Selamat Datang di Hikayat Atah Roy. Senyum Adalah Keikhlasan yang Tak Terucap

Sabtu, 30 Maret 2013

“Dimana Kan Kucari Ganti”*



Mengenang Satu Tahun Meninggalnya Hasan Junus

Hasan Junus, di kalangan seniman nama beliau disingkat HJ. HJ menghembus nafas terakhirnya pada tanggal 30 Maret 2012. Sastra adalah hidupnya, maka bicara tentang sastra Riau, tidak dapat tidak nama HJ merupakan nama terdepan dalam kesusastraan Riau. Hari-harinya adalah puisi, pergantian waktu adalah prosa. HJ tidak pernah merasa jemu berhadapan dengan karya sastra dan tidak pernah pula letih menciptakan karya sastra. Dari bacaan dan pikiran beliau, karya-karya sastra asing dapat dinikmati di kolom Rampai yang terbit di Riau Pos setiap hari Ahad. Namun semuanya hanya jadi kenangan setelah beliau tiada.
Hasan Junus merupakan ‘Biksu’ sastra Riau yang tidak pernah pelit membentangkan ilmu-ilmu yang ia miliki kepada siapapun juga. Bagi HJ, semakin banyak orang menimba ilmu sastra darinya, semakin membuat dia bergairah. Beliau pun selalu berpesan bahwa untuk menjadi seorang penulis karya sastra, membaca, membaca dan membaca merupakan modal utama. Dia juga selalu berharap bahwa karya sastra haruslah menjadi pohon besar yang akarnya menghujam ke tanah, daunnya dapat tempat berteduh dan bermusim di sembarang musim.
Karya-karya yang dihasilkan Hasan Junus, selalu meletakkan kekuatan lokalitas Melayu Riau menjadi identitas dalam karyanya. Walaupun beliau memamah bermacam karya sastra asing, namun tetap pada karya yang ia hasilkan ‘bau’ kemelayuannya tercium. Begitu juga dengan karya-karya asing yang beliau terjemahkan, padanan kata yang dipilih sangat dekat dengan hati orang Melayu.
Salah satu contoh karya HJ yang kental nuangsa Melayu, namun tidak kalah dengan pikiran barat adalah naskah drama Burung Tiung Seri Gading. Membaca dan melihat naskah ini dipentaskan, maka konsep-konsep teater atau drama atau sandiwara Bangsawan sangat terasa. Apabila diteliti secara mendalam, naskah Burung Tiung Seri Gading ini penuh makna filosofi baik Timur maupun Barat. Dalam naskah ini, selain disuguhkan cerita yang menawan, bahasa yang digunakan juga memiliki kedalaman makna yang luar biasa. Bahasanya ‘bersayap’ alias tidak tertuju apa yang diucap, tetapi pada makna di balik yang diucapkan itu.
Inilah salah satu contoh kekuatan naskah drama yang dihasilkan oleh orang Melayu, terutama orang Melayu Riau (baik Provinsi Kepulauan Riau maupun Provinsi Riau). Hasan Junus menyadarai benar, bahwa kesusastraan merupakan kekuatan orang Melayu, sehingga beliau tidak pernah frustasi terus menggali karya-karya Melayu lama dan dibancuhkan dengan karya-karya sastra Barat.
Spirit menyakini bahwa kesusastraan merupakan jalan hidupnya, menjadi kekuatan sastra Riau. HJ pun tidak pernah berhenti ‘mendengung-dengungkan’ karya sastra dimanapun dan kapanpun. Dengan telaahnya yang mendalam, dan juga kehebatannya mencpitakan karya sastra, HJ dengan lantang pada tahun 90-an mengikrarkan Mazhab Sastra Riau. Keunikkan dan kekuatan bahasa dalam karya sastra Riau merupakan roh mazhab sastra Riau tersebut. HJ semakin genjar membandingkan karya-karya sastra Riau dengan karya-karya sastra asing. Perbandingan yang dilakukan HJ menjadi kekuatan baru pula bagi sastrawan-sastrawan Riau lainnya.
Kini sudah satu tahun HJ mendahului kita. Tiada lagi kita dapat menyaksikan gaya bicara HJ yang penuh semangat. Bicara tentang kesusastraan, HJ tidak akan pernah kehabisan bahan, semua yang ada pada dirinya dituangkan untuk membangkitkan semangat penulis-penulis muda. Gaya bicara yang penuh ekspresi ditambah gerakan-gerakan tubuh adalah ciri khas HJ. Setiap kali berjumpa dengan dia, terlambat kita menegurnya, HJ yang terlebih dahulu mendengur, Seperti seorang prajurit, HJ selalu mengangkat tangan kanannya dan memberi hormat kepada siapa saja yang ditemuinya. Hasan Junus tidak membedakan antara usia, siapa saja yang berminat dengan sastra, bagi HJ adalah kawannya, tak peduli muda atau pun tua.
Seperti burung api, HJ telah ‘membakar’ dirinya dengan menekuni dunia sastra. Apa yang ia dapat dari dunia sastra sudah pula menjelma di setiap penulis yang pernah berjumpa dan bicara dengan-nya. Sudah setahun dia pergi, kita rindu gaya bicaranya, kita rindu pemikirannya yang dituangkan dalam tulisan, namun Rampai itu telah usai, kitalah yang harus melanjutkan. Hidup ini tidak pernah mengenal kata akhir. Patah satu, tumbuh seribu. Mengenangmu Ayahanda HJ, kami memang terasa sunyi.

*Lirik lagu P. Ramlee    

Minggu, 24 Maret 2013

Masih Berkesenian


Konsep berkesenian orang Melayu adalah memberi manfaat dan berfaedah untuk orang yang menikmati kesenian itu. Sebagai orang Melayu, Atah Roy berpegang teguh kepada konsep tersebut. Tanpa ada pikiran lain, yang penting penikmat kesenian tanah ini terpuaskan, Atah Roy pun rela menyediakan waktu, pikiran, tenaga dan juga duit untuk tetap berkesenian. Atah Roy dengan semangat berapi-api mengumpulkan beberapa pemuda-pemudi untuk menaja perhelatan kesenian.
Semangat mengebu-ngebu Atah Roy tidak direspon Leman Lengkung. Di benak pikiran Leman Lengkung terbayang dua tahun yang lalu, bagaimana peningnya Atah Roy setelah menaja hajatan yang sama pada hari. Waktu itu Atah Roy juga menaja pementasan teater alias drama alias sandiwara. Setelah perhelatan selesai Atah Roy pening untuk membayar utang akibat perhelatan kesenian tersebut. Leman Lengkung tidak mau kejadian itu terulang kembali pada Atah Roy saat ini.
Leman Lengkung berusaha menghasut pemuda-pemudi di kampung tidak mendukung keinginan Atah Roy menaja perhelatan yang sama. Hasutan Leman Lengkung akhirnya singgah juga ke telinga Atah Roy. Atah Roy naik pitam alias geram setengah mati pad Leman Lengkung. Dengan emosi meluap-luap, Atah Roy pun mendatangi Leman Lengkung yang sedang sibuk mengumpulkan getah di kebun.
“Ape maksud dikau menghalang-halang aku untuk berkesenian, Man?” pertanyaan Atah Roy bernada geram.
“Saye tak menghalang Atah, tapi saye takut Atah gile disebabkan berkesenian,” jawab Leman Lengkung dengan tenang.
“Maksud dikau ape?” Atah Roy semakin geram.
“Ape yang Atah dapat dari berkesenian?” balik Leman Lengkung bertanya.
“Kepuasan bathin itu melebihi segale-galenye, Man. Dan dengan berkesenian, bathin aku terpuaskan!” Atah Roy menjawab masih dengan nada emosi.
“Kepuasan bathin seperti ape, Tah? Setelah mengadekan pementasan drama, lepas itu Atah dikejo-kejo orang untuk menagih utang, apekah itu yang dinamekan kepuasan bathin, Tah?” Leman Lengkung mulai berani.
“Dikau jangan mengaju itik berenang, Man. Aku ini dah banyak makan asam garam berkesenian. Kawan-kawan aku kan banyak, dan perusahaan di kampung kite ini mau membantu perhelatan ini semue!” sergah Atah Roy.
“Dulu Atah bercakap macam itu juge, tapi nyatenye tak satu pun kawan Atah dan juge perusahaan itu tak membantu Atah. Atah sorang yang menanggung semuenye, sampai-sampai hasil penjualan getah kite semuenye terpakai untuk membayo utang Atah itu,” Leman Lengkung juga meninggikan suaranya.
“Ini menyangkut marwah kite sebagai orang Melayu, Man. Kalau tak kite yang menjage marwah kite melalui seni, siape lagi? Kesenianlah yang masih dapat diharapkan mejage marwah orang Melayu pade hari ini. Dikau jangan lupe Man, dengan seni identitas diri orang Melayu dipertahankan!” ujar Atah Roy panjang lebar.
“Itu menurut Atah, tapi tidak orang Melayu lainnye. Atah bisa tenguk, bagaimane kesenian pade hari ini hanye untuk kepentingan politis, kalau ade pejabat atau tokoh masyarakat nak sesuatu, baghu kesenian dijulang-julang. Begitu juge orang berkesenian hari ini disebabkan faktor kedekatan dengan orang-orang penting. Sementare Atah, jangankan dekat dengan orang penting, dengan Pek RT aje tak dekat Atah menjauh. Dari mane Atah nak nutup biaya pementasan drama Atah tu? Terpakse juge hasil getah kite ini jadi sasarannye,” jelas Leman Lengkung panjang lebar.
“Dikau jangan menghina aku, Man. Kalau dikau tak ikhlas membantu aku, tak usah dikau bantu aku lagi, lebih baik kite putus persaudaraan anak-beranak!” Atah Roy bertambah emosi, dan langsung meninggalkan Leman Lengkung sendiri.
“Kalau aku bercakap, tahu salah je. Payah jadi anak saudare ni,” Leman Lengkung besungut.
Atah Roy dengan geram melangkahkan kakinya. Sambil melangkah, Atah Roy berpikir apa yang dikatakan Leman Lengkung tadi. Dalam hati Atah Roy membenarkan apa yang dikatakan Leman Lengkung. Pengalaman sudah banyak, setiap kali mengadakan pertunjukan seni, pasti utang berkeliling pinggang.
“Kadang ade betul juge ape yang dikatekan Leman tu, tapi kalau tak berbuat, lain pulak perasaan ini,” bisik Atah Roy dalam hati.
Atah Roy pun terbayang masa lampau, dimana dia pernah mau membunuh diri dengan terjun ke laut, gara-gara utang setelah perhelatan seni. Kepuasan bathin setelah pementasan hanya sekejap, tapi kelukaan bathin disebabkan utang pementasan lama. Atah Roy jadi ragu untuk tetap berkesenian.
“Aku harus ambil sikap, aku harus tetap berkesenian. Utang atau pun rugi, itu bisa diselesaikan, tapi rugi atau utang hati, tidak bisa terganti!” Atah Roy menjawab keraguannya sendiri. Dengan semangat tetap berapi-api, Atah Roy akan mengadakan perhelatan atau pementasan drama dengan melibatkan lebih banyak orang lagi.
“Pantang Melayu surut ke belakang!” ujar Atah Roy yakin.         

Sabtu, 16 Maret 2013

Drama Politik


Dunia politik di negeri ini, memang sangat mengkhawatirkan. Para petinggi kelompok yang mengatasnamakan untuk kesejahteraan, ketentraman dan kedamaian rakyat ini, terbabet masalah. Rakyat kehilangan kepercayaan kepada figur-figur yang dibesar-besarkan oleh partai politik. Partai politik seperti sarang untuk menetaskan para ‘penjahat’. Tokoh-tokoh muda, sebelum masuk partai politik, terkenal dengan ‘kebengisan’ ideologi tinggi, menjadi seperti seekor kerbau. Tiada bersuara untuk kebenaran orang ramai, yang ada hanya kebenaran golongan, Maka rekayasa menjadi senjata untuk menumbangkan, menguburkan, dan juga menjadi propaganda membangun citra.
Sebagai seorang aktivis drama dulunya, Atah Roy selalu tampil sebagai sutradara. Kerja seorang sutradara ‘mengakali’ peristiwa, ruang, dan waktu sehingga menghasilkan drama berkualitas tinggi. Para aktor atau pemain drama, memang dipersiapkan menjadi tokoh-tokoh dalam lakonan. ‘Mengakali’ dalam drama yang sesungguhnya merupakan upaya menarik rasa simpatik penonton, sehingga penonton betah menonton drama itu sampai selesai.
Rekayasa dalam drama merupakan keharusan. Ianya bukan bertujuan untuk menipu penonton, tetapi ingin penonton masuk dalam peristiwa, ruang dan waktu yang didedahkan pada pementasan drama itu. Bukankah drama yang baik dapat mengajak penonton merasakan apa yang terjadi di atas panggung? Bagaimana dengan drama politik?
Atah Roy menggaru-garukan kepalanya yang tidak gatal. Dua kata ini, drama politik, mengusik pikiran Atah Roy akhir-akhir ini. Dua kata itu menjadi perbincangan hangat di kedai kopi Nah Me’un. Orang-orang menjadi pintar menganalisis peristiwa di negeri ini. Mereka seperti penonton yang memang masuk dalam peristiwa itu, dan memang ada benarnya. Sebab para ‘pelakon’ yang sedang berperan di panggung drama politik itu adalah orang-orang yang menentukan nasib rakyat kecil.
“Drama politik di negeri kite ini, bertambah gawat. Semue aktor utamanya terlibat saling menyerang, semue nak jadi protagonis,” ujar Sidik Cengkung sambil meneguk kopinya.
“Parahnya lagi, pengikut-pngikut atau kalau dalam drama tokoh-tokoh pigurannye, membela membabi bute mendukung siape yang punye banyak duit dan kekuasaan,” tambah Ijal Pelo.
“Kite memang dibuat bingung dengan permasalahan negeri kite ini, tokoh-tokoh utama sibuk membangun konflik, sementara kebutuhan keseharian hargenye melambung tinggi. Belum lagi duit untuk kebutuhan rakyat dipelupuh ramai-ramai. Tukang pelupuh tu pulak dah kehilangan rasa keibaannye; baik yang macam ustazd sampai macam preman dah tak ade bede lagi, belantak melupuh duit rakyat,” tambah Tamam Tengkes geram.
“Yang menyakitkan hati, mereke semue tidak pulak merase bersalah. Bahkan menganggap diri mereke itu sang pembela kehidupan rakyat,” kata Yusup Cacing pula.
Atah Roy menggeleng-geleng kepala. Dengan seksama Atah Roy mendengar percakapan orang-orang di sebelah mejanya.
“Atah Roy, ape Atah tak ade komen kedaan negeri kite sekarang ni?” tiba-tiba Tamam Tengkese bertanya kepada Atah Roy.
Atah Roy menarik nafas panjang, lalu Atah Roy menatap satu persatu orang-orang itu, kemudian Atah Roy tersenyum.
“Usah senyum-senyum je Tah, masalah negeri ini tidak selesai dengan senyum de,” ujar Ijal Pelo.
“Aku tersenyum mendengo mike-mike bebual ni, macam ye betul, padahal ape ke tidak aje,” jawab Atah Roy.
“Atah, tak sedap betul bunyi kate-kate Atah tu, bebulu telinge saye mendengonye,” sindir Yusup Cacing.
“Makan boleh sembaarang makan Tah, tapi cakap jangan sembarang cakap!” tambah Tamam Cengkung geram.
“Kalau hanye sekadar mengomentar ape yang terjadi di negeri kite ni, tak ade gunenye de. Kalau betul kite mencintai negeri ini dengan setulus hati, mari kite bergerak dengan melakukan perlawanan. Kalau perlu sabutase semue kebijakkan yang telah mereka buat. Jangan bercakap aje, yang kite butuhkan sekarang ini aksi, bukan bebual di kedai kopi. Dan aku berharap pade aksi itu tidak ade tawar-menawar lagi,” jawab Atah Roy panjang lebar.
“ Ape maksud Atah dengan  ucapan ‘tak ade tawar-menawar’ tu?” tanya Tamam Cengkung.
“Maksudnye, orang atau kite nantinye melakukan perlawanan terhadap aktor-aktor utama negeri kite ni, tak gentar dan tak melunak dengan ape pun bujukan. Selame ini para aktor-aktor yang berteriak dengan aksi melawan kebijakan ini, lemah apebile dikasi duit setumpuk. Mereke berpaling arah, lalu memuto luan mereke, bahkan lebih geram lagi, mereke masuk pulak dalam sistem yang hendak mereke runtuhkan itu. Kalau dah macam ini, jangan harap negeri ini akan berubah!” ujar Atah Roy geram.
“Jadi, kite harus mecam mane?” tanye Usup Cacing.
“Diam je?” Tamam Cengkung ragu.
“Kite sehrusnye aksi, protes terus sampai perubahan itu memang datang dari hati orang-orang mendiami negeri kite ini,” tambah Atah Roy dengan yakin.  

Sabtu, 23 Februari 2013

Hampa



                  
Akhir-akhir ini Atah Roy dilanda kerisauan yang luar biasa; makan tak enak, tidur tak nyenyak, mandi pun ia malas. Buku klasik Melayu, Hikayat Hang Tuah, sudah beberapa hari berada di tangannya. Buku itu sebenarnya sudah beberapa kali pula selesai dibaca oleh Atah Roy, namun Atah Roy seakan tidak bisa melepaskan buku itu dari tangannya. Peristiwa dalam buku itu terus menusuk-tusuk otaknya.
“Raja Alim, raja disebah. Raja zalim, raja disanggah,” kalimat yang melompat dari tokoh Hang Jebat, terus saja mengusik pikiran Atah Roy. Kalimat itu bagi Atah Roy saat ini seperti harapan menuju hamparan cahaya. Namun Atah Roy ragu, kalimat itu akan menjelma menjadi bumerang yang akan menghantam diri orang yang mengucapkan. Bukankah Hang Jebat harus mati di tangan Hang Tuah setelah mengucap dan sekaligus melaksanakan kalimat itu. Hang Jebat dicap sebagai pedurhaka. Apakah pendurhaka namanya ketika kerajaan tidak memberi tempat lagi untuk rakyatnya menghirup udara kemakmuran dan keadilan?
Kekhawatiran Atah Roy bertambah-tambah ketika menyaksikan berita yang terjadi di negeri ini. Semua tokoh yang diharapkan mampu membawa kemakmuran dan kesejahteraan rakyat, tersandung permasalahan yang tidak untuk rakyatnya. Bahakan tokoh-tokoh yang diharapkan itu seperti benalu menusuk ke tubuh rakyat. Mereka seakan memang tidak memperhatikan rakyat. Kepentingan pribadi menghanguskan kepentingan orang banyak.
Atah Roy menggelengkan kepalanya berkali-kali. Tokoh Hang Jebat dalam hikayat itu, menjelma di benaknya. Perubahan yang dibawa Hang Jebat untuk menyadarkan sultan menjadi petaka bagi dirinya. Hang Tuah, orang yang menyebabkan Hang Jebat melakukan perlawanan terhadap sultan, memaksa Hang Jebat untuk mengalah atas kezaliman yang dilakukan sultan.
Atah Roy semakin takut; takut dengan tidak akan muncul orang-orang seperti Hang Jebat di negeri ini. Di negeri ini, pada hari ini, bermunculan orang-orang bermuka seribu; Orang-orang yang menunggu keadaan tidak menentu, dan muncul sebagai pahlawan. Orang-orang yang tidak memiliki rasa malu menjulurkan lidahnnya sepanjang mungkin, demi untuk menjilat orang yang sedang berkuasa. Melompat dari kelompok satu, ke kelompok yang lain untuk meraup keuntungan diri sendiri.
“Sudahlah Tah, tak usah dipikirkan sangat tentang negeri ini. Seperti kapal, negeri ini akan tenggelam. Ini bukan disebabkan nahoda kurang paham Tah, tapi nahoda banyak kehendak. Tujuan perahu dan penumpangnya sederhana saje, perahu sampai pade pelabuhan, penumpangnya bahagia. Sekarang tidak Tah, nahoda asik nak membeluk-beluk perahu ni, agar lame menjadi nahoda di tengah laut bergelombang. Kalau tak ade gelombang, die buat gelombang sendiri, Tah,” ujar Leman Lengkung disaat melihat Atah Roy termenung di kursi tamu rumahnya. Leman Lengkung pun duduk dekat Atah Roy.
“Ape nak dipikirkan lagi Tah, kalau dah semuenye tak dapat diharap,” tambah Leman Lengkung.
Atah Roy menatap Leman Lengkung dengan tatapan penuh makna. Atah Roy tak menyangka, Leman Lengkung yang mewakili generasi muda, kehilangan harapan. Atah Roy pun teringat kisah Hang Nadim, disaat orang dewasa kehilangan akal membendung serangan todak, Hang Nadim muncul dengan pikiran yang berlian menyelesaikan masalah.
“Dikau tak same dengan Hang Nadim, Man,” ucap Atah Roy lirih.
“Tah, negeri ini dah tak menghargai pemikiran berlian untuk menyelamatkan negeri ini de. Orang-orang hanye sibuk mengurus dirinya sendiri. Kalau ade pemikiran untuk menyelamatkan negeri ini dari kehancuran, selalu pemikiran itu dianggap suversif alias kualat alias mendurhaka,” jelas Leman Lengkung yakin.
“Tapi kite tidak boleh menyerah dan menguburkan harapan, Man. Apelagi generasi mude macam dikau ni!” Atah Roy sedikit emosi.
“Di mane harapan nak disangkutkan lagi, Tah? Atah membace dan menyaksikan bagaimane tokoh-tokoh yang katenye nak melakukan perubahan tersangkut masalah diri sendiri. Belum lagi kehendak-kehendak penguasa untuk mempertahankan kekuasaannya, selalu menggunakan care menekan. Kite-kite juga yang jadi korbannye, Tah,” Leman Lengkung bertambah yakin.
“Dikau tidak boleh bercakap macam tu, Man. Hang Nadim tidak pernah gentar mengeluarkan pendapatnye, walaupn akhirnya ia dihukum bunuh,” kata Atah Roy mencoba membangkitkan semangat Leman Lengkung.
“Inilah gambarannye Tah. Hang Nadim harus mati, hal ini disebabkan orang-orang yang memiliki kekuasaan takut Hang Nadim menjadi raksasa dapat mengalahkan mereka. Penguasa di zaman itu juge tidak melihat bahwe ape yang dedahkan Hang Nadim untuk kebaikan orang banyak, mereka hanye melihat Hang Nadim sebagai pengacau sistem yang mereke bangun,” Leman Lengkung teguh pendirian.
“Kalau pemikiran generasi mude macam ni, memang tak ade harapan negeri ini berbenah diri. Aku tak ingin negeri kite ini hancur disebabkan kepentingan-kepentingan sesaat, Man,” suara Atah Roy mulai melemah. Keibaan terasa mendera Atah Roy.
“Kemane kita nak menuangkan gagasan lagi, Tah? Pusat sibuk dengan dirinye sendiri, daerah dah tak tentu arah. Orang-orang hanye bangga dengan dirinye. Setiap kali ade gagasan baru untuk kepentingan orang banyak dianggap nak melawan pemerintahan,” tambah Leman Lengkung lagi.
“Aku teringat Hang Jebat, Man,” ujar Atah Roy seperti mengiba.
“Payah Tah, zaman kenen ni banyak musang berbulu ayam. Bahkan ayam pun dah berbulu musang, kalau tidak memang tak bisa hidup de,” Leman Lengkung tetap yakin dengan pendiriannye.
“Kalau macam ini, ape nak kite buat?” Atah Roy macam frustasi.
“Entahlah Tah, semuenye dah tak dapat diharap lagi,” tutur Leman Lengkung ikut tak bersemangat.
Atah Roy kembali menggelengkan kepalanya. Ia sudah kehilangan akal untuk menyadarkan Leman Lengkung. Buku Hikayat Hang Tuah yang berada di tangannnya beberapa hari ini, diletakkan di atas meja. Atah Roy pun meninggalkan Leman Lengkung sendiri.
“Harapanku yang hampa,” ucap Atah Roy sambil melangkah menuju ke kamarnya.
Leman Lengkung menenguk Atah Roy pergi, kemudian Leman Lengkung berucap,
“Betulkan di negeri ini tidak ade harapan lagi?” tiba-tiba angin membalik halaman buku Hikayat Hang Tuah, Leman Lengkung membaca ucapan Hang Jebat “Raja zalim, raja disanggah. Raja alim, raja disembah.” Leman Lengkung berpikir lalu dari mulutnya bertanya, “Siapa berani?”            

Sabtu, 26 Januari 2013

Puisi



Pada pelantikan Barack Obama menjabat menjadi Presiden Amerika yang kedua kalinya (21/1/2013), kembali pembacaan puisi dipegelarkan. Rupanya pelantikan Presiden Amerika memang identik dengan baca puisi. Puisi menjadi sesuatu perekat diri manusia Amerika. Sebagai ‘perekat’ sekaligus simbol demokrasi, penyair yang membacakan puisi karyanya sendiri itu pun dipilih mewakili keberagaman bangsa Amerika. Terpilihlah Richard Blanco, imigran berdarah Kuba. Richard Blanco lahir di Spanyol kemudian berimigrasi ke Amerika bersama ibunya. Puisi berjudul One Day karya Richard bergema di pelantikan Barack Obama.
Leman Lengkung terkagum-kagum dengan pelantikan Presiden Amerika. Leman Lengkung berpikir bahwa Pemerintah Amerika paham betul meletakkan ‘kehalusan’ yang diemban karya sastra, dijadikan mempersatu bangsanya. Setahu Leman Lengkung, Amerika Serikat yang dihuni oleh imigran dari penjuru dunia, pada awalnya adalah bangsa babar. Amarika Serikat merupakan kawasan pembuangan para pembangkang (penjahat) dari Inggris, Perancis ataupun dari bangsa yang terlebih dahulu maju. Mungkin, pikir Leman Lengkung, puisi dengan kata-kata pilihan dapat dijadikan perahut agar hati lebih peka terhadap kejadian yang ada di sekitar manusia. Betullah tu, One Day karya Richard Blanco itu bercerita tentang Amerika Serikat pada hari ini, pikir Leman Lengkung lagi.
Melihat Leman Lengkung akhir-akhir ini asik membaca karya-karya sastra, terutama puisi, Atah Roy jadi heran. Berdasarkan pengamatan dan kajian Atah Roy selama ini, Leman Lengkung paling tidak suka membaca puisi. Pernah Atah Roy mendengar Leman Lengkung bercakap bahwa untuk apa membaca puisi, bahasa sukar diartikan, dan penyair hanya mementingkan dirinya saja. “Penyair kita hanye menulis peristiwa luke dia aje. Luke disebabkan cintalah, karya sastra tak dibacalah, sampai hal-hal yang remeh-temeh pun dibuat puisi. Sementare masalah sosial yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, diabaikan begitu saje,” cakap Leman Lengkung ini masih tegiang di telinga Atah Roy.
Itulah sebabnya Atah Roy heran menenguk Leman Lengkung, alih-alih suke dengan puisi. Sudah 4 hari Atah Roy memeram keheranannya, namun hari ini Atah Roy tak tahan lagi, apelagi hari ini Leman Lengkung baca puisi dengan bergaya.
“Amboi, amboi dikau, Man, bukan main lagi, bace puisi bergaya macam penyair betul?” ujar Atah Roy.
Leman Lengkung terkejut dan langsung berhenti baca puisi.  Muka Leman Lengkung berubah agak memerah.
“Atah ni, debo saye jadinye. Biaselah Tah, bace puisi harus masuk ke dalamnye, dan bergaya merupekan ekspresi dari puisi yang kite bace,” jelas Leman Lengkung dengan tersipu-sipu.
“Betul tu, Man. Tak salah de, tapi yang aku herankan kenape dikau suke betul dengan puisi akhir-akhir ini?” Atah Roy hendak menyelidik Leman Lengkung.
“Puisi kalau dihayati betul-betul Tah, akan memunculkan semangat kite untuk berjuang mengarungi kehidupan ini. Kate-kate yang dirangkai jadi puisi macam memiliki roh, kate-kate itu menyelinap ke hati, lalu mengunggah kesadaran kite, Tah,” ujar Leman Lengkung panjang lebar.
Atah Roy tersenyum saja. Dalam hati Atah Roy bercakap, “Budak Leman ni, itik pulak hendak diajar berenang,” tapi ucapan itu tidak disampaikan kepada Leman Lengkung. Atah Roy takut Leman Lengkung berkecil hati pula nantinya.
“Puisi juge Tah, membuka celah-celah pengetahuan kite akan pentingnya menghargai manusie lainnye. Pokoknye puisi the bestlah Tah,” Leman Lengkung bersemangat menjelaskan kepada Atah Roy.
“Dah lame aku tahu Man. Dikau aje yang baru tahu,” Atah Roy agak kesal karena diajar Leman Lengkung. “Yang aku herankan dari dikau sekarang ni Man, mengape dikau suke puisi akhir-akhir ini, padahal sebelumnye dikau tak suke?” Atah Roy kembali menyelidik Leman Lengkung.
“Atah tak mengikuti zaman. Makenye Tah, jadi orang tu jangan nonton sinetron aje, sesekali sempatkan diri nonton berita,” ujar Leman Lengkung dengan bangga.
“Aduh Man, bukan main medetus kate-kate dikau masuk ke hati aku! Atah Roy menahan geram. Darahnya sudah sampai ke ubun-ubun.
“Bukan ape-ape Tah, dari beritalah kite tahu perkembangan dunia. Atah nenguk waktu Barack Obama dilantik jadi Presiden Amerika? Tak nengukan?” Leman Lengkung seperti mengejek Atah Roy.
“Man, Man, kalau tali kail panjang sejengkal, jangan lautan dalam hendak diduge. Mulai dari Presiden Amerika Serikat yang pertame, George Washington, sampai Barack Obama, akulah yang menjahit jas mereke. Jadi jangan sombonglah Man!” suara Atah Roy mulai meninggi. “Pertanyaan aku, kenape dikau suke dengan puisi sekarang ni?” nada pertanyaan Atah Roy sudah lain kedengarannya, penuh amarah.
“Tah, waktu Barack Obama dilantik jadi presiden yang pertame, penyair pembaca puisinya bername Elizabeth Alexander, dan pelantikan yang kedue, tampil penyai Richard Blanco. Begitulah dahsyatnye Amerika Serikat memposisikan puisi,” kata Leman Lengkung sambil mengangguk-angguk.
“Selalu macam itu orang kite ni, Man. Semut di seberang lautan nampak, gajah di pelupuk mate, pakai tak nampak aje,” jelas Atah Roy.
“Hubungannye dengan bace puisi di pelantikan Presiden Amerika, Tah?” Leman Lengkung mulai penasaran.
“Orang Melayu sampai sekarang ni tetap menghargai karya-karya sastra, terutame puisi. Cube dikau bukak mate lebo-lebo Man, setiap orang Melayu mengadekan acara pernikahan, puisi selalu dibacekan,” ujar Atah Roy yakin.
“Ape betul tu Tah? Rase saye tak ade de,” Leman Lengkung tak yakin.
“Setiap pengantin lelaki hendak masuk ke rumah pengantin wanita, pihak pengantin lelaki harus pandai pantun untuk membuka kain. Dan begitu juge dengan pihak wanita, harus pandai berpatun. Terjadilah berbalas pantun. Bukankan pantun itu adalah puisi? Dan setiap orang Melayu menikah, berbalas pantun tetap diadekan? Apekah orang Melayu tidak menghargai karya sastra? Jangan dikau macam-macam Man,” Atah Roy menjelaskan kepada Leman Lengkung panjang lebar.
“Ye, tak ye juge ye, Tah. Ngapelah kalau orang kite tak sado ye Tah?” tanya Leman Lengkung.
“Bukan orang lain yang tak sado, dikau tu yang tak sado diri!” kate Atah Roy sambil menekak kepale Leman Lengkung. Leman Lengkung tak berbunyi.
               

Sabtu, 12 Januari 2013

Menggunting Dalam Lipatan





Kepentingan yang berasal dari keserakahan membuat manusia kehilangan akal sehatnya. Persaudaraan, pertemanan menjadi tidak bernilai dan dibunuh untuk mewujudkan keinginannya. Maka dia pun berdiri dan menari di atas penderitaan orang lain. Anehnya, di zaman kenen alias zaman kini, manusia seperti ini dijulang beramai-ramai oleh manusia lainnya. Manusia kenen tidak melihat asal-usul kesuksesan yang diraih seseorang, tetapi manusia kenen lebih mementingkan apa yang mereka dapat dari kesuksesan orang tersebut. Kehidupan ini sebenarnya tidak kejam, manusialah yang menciptakan ianya menjadi kejam.
Atah Roy tidak menyangka bahwa Muslim Bokang sanggup melakukan hal yang tidak terpuji; mengkhianati Dollah Sulah, dan berpihak kepada Jamal Cacing. Padahal Jamal Cacing selama ini selalu menyusahkan Muslim Bokang. Waktu getah alias ojol Sahak Sumbing hilang, Jamal Cacing menuduh Muslim Bokang yang mencurinya. Padahal getah itu dicuri oleh Jamal Cacing, setelah dijual separuh dan separuhnya lagi diletakkan di belakang rumah Muslim Bokang. Akhirnya Muslim Bokang harus mempertanggung jawabkan apa yang tidak dikerjakannya. Dollah Sulahlah yang menyelamatkan Muslim Bokang dengan mengajak damai Sahak Sumbing. Sahak Sumbing setuju, asalkan separuh getahnya yang sudah dijual, diganti. Dollah Sulah menyanggupi mengganti getah yang sudah terjual itu, sehingga Muslim Bokang selamat dari hukuman.
Peristiwa itu belumlah lama berlangsung, dan semenjak peristiwa itu, hubungan Muslim Bokang dengan Dollah Sulah semakin akrab. Mereka saling mengisi. Mereka satu kekuatan dengan dua pikiran dan dua perasaan. Atas usulan Muslim Bokanglah akhirnya Dollah Sulah maju untuk ikut pencalonan Ketua RW. Di sinilah puncanya, Muslim Bokang mengkhianati Dollah Sullah dan berpihak kepada Jamal Cacing. Pengkhianatan Muslim Bokang disebabkan Jamal Cacing menjanjikan akan memberi hak penuh kepada Muslim Bokang mengelola kedai milik koperasi di bawah kekuasaan Ketua RW.
Dari mulut Muslim Bokanglah segala keburukan dan strategi Dollah Sulah diketahui oleh Jamal Cacing. Laporan Muslim Bokang ini menjadi kekuatan Jamal Cacing melumpuhkan Dollah Sulah. Akhirnya fitnah tersebar ke warga dan nama baik Dollah Sulah pun tercemar, warga pun mengalihkan suara mereka kepada Jamal Cacing.
“Tah, ngape termenung macam ayam berak kapur aje Atah ni?” tanya Leman Lengkung melihat Atah Roy duduk termenung di kursi tamu rumah mereka.
“Aku memikirkan kekalahan Dollah Sulah,” jawab Atah Roy sambil menarik nafas panjang.
“Ape hendak dipikirkan Tah, dah 6 bulan pemilihan itu. Kite harus terime dengan lapang dade sajelah pilihan warga,” jelas Leman Lengkung agak arif.
“Menggunting dalam lipatan itu paling bahaye,” ujar Atah Roy dengan nada kesal.
“Sudahlah Tah, semuenye sudah terjadi,” tambah Leman Lengkung.
“Tak semudah itu, Man. Kalau kawasan ini dibangun dengan pengkhianatan, maka selanjutnya pengkhianatan-pengkhianatan merajalela di kawasan kite ini,” ujar Atah Roy.
“Memang perlu pengkhianatan Tah, kalau tidak kekuasaan yang zalim akan tetap berkuase,” Leman Lengkung mencoba menenangkan Atah Roy.
“Suai betul aku dengan cakap dikau tu, Man. Tapi ingat Man, kata pengkhianatan itu tak memandang tempat, yang sering mendapat padahnye dari pengkhianatan itu adalah kekuasan yang baik, kalau ingin menjatuhkan kekuasaan zalim, itu bukan pengkhianatan namenye. Seperti Hang Jebat, die tidak berkhianat kepade Sultan, tapi sultanlah yang berkhianat pade Hang Tuah,” ujal Atah Roy panjang lebar.
“Macam gitu pulak ye, Tah?” Leman Lengkung penasaran.
“Memang macam tu,” jawan Atah Roy singkat.
“Sudahlah Tah, sekarang ni mari kite berpikir tentang diri kite sajelah,” tutur Leman Lengkung selambe.
Mendengar ucapan Leman Lengkung, mata Atah Roy terpendel alias terbelalak menenguk Leman Lengkung. Leman Lengkung jadi serba salah dengan tatapan mata Atah Roy.
“Kalau mate Atah dah macam gini, ini yang tak sedap ni,” kata Leman Lengkung gelisah.
“Kalau dikau bercakap tu Man, pakai otak, jangan pakai lutot. Kalau dikau bercakap pakai lutot, memang terlungkop auop kampung kite ni!” Atah Roy mulai emosi.
“Ngape pulak macam tu, Tah?” Leman Lengkung makin salah tingkah.
“Ingat ye Man, Allah menciptakan manusie itu berkelompok, dan kewajiban kite untuk memikirkan kelompok. Kalau kite hanye berpikir untuk diri sendiri, tak diciptakan manusie ini banyak de, cukup kite berdue aje. Dikau menguasai benua eropa, amerika, aku menguasai benua asia dan afrika, selesai ceritenye Man. Inikan tidak, kite diciptakan di tengah-tengah masyarakat kampung kite ni, dan kite wajib memikirkan kampung kite ni!” Atah Roy semakin geram.
“Kalau macam tu Tah, saye tahu juge.”
“Kalau dikau tahu, ngape dikau berpikiran hanye untuk diri sendiri?” nada Atah Roy semakin meninggi.
“Macam mane kite nak memikirkan orang lain Tah, diri kite sendiri saje terlantar tak tentu arah. Seharusnye kite memikirkan diri kite terlebih dahulu, baru kite memikirkan orang lain,” Leman Lengkung tidak mau kalah.
“Suai aku dengan pendapat dikau tu, Man,” Atah Roy kehilangan argumentasi.
“Kalau Atah suai dengan pendapat saye, macam mane kalau kite meminjam duit di koperasi yang dikelola  Muslim Bokang. Musim hujan ni Tah, kite tak dapat noreh getah,” usul Leman Lengkung.
“Biolah aku tak makan seminggu daripade aku minjam duit ke koperasi itu,” tegas Atah Roy.
“Ngape pulak macam tu, Tah?” Leman Lengkung penasaran lagi.
“Orang yang naik dengan mengkhianati saudarenye, pasti akan melakukan kezaliman di muke bumi ini,” jelas Atah Roy.
“Ape betul, Tah?” Leman Lengkung semakin penasaran.
“Pasti bunge minjam di koperasi itu tak tanggung-tanggung lagi ye?” balik Atah Roy bertanya.
“Kalau terlambat bayo satu hari Tah, dah dihitung membayar dende setengah dari pinjaman kite,” jelas Leman Lengkung.
“Dah aku telah dah. Budak Muslim ni, buat susah orang kampung aje!” geram Atah Roy sambil berdiri dengan emosi tinggi. Atah Roy langsung ke dapur mengambil parang.
“Atah nak kemane dengan parang tu?” tanye Leman Lengkung.
“Aku nak menebas kepale pengkhianat tu. Tak boleh hidup orang macam tu di negeri kite ni de!” geram Atah Roy. Leman Lengkung menahan langkah Atah Roy.
“Sabo Tah, kite harus susun strategi menjatuhkan Muslim Bokang tu,” ucap Leman Lengkung.
Atah Roy pun terduduk dengan nafas terengah-engah menahan emosi.
   
       

Jumat, 07 Desember 2012

Hanya Air Putih


Manusia dilahirkan di muka bumi ini memiliki misteri sendiri-sendiri. Misteri inilah yang membentuk perangai dan tabiat manusia, sehingga manusia itu berbeda-beda. Rupanya ketidakjelasan yang terbungkus dalam misteri menjadi identitas manusia. Ketidakjelasan seperti rel menuntun manusia menuju stasiun ketidakjelasan lainnya. Atah Roy mencoba menyimpulkan bahwa misteri merupakan eksistensi manusia untuk terbebas dari ketidakjelasan menuju ketidakjelasan lainnya.
Misteri itu, menurut buku yang pernah Atah Roy baca, harus tetap ada di kehidupan manusia. Dengan misteri ini, manusia akan berusaha sekuat tenaga dan pikiran memunculkan kekuatan agar terlihat di permukaan misteri itu. Kemunculan manusia inilah yang menjadikan manusia itu dipandang oleh manusia lainnya. Setelah terpandang atau menonjol dari manusia lainnya, maka misteri lain akan menjelma pula. Untuk itulah Atah Roy tidak heran sangat dengan tingkah laku Zakir yang baru datang dari kota.
Kebanyakan orang kota, baik orang kota yang berasal dari kampung, maupun orang yang terlahir di kota, kampung menjadi tempat mencurahkan segala ‘kehendak’ agar mereka lebih dibandingkan dengan yang lain. Dan itulah yang dilakukan Zakir yang baru 2 hari balik kampung.
Untuk memunculkan keberadaannya, Zakir pun berpenampilan berbeda dengan orang kampung. Setiap hari Zakir mengenakan pakaian produk terkenal, sepatu kulit terkenal, jam tangan merk terkenl, walaupun orang kampung tidak tahu itu produk terkenal, tapi bagi Zakir, ia harus terkenal dengan penampilan yang berbeda.
Kedatangan Zakir 2 hari yang lalu, memang menjadi pembicaraan hangat di kalangan pemuda kampung. Di kedai kopi Ngah Tamam, 2 hari ini, Zakir menjadi topik utama, mengalahkan topik harga karet turun drastis atau pun topik mengenai kekalahan tim sepakbola negara ini dari negara jiran. Nama Zakir melompat berulang-ulang kali dari mulut pemuda kampung. Mereka bercerita mulai dari gaya zakir, sampai cerita Zakir yang telah berulang-ulang ke luar negeri.
“Ape kerje Wak Zakir tu, Man?” tanya Yusup Sempot kepada Leman Lengkung.
“Entahlah Sup, kate saudare aku di kota, Wak Zakir tu ade usaha jual beli mobil mewah,” jawab Leman Lengkung sambil menyedot tehesnya.
“Dikau tentu tahu, Man, Wak Zakir tu kan ade hubungan saudare dengan dikau?” tanya Jang Gagak pula.
“Aku takut mengaku saudare, Jang. Awak aje yang mengaku, die tidak, malu awak dibuatnye,” jelas Leman Lengkung.
Atah Roy masuk kedai kopi Ngah Tamam dan duduk di kursi paling sudut. Pemuda-pemuda, termasuk Leman Lengkung melihat serentak ke arah Atah Roy. Atah Roy pura-pura tidak melihat pemuda-pemuda itu.
“Kalau bapak yang baru duduk di sudut tu, baru saudare dikau ye, Man?” Kahar Kongak bergurau.
“Walaupun die macam tu, die tulah bapak saudare aku yang terbaik dunie akhirat,” ucap Leman Lengkung, disambut gelak tawa kawan-kawannya. Kedai kopi Ngah Tamam pecah dengan tawa pemuda-pemuda kampung.
Atah Roy pura-pura tidak tahu saja. Dia tahu bahwa ketawa yang sedang berlangsung itu adalah ketawa menyindir dirinya. Sebagai orang tua, Atah Roy harus bijaksana, apalagi di saat sekarang, nama Zakir jauh meninggalkan populeritas Atah Roy di kampung ini. Seandainya Atah Roy bersikap prontal alias memarahi pemuda kampung di kedai kopi ini, maka semakin melorotlah kepopuleran Atah Roy.
“Kopi O segelas, Mam,” Atah Roy memesan kopi dengan suara berat penuh makna.
Pemuda kampung tahu betul, kalau suara Atah Roy sudah berisi seperti itu, maka ada sesuatu yang tidak kena. Mereka pun diam, ketawa mereka tahan.
“Kalau suare Atah kite dah macam tu, jangankan kite, harimau pun tak berani mengaum lagi,” ujar Yusup Sempot, dan pemuda lain menutup mulutnya agar ketawa tidak lepas membahana di kedai Ngah Tamam ini.
Ngah Tamam membawa secangkir kopi dan sepiring kue ke meja Atah Roy. Ngah Tamam pun duduk.
“Dari mane dikau, Roy? Macam ada yang tak lepas nampaknye ni?” tanye Ngah Tamam kepada Atah Roy.
Belum sempat Atah Roy menjawab pertanyaan Ngah Tamam, pemuda-pemuda berdiri sambil bertepuk tangan. Atah Roy dan Ngah Tamam memandang ke arah pemuda. Rupanya Wak Zakir sudah berada di kedai itu.
Wak Zakir dengan gaya yang dibuat-buat wibawa mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan dia langsung duduk di kelompok pemuda.
“Dari mane, Wak?”
“Bertambah ganteng aje Wak awak ni.”
“Pasti Wak ade gagasan nak mengubah kampung kite ni?”
“Wak memang tak ade lawan.”
Pemuda-pemuda silih berganti memuja-muji Wak Zakir. Lubang hidung Wak Zakir pun semakin mengembang.
“Air putih segelas, Mam,” pinta Wak Zakir.
Pemuda-pemuda terdiam. Mereka saling berpandangan. Mereka heran kenapa Wak Zakir hanya meminta air putih. Kalau setakat air putih, tak perlulah singgah kedai kopi, pikir mereka.
“Pesan air putih aje, Wak?” tanya Kahar Kongak.
“Ye. Kenape?” tanya Wak Zakir.
“Tak ade pesan lain ke?” tanya Yusup Sempot pula.
“Tak. Ade masalah?” tanye Wak Zakir pulak.
“Kalau nak minum air putih, di umah aje, Wak. Ini kedai kopi, paling tidak pesan air kopi,” tambah Jang Gagak.
“Ooo... macam tu.”
“Memang macam tulah kebiasaan di kedai kopi, dari dulu sampai sekarang, Wak,” tambah Leman Lengkung.  
“Sebetulnye, aku lupe bawak duit,” jelas Wak Zakir.
Dari sudut suara Atah Roy menggema.
“Air putih je, tak ade yang lain ke?”
Pemuda-pemuda memandang ke arah Atah Roy. Mereka tersenyum malu. Di benak pemuda-pemuda kampung membuat kesimpulan masing-masing dan mengatakan kalau orang masuk kedai kopi hanya memesan air putih, ada due penyebabnye. Satu, tak ade duit dan kedue, orang itu pelokik. Dan mereka menyimpulkan Wak Zakir, beso cerita, tak sesuai kenyataan dengan ceritanya. Pemuda-pemuda kampung pun menghampiri Atah Roy. Atah Roy santai saja.