu dan penumpangnya sederhana saje, perahu sampai pade pelabuhan, penumpangnya bahagia. Sekarang tidak Tah, nahoda asik nak membeluk-beluk perahu ni, agar lame menjadi nahoda di tengah laut bergelombang. Kalau tak ade gelombang, die buat gelombang sendiri, Tah,” ujar Leman Lengkung disaat melihat Atah Roy termenung di kursi tamu rumahnya. Leman Lengkung pun duduk dekat Atah Roy.
“Ape nak dipikirkan lagi Tah, kalau dah semuenye tak dapat diharap,” tambah Leman Lengkung.
Atah Roy menatap Leman Lengkung dengan tatapan penuh makna. Atah Roy tak menyangka, Leman Lengkung yang mewakili generasi muda, kehilangan harapan. Atah Roy pun teringat kisah Hang Nadim, disaat orang dewasa kehilangan akal membendung serangan todak, Hang Nadim muncul dengan pikiran yang berlian menyelesaikan masalah.
“Dikau tak same dengan Hang Nadim, Man,” ucap Atah Roy lirih.
“Tah, negeri ini dah tak menghargai pemikiran berlian untuk menyelamatkan negeri ini de. Orang-orang hanye sibuk mengurus dirinya sendiri. Kalau ade pemikiran untuk menyelamatkan negeri ini dari kehancuran, selalu pemikiran itu dianggap suversif alias kualat alias mendurhaka,” jelas Leman Lengkung yakin.
“Tapi kite tidak boleh menyerah dan menguburkan harapan, Man. Apelagi generasi mude macam dikau ni!” Atah Roy sedikit emosi.
“Di mane harapan nak disangkutkan lagi, Tah? Atah membace dan menyaksikan bagaimane tokoh-tokoh yang katenye nak melakukan perubahan tersangkut masalah diri sendiri. Belum lagi kehendak-kehendak penguasa untuk mempertahankan kekuasaannya, selalu menggunakan care menekan. Kite-kite juga yang jadi korbannye, Tah,” Leman Lengkung bertambah yakin.
“Dikau tidak boleh bercakap macam tu, Man. Hang Nadim tidak pernah gentar mengeluarkan pendapatnye, walaupn akhirnya ia dihukum bunuh,” kata Atah Roy mencoba membangkitkan semangat Leman Lengkung.
“Inilah gambarannye Tah. Hang Nadim harus mati, hal ini disebabkan orang-orang yang memiliki kekuasaan takut Hang Nadim menjadi raksasa dapat mengalahkan mereka. Penguasa di zaman itu juge tidak melihat bahwe ape yang dedahkan Hang Nadim untuk kebaikan orang banyak, mereka hanye melihat Hang Nadim sebagai pengacau sistem yang mereke bangun,” Leman Lengkung teguh pendirian.
“Kalau pemikiran generasi mude macam ni, memang tak ade harapan negeri ini berbenah diri. Aku tak ingin negeri kite ini hancur disebabkan kepentingan-kepentingan sesaat, Man,” suara Atah Roy mulai melemah. Keibaan terasa mendera Atah Roy.
“Kemane kita nak menuangkan gagasan lagi, Tah? Pusat sibuk dengan dirinye sendiri, daerah dah tak tentu arah. Orang-orang hanye bangga dengan dirinye. Setiap kali ade gagasan baru untuk kepentingan orang banyak dianggap nak melawan pemerintahan,” tambah Leman Lengkung lagi.
“Aku teringat Hang Jebat, Man,” ujar Atah Roy seperti mengiba.
“Payah Tah, zaman kenen ni banyak musang berbulu ayam. Bahkan ayam pun dah berbulu musang, kalau tidak memang tak bisa hidup de,” Leman Lengkung tetap yakin dengan pendiriannye.
“Kalau macam ini, ape nak kite buat?” Atah Roy macam frustasi.
“Entahlah Tah, semuenye dah tak dapat diharap lagi,” tutur Leman Lengkung ikut tak bersemangat.
Atah Roy kembali menggelengkan kepalanya. Ia sudah kehilangan akal untuk menyadarkan Leman Lengkung. Buku Hikayat Hang Tuah yang berada di tangannnya beberapa hari ini, diletakkan di atas meja. Atah Roy pun meninggalkan Leman Lengkung sendiri.
“Harapanku yang hampa,” ucap Atah Roy sambil melangkah menuju ke kamarnya.
Leman Lengkung menenguk Atah Roy pergi, kemudian Leman Lengkung berucap,
“Betulkan di negeri ini tidak ade harapan lagi?” tiba-tiba angin membalik halaman buku Hikayat Hang Tuah, Leman Lengkung membaca ucapan Hang Jebat “Raja zalim, raja disanggah. Raja alim, raja disembah.” Leman Lengkung berpikir lalu dari mulutnya bertanya, “Siapa berani?”            

Sabtu, 26 Januari 2013

Puisi



Pada pelantikan Barack Obama menjabat menjadi Presiden Amerika yang kedua kalinya (21/1/2013), kembali pembacaan puisi dipegelarkan. Rupanya pelantikan Presiden Amerika memang identik dengan baca puisi. Puisi menjadi sesuatu perekat diri manusia Amerika. Sebagai ‘perekat’ sekaligus simbol demokrasi, penyair yang membacakan puisi karyanya sendiri itu pun dipilih mewakili keberagaman bangsa Amerika. Terpilihlah Richard Blanco, imigran berdarah Kuba. Richard Blanco lahir di Spanyol kemudian berimigrasi ke Amerika bersama ibunya. Puisi berjudul One Day karya Richard bergema di pelantikan Barack Obama.
Leman Lengkung terkagum-kagum dengan pelantikan Presiden Amerika. Leman Lengkung berpikir bahwa Pemerintah Amerika paham betul meletakkan ‘kehalusan’ yang diemban karya sastra, dijadikan mempersatu bangsanya. Setahu Leman Lengkung, Amerika Serikat yang dihuni oleh imigran dari penjuru dunia, pada awalnya adalah bangsa babar. Amarika Serikat merupakan kawasan pembuangan para pembangkang (penjahat) dari Inggris, Perancis ataupun dari bangsa yang terlebih dahulu maju. Mungkin, pikir Leman Lengkung, puisi dengan kata-kata pilihan dapat dijadikan perahut agar hati lebih peka terhadap kejadian yang ada di sekitar manusia. Betullah tu, One Day karya Richard Blanco itu bercerita tentang Amerika Serikat pada hari ini, pikir Leman Lengkung lagi.
Melihat Leman Lengkung akhir-akhir ini asik membaca karya-karya sastra, terutama puisi, Atah Roy jadi heran. Berdasarkan pengamatan dan kajian Atah Roy selama ini, Leman Lengkung paling tidak suka membaca puisi. Pernah Atah Roy mendengar Leman Lengkung bercakap bahwa untuk apa membaca puisi, bahasa sukar diartikan, dan penyair hanya mementingkan dirinya saja. “Penyair kita hanye menulis peristiwa luke dia aje. Luke disebabkan cintalah, karya sastra tak dibacalah, sampai hal-hal yang remeh-temeh pun dibuat puisi. Sementare masalah sosial yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, diabaikan begitu saje,” cakap Leman Lengkung ini masih tegiang di telinga Atah Roy.
Itulah sebabnya Atah Roy heran menenguk Leman Lengkung, alih-alih suke dengan puisi. Sudah 4 hari Atah Roy memeram keheranannya, namun hari ini Atah Roy tak tahan lagi, apelagi hari ini Leman Lengkung baca puisi dengan bergaya.
“Amboi, amboi dikau, Man, bukan main lagi, bace puisi bergaya macam penyair betul?” ujar Atah Roy.
Leman Lengkung terkejut dan langsung berhenti baca puisi.  Muka Leman Lengkung berubah agak memerah.
“Atah ni, debo saye jadinye. Biaselah Tah, bace puisi harus masuk ke dalamnye, dan bergaya merupekan ekspresi dari puisi yang kite bace,” jelas Leman Lengkung dengan tersipu-sipu.
“Betul tu, Man. Tak salah de, tapi yang aku herankan kenape dikau suke betul dengan puisi akhir-akhir ini?” Atah Roy hendak menyelidik Leman Lengkung.
“Puisi kalau dihayati betul-betul Tah, akan memunculkan semangat kite untuk berjuang mengarungi kehidupan ini. Kate-kate yang dirangkai jadi puisi macam memiliki roh, kate-kate itu menyelinap ke hati, lalu mengunggah kesadaran kite, Tah,” ujar Leman Lengkung panjang lebar.
Atah Roy tersenyum saja. Dalam hati Atah Roy bercakap, “Budak Leman ni, itik pulak hendak diajar berenang,” tapi ucapan itu tidak disampaikan kepada Leman Lengkung. Atah Roy takut Leman Lengkung berkecil hati pula nantinya.
“Puisi juge Tah, membuka celah-celah pengetahuan kite akan pentingnya menghargai manusie lainnye. Pokoknye puisi the bestlah Tah,” Leman Lengkung bersemangat menjelaskan kepada Atah Roy.
“Dah lame aku tahu Man. Dikau aje yang baru tahu,” Atah Roy agak kesal karena diajar Leman Lengkung. “Yang aku herankan dari dikau sekarang ni Man, mengape dikau suke puisi akhir-akhir ini, padahal sebelumnye dikau tak suke?” Atah Roy kembali menyelidik Leman Lengkung.
“Atah tak mengikuti zaman. Makenye Tah, jadi orang tu jangan nonton sinetron aje, sesekali sempatkan diri nonton berita,” ujar Leman Lengkung dengan bangga.
“Aduh Man, bukan main medetus kate-kate dikau masuk ke hati aku! Atah Roy menahan geram. Darahnya sudah sampai ke ubun-ubun.
“Bukan ape-ape Tah, dari beritalah kite tahu perkembangan dunia. Atah nenguk waktu Barack Obama dilantik jadi Presiden Amerika? Tak nengukan?” Leman Lengkung seperti mengejek Atah Roy.
“Man, Man, kalau tali kail panjang sejengkal, jangan lautan dalam hendak diduge. Mulai dari Presiden Amerika Serikat yang pertame, George Washington, sampai Barack Obama, akulah yang menjahit jas mereke. Jadi jangan sombonglah Man!” suara Atah Roy mulai meninggi. “Pertanyaan aku, kenape dikau suke dengan puisi sekarang ni?” nada pertanyaan Atah Roy sudah lain kedengarannya, penuh amarah.
“Tah, waktu Barack Obama dilantik jadi presiden yang pertame, penyair pembaca puisinya bername Elizabeth Alexander, dan pelantikan yang kedue, tampil penyai Richard Blanco. Begitulah dahsyatnye Amerika Serikat memposisikan puisi,” kata Leman Lengkung sambil mengangguk-angguk.
“Selalu macam itu orang kite ni, Man. Semut di seberang lautan nampak, gajah di pelupuk mate, pakai tak nampak aje,” jelas Atah Roy.
“Hubungannye dengan bace puisi di pelantikan Presiden Amerika, Tah?” Leman Lengkung mulai penasaran.
“Orang Melayu sampai sekarang ni tetap menghargai karya-karya sastra, terutame puisi. Cube dikau bukak mate lebo-lebo Man, setiap orang Melayu mengadekan acara pernikahan, puisi selalu dibacekan,” ujar Atah Roy yakin.
“Ape betul tu Tah? Rase saye tak ade de,” Leman Lengkung tak yakin.
“Setiap pengantin lelaki hendak masuk ke rumah pengantin wanita, pihak pengantin lelaki harus pandai pantun untuk membuka kain. Dan begitu juge dengan pihak wanita, harus pandai berpatun. Terjadilah berbalas pantun. Bukankan pantun itu adalah puisi? Dan setiap orang Melayu menikah, berbalas pantun tetap diadekan? Apekah orang Melayu tidak menghargai karya sastra? Jangan dikau macam-macam Man,” Atah Roy menjelaskan kepada Leman Lengkung panjang lebar.
“Ye, tak ye juge ye, Tah. Ngapelah kalau orang kite tak sado ye Tah?” tanya Leman Lengkung.
“Bukan orang lain yang tak sado, dikau tu yang tak sado diri!” kate Atah Roy sambil menekak kepale Leman Lengkung. Leman Lengkung tak berbunyi.
               

Sabtu, 12 Januari 2013

Menggunting Dalam Lipatan





Kepentingan yang berasal dari keserakahan membuat manusia kehilangan akal sehatnya. Persaudaraan, pertemanan menjadi tidak bernilai dan dibunuh untuk mewujudkan keinginannya. Maka dia pun berdiri dan menari di atas penderitaan orang lain. Anehnya, di zaman kenen alias zaman kini, manusia seperti ini dijulang beramai-ramai oleh manusia lainnya. Manusia kenen tidak melihat asal-usul kesuksesan yang diraih seseorang, tetapi manusia kenen lebih mementingkan apa yang mereka dapat dari kesuksesan orang tersebut. Kehidupan ini sebenarnya tidak kejam, manusialah yang menciptakan ianya menjadi kejam.
Atah Roy tidak menyangka bahwa Muslim Bokang sanggup melakukan hal yang tidak terpuji; mengkhianati Dollah Sulah, dan berpihak kepada Jamal Cacing. Padahal Jamal Cacing selama ini selalu menyusahkan Muslim Bokang. Waktu getah alias ojol Sahak Sumbing hilang, Jamal Cacing menuduh Muslim Bokang yang mencurinya. Padahal getah itu dicuri oleh Jamal Cacing, setelah dijual separuh dan separuhnya lagi diletakkan di belakang rumah Muslim Bokang. Akhirnya Muslim Bokang harus mempertanggung jawabkan apa yang tidak dikerjakannya. Dollah Sulahlah yang menyelamatkan Muslim Bokang dengan mengajak damai Sahak Sumbing. Sahak Sumbing setuju, asalkan separuh getahnya yang sudah dijual, diganti. Dollah Sulah menyanggupi mengganti getah yang sudah terjual itu, sehingga Muslim Bokang selamat dari hukuman.
Peristiwa itu belumlah lama berlangsung, dan semenjak peristiwa itu, hubungan Muslim Bokang dengan Dollah Sulah semakin akrab. Mereka saling mengisi. Mereka satu kekuatan dengan dua pikiran dan dua perasaan. Atas usulan Muslim Bokanglah akhirnya Dollah Sulah maju untuk ikut pencalonan Ketua RW. Di sinilah puncanya, Muslim Bokang mengkhianati Dollah Sullah dan berpihak kepada Jamal Cacing. Pengkhianatan Muslim Bokang disebabkan Jamal Cacing menjanjikan akan memberi hak penuh kepada Muslim Bokang mengelola kedai milik koperasi di bawah kekuasaan Ketua RW.
Dari mulut Muslim Bokanglah segala keburukan dan strategi Dollah Sulah diketahui oleh Jamal Cacing. Laporan Muslim Bokang ini menjadi kekuatan Jamal Cacing melumpuhkan Dollah Sulah. Akhirnya fitnah tersebar ke warga dan nama baik Dollah Sulah pun tercemar, warga pun mengalihkan suara mereka kepada Jamal Cacing.
“Tah, ngape termenung macam ayam berak kapur aje Atah ni?” tanya Leman Lengkung melihat Atah Roy duduk termenung di kursi tamu rumah mereka.
“Aku memikirkan kekalahan Dollah Sulah,” jawab Atah Roy sambil menarik nafas panjang.
“Ape hendak dipikirkan Tah, dah 6 bulan pemilihan itu. Kite harus terime dengan lapang dade sajelah pilihan warga,” jelas Leman Lengkung agak arif.
“Menggunting dalam lipatan itu paling bahaye,” ujar Atah Roy dengan nada kesal.
“Sudahlah Tah, semuenye sudah terjadi,” tambah Leman Lengkung.
“Tak semudah itu, Man. Kalau kawasan ini dibangun dengan pengkhianatan, maka selanjutnya pengkhianatan-pengkhianatan merajalela di kawasan kite ini,” ujar Atah Roy.
“Memang perlu pengkhianatan Tah, kalau tidak kekuasaan yang zalim akan tetap berkuase,” Leman Lengkung mencoba menenangkan Atah Roy.
“Suai betul aku dengan cakap dikau tu, Man. Tapi ingat Man, kata pengkhianatan itu tak memandang tempat, yang sering mendapat padahnye dari pengkhianatan itu adalah kekuasan yang baik, kalau ingin menjatuhkan kekuasaan zalim, itu bukan pengkhianatan namenye. Seperti Hang Jebat, die tidak berkhianat kepade Sultan, tapi sultanlah yang berkhianat pade Hang Tuah,” ujal Atah Roy panjang lebar.
“Macam gitu pulak ye, Tah?” Leman Lengkung penasaran.
“Memang macam tu,” jawan Atah Roy singkat.
“Sudahlah Tah, sekarang ni mari kite berpikir tentang diri kite sajelah,” tutur Leman Lengkung selambe.
Mendengar ucapan Leman Lengkung, mata Atah Roy terpendel alias terbelalak menenguk Leman Lengkung. Leman Lengkung jadi serba salah dengan tatapan mata Atah Roy.
“Kalau mate Atah dah macam gini, ini yang tak sedap ni,” kata Leman Lengkung gelisah.
“Kalau dikau bercakap tu Man, pakai otak, jangan pakai lutot. Kalau dikau bercakap pakai lutot, memang terlungkop auop kampung kite ni!” Atah Roy mulai emosi.
“Ngape pulak macam tu, Tah?” Leman Lengkung makin salah tingkah.
“Ingat ye Man, Allah menciptakan manusie itu berkelompok, dan kewajiban kite untuk memikirkan kelompok. Kalau kite hanye berpikir untuk diri sendiri, tak diciptakan manusie ini banyak de, cukup kite berdue aje. Dikau menguasai benua eropa, amerika, aku menguasai benua asia dan afrika, selesai ceritenye Man. Inikan tidak, kite diciptakan di tengah-tengah masyarakat kampung kite ni, dan kite wajib memikirkan kampung kite ni!” Atah Roy semakin geram.
“Kalau macam tu Tah, saye tahu juge.”
“Kalau dikau tahu, ngape dikau berpikiran hanye untuk diri sendiri?” nada Atah Roy semakin meninggi.
“Macam mane kite nak memikirkan orang lain Tah, diri kite sendiri saje terlantar tak tentu arah. Seharusnye kite memikirkan diri kite terlebih dahulu, baru kite memikirkan orang lain,” Leman Lengkung tidak mau kalah.
“Suai aku dengan pendapat dikau tu, Man,” Atah Roy kehilangan argumentasi.
“Kalau Atah suai dengan pendapat saye, macam mane kalau kite meminjam duit di koperasi yang dikelola  Muslim Bokang. Musim hujan ni Tah, kite tak dapat noreh getah,” usul Leman Lengkung.
“Biolah aku tak makan seminggu daripade aku minjam duit ke koperasi itu,” tegas Atah Roy.
“Ngape pulak macam tu, Tah?” Leman Lengkung penasaran lagi.
“Orang yang naik dengan mengkhianati saudarenye, pasti akan melakukan kezaliman di muke bumi ini,” jelas Atah Roy.
“Ape betul, Tah?” Leman Lengkung semakin penasaran.
“Pasti bunge minjam di koperasi itu tak tanggung-tanggung lagi ye?” balik Atah Roy bertanya.
“Kalau terlambat bayo satu hari Tah, dah dihitung membayar dende setengah dari pinjaman kite,” jelas Leman Lengkung.
“Dah aku telah dah. Budak Muslim ni, buat susah orang kampung aje!” geram Atah Roy sambil berdiri dengan emosi tinggi. Atah Roy langsung ke dapur mengambil parang.
“Atah nak kemane dengan parang tu?” tanye Leman Lengkung.
“Aku nak menebas kepale pengkhianat tu. Tak boleh hidup orang macam tu di negeri kite ni de!” geram Atah Roy. Leman Lengkung menahan langkah Atah Roy.
“Sabo Tah, kite harus susun strategi menjatuhkan Muslim Bokang tu,” ucap Leman Lengkung.
Atah Roy pun terduduk dengan nafas terengah-engah menahan emosi.
   
       

Jumat, 07 Desember 2012

Hanya Air Putih


Manusia dilahirkan di muka bumi ini memiliki misteri sendiri-sendiri. Misteri inilah yang membentuk perangai dan tabiat manusia, sehingga manusia itu berbeda-beda. Rupanya ketidakjelasan yang terbungkus dalam misteri menjadi identitas manusia. Ketidakjelasan seperti rel menuntun manusia menuju stasiun ketidakjelasan lainnya. Atah Roy mencoba menyimpulkan bahwa misteri merupakan eksistensi manusia untuk terbebas dari ketidakjelasan menuju ketidakjelasan lainnya.
Misteri itu, menurut buku yang pernah Atah Roy baca, harus tetap ada di kehidupan manusia. Dengan misteri ini, manusia akan berusaha sekuat tenaga dan pikiran memunculkan kekuatan agar terlihat di permukaan misteri itu. Kemunculan manusia inilah yang menjadikan manusia itu dipandang oleh manusia lainnya. Setelah terpandang atau menonjol dari manusia lainnya, maka misteri lain akan menjelma pula. Untuk itulah Atah Roy tidak heran sangat dengan tingkah laku Zakir yang baru datang dari kota.
Kebanyakan orang kota, baik orang kota yang berasal dari kampung, maupun orang yang terlahir di kota, kampung menjadi tempat mencurahkan segala ‘kehendak’ agar mereka lebih dibandingkan dengan yang lain. Dan itulah yang dilakukan Zakir yang baru 2 hari balik kampung.
Untuk memunculkan keberadaannya, Zakir pun berpenampilan berbeda dengan orang kampung. Setiap hari Zakir mengenakan pakaian produk terkenal, sepatu kulit terkenal, jam tangan merk terkenl, walaupun orang kampung tidak tahu itu produk terkenal, tapi bagi Zakir, ia harus terkenal dengan penampilan yang berbeda.
Kedatangan Zakir 2 hari yang lalu, memang menjadi pembicaraan hangat di kalangan pemuda kampung. Di kedai kopi Ngah Tamam, 2 hari ini, Zakir menjadi topik utama, mengalahkan topik harga karet turun drastis atau pun topik mengenai kekalahan tim sepakbola negara ini dari negara jiran. Nama Zakir melompat berulang-ulang kali dari mulut pemuda kampung. Mereka bercerita mulai dari gaya zakir, sampai cerita Zakir yang telah berulang-ulang ke luar negeri.
“Ape kerje Wak Zakir tu, Man?” tanya Yusup Sempot kepada Leman Lengkung.
“Entahlah Sup, kate saudare aku di kota, Wak Zakir tu ade usaha jual beli mobil mewah,” jawab Leman Lengkung sambil menyedot tehesnya.
“Dikau tentu tahu, Man, Wak Zakir tu kan ade hubungan saudare dengan dikau?” tanya Jang Gagak pula.
“Aku takut mengaku saudare, Jang. Awak aje yang mengaku, die tidak, malu awak dibuatnye,” jelas Leman Lengkung.
Atah Roy masuk kedai kopi Ngah Tamam dan duduk di kursi paling sudut. Pemuda-pemuda, termasuk Leman Lengkung melihat serentak ke arah Atah Roy. Atah Roy pura-pura tidak melihat pemuda-pemuda itu.
“Kalau bapak yang baru duduk di sudut tu, baru saudare dikau ye, Man?” Kahar Kongak bergurau.
“Walaupun die macam tu, die tulah bapak saudare aku yang terbaik dunie akhirat,” ucap Leman Lengkung, disambut gelak tawa kawan-kawannya. Kedai kopi Ngah Tamam pecah dengan tawa pemuda-pemuda kampung.
Atah Roy pura-pura tidak tahu saja. Dia tahu bahwa ketawa yang sedang berlangsung itu adalah ketawa menyindir dirinya. Sebagai orang tua, Atah Roy harus bijaksana, apalagi di saat sekarang, nama Zakir jauh meninggalkan populeritas Atah Roy di kampung ini. Seandainya Atah Roy bersikap prontal alias memarahi pemuda kampung di kedai kopi ini, maka semakin melorotlah kepopuleran Atah Roy.
“Kopi O segelas, Mam,” Atah Roy memesan kopi dengan suara berat penuh makna.
Pemuda kampung tahu betul, kalau suara Atah Roy sudah berisi seperti itu, maka ada sesuatu yang tidak kena. Mereka pun diam, ketawa mereka tahan.
“Kalau suare Atah kite dah macam tu, jangankan kite, harimau pun tak berani mengaum lagi,” ujar Yusup Sempot, dan pemuda lain menutup mulutnya agar ketawa tidak lepas membahana di kedai Ngah Tamam ini.
Ngah Tamam membawa secangkir kopi dan sepiring kue ke meja Atah Roy. Ngah Tamam pun duduk.
“Dari mane dikau, Roy? Macam ada yang tak lepas nampaknye ni?” tanye Ngah Tamam kepada Atah Roy.
Belum sempat Atah Roy menjawab pertanyaan Ngah Tamam, pemuda-pemuda berdiri sambil bertepuk tangan. Atah Roy dan Ngah Tamam memandang ke arah pemuda. Rupanya Wak Zakir sudah berada di kedai itu.
Wak Zakir dengan gaya yang dibuat-buat wibawa mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan dia langsung duduk di kelompok pemuda.
“Dari mane, Wak?”
“Bertambah ganteng aje Wak awak ni.”
“Pasti Wak ade gagasan nak mengubah kampung kite ni?”
“Wak memang tak ade lawan.”
Pemuda-pemuda silih berganti memuja-muji Wak Zakir. Lubang hidung Wak Zakir pun semakin mengembang.
“Air putih segelas, Mam,” pinta Wak Zakir.
Pemuda-pemuda terdiam. Mereka saling berpandangan. Mereka heran kenapa Wak Zakir hanya meminta air putih. Kalau setakat air putih, tak perlulah singgah kedai kopi, pikir mereka.
“Pesan air putih aje, Wak?” tanya Kahar Kongak.
“Ye. Kenape?” tanya Wak Zakir.
“Tak ade pesan lain ke?” tanya Yusup Sempot pula.
“Tak. Ade masalah?” tanye Wak Zakir pulak.
“Kalau nak minum air putih, di umah aje, Wak. Ini kedai kopi, paling tidak pesan air kopi,” tambah Jang Gagak.
“Ooo... macam tu.”
“Memang macam tulah kebiasaan di kedai kopi, dari dulu sampai sekarang, Wak,” tambah Leman Lengkung.  
“Sebetulnye, aku lupe bawak duit,” jelas Wak Zakir.
Dari sudut suara Atah Roy menggema.
“Air putih je, tak ade yang lain ke?”
Pemuda-pemuda memandang ke arah Atah Roy. Mereka tersenyum malu. Di benak pemuda-pemuda kampung membuat kesimpulan masing-masing dan mengatakan kalau orang masuk kedai kopi hanya memesan air putih, ada due penyebabnye. Satu, tak ade duit dan kedue, orang itu pelokik. Dan mereka menyimpulkan Wak Zakir, beso cerita, tak sesuai kenyataan dengan ceritanya. Pemuda-pemuda kampung pun menghampiri Atah Roy. Atah Roy santai saja.
           

Sabtu, 03 November 2012

Kepentingan


Pada zaman kenen alias zaman modern ini, ruang-ruang persahabatan, persaudaraan selalu dijadikan lahan untuk membangun kepentingan sesaat. Orang-orang berdiri atas nama kepentingan. Orang-orang berteriak, atas nama kepentingan. Segala perbuatan yang dilakukan orang-orang modern selalu mengarah kepada kepentingan. Jadilah orang-orang hari ini saling memanfaatkan. Orang yang ingin jadi pimpinan memanfaatkan rakyat, dan rakyat juga memanfaatkan orang yang mau jadi pimpinan. Keuntungan menjadi target utama.
Untuk mengantisipasi inilah, Atah Roy menjaga jarak dengan Leman Lengkung. Atah Roy takut keikhlasan yang selama ini dilakukan membantu Leman Lengkung, berubah menjadi alat memanfaatkan Leman Lengkung. Walaupun Leman Lengkung itu anak saudaranya, namun Atah Roy tidak mau ternoda oleh umpatan. Mengutamakan kepentingan akan menghasilkan umpatan, dan umpatan inilah yang akan berbuah ketidakharmonisan. Kalau sudah tidak harmonis, maka tersumbatlah lorong menunuju kesejahteraan. Balas dendam pun akan terjadi.
Atah Roy sudah merasakan bahwa tingkah laku Leman Lengkung sudah mulai menyalah, tidak seperti biasanya. Pastilah ada sesuatu di balik tingkahlaku Leman Lengkung yang tidak biasa itu. Selalu saja, tingkahlaku yang tidak biasa dari seseorang ada keinginan di baliknya. Atah Roy paham betul dengan Leman Lengkung. Keseharian Leman Lengkung itu jarang sekali memuji apa yang dilakukan oleh Atah Roy. Setiap Atah Roy berbuat, Leman Lengkung selalu membantah pada awalnya. Setelah terjadi adu argumentasi, berdebat mempertahan pendapat, dan apabila masuk akalnya, barulah Leman Lengkung sependapat dengan Atah Roy. Ini tidak, Leman Lengkung tau setuju apa yang dilakukan Atah Roy.
Kebiasaan Leman Lengkung yang berubah 180 drajat ini, menyebabkan Atah Roy berhati-hati mengeluarkan kebijakan. Atah Roy teringat lirik Gurindam 12 karya Raja Ali Haji yang kira-kira berbunyi seperti ini; mengumpat dan memuji hendaklah pikir, di situ banyak orang jatuh tergelincir. Atah Roy selalu menjaga agar orang-orang disekelilingnya tidak memuji berkelebihan. Sebab menurut Atah Roy, orang yang dipuji sering lupa diri, dan lupa diri inilah yang menyebabkan dia jatuh. Atah Roy juga teringat lirik Gurindam 12 lagi; barang siapa mengenal diri, maka ia tahu Tuhan yang bahari.
Orang yang mabuk akan pujian, menurut Atah Roy, pasti akan kehilangan akal sehatnya. Kehilangan akal sehat menyebabkan orang tidak rasional lagi mengatasi masalah ataupun sewenang-wenang melakukan sesuatu. Atah Roy tidak ingin dijungjung di atas pujian, biarlah ia melakukan sesuatu itu dikritik, sehingga dengan kritik itu, menurut Atah Roy, terbuka segala kelemahan. Pujian, kata Atah Roy, lebih dalam menusuk hati dibandingkan kritik.
Di tengah Atah Roy berpikir mengenai Leman Lengkung yang berubah dalam sekejap mata saja, tiba-tiba Leman Lengkung sudah berada di sampingnya dengan senyum menghias bibirnya. Atah Roy agak terkejut melihat Leman Lengkung datang tiba-tiba.
“Dikau ni macam semut, Man, tecium je bau gule, dah tercongguk dekat gule,” ujar Atah Roy.
“Siape lagi yang melindungi bapak saudare, Tah, kalau bukan anak saudarenye. Bukan begitu, Atahku tersayang?” Leman Lengkung dengan basabasinya.
“Tak salahlah tu, memang betullah tu. Kate orang-orang dulu, air dicincang tidak akan putus,” tambah Atah Roy hati-hati. Atah Roy menjaga agar jarum pujian Leman Lengkung tidak menusuk ke jantungnya.
“Tah, saye sangat salut dengan Atah ni, apa yang Atah kerjekan, semuenye jadi. Ape yang Atah pikirkan terwujud. Sebenonye Tah, ape yang Atah pakai ni?” Leman Lengkung mulai mengasah pujian.
“Aku pakai celana, pakai baju, itu aje,” jawab Atah Roy hendak tendak saja.
“Atah jangan berguraulah,” ujar Leman Lengkung agak kecewa.
“Kan betul apa yang aku cakap tu, Man?”
“Kalau itu, budak kecik pun tahu, Tah. Maksud saye tu, Atah ade pakai barang gaib, sehingge ape yang Atah buat tau menjadi je. Dan paling saye salut dengan Atah ni, semue orang kampung percaye cakap Atah. Saye betul-betul bangga menjadi anak saudare Atah, betul-betul bangga,” ucap Leman Lengkung berapi-api.
“Man, sebenonye dikau hendak ape dari aku?” Atah Roy mencoba mencongkel keinginan Leman Lengkung.
“Ngape Atah bertanye macam itu? Saye bercakap macam tu, sesuai dengan kenyataan. Semue yang Atah kerjekan berdampak positif. Pemikiran Atah menjadi laluan orang untuk berbuat lebih baik lagi. Tingkah laku Atah menjadi cermin orang kampung ini. Semue yang Atah buat, semue gagasan Atah, macam suluh di malam gulita,” Leman Lengkung meyakinkan Atah Roy.
“Man, perubahan yang tibe-tibe di diri dikau, menyebabkan aku khawatir. Aku khawatir pujian dikau ada terselubung kepentingan untuk menguntungkan diri enkau sendiri. Aku lebih senang dikau mengeritik aku dibandingkan dikau memuji aku. Kalau dikau punye kepentingan, cakap. Jangan dikau memuji-memuji tidak tentu arah. Pujian membuat kepale aku bertambah beso, kalau kepale aku dah beso, make aku nenguk orang kecik semue. Semue orang tak bergune di mate aku. Sebagai seorang yang terpelajar, dikau seharus memilah mane yang harus dipuji dan mane yang harus dikau kritik,” Atah Roy sudah mulai geram dengan Leman Lengkung.
Kalau Atah Roy dah bercakap panjang lebar ini, Leman Lengkung selalu kehilangan akal.
“Anu, Tah...., Anu....,”
“Anu kebende, Man?” Atah Roy memotong Leman Lengkung.
“Anu, Tah, saye nak minjam duit pade Atah, nak beli beli motor baru. Atah kan baru dapat duit dari hasil menjual ojol,” kata Leman Lengkung jujur, sambil mengaru kepalanya yang tidak gatal.
“Allah, Man. Dah aku telah dah, pasti dikau ade kepentingan memuji aku,” Atah Roy menarik nafas panjang, sambil menggelengkan kepalanya.
“Boleh saye pinjam duit Atah?” mata Leman Lengkung terkebel-kebel memandang Atah Roy.
“Minta maaf, Man, karene dikau memuji aku ada kepentingan lain, jangankan nak minjam beli motor, nak minjam beli jarum pun, aku tak kasi,” ujar Atah Roy geram sambil meninggalkan Leman Lengkung seorang diri.
“Teganye Atah,” suara Leman Lengkung iba.
“Pujian mengandung kepentingan, membuat orang jatuh tak berharge, Man!” ucap Atah Roy dari jauh. Leman Lengkung tertunduk lesu.       
   
       

Kamis, 01 November 2012

Politik Ni, Wak




Mendengar kata politik, orang-orang selalu mencebir. Kata politik menjadi virus kebencian yang menjangkit di setiap nadi orang-orang di negeri ini. Politik berkonotasi buruk, bahkan tak jarang orang-orang berpendapat bahwa politik adalah ‘dunia dosa’. Maka banyaklah orang-orang tidak percaya kepada orang yang terjun ke dunia politik. Namun di satu sisi, orang politik memiliki peranan besar membuat jalur untuk melayari negeri ini. Walaupun dibenci, tapi banyak juga orang yang masih ingin terjun ke dunia politik. Ada apa dan bagaimana sebenarnya politik itu?
Sebagai orang awam dan tidak mengecap pendidikan tinggi, Atah Roy juga ikut-ikutan mengecam politik merupakan ajang tipu muslihat. Kesimpulan ini dibuat Atah Roy berdasarkan pengalaman di kampungnya. Katan Tetel, jiran Atah Roy, menjadi bukti nyata yang dirasakan Atah Roy untuk menyimpulkan politik itu buruk.
Katan Tetel, sebelum menjadi anggota parlemen mewakili kampungnya, merupakan orang yang paling susah untuk berbuat janji. Hal ini disebabkan, bagi Katan Tetel, janji merupakan utang yang harus dilunaskan, dan tidak melunasi janji adalah dosa. Kalaupun Katan Tetel berbuat janji, janji itu dilunasi sebelum waktu kesepakatan. Pokonya, Katan Tetel menjadi panutan di kampung. Itu sebabnya, ketika Katan Tetel mencalonkan diri menjadi anggota dewan, tidak bersanggah lagi, Katan Tetel memperoleh suara yang sangat memuaskan. Sembilan puluh persen orang kampung memilih Katan Tetel. Duduklah Katan Tetel menjadi anggota dewan.
Namun setelah duduk menjadi anggota parlemen, pegangan hidup Katan Tetel berubah seratus delapan puluh derajat. Katan Tetel menjadi orang yang paling manis berbicara, namun tidak pernah lagi mewujudkan apa yang ia uceri iniapkan. Katan Tetel pun sudah jarang balik kampung, ia asik sibuk ke provinsi atau pun ke pusat. Janji-janji yang diucapkan, hanya seperti angin lalu, tidak pernah ada buktinya.
Pada awalnya, Atah Roy menyangka bahwa kesibukanlah yang menyebabkan Katan Tetel berubah. Maklum, sebagai anggota dewan, Katan Tetel tidak saja mengurus orang kampung, tapi mengurus masalah negeri ini. Namun sudah berjalan dua tahun Katan Tetel menjadi anggota dewan, pembengaknya menjadi-jadi. Atah Roy pun menyimpulkan bahwa Katan Tetel memang sudah berubah. Janji Katan Tetel mau memperbaiki jambatan, jalan dan fasilitas umum di kampung pun tidak pernah terwujud. Katan Tetel lebih banyak muncul di koran-koran dengan program-programnya membangun kampung, namun jarang sekali balik kampung.
Orang-orang kampung mendesak Atah Roy menemui Katan Tetel. Atah Roy ditunjuk oleh orang kampung disebabkan, selain mereka berjiran, Atah Roy juga tokoh yang disegani di kampung. Waktu Katan Tetel mencalonkan diri menjadi anggota dewan, Atah Roy ikut mendukung Katan Tetel.
Atah Roy menyanggupi apa yang diamanahkan orang kampung kepadanya. Mulailah Atah Roy bergerilya mencari nomor handphone Katan Tetel yang aktif. Sudah lima nomor yang didapat Atah Roy, namun satu pun nomor handphone Katan Tetel tak aktif. Padahal dulu, nomor handphone cuma satu, dan aktif dua puluh empat jam. Atah Roy mulai geleng kepala. “Ngape pulak macam gini jadinye budak Katan ni?” ucap Atah Roy setelah menghubungi nomor handphone Katan Tetel yang kelima.
Pintu kemudahan memang selalu terbuka untuk niat yang baik. Sedang Atah Roy frustrasi, Leman Lengkung datang membawa kabar gembira.
“Tah, Atah pasti sedang pening mencari nomor hp Katan Tetel kan?” tanye Leman Lengkung dengan raut wajah gembira.
“Dah tahu aku pening, dikau bertanye pulak. Sekali aku lempang, baru tahu dikau, Man!” ujar Atah Roy emosi.
“Tah, menghadapi masalah tu, jangan emosi, tak baik. Tak ade satu pun pekerjaan selesai dengan sempurna kalau dikerjekan dengan emosi,” Leman Lengkung menasehati Atah Roy.
“Eeeeee..., budak ni, die pulak menasehati awak. Tahunye aku, Man. Aku ni lebih dulu makan asam garam dibandingkan dengan dikau. Jangan dikau nak menasehati aku pulak!” Atah Roy bertambah emosi.
“Ini nomor hp Katan Tetel yang aktif,” Leman Lengkung tak mau mengambil resiko dimarahi Atah Roy, dan Leman Lengkung menyerahkan nomor handphone Katan Tetal kepada Atah Roy.
Atah Roy langsung menekan nomor-nomor yang ada di handphonenya sesuai dengan nomor yang diberikan Leman Lengkung. Nomor yang dihubungi Atah Roy tersambung, namun tak diangkat. Atah Roy menggulang beberapa kali, tidak juga diangkat.
“Sms dulu, Tah. Kadangkala orang tak mau ngangkat kalau name tak muncul di hp,” saran Leman Lengkung.
Atah Roy memandang Leman Lengkung dengan rasa kesal, karena merasa diajar. Atah Roy tak membalas kata-kata Leman Lengkung, dia langsung menulis pesan singkat ke nomor Katan Tetel. “Tan, ini aku, Atah Roy, tolong kau angkat aku nelpon kau,” bunyi sms Atah Roy ke handphone Katan Tetel.
Beberapa detik kemudian, handphone Atah Roy berdering. Atah Roy melihat ke layar handphonenya, muncul nomor Katan Tetel.
“Assallammualaikum, Roy. Aku minta maaf sebelumnye, aku tak tahu nomor hp dikau,” suara Katan Tetel terdengar.
“Walaikumsallam. Payah betul nak menghubungi dikau ni, Tan, sudah lima nomor hp dikau aku hubungi, satu pun tak aktif,” ujar Atah Roy agak kesal.
“Maklum Roy, kadang orang-orang menelpon mintak duit terus, macam awak ni pemilik bank pulak,” suara Katan Tetel terdengar angkuh ditelinga Atah Roy.
“Tan, aku nelpon dikau ni, tak mintak duit, tapi aku cume nak menyampikan amanah orang kampung, bahwa dikau dah tak amanah lagi. Selalu janji yang dikau buat tak pernah dikau tepati. Orang-orang kampung mintak aku menyampaikan kepade dikau masalah ini. Dikau dah jauh berubah, Tan,” ujar Atah Roy tersinggung dengan ucapan Katan Tetel.
“Ini politik, Wak. Kite harus pandai-pandai bermain, salah setengah langkah, kite binase. Ini politik, Wak, penuh dengan trik berbahaye. Jadi aku harus pandai-pandai mengatur strategi. Ini politik, Wak,” jawab Katan Tetel.
“Kalau dah masuk politik, kite harus jadi pembengak?” tanye Atah Roy geram.
“Ini politik, Wak. Tak ade hitam atau putih, yang ade hanye abu-abu. Aku harus pandai-pandai, kalau tidak aku terdepak. Ini politik, Wak,” tambah Katan Tetel.
“Ini politik, Wak..., ini politik, Wak, kepale hotak engkau! Makan politik engkau tu!” Atah Roy makin geram.
“Sabo. Ini politik, Wak...,” belum selesai kalimat Katan Tetel, Atah Roy menutup pembicaraan.
“Apekah politik menyebabkan orang berubah?” tanye Atah Roy pelan.
“Entah,” jawab Leman Lengkung sambil terganga.   

Minggu, 21 Oktober 2012

Jangan Lupakan Kampung


Desa alias kampung, kata Iwan Fals dalam lagunya, merupakan kekuatan untuk membangun negeri ini. Melupakan kampung sama saja kita membuang kekuatan negeri ini. Negeri ini dilahirkan oleh pemikiran orang kampung. Lihatlah orang kampung mencintai tanah kelahiran mereka; mereka tidak pernah segan menyerahkan harta benda mereka. Atah Roy terkenang bagaimana Sulaiman Sangap, Pak Cik Atah Roy, menyerahkan tanah milik untuk pembangunan kantor kepala kampung. Cik Azimah, tanpa beban sedikitpun, mewakafkan tanahnya untuk pemakaman umum kampung. Semua dilakukan orang kampung dengan ikhlas.
Begitu juga Iwan Buncit, senantiasa membantu orang-orang kampung yang dalam kesusahan. Belum lagi orang-orang kampung saling bergotong royong membatu pesta pernikahan suatu keluarga. Semua mereka lakukan dengan keikhlasan, tiada saksuasangka sedikit pun.
Kegeraman Atah Roy kepada orang kota, selalu menganggap orang kampung tidak berguna, membebankan pembangunan. Dan yang paling membuat Atah Roy bertambah geram, orang kota selalu mengatakan ‘kampungan’ apabila ada orang kota melakukan kesalahan. Kata ‘kampungan’ berkonotasi jelek, tidak berguna, tertinggal, padahal dari kampunglah cita-cita negeri ini di bangun.
Kegeraman Atah Roy sudah tidak dibendung ladi, dengan kekuatan yang ia punya, Atah Roy berkeinginan mengadakan pertemuan orang kampung se dunia. Pertemuan orang kampung se dunia ini, menurut pikiran Atah Roy, akan mengeluarkan pernyataan tidak percaya kepada orang kota. Orang kampung se dunia akan membaikot segala kebutuhan orang kota; tidak ada hasil pertanian, tidak ada ikan segar, pokoknya apa yang menjadi kebutuhan orang kota, dibabat habis.
Untuk mengumpul tokoh-tokoh kampung se dunia, Atah Roy pun mulai membuka internet. Ia dengan tekun mencari tokoh-tokoh kampung se dunia. Sudah empat hari, empat malam, Atah Roy tunak di depan komputernya, namun sampai hari keempat, Atah Roy belum juga menemukan tokoh-tokoh yang dapat dihubungi.
“Ngapelah ngentam berita di internet ini, tak satu pun tokoh kampung yang muncul. Lebih banyak berita tentang bintang film, tokoh politik yang selalu mencari sensasi,” kutuk Atah Roy dalam hati.
Atah Roy tidak mau patah arang. Ia dengan kayakinan besar, percaya bahwa banyak tokoh kampung di dunia ini dikabarkan di media internet ini.
“Aku yakin, pasti ade tokoh kampung di dunia ini diberitakan,” bisik Atah Roy dalam hati.
Sedang seriusnya Atah Roy mencari tokoh kampung di internet, Leman Lengkung menghampirinya. Leman Lengkung duduk di sebelah Atah Roy. Sebenarnya Leman Lengkung mau bertanya 2 hari yang lalu, namun niatnya itu dikurung dalam-dalam. Leman Lengkung paham betul, apabila Atah Roy diganggu ketika sedang serius, maka maki hamun yang akan melumpat dari mulut Atah Roy. Rasa ingin tahu Leman Lengkung sudah tak bisa ditahan lagi, apalagi melihat Atah Roy sudah mulai bisa diajak berdiskusi.
“Ape yang Atah cari di ineternet sebetulnye ni? Dah masuk empat hari empat malam, Atah Roy tak pakai beranjak sekejap pun depan komputer ni? Kalau saye dapat bantu, saye akan bantu Atah,” ujar Leman Lengkung.
“Sepatutnya, engkau memang bisa membantu aku, tapi sebagai orang tue, aku tidak boleh menyerah. Aku dibesokan di kampung, dan bagi orang kampung menyerah itu merupekan aib beso,” Atah Roy menjawab, namun matanya masih tetap di layar komputer.
“Tah, saye ini keponakan Atah. Sebagai keponakan Atah, saye juge ikut prihatin dengan kondisi Atah,” tambah Leman Lengkung.
“Berat hati aku nak mintak tolong dengan dikau, Man. Bukan aku tak percaye dengan kemampuan dikau, tapi aku malu sebagai orang tue, aku harus dapat menyelesaikan permasalahan aku sendiri,” ucar Atah Roy yakin.
“Tapi, kalau sudah tak mampu, jangan dipaksekan Tah. Atah selalu menesehati saye, bahwa tolong menolong harus senantiase kite kembangkan pade diri kite. Itulah yang diajarkan orang kampung dari dulu sampai sekarang,” kata Leman Lengkung yakin.
“Kalau betul dikau nak membantu aku, aku nak bertanye suatu hal,” kate Atah Roy.
“Ape tu, Tah?”
“Pernah dikau terbace di internet atau media lainnye, bahwa ade tokoh kampung yang diberitakan atas prestasi yang dibuatnye?”
“Sampai saat ini Tah, belum pernah saye membace berita mengenai orang kampung yang berprestasi diberitakan. Kalau tentang bintang film, banyak, Tah. Atah nak buat ape?” tanye Leman Lengkung.
“Itulah yang memeningkan kepala aku ni. Tak mungkinlah tak ade seorang pun orang kampung yang berprestasi,” jelas Atah Roy.
“Atah nak buat ape dengan berita tokoh kampung yang berprestasi tu?” tanye Leman Lengkung lagi.
“Aku nak mengadakan pertemuan tokoh kampung se dunia, nak melawan orang kota yang arogan itu,” jelas Atah Roy.
Leman Lengkung tertawa terbahak-bahak. Melihat Leman Lengkung tertawa, Atah Roy naik geram.
“Ngape dikau ketawe? Aku lempang kang, baru tahu dikau, Man!” ujar Atah Roy geram.
“Atah..., Atah, di dunie ini, kecuali di negeri kite ini, dah tak ade kampung lagi, Tah. Negara orang dah maju semuenye. Walaupun maju, mereka tetap menjunjung semangat kampung menjadi kekuatan membangun negara mereke, Tah,” jelas Leman Lengkung.
“Ape ye, Man?” tanye Atah Roy.
“Ye, Tah,” jawab Leman Lengkung.
Atah Roy pun tersandar di kursinya, sambil memegang kepalanya.
“Kite selalu tertinggal,” keluh Atah Roy.